Tentang Kabar Kematian Seorang Dosen


Bu Magda

Postingan ini, tak seperti biasanya, bernada amat pribadi. Saya menulisnya beberapa jam setelah mendengar kabar kematian salah satu dosen saya saat kuliah di Fakultas Psikologi UGM, Ibu Magda Bhinnety Etzem. Beliau meninggal dunia pada hari Senin, tanggal 29 Juni lalu, tetapi saya baru mendapat kabarnya hari ini. Saya bukan tipe orang yang emosional dan tidak mudah menangis ketika mendapat berita duka, tapi ketika kabar itu muncul di halaman Facebook saya, rasanya seperti ditonjok tepat di perut, dan saya mengutuki diri sendiri kenapa tidak bisa mengeluarkan air mata. Karena beliau meninggal di Modern Hospital di Guangzhou, jenazah beliau baru akan diterbangkan ke Jogja dan dimakamkan akhir pekan ini. Saya sama sekali tak bisa berangkat ke sana, dan saya sangat menyesalinya, jadi saya akan tumpahkan kesedihan saya di sini dengan menulis mengapa beliau adalah dosen dan bahkan guru terbaik yang pernah saya miliki seumur hidup saya.

Sebelumnya, saya harus cerita dulu mahasiswa model apa saya ini, supaya Anda paham bagaimana berartinya Bu Magda buat saya. Dulu, saya masuk ke Fakultas Psikologi UGM dengan benak yang masih simpang siur. Saya tidak tahu mau jadi apa, saya tak punya rencana apa-apa setelah lulus, dan saya bahkan tidak yakin ranah psikologi apa yang mau saya tekuni. Kegelisahan dan pertanyaan “mau jadi apa gue kalo udah besar nanti” ini sudah berlangsung sejak SMA, dan saat masuk kuliah, saya masih mengalaminya.

Rasanya menyiksa sekali. Di satu sisi, saya bangga karena bisa masuk ke kampus yang bermutu, bertemu dengan banyak teman baru, memelajari banyak hal baru, mencicipi suasana Jogja yang tahu-tahu kemudian menjadi kota kedua yang saya cintai setelah Balikpapan, dan tentunya membuat orangtua bangga. Di sisi lain, setiap kelas yang saya jalani hanya memberi kesenangan sesaat (yaitu saat saya duduk di kelas, mendengarkan penjelasan dosen, terutama saat materi menarik muncul). Tapi, semakin tambah tahun, kegelisahan itu masih melekat dan akhirnya berujung pada pertanyaan “mau ngapain gue di sini?”

Saya juga bukan tipe mahasiswa yang cepat akrab dengan dosen dan bisa bergaul akrab dengan dosen seperti pada teman sendiri. Saya juga bukan mahasiswa straight A, dan dapat nilai B di kelas Statistik dasar itu sudah dengan ngos-ngosan (sampai saya heran sendiri kenapa yang lain kayaknya nggak perlu susah payah memahami pelajaran itu). Pokoknya, kalau ada penghargaan “Mahasiswa Paling Mudah Dilupakan Dosen di Kelas yang Muridnya Banyak,” itulah saya. Bahkan di kelas pun saya termasuk penyendiri; hobi mojok dan membaca buku diam-diam saat menanti kelas dimulai.

Satu-satunya yang bisa memberi semangat saya pada saat itu adalah buku-buku Tolkien. Saya baru mengenal buku Tolkien sekitar tahun 1999, berupa buku LOTR pinjaman yang masih berbahasa Inggris dan saya baca dengan ngos-ngosan, karena bahasa Inggris saya belum begitu bagus. Baru ketika tahun 2000-an awal, saat terjemahan Indonesianya muncul, saya membelinya dan langsung jatuh cinta. Semakin banyak kelas psikologi yang saya ikuti membuat saya berpikir: “baiklah, saya akan belajar psikologi dengan semangat kajian karya-karya Tolkien!”

Tapi, setelah tekad itu muncul, pertanyaan berikutnya hadir: mau mulai dari mana?

Jawabannya muncul saat saya ikut kelas Bu Magda untuk pertama kalinya, Psikologi Kognitif. Waktu itu, saya masih agak terpengaruh film-film LOTR yang menuangkan bahasa-bahasa ciptaan Tolkien ke dalam dialog dengan begitu indahnya. Ketika itu, mendekati pertengahan semester 4 (kalau tidak salah sekitar tahun 2005), Bu Magda menyuruh kami membuat suatu tugas makalah dan presentasi singkat 10 menit dari buku Psikologi Kognitif. Masing-masing harus memilih satu bab dan membuat makalah berdasarkan buku itu. Saya bengong setengah ngelamun sambil membolak-balik buku itu, sampai akhirnya menemukan bab Language Comprehension. Seketika itu, saya langsung klik: “ini dia bab yang cocok untuk saya membuat makalah terkait bahasa rekaan Tolkien!”

Sejujurnya, saya tidak yakin bagaimana ide saya akan diterima. Saya sekedar mengambil konsep dari bab pilihan saya, tapi isinya sama sekali berbeda dengan teman-teman saya yang memilih bab yang sama. Saya pun mendekati meja Bu Magda, terbata-bata menghamburkan soal Tolkien dan LOTR dan bahasa-bahasa rekaan beliau dari mulut saya dan bolehkah saya membuat makalah Language Comprehension dengan tema itu? Saya bahkan sudah menyiapkan beberapa poin untuk berdebat, seandainya beliau menyuruh saya mengganti bahan dengan sesuatu yang lebih cocok untuk kelas psikologinya. Sesuatu yang tidak akan membuat teman-teman bengong ketika waktu presentasi nanti tiba.

Jawaban beliau: “oh, ya, kenapa tidak?”

Separuh terbengong karena beliau cepat sekali mengiyakan permintaan tema tugas yang aneh ini, saya pun berusaha keras menjabarkan apa yang mau saya tulis dalam makalah tersebut. Penjelasan saya sedikit berantakan, karena saya sendiri saat itu masih bingung mau menulis makalah singkat dari sudut pandang yang bagaimana, jika terkait dengan Tolkien. Saat itu sudah jam makan siang dan kelas sudah usai, tapi beliau tetap duduk bersama saya, memberi penjelasan dan bahkan beberapa ide bagaimana saya bisa memulai tulisan tersebut. Berbekal semangat karena bisa menggarap sesuatu yang saya gemari, plus kata-kata menyemangati dari Bu Magda, saya dengan semangat ’45 mulai menggarap tugas yang tadinya saya kira tak bisa saya selesaikan itu. Dan yah, walaupun presentasi saya bisa dibilang sangat ajaib dan bikin bingung teman sekelas (saya sudah lupa sebagian besar isinya, pokoknya slide PowerPoint saya semuanya penuh dengan tabel dan kata-kata dalam bahasa Sindarin, Quenya, dan Rohirric), saya nyaris melompat kegirangan ketika tahu saya mendapat nilai A. Bukan soal nilai bagusnya, tetapi fakta bahwa beliau benar-benar menganggap makalah aneh itu bagus dan memberi saya A karenanya.

Saya pun dengan semangat mulai mencari informasi tentang kajian literatur terhadap karya Tolkien dari berbagai bidang, dan bahkan mencoba menerapkan tema yang mirip dalam dua makalah di dua kelas lagi (dan semuanya berturut-turut dapat A). Bisa dibilang minat saya terhadap kajian karya-karya Tolkien sedikit banyak ‘dipompa’ oleh Bu Magda, yang mengiyakan dan memuji tugas saya. Saya pun akhirnya jadi tahu bahwa, ya, ada kaum profesional yang disebut sebagai Tolkien scholar, macam Dr. Dimitra Fimi, Prof. Tom Shippey dan Verlyn Flieger. Walaupun saya tidak bisa membayangkan akan menjadi tokoh-tokoh sekaliber mereka, toh saya mendapat semangat “ya, ternyata ini sesuatu yang bisa kulakukan.” Untuk pertama kalinya, saya berpikir bahwa belajar di Fakultas Psikologi benar-benar bisa membantu saya menetapkan apa minat saya sesungguhnya.

Saya ketemu lagi dengan Bu Magda dalam kelas Psikologi Transportasi, dan akhirnya ketika bimbingan skripsi. Saat hendak mempersiapkan skripsi, saya tidak bertanya-tanya lagi ketika menentukan siapa yang akan menjadi pembimbing saya: sudah pasti Bu Magda! Saya bahkan sempat mengajukan ide skripsi terkait novel LOTR, namun beliau bilang, tema itu sebaiknya dikeluarkan ketika saya S2. Ya sudah, akhirnya saya mengambil pilihan kedua saya: skripsi bersubyek petugas pemadam kebakaran. Sekali lagi, dalam tema ini, saya bisa dibilang mulai dari nol, karena setelah mengubek-ubek koleksi skripsi di perpustakaan Psikologi, saya tak menemukan satupun yang bersubyek petugas pemadam kebakaran. Sekali lagi menceburkan diri ke sesuatu yang tak pernah saya garap sebelumnya untuk tugas makalah (apalagi skripsi!), saya mengajukannya ke Bu Magda. Jawaban beliau? “Tentu, kenapa tidak? Bagus sekali kamu mau meneliti subyek yang belum banyak dibahas di sini.”

Selama setahun penuh, saya pun ‘gaul’ dengan para petugas pemadam kebakaran Kota Jogja, dan selama itu pula, Bu Magda menjadi pembimbing yang sangat pengertian dan perhatian. Beliau tidak hanya memberi petunjuk dan bimbingan seperti biasa, melainkan juga semangat ketika saya beberapa kali merasa down dan bahkan cemas sampai mau menangis. Saya akui, bahkan 30 menit sebelum maju skripsi, saya sudah yakin pasti akan banyak ‘dibantai’ (kebetulan salah satu dosen penguji terkenal tanpa kompromi sekaligus sangat cerdas dan tajam, dan dia melihat cukup banyak lubang di skripsi saya yang menggunakan metode kualitatif itu). Tapi, bahkan ketika saya sedang ‘dibantai’ di ruangan itu, Bu Magda tetap berkomentar begini: “tapi, setidaknya Putri telah berani memilih subyek yang belum banyak dibahas.”

Pada akhirnya, ketika saya mendapat nilai B/A, saya menelepon Bu Magda sambil susah payah menahan teriakan gembira. Saya lulus! Dan Bu Magda terdengar sangat senang dan mengucapkan selamat pada saya. Sayangnya, saya yang payah dalam bergaul ini hanya memberi beliau pelukan saat wisuda, dan sudah. Ada banyak sekali yang mau saya ungkapkan, tapi entah kenapa semuanya macet. Saya bahkan tidak sempat minta foto bareng dengan beliau. Saat saya pulang ke Balikpapan, saya tak pernah menelepon beliau lagi, karena saya tipe gugupan dan memang jarang menelepon orang duluan. Bahkan ketika saya kembali lagi ke Jogja tahun lalu untuk liburan singkat, entah mengapa saya melewatkan saja kesempatan ke rumah beliau untuk mengucapkan terima kasih dengan lebih pantas.

Tahu apa yang membuat saya sedih? Tahun ini sebenarnya saya berniat kembali lagi ke Jogja, dan sudah berencana mengunjungi beliau. Kali ini, saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan, dan akan saya ungkapkan bagaimana tugas makalah aneh di kelas Psikologi Kognitif itu telah membantu saya menemukan minat saya dan semangat untuk terus belajar. Dan kini, ketika melihat berita itu di halaman Facebook saya, saya menyesal setengah mati. Tapi tidak, saya tidak akan berkubang dalam kesedihan terlalu lama. Saya akan menebus penyesalan bodoh ini dengan terus menjadi diri saya yang sekarang, dan berusaha mencari cara agar saya bisa lebih jauh dari sekarang dalam mengejar minat saya, yang sekarang sudah saya temukan, thanks to her.

Dan sekarang, setelah postingan ini mencapai bagian akhir, air mata saya mulai keluar. Jadi, permisi, saya harus sudahi dulu.

Bye, Bu Magda. You are my best teacher, ever.

4 thoughts on “Tentang Kabar Kematian Seorang Dosen

  1. Han Aikyung berkata:

    Aduh, saya jadi inget juga sama dosen pembimbing saya. Dua dosen itu senior di kampus, dan baik banget tentang masalah skripsi saya yang sebenernya kalo saya baca lagi membingungkan. Pokoknya saya bisa lulus itu karena kehadiran mereka. Kalo dosen pembimbing saya bukan mereka, pasti dosen-dosen lain bakalan bantai saya juga dan mungkin kasih revisi banyak banget. Tapi saya juga pindah kota dan udah nggak ketemu sama mereka lagi, sedih.

    Keren ya kalau ada sosok pendidik semacam Bu Magda ini. Semoga apa-apa yang diajarkan beliau bisa berguna buat banyak orang, dan ada yang nerusin perjuangan mendidik beliau seperti itu.

    Ngomong-ngomong, aku ini pembaca baru blognya mbak Putri. Aku jadi pengen tahu, sekarang mbak Putri kerja di bidang gimana? Perbukuan atau semacamnya?

    Eh lupa perkenalan. Nama saya AI, dari Solo ^^
    Salam kenal mbaaak~

    • Putri Prihatini berkata:

      Salam kenal juga, makasih yaa sudah mampir-mampir. Ya, saya bukan orang yang mengenang masa-masa sekolah dan kuliah sepenuh hati, tapi beliau salah satu yang saya kenang setulus hati. Sekarang saya kerja serba freelance: ngajar bahasa Inggris untuk perusahaan dan nulis artikel SEO. Bidang perbukuan? Hmm, sejauh ini sih cuma nulis2 dan nerjemahin di blog sebagai hobi, bikin buku yang kurang terkenal🙂 Pengen banget bisa kerja 100% di bidang di perbukuan terutama sebagai penerjemah, makanya sekarang lagi latihan, numpuk portofolio, dan ‘nembak’ penerbit kesana kemari….

  2. mulyanto ilham berkata:

    salam kenal Putri, saya senang tulisan Anda tentang kenangan Anda bersama Ibu Magda…..saya juga kenal dgn almarhumah, saat dia di terima di perintis 1 psikologi UGM….saya tdk tahu ternyata almarhumah adlh adik kelas saya di SMAN1 balikpapan….sayapun terkejut atas keberpulangan beliau ke Rahmatullah dari whatsapp group kami SMA IPA’81 SMAN! bpp. semoga Almarhumah mendapatkan tempat yang lapang di alam kuburnya, diterangi alam khuburnya sesuai amal kebaikkannya di dunia.
    wassalam, mulyanto

    • Putri Prihatini berkata:

      Salam kenal pak, terima kasih sudah mampir. Saya terinspirasi banget dengan Bu Magda, dan sekarang pun masih cukup kehilangan walau sudah ikhlas (karena menyesal banget gak pernah sempat mampir saat beliau masih sehat). Saya yakin banyak yang merasa kehilangan; di kalangan teman-teman seangkatan pun beliau terkenal baik, ramah dan selalu mendengarkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s