Tolkien dan Pesona “Ruang Kosong” dalam Literatur Fiksi


Ketika saya pertama kali membaca buku Tolkien, The Fellowship of the Ring, saya tidak membaca dari depan sampai belakang, tapi menghabiskan waktu membolak-balik halaman buku secara acak karena penasaran: “siapa sebenarnya Glorfindel? Bagaimana Tom Bombadil dan Goldberry bertemu? Apa yang terjadi pada Nimrodel setelah Amroth kekasihnya tenggelam di Teluk Belfalas? Mengapa informasi tentang Celebrian sedikit sekali, padahal dia ‘kan istri Elrond? Ibu Legolas itu siapa?” Ketika pindah ke The Hobbit, saya kembali melakukan hal yang sama: “kenapa pedang buatan Elf Gondolin bisa jatuh ke tangan Troll? Ngomong-ngomong, Gondolin itu apa sih? Smaug datang dari mana? Bandobras Took itu siapa dan bagaimana ceritanya sampai Hobbit ini memenggal kepala Golfimbul si raja Goblin dan menciptakan permainan golf?” Bahkan sampai sekarang, saya masih sering melakukan itu: membaca ulang buku-buku Tolkien sambil membolak-balik halaman secara acak, siapa tahu ada informasi atau rahasia lain yang saya lewatkan. 

isengard400

Dramatisasi. Kamar saya lebih berantakan dari ini

Jaman sekarang, semua pertanyaan di atas mungkin bisa saja dicari di situs-situs seperti Wikipedia, tapi bahkan dengan bantuan internet, faktanya tetap: saya tidak akan pernah tahu apa jawaban sebenarnya di balik berbagai kekosongan informasi dalam dunia rekaan Tolkien (lagipula, apa yang saya alami di atas terjadi di jaman ketika saya masih jarang sekali menjelajah internet). Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak hal yang membuat saya penasaran, terlalu banyak misteri yang seolah disembunyikan Tolkien terkait berbagai karakter dan peristiwa, seperti menantang saya untuk mengira-ngira sendiri bagaimana mengisi kekosongan informasi itu.

Dan saya ketagihan.

Saya ingat mengakhiri keseluruhan buku LOTR dengan satu kata: “wow.” Saya belum pernah membaca buku fantasi yang membuat saya merasa bahwa ini bisa saja terjadi di masa lalu, dan bahwa buku yang ada di tangan saya menyimpan jauh lebih banyak cerita daripada yang disampaikannya dalam baris-baris teks. Kisah-kisah masa lampau dan identitas karakter yang tidak dideskripsikan Tolkien secara detail membuat saya seperti memandang ke arah pulau misterius atau bangunan megah di kejauhan yang tertutup kabut; terlihat, tapi penuh misteri, dan membuatnya berkesan mistis sekaligus sangat mengundang untuk dijelajahi. Bahkan ketika akhirnya membaca The Silmarillion, yang notabene merupakan “catatan sejarah” pada masa-masa sebelum LOTR dan The Hobbit, kesan itu masih sangat kental, ditambah dengan fakta bahwa buku ini memang benar-benar seperti sebuah kompilasi rekaman berbagai peristiwa di masa lalu dalam dunia rekaan Tolkien.

“Kekosongan informasi” dalam narasi karya fiksi fantasi ini bukan bisa-bisanya Tolkien saja. Konsep sengaja menahan informasi tertentu dari pembaca ini telah dibahas oleh cendekiawan sastra asal Jerman, Wolfgang Iser. Dalam esai tahun 1970 yang berjudul Die Appellstruktur der Texte: Unbestimmtheit als Wirkungsbedingung literarischer Prosa (diterjemahkan menjadi Indeterminacy and the Reader’s Response in Prose Fiction), Iser menjabarkan konsep Leerstelle (blank space), yang pada dasarnya menganggap bahwa dalam setiap karya fiksi, selalu ada informasi yang disembunyikan, dan pembaca memiliki peran aktif dalam menginterpretasikan ruang-ruang kosong ini untuk membentuk pengalaman membaca yang utuh. Menurut Iser, karena teks literatur merupakan jembatan penghubung antara dunia alternatif di dalam bacaan dan dunia para pembaca yang sesungguhnya, ruang kosong dalam teks tersebut berfungsi memberi kebebasan pada masing-masing pembaca untuk mengasosiasikan pengalaman pribadi mereka dengan isi teks. Pembaca pun bisa merasa seolah langsung terlibat dalam kisah yang dipaparkan atau menangkap pesan-pesan moral yang paling cocok dengan mereka.

Iser juga memaparkan bahwa karya-karya fiksi abad ke-20 cenderung lebih kental menunjukkan pola ini ketimbang karya-karya abad ke-18 dan 19, dan ia memberi contoh penulis seperti William Thackeray dan James Joyce. Saya menangkap hal itu ketika membaca kumpulan cerpen karya James Joyce, Dubliners, beberapa tahun setelah menamatkan buku LOTR dan The Hobbit. Sekilas, membaca cerpen-cerpen Joyce terasa seperti membaca kisah-kisah kecil potongan-potongan kehidupan sehari-hari kaum kelas pekerja Kota Dublin. Gaya bahasanya pun tak kelewat dramatis atau puitis. Akan tetapi, setiap kalimat, dialog, dan deskripsi tempat dan kejadian menyembunyikan kisah-kisah dan motivasi tersembunyi di balik setiap karakter: dukacita yang tak pernah berakhir, rasa sesak karena tekanan moral dan sosial, hasrat akan cinta romantis dan kenyataan pahitnya, kesepian mendalam di balik wajah kaum terhormat, dan sebagainya. Semuanya hanya bisa ditangkap ketika kita benar-benar masuk ke balik para karakternya, dan menyelami dunia mereka seolah kita adalah mereka (atau paling tidak, hidup di “dunia” yang sama dengan mereka).

Kumpulan cerpen Atas Nama Malam-nya Seno Gumira Adjidarma juga memiliki kesan seperti ini, yang sangat terasa ketika tokoh-tokohnya digambarkan menguping percakapan para penghuni di samping kanan-kiri kamar kos, atau memotret mayat seorang wanita yang tewas karena overdosis narkoba untuk berita kriminal, atau merenungi kematian seorang gadis bar berusia 17 tahun yang ditembak di diskotik. Kita para pembaca diajak untuk berada di posisi para tokoh ini dan hanya bisa mengira-ngira kisah apa yang tersembunyi di balik berbagai hal yang mereka saksikan. Kebenaran di balik kisah-kisah dalam buku ini seperti hal-hal yang dilihat di bawah langit malam, samar-samar dan misterius, dan imajinasi kitalah yang bermain untuk menyusun jalan ceritanya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang terjadi.

Tentu saja, dalam hal penulisan kisah-kisah fantasi (terutama yang terjadi di dunia yang sepenuhnya rekaan atau Secondary World), seorang penulis juga harus mampu menjalin kisah-kisahnya dengan baik sehingga memberi kesan believable. Ketika hal itu dilakukan, pembaca pun akan bisa ikut “aktif” menjelajahi dunia yang diciptakan sang penulis. Hal itu tentu saja sangat sulit, seperti yang diakui Tolkien dalam esai On Fairy Stories-nya:

Fantasy has also an essential drawback: it is difficult to achieve. …at any rate it is found in practice that “the inner consistency of reality” is more difficult to produce, the more unlike are the images and the rearrangements of primary material to the actual arrangements of the Primary World. It is easier to produce this kind of “reality” with more “sober” material. Fantasy thus, too often, remains undeveloped; it is and has been used frivolously, or only half-seriously, or merely for decoration: it remains merely “fanciful.”

– J. R. R. Tolkien: ‘On Fairy Stories,’ in ‘Tales of the Perilous Realm’ (2008)

Dalam kutipan esai di atas, Tolkien pada dasarnya mengomentari susahnya mempertahankan konsistensi untuk menjaga agar kisah dalam dunia fantasi bisa terasa sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Dunia rekaan Tolkien memiliki beragam catatan sejarah dan legenda masa lalu yang dijadikan referensi oleh tokoh-tokohnya untuk menjaga “atmosfer” agar tetap realistis, namun di saat yang sama, Tolkien mencegah bocornya terlalu banyak informasi dengan membuat kita berada dalam posisi tokoh-tokoh dalam LOTR dan The Hobbit: kita hanya tahu sebagian atau bahkan sepotong-sepotong tentang catatan sejarah, tokoh dan legenda masa lalu, yang memberi kesan misterius dan mistisnya. Kalimat Tolkien dalam surat balasan tertanggal 20 September 1963 untuk salah satu pembaca bukunya ini merumuskan semuanya dengan cukup baik:

Part of the attraction of The L. R., I think, due to the glimpses of large history in the background: an attraction like that of viewing far off unvisited island, or seeing the towers of distant city gleaming in a sunlit mist. To go there is to destroy the magic, unless new unattainable vistas are again revealed.

– ‘The Letters of J. R. R. Tolkien’ (2000): letter number 247

To go there is to destroy the magic. Ketika kita mengetahui terlalu banyak, keajaibannya akan hancur, dan kita tak akan bisa lagi menjadi bagian dari dunia fantasi yang terbuka di hadapan kita. Dalam hal ini, walau ada begitu banyak hal yang disembunyikan Tolkien dalam kisah-kisahnya, saya tak keberatan untuk tetap penasaran, karena saya tak ingin merusak keajaibannya saat saya sedang berada di dunia tersebut.

Sumber:

Ajidarma, Seno Gumira. 1999. Atas Nama Malam. PT Gramedia Pustaka Utama.

Carpenter, Humphrey. 2000. The Letters of J. R. R. Tolkien. Houghton Mifflin Harcourt.

Joyce, James. 1996. Dubliners. Penguin Books.

Tolkien. J. R. R. 2008. Tales from the Perilous Realm. HarperCollins.

Wolfgang Iser / “Indeterminacy and the Reader’s Response in Prose Fiction” – summary

4 thoughts on “Tolkien dan Pesona “Ruang Kosong” dalam Literatur Fiksi

  1. Andre Dubari berkata:

    Mbak Putri Prihartini,

    saya tidak berpikir dua kali untuk melipir ke blog ini setelah usai membaca Dagon yang Mbak Putri terjemahkan. Saya sangat menikmati karya-karya Lovecraft dan di saat yang sama mencintai Tolkien. Sungguh kepuasan yang luar biasa saat saya singgah di blog ini dan menemukan tulisan ini yang begitu.. menyambut saya.

    Pesona “ruang kosong” ini memang salah satu alasan begitu mencandunya saya pada legendarium Tolkien. Dalam beberapa kesempatan yang lalu saya merampungkan Silmarillion, bagi saya ini bagaikan sebuah pengalaman spiritual, haha. Jelas bagi saya Silmarillion mengisahkan lebih dari sekedar penciptaan dan pemeliharaan, antagonis dan penyintas, cinta dan ironi, keindahan dan pengkhianatan atau apapun yang ada dalam buku tersebut, pengantar dan catatan pengembangan cerita menjadi elemen yang luar biasa vital bagi saya untuk mengenal dan mendalami legendarium ini.

    Tak berapa lama setelah Silmarillion saya merampungkan Tale of Children of Hurin. Saya benci tragedi, jujur saja, haha. Jadi tidak saya tidak akan banyak membahas karya yang satu ini. Tapi Unfinished Tales, yang disunting cukup signifikan oleh Christopher memberi saya pengalaman serupa Silmarillion. Catatan penyunting, dan jurnal penulis mengajak saya menyusuri “ruang kosong”, kadang untuk menemukan jawaban, kadang untuk membangun “ruang kosong” lainnya.

    Saya bukan penulis, profesi saya menuntut saya untuk melakukan rekayasa sistem dan merancang interaksi manusia dan manusia lain. Tapi saya selalu bahagia dapat melihat sudut pandang lain dari dunia Tolkien (dan Lovecraft mungkin) dari tulisan Mbak Putri.

    Semangat!

    • Putri Prihatini berkata:

      Terima kasih banyak buat komentarnya, ya. Padahal dulu blog ini sempat vakum, tapi sekarang bisa menarik pembaca yang berpendapat seperti ini rasanya senang🙂 Saya suka baca banyak buku, tapi buku Tolkien memuaskan keinginan saya untuk “menjelajah secara mental.” Belum ada buku yang bisa membuat saya merasa seperti itu, walaupun cerpen-cerpen Lovecrafts yang berkisah tentang “elder gods” kayak Dagon, Chtulhu dan Nyarlathotep juga membuat saya merasakan hal yang sama karena misterinya (tapi dengan cara lebih mencekam). Mungkin ini juga sebabnya kenapa Middle Earth legendarium sangat laris untuk dijadikan bahan menulis fan-fiction; mereka-mereka ini juga gregetan karena ada “ruang kosong” yang tak terpenuhi dalam petualangan membaca buku Tolkien, sehingga masing-masing pun berkelana membuat versi mereka sendiri (walaupun beberapa jadi aneh banget, tapi banyak juga yang bagus, dan menakjubkan betapa kreatifnya mereka mengisi lubang-lubang cerita; ini kayak menuangkan ide personal dan pengalaman mereka ke ruang-ruang kosong itu). Kalau yang sudah jadi buku contohnya Isildur, karya Brian K. Crawford (tapi ini fan-fiction yang tidak menyimpang dari canon Middle Earth legendarium).

      Jujur, walau dulu pertama kali membaca saya merasakan hal ini, tetapi tidak benar-benar paham apa sebabnya. Baru ketika pelan-pelan semakin menambah koleksi bacaan karya Tolkien, dan akhirnya membaca artikel serta kajian literatur yang berkaitan dengan beliau, akhirnya pelan-pelan mulai paham. Tapi, walau begitu, saya tidak merasa itu merusak pengalaman membaca, malah justru semakin menambah apresiasi terhadap Tolkien. Sepertinya, beliau menantang pembaca untuk melihat di balik teks-teks dan jalinan cerita yang terlihat mata, dan tak tertipu kulit, karena beliau tidak hanya sekedar membuat cerita, namun menciptakan konsep. Itulah yang saat ini belum bisa ditunjukkan para penirunya.

      Oh, tidak begitu suka tragedi ya? Kalau saya, makin tragis makin bagus, hehe. Makanya selain Children of Hurin, saya sangat suka The Legend of Sigurd and Gudrun, puisi epik Tolkien yang terinspirasi dari syair epik Skandinavia, karena ya itu, isinya tragis melulu. Tragis tapi indah. Saya pun sudah niat ingin beli The Story of Kullervo nanti, walau belum tahu harganya akan jadi berapa nanti, dan kalau bahasanya sesulit terjemahan Beowulf, mungkin saya tunda dulu, haha.

      Saya juga bukan penulis, setidaknya tidak sebagai profesi utama, hanya hobi (saya belum sepede itu sih…). Blog terjemahan itu pun saya buat sebagai sarana latihan karena saya sangat ingin menjadi penerjemah buku profesional. Tapi, saya menikmati keseluruhan aktifitas ini, dan senang sekali kalau bisa menarik sesama pecinta buku seperti Anda, apalagi yang menyukai karya-karya yang sama.

      Semangat juga ya!

  2. Haryanto berkata:

    wooowwwww…..!!
    ada penghuni middle earth yang sudah sepuh disini, hhehehhee…..

    salam kenal ya, saya juga fans beratnya eyang tolkien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s