Mengapa Kualitas Film The Hobbit Lebih Rendah dari LOTR?


hauj_bus_dwarves_dom

More like “Finding Hobbit”

Judul di atas terinspirasi oleh satu percakapan yang baru saya lihat di linimasa FB saya, antara seorang kawan dan temannya yang membahas soal film The Hobbit. Teman kawan FB saya ini bertanya apa yang membuat film The Hobbit kualitasnya lebih rendah daripada LOTR walaupun keduanya sama-sama membuat banyak perubahan, penambahan dan pengurangan sehingga mengalami perbedaan dengan versi bukunya. Jawaban kawan FB saya? “Intinya itu fan fiction. Kalau berdiri sendiri ya lumayanlah, tapi kalau dianggap sebagai adaptasi buku, ya hancur.” 

Saya tahu maksudnya. Menjelaskan panjang lebar pasti capek. Pasalnya, walaupun masih bisa memberi nuansa yang mirip dengan LOTR, tapi para penonton di seluruh dunia nampaknya sepakat akan satu hal: bahkan bagi para pecinta filmnya, LOTR kualitasnya jauh di atas The Hobbit. Kalau mau berbaik hati, kita bisa saja berpendapat bahwa rendahnya kualitas The Hobbit adalah gara-gara ekspektasi penonton yang ketinggian lantaran sudah mengalami pengalaman sinematik luar biasa bersama trilogi LOTR. Tapi kalau hanya itu, rasanya kok kurang bisa menjelaskan mengapa saya sampai menguap beberapa kali saat menonton ketiga film tersebut, sungguh beda dengan ketika saya menonton trilogi LOTR (walaupun sempat gregetan gara-gara Peter Jackson membunuh Haldir. Sampai sekarang, saya masih lebih bisa berurai air mata nonton adegan Haldir dibacok dari belakang di Helm’s Deep daripada adegan Red Wedding-nya GoT). Bahkan Legolas yang kemunculannya selalu saya tunggu-tunggu di LOTR jadi bikin saya tepok jidat beberapa kali di The Hobbit, terutama ketika melihat dia menjelma menjadi Mario Bros dan melayang menapaki bebatuan runtuh sembari meludahi fisika tepat di muka (ketika ngeliat adegan itu, saya bikin efek suara sendiri: “tuing” “tuing” “tuing” gitu tiap dia loncat).

Berikut beberapa alasan yang bisa saya kumpulkan, hasil membaca dari berbagai sumber:

Level komitmen Peter Jackson sudah jauh berbeda

Jika Anda melihat berbagai artikel dan video di balik layar LOTR, akan nampak level komitmen luar biasa yang ditunjukkan Peter Jackson dalam proyeknya. Di LOTR, Peter Jackson mengaplikasikan komitmen besar terhadap detail, termasuk menugaskan orang-orang membuat wig dan zirah rantai (chain mail) dengan tangan, merancang rincian baju zirah yang berlainan untuk Orc dengan “pangkat” berbeda (padahal siapa yang memerhatikan hal itu?), dan sebisa mungkin menerapkan sebanyak mungkin efek kamera dan efek praktis ketimbang CGI (adegan Gandalf bicara dengan Frodo, misalnya, dilakukan dengan menggunakan tipuan perspektif dan properti yang diakali sehingga Gandalf nampak jauh lebih tinggi dari Frodo).

52769

Cara membuat Frodo tampak lebih pendek dari Gandalf di atas kereta kuda dalam syuting LOTR

Hasilnya? Luar biasa, memang, tetapi itu adalah proyek raksasa yang melelahkan, dan bisa dipahami jika Peter Jackson ingin istirahat dulu dari menggarap film semacam itu. Dia bahkan sempat menolak ketika ditawari menggarap film ini, dan ketika akhirnya menerima, dia sendiri mengaku bahwa membuat The Hobbit adalah proses yang melelahkan, seperti yang diungkapkan Jackson serta beberapa aktor dalam wawancara di apendiks serta fitur bonus di DVD The Hobbit: An Unexpected Journey versi Extended Blue Ray:

“For a long time I thought that going back to the amazing experience of Lord of the Rings would be a good idea. But, ultimately, I’ve come around, because films are stressful and hard to make … if somebody came up to me and said, ‘You know, we can carry on pre-production for another six weeks,’ I would just say, ‘No, no, hell no, let’s just start shooting.'” – Peter Jackson

“I asked Peter Jackson if he was going to do The Hobbit and he said, ‘No, I’m not interested in doing that.'” -Elijah Wood.

“[This movie] made me feel like I should stop acting.” -Sir Ian McKellen

Proses pembuatan film yang melelahkan ini juga yang kemungkinan membuat proses penyuntingan menjadi kurang lancar (bagi Anda yang bermata tajam, mungkin melihat bahwa penyuntingan film ini masih agak kasar di beberapa bagian). Rendahnya level komitmen ini juga membawa saya ke poin kedua….

Peter Jackson tidak berniat menyutradarai The Hobbit

Peter Jackson, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, tidak berniat lagi menggarap film The Hobbit karena menyadari bahwa level komitmen yang diperlukan sangat besar dan melelahkan. Jackson hanya bersedia sebatas menjadi produser. The Hobbit sebenarnya akan disutradari oleh Guillermo del Toro, yang sudah terkenal dengan proyek film fiksi fantasi yang memiliki ciri khas, seperti Pan’s Labyrinth dan Hellboy. Del Toro bahkan sudah menghabiskan sekitar 2 tahun mempersiapkan film ini, dan sama seperti Peter Jackson saat menggarap LOTR dulu, Del Toro juga berniat menggunakan efek praktis sebanyak mungkin ketimbang CGI, menciptakan rincian karakter, baju zirah dan kostum seperti yang dilakukan Jackson, plus menuangkan ide-ide serta konsep kreatif yang relatif out of the box. Misalnya, untuk Smaug, Del Toro membayangkan sesuatu dengan kepala seperti ini:

498448_v1

Dan beginilah Azog mungkin akan terlihat di tangan Del Toro:

498446_v2

Sayangnya, New Line Cinema entah mengapa selalu menunda-nunda menerima konsep yang disodorkan Del Toro, sehingga dia memutuskan mengundurkan diri. New Line Cinema, yang tidak ingin rugi, menunjuk Peter Jackson untuk mengambilalih tugas menyutradarai film tersebut. Karena uang yang dikeluarkan sudah terlalu banyak, jadilah Jackson mengambil tugas tersebut. Reaksinya? Yah, silakan balik lagi ke poin pertama.

Terlalu banyak CGI = terlalu mulus = belum tentu bagus

The Hobbit kebanyakan main CGI” adalah keluhan yang kerap terdengar dari mereka yang kurang puas dengan film ini. Walau CGI memungkinkan sineas menghasilkan film dengan tampilan yang “sempurna,” tetapi kesempurnaan itu akhirnya jadi berkesan artifisial. Mungkin itu juga sebabnya mengapa keuntungan The Hobbit dibanding LOTR jadi njomplang sekali walaupun The Hobbit memakan biaya lebih banyak karena efeknya (walau mungkin kita juga harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti inflasi, popularitas film di pasar luar Amerika, serta pemasaran jor-joran dalam promosi film The Hobbit).

Ambil contoh Rivendell. Siapa di antara kita yang tidak terpesona ketika melihat Rivendell pertama kali di LOTR? Rivendell diciptakan dengan menggunakan miniatur, sehingga walaupun diperhalus dengan CGI, kita masih bisa melihat kesan gabungan antara bangunan nyata dan lukisan hidup, kalau mau dibilang begitu. Itu membuat Rivendell menjadi sangat berkesan; lokasi fantasi yang dibawa ke dunia nyata, nampak magis namun dengan setitik realisme yang membuat kita lupa bahwa itu adalah efek khusus. Akan tetapi, jika dibandingkan, Anda mungkin akan melihat bahwa Rivendell versi The Hobbit lebih “mulus,” dan itu bukan tanpa sebab. Tim efek khusus The Hobbit memang sengaja menyingkirkan miniatur Rivendell dan mengerjakan sebagian besar setnya dengan CGI. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi melihat Rivendell di The Hobbit tidak memberi kesan wah yang sama dengan melihat Rivendell di LOTR, dan sampai sekarangpun begitu walaupun saya sering menonton ulang trilogi LOTR. Rasanya terlalu artifisial.

Dan jangan sampai saya bahas soal muka abang Legolas. Memang Orlando Bloom sudah lebih tua saat main di The Hobbit dibandingkan di LOTR saat beliau masih kinyis-kinyis sehingga wajahnya pun harus dipermak, termasuk dengan efek, tapi apa iya harus keterlaluan kayak cyborg Terminator begini?

tumblr_inline_mxxistb1ip1r183av

Kanan (LOTR): abang serius tapi cakep deh, kenalan dong, bang

Kiri (The Hobbit): ampun, bang, saya masih mau hidup, bang

Dan tentu saja, saya tahu film fiksi fantasi dengan karakter fantastis akan membuat kita banyak melihat beragam stunt yang hanya bisa dicapai dengan efek khusus, tapi ya nggak gini juga kali:

351420_v1

Bombur, Transformer Gentong

Kesan artifisial ini terus terasa sepanjang film:

351408_v1

351412_v1

Jadi yah, di satu sisi, penggunaan efek memungkinkan sineas memberi kita pengalaman sinematik yang kaya. Di sisi lain, gabungan antara efek berlebih, penyuntingan yang kurang rapi dan penggarapan yang lebih sembrono ketimbang pendahulunya membuat The Hobbit menuai kritik, termasuk dari Viggo Mortensen sendiri.

Mau dibawa ke mana…karakter ini… 

Selain Bilbo dan Gandalf, tokoh sentral lain yang muncul paling sering dalam The Hobbit adalah 12 Dwarf. Sama seperti di LOTR, Jackson menginvestasikan banyak upaya untuk memberi rincian luar biasa bagi penampilan para Dwarf ini, untuk membedakan satu dengan yang lain. Tercatat ada 37 orang juru rias dan ahli prostetik untuk menggarap penampilan 12 Dwarf, serta 547 properti senjata (plus kopi. Lots and lots of coffee). Sekarang saya tanya: siapa Dwarf yang paling berkesan di mata Anda? Saya berani jamin jawabannya pasti cuma dua: Thorin dan Kili. Thorin karena dia adalah karakter utama dengan konflik utama pula, dan Kili karena dia sudah disetel sebagai Dwarf ganteng (karena saya yakin tidak ada yang mau melihat Tauriel ehem-ehem dengan Dwarf berjanggut panjang menjuntai yang berkesan tua).

the-hobbit-an-unexpected-journey-dwarves

Tuh, kan, PR hapalan lagi

Di situlah masalahnya: ada 12 Dwarf yang semuanya diperlakukan sebagai tokoh penting, dan semuanya harus mendapat peran penting, minimal bicara. Beda sekali dengan buku The Hobbit, dimana tidak semua Dwarf ini maksa diberi tempat dalam setiap bab dan setiap baris dialog, dan kemunculan Bilbo jauh lebih dominan. Belum lagi tokoh-tokoh yang khusus dimasukkan bagi mereka yang menonton The Hobbit hanya karena masih ingin melihat lebih banyak Elf (kalau ada yang begini, ngaku saja…karena saya juga). Belum sempat menghapalkan mana Ori mana Nori mana Balin dan mana Dwalin, muncul lagi Thranduil (saya tidak mengeluh), Legolas (…masih tidak mengeluh, walaupun mukanya kebangetan seremnya), dan Tauriel (duh). Gandalf tentu harus dapat jatah nongol dong, bareng Elrond, Galadriel, Elrond dan Saruman. Gollum dan Radagast pun muncul. Tak berapa lama, muncullah Bard, Alfrid, anak-anak Bard, dan…ahh! Bingung saya! Belum lagi ketika Bard tahu-tahu curhat soal mendiang istrinya, seolah memaksa saya untuk memerhatikan dia secara berlebih juga (padahal perhatian berlebih saya hanya terarah ke gaya rambutnya yang nanggung itu).

Investasi emosional saya rasanya seperti ditarik-ulur kesana-kemari, sehingga susah merasa terikat dengan salah satu karakter. Sepanjang durasi saya habiskan dengan menunggu-nunggu kapan Bilbo melakukan sesuatu yang berarti, karena porsinya justru terkesan tergeser sebagai pemeran utama. Bila Anda membaca The Hobbit, akan terlihat bahwa Bilbo sangat menonjol, dan kisahnya pun terurai dari sudut pandangnya. Bilbo adalah yang diharapkan Tolkien menjadi aspirasi pembaca, sehingga investasi emosional kita lebih terarah. Itulah yang tidak saya rasakan di versi filmnya, sehingga susah merasa terikat secara emosional seperti setelah saya menonton trilogi LOTR. Anda bisa menjejalkan karakter sebanyak yang Anda mau di Game of Thrones, karena serial ini punya banyak musim dan episode untuk memberi Anda kesempatan mengenal setiap karakter, tetapi tidak untuk film dari buku setipis The Hobbit.

24060-thecouncilofelrond

Kesimpulannya? Seperti yang dikatakan kawan bijak saya tadi, film ini terhitung bagus untuk ukuran fan fiction yang berdiri sendiri, tetapi jika menganggap ini sebagai “keturunan” film adaptasi LOTR, maka kualitasnya jelas jauh, dan dengan beberapa alasan bagus. Akan tetapi, seperti yang sudah berkali-kali saya bilang, pengalaman menonton film tak bisa dibandingkan dengan membaca buku, jadi pertengkaran penyuka versi film VS buku tak perlu terjadi. Nikmati saja secara terpisah sebagai sesuatu yang menawarkan pengalaman berbeda.

Saya sendiri menghormati Peter Jackson dan menganggapnya berani, karena mau mengambilalih proyek yang sutradara lain belum tentu mau menerimanya, walau dia tahu kalau dia akan menemui banyak kesulitan di kemudian hari. Walau tentu saja, saya tak akan meninggalkan fakta bahwa film ini juga membuat Sir Ian McKellen menangis saking frustrasinya.

Ada yang punya pendapat lan? Silakan taburkan komentar Anda, ya🙂

4 thoughts on “Mengapa Kualitas Film The Hobbit Lebih Rendah dari LOTR?

  1. Wita berkata:

    erutama tentang karya2 Tolkien. Sebenarnya sudah dari tahun lalu saya mengikuti tulisan2 kakak, tapi baru sekarang saya ikutan koment walaupun cuma sedikit aja☺.
    Untuk ulasan di atas, saya amat sangat setuju sekali! Tanpa mengurangi rasa hormat saya atas hasil kerja keras om PJ, The Hobbit trilogy memang enggak pas dengan ekspetasi (duh!) saya. Yah, benar cenderung seperti fan-fic movie.
    Ruh middle-earth yang saya rasakan di LOTR, tidak saya dapatkan di TH ini. CGI overloaded! Saya tertawa baca ulasan kakak untuk Legolas bergaya Mario Bros. Ajaib sekali, kemana trademark style elf yang elegant itu! Kalau para leluhur elf tahu, bisa protes mereka! (Fingolfin, Finrond, Glorfindel, Echtelion; all the great warriors in the middle-earth, maafkan cucumu ini!😂) Dan ini, man of the match-nya, where are you, Waldo? ehh Bilbo?.
    Dari semuanya, saya kembalikan lagi ke jiwanya sebuah film (agak dalem nih😁), AKTING! Omg, come on om PJ… Sangat disayangkan (kalau orang Jawa bilang, Eman!) kalau akhirnya TH trilogy mengecewakan padahal di’dukung’ oleh para aktor yang mumpuni plus beberapa aktor di lotr. Dan kalau boleh memilih, saya cenderung pilih pasukan para aktor di TH drpd LOTR. Ada Martin Freeman, Benedict Cumberbatch-more Smaug, please!, Richard Armitage, Luke Evans, Aidan Turner dan Lee Pace. Mereka itu jawara akting, beberapa dari mereka basicnya stage actor di negerinya sana, UK, kecuali yang terakhir di AS. Bisa dibayangkan kualitas aktingnya, kan? Mereka semestinya bisa berbuat lebih untuk TH (don’t get me wrong here, they’ve done the very best!) kalau saja om PJ tidak ‘terlena’ di CGI. Intinya, TH mestinya bisa lebih baguslah dengan para aktor seperti itu (Sorry, saya tidak menyertakan Evangeline Lily, karena buat saya Tauriel ini benar2 tokoh ‘not even in a million years’ di TH, tidak ada tokoh wanita ciptaan Tolkien dengan karakter seperti Tauriel ini, kalah kelas! Coba lihat Melian, Luthien, Haleth, Idril, Elwing, Galadriel, Eowyn …).
    Sayang sekali untuk sebuah karya (terakhir😭) Tolkien yang BISA difilmkan, walaupun mungkin, kalau kedepannya barangkali ada kelanjutannya (boom!) atau remake, belum tentu bisa dapat sekumpulan aktor seperti ini. Sudah jago akting, cakep2 dan hot pula!😍 Damn!
    Dan khusus untuk ini, rasanya saya perlu berterima kasih buat om PJ. Well done, Sir!👌👏🙌

    • Putri Prihatini berkata:

      Wah, makasih Wita, semangat banget ya komennya (sampai ada yang hilang tuh kayaknya ya di paragraf atas?🙂 ) Iya, ini juga semacam kritikan berimbang kok untuk film ini, karena ini bukan masalah PJ-nya yang gak berbakat, tapi ternyata memang ada faktor2 yang memengaruhi kualitas film ini (termasuk ya itu, masalah dengan penggede di industri film. Di mana-mana birokrasi dengan petinggi itu emang jadi momok pelaku industri kreatif). Tapi sejauh ini cukup deh untuk mengisi kekosongan visualisasi buku karya Tolkien (alasan aja sih, sebenarnya senang juga bisa liat lebih banyak Elf, hehe).

  2. Ren berkata:

    Artikel ini….bener – bener merangkum apa yang aku rasakan setelah nonton semua film The Hobbit. Jujur, untuk filmnya yang pertama, Unexpected Journey itu berasa nostalgia LOTR. Feel LOTRnya masih terasa walau memang peran CGI sudah mengambil alih. Adegan saat 12 dwarf datang pertama kali ke rumah Bilbo juga sangat memorable. Adegan Thorin menyanyi “far away the misty mountain cold…” bikin merinding parah. Sayangnya, DoS dan BoFA gagal mengulang feel AUJ.

    Paling bikin bete adalah tokoh Tauriel. Sungguh rasanya, Tauriel yang bikin salah di film The Hobbit DoS dan BoFA, karena kabarnya tidak akan ada kisah romansa dengan Legolas. Oh, really? Lah Legolas kelihatannya ada rasa ke Tauriel gitu, dan romansa Tauriel dengan Kili amat sangat dipaksa. Jika memang maunya Fran Walsh dan PJ itu supaya Tauriel – Kili jadi alasan kenapa Legolas dan Gimli akhirnya berteman, kan juga yang meh banget ya. Aku masih ingat pas nonton LOTR, Legolas dan Gimli juga ga langsung jadi BFF kan? Masih ada friksi di antara mereka. Menurutku Tauriel emang “the most epic fail part” di The Hobbit, sebuah karakter yang sangat tidak perlu. Bahkan Arwen dan Eowyn pun mungkin akan ketawa lihat Tauriel yang seolah diplot sebagai perpaduan keduanya😛. Pada akhirnya, film The Hobbit AUJ yang paling sering ditonton ulang, sementara DoS dan BoFA cukup sesekali saja😄.

    Oh ya, Sir Ian menangis juga karena dia kebanyakan akting dengan green screen ya. Pasti bikin frustasi banget itu😦

  3. Derine from Mirkwood berkata:

    Akhirnya ada yang berpendapat sama kalo muka Legolas si abang saya *caelah* itu kelihatannya berubah banget, padahal di real lifenya gak terlalu kok. Iya, dulu Leg(panggilan saya untuk hanar saya) imut-imut, cakep, hensem, keren, pokoknya luar biasa deh. Gaya ngomongnya pun agak periang gitu. Di The Hobbit, dingin banget nada suaranya, matanya juga. The Hobbit memang kurang menarik sih, saya aja kalo nggak ada adegan Elf-nya (hehehe) ya di skip aja. Lagipula, The Hobbit kan cuma 1 buku yang isinya 300-an halaman, jadi satu film aja udah cukup biar nggak berbelit-belit gitu. Lord of the Rings yang satu bukunya 600-an halaman aja bisa dibuat sebisa mungkin walaupun ada yang di-cut dan durasinya 4 jam. Ah, memang, dari 2013 (An Unexpected Journey meninggalkan sedikit kesan Shire, jadi lumayan lah) saya nanya nanya dalam hati kenapa dibikin trilogi. Dan Tauriel itu lho, penambahannya itu nggak cocok. Masa di dunia Elf dan Dwarf ada ‘cinta segitiga’. Dan juga itu nggak akan terjadi karena Legolas is mine! (hahaha jiwa hanar is minenya muncul) Udah deh, saya mau berburu orc dulu *eaaa* salam dari Legolas, saya, Elven-king (bukan Thranduil, karena di buku juga namanya bukan ‘Thranduil, dan dia itu Adar saya), dan seluruh penduduk Woodland Realm~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s