Review Buku ‘Fahrenheit 451’: Ketika Buku Dibakar dan TV Merajalela


fahrenheit 451 ray b

“The books are to remind us what asses and fools we are. They’re Caesar’s praetorian guard, whispering as the parade roars down the avenue, ‘Remember, Caesar, thou art mortal.'”

-Faber, in Fahrenheit 451, chapter 2: The Sieve and the Sand

Kita sering mengeluh bahwa generasi jaman sekarang lebih suka menonton TV daripada membaca buku, dan berkomentar bahwa banyak orang lebih suka mengisi otak dengan acara TV sensasi (yang kerap disamarkan menjadi berita), daripada membaca buku-buku sastra yang memerlukan imajinasi untuk memahaminya. Sekarang, bayangkan versi ekstrimnya: bagaimana jika kita hidup di negara dimana buku sama sekali dilarang, pemadam kebakaran dibayar untuk membakar buku, TV sensasi menjadi satu-satunya bentuk hiburan yang diijinkan, dan memiliki buku diancam hukuman mati? Itulah yang dibayangkan Ray Bradbury tentang masa depan saat menulis novel distopia Fahrenheit 451, dan sama seperti prediksi Andy Warhol tentang “15 menit ketenaran,” visinya bisa dibilang sudah mulai terbukti. 

Fahrenheit 451 yang terbit perdana di tahun 1953 ini mengikuti karakter Guy Montag, seorang petugas pemadam kebakaran yang tinggal di suatu kota di Amerika Serikat jauh di masa depan. Tak dijelaskan tahun berapa ia hidup, namun dari deskripsi dalam buku ini, kita bisa membayangkan sebuah negara otoriter dimana buku dianggap barang terlarang, petugas pemadam kebakaran dibayar pemerintah untuk membakar buku serta rumah orang yang ketahuan menyimpan buku-buku tersebut, media siaran menjadi satu-satunya bentuk hiburan, berita dipenuhi aspek sensasi, penduduknya mendukung perang dengan patriotisme buta walaupun sama sekali tak paham untuk apa mereka berperang, dan robot-robot anjing raksasa yang disebut The Hound “mengendus” setiap sudut rumah dan jalan untuk melacak pelanggar hukum, terutama para penyimpan buku ilegal atau mereka yang dianggap punya kepribadian yang berpotensi “merusak ketertiban umum.”

Montag tinggal bersama istrinya, Mildred, seorang wanita dangkal yang menghabiskan waktunya menonton TV canggih yang besarnya menutupi tiga dari empat dinding ruangan, yang begitu menyita perhatiannya sampai-sampai Mildred memanggil orang-orang di TV tersebut sebagai “keluargaku.” Mulanya, Montag dengan patuh selalu menjalankan perintah tanpa banyak tanya, walaupun dia juga kerap penasaran dan mencuri buku dari rumah-rumah yang dia bakar, dan menyembunyikan buku-buku itu di tempat tersembunyi di rumahnya. Pemahaman Montag akan dunia sekitarnya mulai terusik ketika ia bertemu Clarisse, seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang berjiwa bebas, penuh rasa ingin tahu; sama sekali tidak seperti orang-orang di sekitarnya. Montag akhirnya selalu menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan Clarisse sambil membicarakan banyak hal, dan pelan-pelan, Montag mulai mempertanyakan makna kehidupan dan kebahagiaan yang dipahaminya selama ini. Montag pun makin terguncang ketika membakar rumah seorang wanita yang menyimpan banyak buku, dan melihat betapa wanita itu menolak ke luar rumah, memilih hangus terbakar bersama buku-bukunya.

Montag kemudian memaksa istrinya untuk ikut membaca buku-buku yang dia sembunyikan di rumah, dengan pikiran bahwa buku-buku, yang selama ini dianggap barang terlarang, mungkin menyimpan pesan-pesan yang justru bisa menyelamatkan masyarakat dari kehancuran. Montag bahkan nekad membacakan puisi dari salah satu buku curiannya pada ketiga teman wanita Mildred, karena emosi melihat mereka hanya senang membicarakan hal-hal dangkal dan menolak berbicara dari hati ke hati atau bertukar pikiran secara intelektual, sama seperti yang Montag lakukan dengan Clarisse. Akan tetapi, tindakannya itu membuat Mildred dan ketiga temannya ketakutan, dan akhirnya, Mildred mengkhianati Montag dengan melaporkannya ke kesatuannya sendiri. Montag pun terpaksa melarikan diri dengan bantuan Faber, seorang mantan profesor bidang bahasa Inggris di universitas, dan bertekad untuk tak lagi hidup dengan caranya yang dulu, walau itu berarti harus menjadi buronan.

Book Burning, dan Masyarakat yang Berpikiran Dangkal

Ray Bradbury merupakan pecinta buku sejak kecil. Menurutnya, ketika ia masih muda, banyak hal yang berkaitan dengan buku yang melekat erat di pikirannya. Ia ingat merasa kecewa ketika pergi ke perpustakaan lantaran perpustakaan itu menolak menyetok buku-buku fiksi ilmiah populer. Ia juga akhirnya mengetahui tentang berbagai peristiwa book burning terpopuler dalam sejarah; pembakaran perpustakaan di Alexandria, kampanye pembakaran buku oleh Nazi di tahun 1930-an,  serta The Great Purge-nya Joseph Stalin di tahun 1936-1938 yang mengakibatkan banyak orang, termasuk penulis dan penyair, dibunuh sebagai wujud represi politis. Hal ini membuat Bradbury berpikir bahwa di balik kehebatan buku, yang menyimpan hasil-hasil pemikiran terhebat manusia yang dapat memberi pengaruh besar pada peradaban, ternyata buku juga sangat rapuh dan rentan pemusnahan maupun sensor. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu hebat dan berpengaruh ternyata juga begitu rapuh?

Bayang-bayang perang yang digambarkan menggantungi masyarakat dalam Fahrenheit 451 (walaupun perangnya sendiri tidak digambarkan secara detail) didasarkan pada ketakutan masyarakat Amerika akan Perang Dingin, yang nyaris bersifat paranoid. Di saat yang nyaris bersamaan, Bradbury juga terpengaruh oleh tindakan boikot pemerintah Amerika terhadap sekelompok penulis naskah dan sutradara Hollywood setelah Perang Dunia II karena dianggap menyebarkan paham komunis. Bradbury juga menyaksikan saat Jaman Keemasan Televisi (Golden Age of Television) mulai terjadi di Amerika pada akhir 1940-an, dengan kecemasan bahwa TV suatu saat akan menyita perhatian manusia terlalu banyak hingga mereka menolak aktifitas intelektual dan kegiatan berimajinasi yang didorong oleh membaca buku. Semua hal ini menjadi latar belakang untuk menulis beberapa cerpen seperti The Pedestrian dan Bright Phoenix, serta novelet berjudul The Firemen, yang akhirnya dia kembangkan menjadi Fahrenheit 451.

Ray Bradbury di tahun 1959, enam tahun setelah Fahrenheit 451 terbit

Dalam salah satu bagian novel yang menurut saya paling menyita perhatian, Montag digambarkan mendengarkan ceramah dari atasannya, Kapten Beatty, tentang apa yang menjadi penyebab dari semua hal yang terjadi di sekitar mereka. Menurut Beatty, setelah Perang Sipil, populasi dunia yang semakin membengkak dan perkembangan teknologi membuat gaya hidup menjadi semakin cepat, namun potensi kerusuhan juga semakin besar. Semakin banyak orang berarti semakin banyak pula kemungkinan bentrokan karena perbedaan pendapat. Majalah dan koran pun dibuat “sebiasa rasa vanila,” sehingga pikiran tak lagi tertantang saat membaca. Media baru seperti TV dan radio menjadi mewabah karena lebih simpel, tidak menyita pikiran dan waktu, dan memberi semua orang sesuatu yang sama untuk dinikmati sehingga mengurangi potensi kerusuhan. Peredaran buku pun dibatasi menjadi versi mudah dari buku-buku yang asli. Misalnya, Hamlet karya Shakespeare tidak lagi dicetak sebagai buku utuh, namun hanya ringkasannya. Generasi baru berkembang menjadi orang-orang dengan pikiran dangkal dan ogah berpikir logis dan analitis, terutama karena rentang perhatian individu semakin pendek akibat malas berpikir (bayangkan orang-orang di media sosial yang bertipe “baru baca judul langsung komentar”). Ketika gelombang konflik, kerusuhan dan protes bergulir, pemerintah menjadikannya sebagai alasan untuk melarang peredaran buku.

Sebagai pembaca buku, Fahrenheit 451 tentu sangat beresonansi dengan diri saya (dan membuat saya bersyukur bahwa saya tidak perlu menghadapi era pembakaran buku). Penggambaran masyarakat yang menelan mentah-mentah acara TV, menikmati acara sensasi ketimbang mengolah otak lewat buku, dan menganggap semua yang ditayangkan berita adalah benar tanpa berpikir kritis adalah beberapa ramalan Bradbury yang menjadi kenyataan. Bahkan, Bradbury sendiri sudah meramalkan kemunculan generasi baru masyarakat yang gemar menunduk menghadapai gadget mereka walaupun ada orang lain di dekatnya. Dalam bagian Audio Introduction yang disertakan di novel edisi 60th anniversary, Bradbury menceritakan salah satu pengalamannya saat sedang berjalan-jalan: ia melihat sepasang suami istri berjalan-jalan di malam hari, namun si istri asyik menempelkan radio di telinganya, sama sekali tak menghiraukan si suami yang berjalan di sampingnya. Adegan itu menjadi inspirasi dalam menciptakan karakter masyarakat luas di novel ini, misalnya saat menggambarkan adegan Mildred dan teman-temannya mengobrol di rumah Montag. Walaupun mereka duduk bersama, perhatian mereka tersita ke TV raksasa Mildred, dan pembicaraan mereka hanya berputar-putar di hal-hal dangkal, berita, dan gosip.

Ada satu adegan yang cukup memorable di bagian menjelang bab-bab akhir. Ketika Montag diumumkan sebagai buronan negara dan diburu, pemerintah bekerjasama dengan kepolisian dan media untuk menyiarkan perburuan Montag di TV, lengkap dengan narasi dramatis dan iringan lagu. Ketika salah satu robot Hound menghadang seorang pria yang sedang berjalan-jalan malam, robot tersebut langsung diperintahkan untuk menerjang dan membunuh pria itu, walaupun pria itu bukan Montag. Kamera media pun dengan cerdik menyorot adegan itu dari helikopter sehingga penonton TV tidak bisa melihat wajahnya. Berita pun mengumumkan bahwa Montag si buronan telah tewas, padahal itu hanyalah trik untuk menyelamatkan wajah kepolisian dan pemerintah. Montag yang asli? Tentu saja masih lolos.

Lucunya, walaupun pendapat populer menganggap bahwa buku ini merupakan bentuk protes akan sensor pemerintah yang berlebihan, Ray Bradbury sendiri lebih menganggapnya sebagai bentuk ketakutannya bahwa perkembangan TV akan membentuk masyarakat dangkal yang sama dengan yang digambarkannya dalam buku. Bayangkan saja versi literatur dari film IdiocracyBradbury sangat bersikeras dalam hal ini, sampai-sampai ketika dia diundang untuk menjadi pembicara tamu di UCLA, dan salah satu mahasiswa bersikeras memberitahunya bahwa “Anda salah, ini buku tentang sensor pemerintah,” Bradbury begitu marah sampai-sampai dia keluar ruangan (oke, kalau boleh jujur, Bradbury punya kebencian cukup besar terhadap teknologi TV dan bahkan internet, padahal dia bisa dibilang meramalkan teknologi TV layar datar yang Anda pasang di dinding. As for internet, wellhe basically told Yahoo to go to hell).

Anda tidak perlu jadi orang yang parno terhadap internet seperti Ray Bradbury untuk menikmati buku ini. Intinya, jika Anda pembaca buku, atau tipe yang prihatin dengan budaya TV dan media yang hobi mengibuli, memanas-manasi, dan memanipulasi fakta demi rating, buku ini jelas salah satu karya ikonik yang wajib Anda baca.

Bisa beli di sini atau di sini.

Saya bukan Ray Bradbury, tapi dalam semangat memuja buku, saya tidak akan malu-malu mempromosikan buku saya di sini🙂 Kumpulan biografi singkat wanita-wanita dalam sejarah yang maju ke medan perang. Bisa diperoleh dalam bentuk cetak dan e-book lewat Bitread.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s