“Aku Tak Pernah Mengharapkan Kesuksesan Finansial”: Terjemahan Wawancara Tolkien dengan The Telegraph (1968)


John Ronald Reuel Tolkien ( 1892 - 1973) the South African-born philologist and author of 'The Hobbit' and 'The Lord Of The Rings'. Original Publication: Picture Post - 8464 - Professor J R R Tolkien - unpub. Original Publication: People Disc - HM0232 (Photo by Haywood Magee/Getty Images)

Catatan: pada tanggal 22 Maret 1968, The Telegraph Magazine menerbitkan hasil wawancara dengan Tolkien terkait kesuksesan The Hobbit dan LOTR, serta pandangan Tolkien tentang literatur bertema ‘negeri Faerie’ yang telah lama menjadi minatnya, selain pencapaian akademisnya. Artikel berdasarkan wawancara ini dimuat ulang di situs Telegraph pada tanggal 21 Oktober 2015. Saya menerjemahkannya agar makin banyak orang bisa membacanya, karena saya pikir apa yang beliau sampaikan di sini sangat menarik, sekaligus memberi sudut pandang lebih dekat tentang pribadi Tolkien. Tautan ke artikel asli saya sertakan di akhir.

Artikel oleh: Charlotte dan Denis Plimmer 

“Laba-laba,” ujar Profesor J. R. R. Tolkien, memainkan kata itu di mulutnya dengan kelembutan yang nyaris sama saat tangannya memain-mainkan pipa rokoknya, “adalah teror dalam imajinasi kaum di Utara.”

Profesor Tolkien, 76, adalah penulis The Hobbit dan tiga seri fantasi epik The Lord of the Rings, buku laris yang memakan waktu paling lama untuk ditulis dalam sejarah penerbitan modern. Ia sedang bicara tentang naga dan makhluk-makhluk mengerikan lain yang menjadi subyek ketertarikan akademisnya. Saat bercerita tentang salah satu monsternya, laba-laba betina pemakan manusia, ia berkata, “monster betina tidak lebih mematikan daripada monster jantan, tetapi ia berbeda. Ia adalah makhluk yang menyedot, mencekik, dan menjerat.”

Bagi Profesor Tolkien, pensiunan filolog Oxford yang terbiasa menekuni materi berdasarkan data-data, segalanya harus spesifik, bahkan di dalam fantasi. Dalam dunianya yang luar biasa, ia bergerak dengan keyakinan bak pemburu di area perburuan. Para Dwarf punya silsilah keluarga mereka sendiri. Para Elf punya bahasa sendiri yang disusun dengan mendetail. Para Penyihir beroperasi dengan aturan serikat. Para Hobbit, yang paling terkenal dari seluruh ras ciptaannya, adalah makhluk-makhluk yang sama sekali tidak anggun — suka makan, suka memberi hadiah, pecinta rumah, berperut buncit — dan sama bisa dipercaya seperti agen koran lokal Anda.

Ketika John Ronald Reuel Tolkien mengajak Anda masuk ke garasi sumpek yang juga dijadikan perpustakaan, ia mengajak Anda masuk ke keajaiban dan legenda Middle-earth, kosmografi tiga dimensi dalam Lord of the Rings. Garasi itu sendiri sama sekali tak mirip gua ajaib. Terjepit di antara rumah sang Profesor dan rumah tetangganya di komplek pinggiran kota di Oxford yang nampak biasa-biasa saja, garasi itu tak lebih dari ruangan biasa yang dipenuhi deretan dokumen dan setumpuk kursi kebun, walau mungkin tidak demikian bagi Tolkien sendiri.

Tolkien, yang menyebut dirinya “gempal,” punya mata kelabu, kulit yang terbakar matahari, rambut perak, dan cara bicara cepat dan tegas. 50 tahun silam, ia mungkin bisa dikira tuan tanah muda di sebuah desa. Para Hobbit akan memercayainya, para naga akan mengkeret di hadapannya, para Elf akan menyebutnya teman. Ia dengan mudah membuat Anda mengaguminya sama seperti — di sinilah daya tariknya — ia mengagumi dirinya sendiri.

Bagi sekelompok kecil pembenci Ring — beberapa bahkan mengaku melihat makna berbahaya di balik buku tersebut — kepercayaan dirinya ini pasti menyebalkan. Akan tetapi, bagi para pengagumnya, sifat itu hanya semakin menambah pesonanya sebagai semacam pahlawan yang unik.

Para pengagum Tolkien kebanyakan adalah akademisi dan kaum terpelajar, tapi tidak melulu begitu. Ibu rumah tangga menyuratinya dari Winnipeg, manusia-roket menulis dari Woomera, para penyanyi pop menulis dari Las Vegas. Karyawan biro iklan mendiskusikan karyanya di bar-bar London. Orang-orang Jerman, Spanyol, Portugis, Polandia, Jepang, Israel, Swedia, Belanda dan Denmark membaca bukunya dalam bahasa mereka sendiri. Bukunya bagaikan opium bagi para hippies, yang menenteng karyanya ke berbagai tempat yang jauh, mulai dari San Francisco hingga ke Istanbul dan Nepal.

Walaupun buku-bukunya tak memuat kecabulan, kata umpatan, homoseksualitas dan sadisme — semua yang membuat literatur abad ke-20 sukses secara komersil — sang Profesor dan pihak-pihak yang berperan dalam penerbitan buku-bukunya melihat bahwa jalan menuju Middle-earth ternyata dilapisi emas.

“Aku tak pernah mengharapkan kesuksesan finansial,” ujar Tolkien sambil mondar-mandir melintasi ruangan, seperti kebiasaannya saat berbicara. “Aku bahkan tidak berpikir soal penerbitan saat menulis The Hobbit di tahun 30-an. Semuanya dimulai saat aku menilai kertas-kertas hasil ujian untuk mendapat tambahan penghasilan. Melelahkan sekali. Salah satu sumber penderitaan profesor bergaji kecil adalah ia harus mau melakukan pekerjaan remeh-temeh. Ia diharapkan untuk berada dalam posisi tertentu, harus mengirim anak-anaknya ke sekolah yang bagus. Nah, suatu hari, aku melihat kertas ujian yang masih kosong, dan aku menulis di atasnya: di dalam lubang di tanah, hiduplah sesosok hobbit.

Salah satu halaman naskah awal Lord of the Rings dengan tulisan tangan dan ilustrasi buatan Tolkien

“Saat itu, aku belum tahu apa-apa soal makhluk tersebut, dan makan waktu bertahun-tahun sebelum ceritanya berkembang. Aku tak tahu bagaimana namanya terpikir olehku. Susah melacak pikiranmu sendiri. Mungkin saja ada hubungannya dengan Babbitt-nya Sinclair Lewis. Yang jelas bukan rabbit, seperti yang dikira banyak orang. Babbitt mencerminkan kesombongan ala borjuis seperti yang dimiliki Hobbit: dunia mereka terbatas pada tempat yang sama.”

Ketika Profesor Tolkien bicara soal ‘dunia terbatas’ kaum Hobbit, maksudnya adalah Shire, tempat dimana para Hobbit membangun rumah nyaman mereka di dalam tanah, melengkapinya dengan pintu bundar dan jendela-jendela, lalu dengan tenang menghitung barang-barang dan memelajari pohon keluarga mereka. Akan tetapi, seluruh area Middle-earth yang lain, dimana Bilbo Baggins dari Shire secara tak terduga terlibat dalam petualangan, adalah cakrawala luas penuh dengan rawa-rawa, pegunungan, teror, dan keindahan.

Tolkien mengijinkan beberapa temannya dari Oxford membaca The Hobbit.  Salah satunya, seorang dosen, meminjamkannya pada seorang mahasiswi, Susan Dagnall. Nona Dagnall kemudian bekerja di penerbit Allen and Unwin, dan mengusulkan The Hobbit untuk diterbitkan sebagai buku anak-anak. Sir Stanley Unwin menyuruh anaknya, Rainier, yang waktu itu berusia 10 tahun, untuk membacanya (“aku memberinya 1 shilling,” kenang Sir Stanley).

Walaupun The Hobbit tidak langsung menjadi karya terlaris, para pembaca terpesona pada Middle-earth, dan Allen and Unwin meminta sekuel. Tolkien menawarkan The Silmarillion, saga yang mengisahkan asal-usul Elf dan Manusia, yang telah digarapnya sejak tahun 1916. Akan tetapi, naskah itu ditolak karena dianggap terlalu muram dan ‘Celtic.’ Tolkien setuju dengan mereka, dan saat ini, ia sedang merevisinya.

Bahkan sebelum menulis The Hobbit, Tolkien telah mulai memikirkan The Lord of the Rings, yang menurut sejarah Middle-earth merupakan kelanjutan The Hobbit. Setelah The Silmarillion ditolak, Tolkien akhirnya menggarap Ring, yang menceritakan petualangan Frodo, keponakan Bilbo, serta si penyihir hebat Gandalf. Selama 14 tahun berikutnya, manuskrip tebalnya perlahan-lahan terselesaikan.

Sir Stanley Unwin, yang disebut gila oleh para kompetitornya ketika menerbitkan dua volume pertama Ring di tahun 1954, memberitahu kami, “Aku sedang di Jepang ketika manuskripnya tiba. Rayner menyuratiku dan bilang resiko penerbitannya besar. Manuskrip itu harus diterbitkan dalam tiga volume, masing-masing dengan biaya 1 guinea — itu adalah saat-saat dimana 18 shilling adalah biaya terbesar untuk menerbitkan buku laris. Tapi Rayner juga bilang “wajar saja, ini karya seorang jenius.” Jadi aku mengiriminya telegram dan menyuruhnya menerbitkannya.

“Dari semua buku yang telah kuterbitkan selama 63 tahun, hanya sedikit yang aku bisa yakin akan laris lama setelah kematianku. Aku tak ragu terhadap yang satu ini.”

Dunia imajiner Tolkien berkembang dari kegemarannya menciptakan bahasa. Menurutnya, “Siapapun yang menciptakan bahasa akan menyadari bahwa bahasa memerlukan lingkungan yang sesuai serta sejarah dimana bahasa itu bisa hidup. Tentu saja bahasa yang asli tidak pernah diciptakan. Itu proses alami. Salah besar menyebut bahasa yang kau gunakan saat tumbuh ‘bahasa asli.’ Tidak. Itu adalah bahasa yang kau pelajari pertama kali. Itu adalah salah satu produk sampingan dari perkembangan hewan.”

Middle-earth ciptaan Tolkien, lengkap dengan orang-orang, sejarah dan bahasanya, semua terintegrasi secara logis, dan secara spiritual terkait dengan Eropa Utara. Akan tetapi, wilayahnya juga membentang ke Selatan, termasuk negeri dimana kaum berkulit gelap maju ke medan perang mengendarai hewan raksasa Oliphaunt, serta ke Timur dimana Mordor “kira-kira berlokasi di Balkan.”

Sahabat Tolkien sekaligus rekan sesama penulis, C. S. Lewis, merasa ‘terhanyut’ oleh perkembangan Ring, dan ia tidak menutup-nutupinya. “Dia berkeras memintaku membaca paragraf-paragraf yang sedang kugarap, dan kemudian memberi banyak saran. Dia akan marah kalau aku tak menerima sarannya. Pernah, dia berkata ‘mustahil memengaruhimu, kau tak bisa dipengaruhi!’ Tapi itu tidak benar. Kapanpun dia bilang “Kau bisa lebih baik dari itu. Berusahalah, Tolkien!’ Aku akan berusaha melakukannya.”

Profesor Tolkien menjual 4.200 lembar naskah asli Ring yang diketik ke Marquette University di Milwaukee, Wisconsin. Menurutnya, “Aku butuh uang untuk membeli rumah ini.”

Tolkien lahir di Bloemfontein di Afrika Selatan. “Aku tinggal di sana selama tiga tahun sebelum kembali ke Inggris,” ujarnya. “Setelah tinggal di tempat yang kering dan tandus, aku ‘terlatih’ untuk menyerap keindahan lembut bunga-bunga dan rumput Inggris. Saat aku tiba, aku punya perasaan aneh bahwa aku akhirnya pulang. Segalanya tentang Hobbit adalah wujud kerinduan terhadap kebahagiaan masa kecilku sebelum aku menjadi yatim piatu pada usia 12 tahun.”

Tempat dalam kenangannya — Sarehole, yang berlokasi di pinggiran Birmingham — menjadi model untuk menciptakan Shire.

Menurut Tolkien, “Sebagai anak-anak, aku senang menciptakan bahasa. Tapi itu dulu dianggap tidak baik. Anak-anak keluarga miskin harus berkonsentrasi untuk mendapatkan beasiswa. Ketika aku diharuskan belajar bahasa Latin dan Yunani, aku malah belajar bahasa Wales dan Inggris. Ketika aku diharuskan belajar bahasa Inggris, aku belajar bahasa Finlandia. Aku tak pernah bisa menyelesaikan tugas-tugasku.”

Ia kemudian mendapat beasiswa di King Edward IV School di Birmingham, lantas melanjutkan pendidikan ke Oxford. Ketika bergabung dengan Lancashire Fusiliers di Perang Somme, ia menyaksikan cakrawala yang terbakar dan hancur, yang kemudian tercermin dalam Ring. Tahun-tahun berikutnya yang dihabiskan di Leeds University dan Oxford adalah masa-masa penuh pencapaian akademis. Akan tetapi, selain dunia akademis, ia selalu tertarik pada negeri Faerie yang mistis.

Faerie, menurutnya, adalah dunia luar biasa yang dipenuhi keindahan, bahaya, kebahagiaan dan kesedihan — yang harus dinikmati karena keajaiban dunia itu sendiri, bukannya dibedah.

Jadi, Tolkien melarang para mahasiswa untuk mencoba “membaca” makna di balik Ring. “Buku ini,” katanya, “bukan tentang apapun, melainkan kisah itu sendiri. Tak ada aspek alegori, tematis, moralitas, religius, atau politis. Buku ini bukan tentang perang modern atau bom hidrogen, dan tokoh jahatku bukan Hitler.”

Apakah kisah fantasi harus selalu terbatas dalam tempat dan waktu dalam legenda? Bisakah mereka dibuat dengan latar belakang modern? “Tidak,” ujar Tolkien, “tidak, jika maksudmu adalah modern dalam istilah teknologi. Pembaca harus menghampiri dunia Faerie dengan menanggalkan ketidakpercayaan. Jika suatu hal bisa dikontrol dengan teknologi, keajaibannya akan hilang.”

Tolkien menyesali fakta bahwa, selama beberapa abad terakhir, kisah fantasi telah turun derajat hingga hanya dianggap pantas untuk anak-anak. Terlebih lagi, ia tak suka cerita-cerita yang dipenuhi pesan moral. “Saat aku kecil, aku tak suka Hans Andersen, dan sampai sekarangpun begitu.”

Ia juga menulis: “periode sentimen masa kecil telah menimbulkan perkembangan mengerikan akan kemunculan cerita-cerita yang diadaptasi sedemikian rupa dengan cara yang hanya dianggap pantas untuk pikiran anak-anak. Kisah-kisah kuno disensor habis-habisan. Imitasi dari kisah-kisah ini kerap nampak konyol atau menggurui, disertai suara kikikan tawa orang dewasa.”

Tolkien lebih lanjut berkata: “kisah fantasi yang terasa nyata haruslah praktis. Kau harus punya peta, walaupun sederhana. Kalau tidak, kau hanya akan berputar-putar kesana-kemari. Dalam Lord of the Rings, aku tak pernah membuat karakterku pergi lebih jauh dari yang bisa mereka capai dalam satu hari.”

Middle-earth begitu nyata bagi Tolkien sampai-sampai ia menyertakan 127 halaman apendiks yang berisi latar belakang sejarah, sosiologis, dan filologis para karakternya. Bagi Tolkien, menciptakan sesosok Hobbit tanpa sistem kalender dan pohon silsilah keluarga bagaikan meninggalkan karakternya tanpa tubuh. Dengan alasan yang sama, Tolkien juga mengiringi bahasa ciptaannya dengan berbagai catatan terkait vowel dan penekanan kata-kata, naskah, alfabet, dan kata-kata turunan. “Aku menciptakan mereka menggunakan metode ilmiah,” ujar Tolkien. “Mereka harus sama lengkap dan teratur seperti sejarah kaum Elf.”

Tolkien menduga bahwa apendiks inilah yang telah menyulut antusiasme baru terhadap Ring di kalangan murid sekolah dan mahasiswa di Amerika Serikat. “Kebanyakan rupanya cocok untuk remaja. Aku tak bermaksud demikian, tapi itu sempurna untuk mereka. Kurasa merasa tertarik pada hal-hal yang ada hubungannya dengan kehidupan nyata.”

Dampaknya, Profesor Tolkien telah menyediakan semacam Mekah untuk para pencipta peradaban baru. Para siswa meneliti kata-kata turunan dari bahasa ciptaannya. Mereka menciptakan Middle-earth baru yang lebih lengkap. Mereka membangun rumah Hobbit. Mereka mencoba mengisi kekosongan dalam sejarah Middle-earth.

“Kegilaan absurd,” sebagaimana Tolkien menyebutnya, dimulai di Amerika pada tahun 1965 dengan diterbitkannya versi bajakan Ring oleh penerbit Ace Books. Edisi sampul keras The Hobbit dan Lord of the Rings yang asli sebelumnya hanya terjual di kalangan terbatas, dimana salah satu fans beratnya adalah W. H. Auden. Edisi terbitan Ace lebih murah, dan tiba-tiba saja, toko-toko buku di kampus-kampus kewalahan. Buku bajakan itu mengundang kontroversi luas. Pada musim gugur tahun 1965, Ballantine Books merilis edisi terbitan resmi. Para maniak Hobbit segera membeli versi resmi ini, walaupun mereka sudah punya versi bajakan yang telah ditarik. Mereka yang berjiwa aristokrat sejati membeli edisi terbitan Inggris. “Rasanya benar saja,” ujar salah seorang fans.

Para pecandu Tolkien mengenakan pin bertuliskan “Frodo Lives” atau “Go, go Gandalf” dalam bahasa Inggris atau Elf, bergabung dalam berbagai kelompok pecinta Tolkien, dan menulis puisi cinta dalam bahasa Elf. Tolkien menerima sejumlah tawaran untuk hak pembuatan film, komedi musikal, acara TV, dan pentas boneka. Perusahaan pembuat puzzle meminta ijin membuat puzzle bertema Ring, dan perusahaan sabun ingin membuat produk berbentuk karakter dari Ring. Para penggemar Tolkien marah dengan tawaran-tawaran yang tak sensitif ini. “Tolong jangan biarkan mereka membuat film dari buku Ring,” tulis seorang gadis berusia 17 tahun, “itu seperti membangun Disneyland di Grand Canyon.”

Proyek musikal, satu-satunya proyek komersial yang diterima saat itu, dimulai ketika Donald Swann, anggota pentas teater musikal At the Drop of the Hat, menggubah musik untuk mengiringi enam puisi bertema Ring. Salah satunya dalam bahasa Elf.

Ketika kami bertanya pada Tolkien bagaimana lagu berbahasa Elf dinyanyikan, ia menjawab, “seperti paduan suara Gregorian.” Lantas, dengan suara kontra-tenor mirip paduan suara gereja, ia menyanyikan baris-baris pertama lagu perpisahan Galadriel, sang ratu Elf:

Ai! laurië lantar lassi súrinen,

Yéni únótime ve radar aldaron!

Tolkien dengan teguh berpendapat bahwa Ring tak seharusnya difilmkan. “Kau tak bisa memadatkan narasi ke dalam drama. Memfilmkan Odyssey jauh lebih mudah; tak banyak yang terjadi di dalamnya, hanya beberapa badai.”

Dia tak suka dikelompokkan dengan para penulis epik sebelumnya. C. S. Lewis pernah berkata bahwa Ariosto tak bisa menandingi Tolkien. Kepada kami, Tolkien berkata, “Aku tak kenal Ariosto, dan terkutuklah kalau aku kenal.” Dia juga kerap dibandingkan dengan Malory, Spencer, Cervantes, dan Dante. Dia menyangkal semuanya. “Cervantes?” Sergahnya. “Dia itu racun bagi dunia roman.” Pendapatnya soal Dante: “Aku tak tertarik padanya. Dia penuh kebencian. Aku tak peduli pada hubungan remeh-temehnya dengan orang-orang tak berharga di kota-kota tak penting.

“Aku tak terlalu banyak membaca sekarang, bahkan kisah-kisah fantasi. Aku selalu mencari sesuatu yang belum pernah kutemukan.” Kami bertanya apa itu, dan Tolkien menjawab, “sesuatu seperti yang kutulis.”

Edisi pertama Lord of the Rings

Beberapa orang mengkritik bahwa Lord of the Rings tidak membahas tentang agama. Tolkien menyangkalnya. “Tentu saja ada Tuhan dalam Lord of the Rings. Periode sebelum Kristen, tapi monoteistik.”

Monoteistik? Jadi siapakah Tuhan dalam Lord of the Rings?

Tolkien nampak terkejut. “Yang Satu, tentu saja! Buku ini tentang dunia yang diciptakan Tuhan — dunia yang ada di planet ini.”

Ketika akhirnya kami meminta sang Profesor untuk menandatangani buku Ring milik kami, ia bertanya, “Apakah ingin ditambahi tulisan? Tulisan apa?” Kami mengusulkan sesuatu dalam bahasa Elf. Dengan seksama, ia menulis satu baris teks dalam aksara anggun yang diciptakannya.

“Ini salam dalam Bahasa Tinggi kaum Elf. Elen síla lúmenn’ omentielvo. Artinya: ‘bintang-bintang bersinar pada jam pertemuan kita.'”

Artikel asli bisa dibaca di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s