Ketika Tolkien Hampir Mendapat Hadiah Nobel Sastra


IMG_20141001_008553

Tolkien memang dihargai secara luas sebagai penulis, namun kita mungkin tak pernah membayangkan beliau sebagai kandidat penerima hadiah Nobel sastra. Akan tetapi, bulan Januari 2012 lalu, jurnalis Swedia, Andreas Ekström, menemukan nama Tolkien terselip di antara dokumen-dokumen dalam arsip Nobel sastra tahun 1961 yang dirilis untuk konsumsi publik. Dokumen-dokumen tersebut memuat nama-nama yang dipertimbangkan komite Nobel sebagai penerima penghargaan mereka. Daftar ini kemudian dimuat di koran Swedia, Sydsvenska Dagbladet (artikel bahasa Swedia)

Dalam daftar tersebut, nama Tolkien terselip bersama penulis seperti Graham Greene, penulis Brighton Rock, Our Man in Havana dan A Burn-Out Case yang ternyata dipertimbangkan komite Nobel untuk menjadi runner-up; Karen Blixen, penulis Out of Africa; John Steinbeck, penulis Of Mice and Men; dan penyair Robert Frost (namanya kemudian didiskualifikasi karena sudah berusia 80-an). Daftar nama ini disertai dengan catatan dan komentar dari komite Nobel, namun tidak ada keterangan lengkap soal catatan final terkait keputusan akhir komite Nobel dalam memutuskan pemenang.

Mengapa bisa ada nama Tolkien di dalam daftar tersebut? Hal itu ternyata karena namanya direkomendasikan ke komite Nobel oleh sahabatnya, C. S. Lewis, penulis Narnia dan sesama anggota klub Inklings. Memang bukan rahasia bahwa Lewis sangat mengagumi karya Tolkien, terutama Lord of the Rings, sampai-sampai dia selalu meminta Tolkien membacakan tiap bab LOTR yang sudah selesai ditulis dalam pertemuan klub. Arsip-arsip komite Nobel yang diterbitkan untuk publik tersebut memberi dimensi baru dalam warna persahabatan mereka; Lewis begitu mengagumi Tolkien sampai memasukkan namanya untuk dipertimbangkan komite Nobel. Hal ini tercermin dalam salah satu dari kumpulan surat C. S. Lewis, tertanggal 7 Januari 1961, yang dimuat di dalam C.S. Lewis Collected Letters, Vol III. Dalam surat itu, Lewis memang telah menominasikan seseorang ke komite Nobel, walau tak menyebut nama, dan terkuaknya dokumen ini menunjukkan bahwa Tolkien-lah yang dimaksud (Lewis dianggap memiliki kualifikasi untuk menominasikan seseorang karena sudah memiliki reputasi sebagai profesor bidang sastra).

Menariknya, Tolkien nampaknya tidak pernah mengetahui hal ini, karena beliau tak pernah menyebut-nyebut soal dinominasikan untuk hadiah Nobel sampai saat kematiannya (saya bahkan memelototi buku Letters of J. R. R. Tolkien saya, siapa tahu hal ini pernah disebut-sebut atau terselip, tapi nyatanya tidak).

Lalu, bagaimana hasilnya? Yah, seperti yang sudah bisa Anda duga dari judulnya, Tolkien tidak mendapatkan hadiah Nobel, dan bahkan tidak dipertimbangkan sebagai runner-up. Tidak ada komentar panjang, kecuali pendapat komite juri yang menyatakan bahwa karya Tolkien “tidak mencapai standar kualitas tinggi penceritaan.”

Bagi yang penasaran, pemenang hadiah Nobel Sastra tahun 1961 adalah Ivo Andrić, penulis Yugoslavia.

JRR Tolkien’s Nobel prize chances dashed by ‘poor prose’

Why Didn’t Tolkien Win a Nobel Prize?

2 thoughts on “Ketika Tolkien Hampir Mendapat Hadiah Nobel Sastra

  1. gingerbreadandtea berkata:

    Wow, alasan tidak mencapai standar kualitas cukup aneh, padahal tolkien benar2 menciptakan sebuah dunia baru, kultur baru dan bahasa baru dalam bukunya.. dan cerita2nya menginspirasi penulis2 lainnya dalam menulis cerita.. hmm,ntahlah karena saya jg kurang tau standar nobel seperti apa🙂

    • Putri Prihatini berkata:

      Saya juga belum tahu sih apa standar komite Nobel memutuskan pemenang, tapi dari macam2 diskusi online yang saya lihat soal ini, ada beberapa kemungkinan penyebab lain: LOTR saat itu dianggap belum cukup lama terbit, dan ini adalah karya fiksi fantasi, yang walaupun disukai, tapi cenderung tak ‘dianggap’ sebagai high literature. Dalam wawancara dengan The Telegraph (yang terjemahannya ada di sini juga), Tolkien pernah bilang bahwa buku-buku fiksi fantasi jaman modern beda dengan kisah-kisah kuno jaman dulu; kisah fantasi jaman modern banyak yang disensor habis-habisan dan/atau hanya pantas untuk anak-anak, hingga kesan itu tertanam kuat dalam pikiran publik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s