Menyelami Tolkien Setelah Film ‘The Hobbit’ Usai


lotr-books

Film The Hobbit telah resmi usai dengan diputarnya The Battle of Five Armies pada akhir tahun 2014, dan euforianya kini nampak sudah berakhir tergusur Star Wars, Mad MaxDeadpool, A Copy of My Mind, Surat dari Praha, dan segudang film lain dari dalam dan luar negeri. Kecuali mungkin di dalam forum penggemar Tolkien, atau situs-situs terkait Tolkien, saya hampir tak pernah lagi menemukan pembicaraan panjang lebar tentang film The Hobbit. Walaupun The Hobbit jelas adalah adaptasi dari buku yang telah beredar sejak tahun 1937 dan mendapat banyak penghargaan, rasanya seolah buku dan si penulisnya ikut “tenggelam” bersama habisnya euforia filmnya. Atau setidaknya, itu yang saya lihat secara sepintas lalu dalam jejaring sosial dan tren dunia maya. 

Saat film The Hobbit menyita perhatian pecinta film fiksi fantasi dari tahun 2012 hingga 2014, saya senang sekali ketika buku The Hobbit dan terjemahan bahasa Indonesia Tales from the Perilous Realm serta The Silmarillion ikut laris manis bersama dengan euforia film tersebut. Saya senang melihat sambutannya yang hangat; orang ramai-ramai mengunggah foto buku yang baru dibeli atau selfie bersama buku tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh para “nyubi” Tolkien di forum seperti Eorlingas: Indonesian Tolkien Society seputar berbagai karakter, adegan dan peristiwa di film yang sepertinya susah dipahami atau berbeda dengan bukunya. Diskusinya hidup sekali, seolah menjadi bukti untuk menepis mitos bahwa anak muda Indonesia malas membaca (menurut saya bukannya malas, hanya kadang bingung apa yang harus dibaca dan gimana belinya, apalagi untuk anak-anak sekolah yang tinggal di area dimana toko buku terbatas dan susah untuk beli buku secara daring dibanding yang sudah punya penghasilan sendiri).

10168028_10204130819605580_83968157970037726_n

Pertanyaannya, setelah Peter Jackson kehabisan buku untuk dijadikan film, apakah berhenti sampai di situ saja?

Mungkin agak aneh kalau saya mengajukan pertanyaan ini. Bagaimanapun, menikmati film adaptasi karya Tolkien serta membaca buku Tolkien adalah pengalaman yang berbeda. Keduanya adalah media penyampaian cerita yang berlainan satu sama lain, dan cara menikmatinya pun berbeda. Perang antara pecinta film VS pecinta buku Tolkien juga sebenarnya sesuatu yang tak seharusnya terjadi, karena keduanya adalah pengalaman yang tak bisa dibandingkan. Wajar jika sebuah film yang sudah lama tidak diputar kehilngan euforianya. Akan tetapi, sebagai orang yang sudah mencintai karya Tolkien selama kurang lebih 15 tahun, preferensi pribadi mungkin agak ikut bermain ketika saya merasa kurang suka melihat komentar seseorang di Facebook yang berkata “gue kesal aja, kenapa sih Christopher Tolkien menolak ngasih hak adaptasi film The Silmarillion?” Lah, siape elo, pikir saya setelah membaca kalimat itu, sambil membayangkan mengucapkan kata-kata “siape elo” dengan mata dipicingkan dan dagu disentakkan ke depan gaya Bang Benyamin S saat membentak Mandra di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Oke, mungkin saya yang terlalu sensitif, tapi kata-kata “gue kesal aja” itu jujur menjadi bagian yang paling mengitik-ngitik.

Pertama, jika dia memang seantusias itu menunggu buku Silmarillion difilmkan, dia bisa Google dan mungkin akan menemukan artikel yang saya buat tentang Christopher Tolkien dan alasannya tidak memberikan hak adaptasi film. Di situ sudah ada penjelasan tentang mengapa Christopher Tolkien menolak hak adaptasi, sesuatu yang sebenarnya wajar, tapi entah mengapa membuat fans film merasa “berhak” menuntut bahwa dia membatalkan keputusannya. Toh karya-karya Tolkien aslinya memang berupa tulisan, dan Christopher sangat mengijinkan karya-karya ayahnya yang belum terbit untuk diterbitkan secara luas bagi pembaca umum, serta terbuka untuk diterjemahkan penerbit dari berbagai negara lain, bukannya diterbitkan secara terbatas sebagai “karya langka” yang bisa dibanderol ribuan Euro, Pound atau Dolar. Dalam hal itu, dia sudah sangat murah hati. Bahkan Royd Tolkien, cucu Christopher (dan cicit J.R.R. Tolkien) yang tidak segalak kakeknya serta ikut main di The Hobbit sebagai cameo saja juga berpendapat sama: sulit bagi The Silmarillion difilmkan, walau banyak orang menginginkannya.

Kedua, yah, ini mungkin sedikit egois, tapi ini berkaitan dengan pengalaman pribadi saya setelah menyaksikan LOTR dan The Hobbit. Setelah film LOTR berakhir, saya yang tadinya hanya membaca The Hobbit serta trilogi LOTR mulai membeli The Silmarillion, beberapa edisi History of Middle Earth, Unfinished Tales, bahkan karya-karya Tolkien yang tidak berhubungan dengan Middle Earth seperti Sir Gawain and The Green Knight, Tales from the Perilous Realm, serta The Legend of Sigurd and Gudrun (yang ini kado ulang tahun dari adik), dan Children of Hurin (kado ulang tahun dari sahabat). Saya ingin menyelami lebih jauh karya-karya penulis yang membuat saya selamanya terpesona ini, dan saya menemukan bahwa, walaupun saya harus berlatih membaca dalam bahasa Inggris serta membiasakan otak dengan gaya bahasa dan penceritaan yang sangat berbeda dengan The Hobbit, rasa cinta saya semakin dalam setelah olahraga mental ini. Saya ingat membeli The Silmarillion untuk pertama kalinya pada tahun 2003; berdiri di depan rak buku di Periplus dengan mental seperti orang yang hendak lompat ke kolam renang yang dia tak tahu airnya dingin atau tidak. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk “loncat aja dulu, kedinginan belakangan,” dan membeli buku itu. Dan ketika saya akhirnya melompat? Agak mengejutkan pada awalnya, tapi airnya ternyata tak sedingin yang saya kira, dan semakin lama semakin nyaman.

silmarillion

Saya terpesona dengan kedalaman ceritanya, kualitas penceritaan yang seperti campuran antara mitologi, bahasa kitab, epik kuno dan fantasi, serta karakter yang sifat-sifat serta tindakannya membangkitkan emosi serba ekstrem dalam diri saya: kadang kagum karena keberanian mereka, sedih ketika mereka menemui nasib tragis, marah pada apa yang mereka lakukan, dan semakin sedih ketika menyadari berbagai implikasi tersembunyi di balik tindakan tiap tokoh, bahkan yang melakukan hal mengerikan sekalipun (serta tentunya buku Tolkien pertama yang membuat saya sadar bahwa banyak kaum Elf yang juga brengsek, dan bukan saya seorang yang merasakan tarikan simpati pada tokoh Feänor yang membunuh banyak Elf demi ambisinya, atau Maeglin yang mengkhianati keluarga dan junjungannya sendiri dan berakhir mati mengenaskan. But that racist Saeros can go to hell, though). Saya bahkan menggunakan buku-buku itu untuk menggarap beberapa tugas saat saya kuliah di Fakultas Psikologi UGM (ada empat tugas tertulis, kalau tak salah, semuanya tugas tengah semester), dan entah kebetulan atau tidak, semua dapat A🙂 (atau mungkin dosen saya aja yang bingung harus diapain mahasiswa yang mengajukan tugas nyeleneh ini).

Tapi, apakah semua itu cukup? Belum. Saya tidak tahu dengan Anda, tapi buat saya, menyukai suatu karya berarti menyelami juga siapa penulisnya. Selama masa-masa awal membaca karya-karya Tolkien, saya hanya tahu biografi umumnya yang tercantum dalam situs-situs seperti Wikipedia dan Tolkien Society. Akan tetapi, dari Tolkien Society pula saya tahu bahwa ada orang-orang yang melakukan studi-studi terhadap karya-karya Tolkien (dan tentunya bukan sekadar tugas-tugas pendek yang saya lakukan saat kuliah!). Yang sudah senior contohnya Prof. Tom Shippey, Dr. Karl Siegfried, dan Verlyn Flieger, sedangkan yang termasuk “agak junior” dibanding mereka adalah Dimitra Fimi. Saya jadi tahu buku-buku yang mereka tulis terkait Tolkien. Saya juga jadi kenal Mythopoeic Press, penerbitan milik Mythopoeic Society yang kerap menerbitkan kajian literatur, termasuk terkait Tolkien. Saat itu, saya mulai merasa: “ini baru awalnya. Ini akan jadi misi pribadi seumur hidup.”

morgothsring

Morgoth’s Ring dan album reggaenya Ras Muhamad jadi benturan budaya yang asyik

Saya pun bertekad mengumpulkan uang dan mulai membeli buku-buku seperti Letters of J.R.R. Tolkien serta biografi resmi Tolkien oleh Humphrey Carpenter. Saya ingin tahu siapa orang yang telah membuat buku-buku favorit saya, dan saya semakin kagum. Ini orang yang bisa menyeimbangkan antara hidup penuh idealisme dengan kemampuan menemukan kesenangan dalam hal-hal sederhana (dan Anda tidak perlu heran mengapa tokoh Hobbit dibuat seperti itu). Ini orang yang, walau ikut wajib militer Perang Dunia I, membencinya dan tak pernah mendukung perang. Ini orang yang berani berpendapat lantang menentang imperialisme yang dilakukan bangsanya sendiri sampai akhir hayatnya. Ini orang yang berpendapat progresif terhadap pendidikan kaum wanita dan menerapkannya dalam karirnya sebagai dosen di Oxford, di saat Oxford sendiri belum menjadi tempat yang ramah bagi kaum wanita. Ini orang yang berani menentang tradisi Inggris pada masanya yang ditekankan pada anak laki-laki, dan justru memilih menjadi guru sebagai upaya pemberontakan. Ini orang yang mengajar dengan cara atraktif dan senang menjahili teman, di balik wajah serius khas akademisinya. Ini orang yang mengakui dirinya penuh kebiasaan buruk seperti menunda-nunda pekerjaan, tidak terorganisir dan buruk dalam manajemen waktu, dan membuat kumpulan surat-suratnya kepada penerbit sangat, eh, berwarna-warni (baca: penuh permintaan maaf karena naskah yang dijanjikan tak selesai-selesai). Semakin saya berusaha memahami dirinya sebagai penulis, semakin berarti karya-karyanya buat saya. Dan saya menikmatinya.tolkien perilous and fair

Apakah saya sudah puas? Belum! Masih ada begitu banyak hal untuk dijelajahi. Daftar buku saya sudah bertambah panjang sejak tahun 2013, dan belum semuanya terpenuhi. Saya sudah ingin sekali beli The Story of Kullervo, prosa pendek Tolkien tentang tokoh Kullervo dalam mitologi Finlandia yang disertai esai dan merupakan lompatan literaturnya yang pertama dalam penciptaan mitologi modern, tapi kok ya batal melulu saya beli. Saya sudah punya Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J.R.R. Tolkien, dan saya masih ingin membeli buku-buku kajian literatur seperti kumpulan esai Green Sun and Faerie oleh Prof. Verlyn Flieger, Baptism of Fire dari Mythopoeic Press yang mengkaji karya sastrawan di jaman Perang Dunia I, buku-buku karya Dr. Dimitra Fimi (termasuk esai Tolkien bertajuk A Secret Vice yang disunting oleh beliau) dan beberapa buku lainnya yang dijamin akan menyempitkan pembuluh darah dompet saya kalau saya beli semua dalam waktu berdekatan.

baptism-of-fire

Tapi, pada akhirnya, jika saya harus merangkum apa yang membuat saya merasa lekat pada Tolkien sebagai pribadi selain karya-karyanya, mungkin ini: pahlawan Tolkien tidak melulu tokoh-tokoh agung dan hebat. Pada akhirnya, ketika kegelapan besar mengancam dan para tokoh agung ketakutan, sang pahlawan utama justru adalah sosok Hobbit yang mungil, sederhana, menyukai kehidupan yang tidak ruwet dan dipenuhi kebahagiaan kecil seperti makan, merokok, minum teh dan berkumpul dengan teman, namun bersedia maju untuk membela apa yang benar ketika keadaan mendesak mereka, walau dengan sedikit takut karena tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Tolkien berbicara pada saya lewat Frodo dan Bilbo: “orang kecil, orang sederhana, bisa menjadi pahlawan. Asal berani bertindak saat keadaan mendesak. Tapi di luar itu, tidak ada salahnya menjadi orang biasa yang sudah puas mencari kebahagian dari hal-hal sederhana.”

Inilah, buat saya, yang membuat euforia karya-karya Tolkien tidak pernah mati. Tidak peduli walaupun tak ada film adaptasi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s