Rim Banna: Mengangkat Musik Palestina ke Seluruh Dunia


Saya ‘menemukan’ Rim Banna secara tidak sengaja saat kuliah ketika mengobrak-abrik toko CD di satu pusat perbelanjaan di Malioboro. Album The Mirrors of My Soul yang saya beli waktu itu adalah debut internasional Rim Banna, penyanyi berdarah Palestina yang konsisten mengangkat musik tradisional, folk, dan syair-syair rakyat Palestina sejak pertama berkarir sebagai musisi. Menggabungkan tradisi dengan aransemen modern serta lirik berbahasa Arab, Rim Banna berhasil memukau banyak pendengar di Palestina, Israel, negara-negara Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Proyek-proyek musiknya berhasil menyelamatkan lagu-lagu rakyat Palestina yang telah hampir punah, membawanya ke telinga pendengar modern dengan suntikan ‘darah’ baru. 

Rim Banna yang kelahiran Nazareth tahun 1966 merupakan alumni Higher Music Conservatory di Moskow. Selama 6 tahun masa belajar di konservatori, Rim Banna sempat membuat dua proyek rekaman yaitu Jafra (1985) dan Your Tears, Mother (1986). Segera setelah lulus dan kembali ke Nazareth, ia membuat proyek besar pertamanya, The Dream (1993), yang berisi hasil aransemen lagu-lagu tradisional dan lagu anak-anak Palestina yang telah hampir punah. Proyek ini berhasil menyelamatkan beberapa lagu rakyat yang telah nyaris dilupakan, namun belum begitu mengangkat nama Rim Banna ke kancah internasional walaupun ia sempat merilis beberapa album lagi setelahnya.

Nama Rim Banna mulai muncul di kancah internasional ketika ia ikut menyumbang suara dalam lagu Nami Ya La’aubi dan Ya Layl Ma Atwalak untuk album Lullabies from the Axis of Evil (2003), sebuah album kompilasi penyanyi wanita yang digagas produser asal Norwegia, Erik Hillestad. Album ini berisi aransemen modern dari lagu-lagu tradisional pengantar tidur (lullaby) dari Irak, Iran, Korea Utara, Suriah, Libya, Kuba dan Afganistan. Popularitas album ini semakin terangkat ketika Valley Entertainment, distributor Amerika Serikat untuk album ini, akhirnya di-blacklist oleh pemerintahan George W. Bush pada tahun 2007.

Popularitas internasional Rim Banna baru benar-benar ‘meledak’ ketika ia akhirnya merilis album internasional The Mirrors of My Soul (2005), yang menggabungkan aransemen ala Barat dengan struktur vokal Timur Tengah dan bahasa Arab. Album ini cukup berbeda dengan proyek-proyek musik Rim Banna sebelumnya yang cukup tradisional; nuansanya lebih modern dengan elemen-elemen Jazz, rock dan pop. Tema album ini adalah rakyat Palestina, dengan lirik beragam mulai dari Mirrors of My Soul yang dipersembahkan untuk para tahanan Palestina di penjara Israel, Sarah yang mengisahkan seorang balita yang tewas ditembak tentara Israel di Nablus, hingga Ya Jammal, The Top of the Mountain dan Malek yang liriknya diadopsi dari syair rakyat Palestina.

rim banna cd

Sarah

Ya Jammal

The Top of the Mountain

Malek

Setelah album tersebut, Rim Banna terus menelurkan album yang diterima dengan cukup baik di seluruh dunia, seperti This Was Not My Story (2006), Seasons of Violet: Love Songs from Palestine (2007), Songs across Walls of Separation (2008), April Blossoms (2009), A Time to Cry (2010) dan Revelation of Ecstasy and Rebellion (2013). Rim Banna juga berkontribusi dalam album kompilasi bertema peristiwa Arab Spring, yaitu Songs from a Stolen Spring (2014). Walaupun album-album ini masih tetap setia mengusung musik dan syair rakyat Palestina, namun Rim Banna semakin memperluas tema penggarapan musiknya ke musik, kultur dan budaya Pan-Arab, serta membawa pesan-pesan perdamaian. A Time to Cry bahkan direkam di sebuah rumah penampungan milik keluarga Palestina di Sheikh Jarrah yang kerap diancam akan digusur oleh tentara Israel.

Semua album ini masih menggunakan aransemen modern, namun Revelation of Ecstasy and Rebellion cenderung lebih lembut, dengan elemen klasikal Arab yang agak lebih kental dan lagu-lagu yang berupa balada, serta lirik yang diambil dari beragam syair seperti karya penyair sufi Ibnu Al Farid dalam lagu Supply Me with an Excess of Love, karya penyair Palestina Mahmud Darwis dalam lagu The Trace of the Butterfly, serta karya penyair Irak Badr Shaker Assaiab dalam lagu The Hymn of the Rain dan Don’t Increase His Agony. Salah satu lagu yang berjudul The Free Man liriknya digubah oleh Amara Al Omrani, mantan narapidana Tunisia yang disiksa dalam penjara pada masa pemerintahan Ben Ali, sebelum Ben Ali digulingkan pada Revolusi Tunisia tahun 2011.

The Free Man

The Taste of Love

Rim Banna menyatakan bahwa musiknya bukan hanya ditujukan untuk menyampaikan pesan-pesan tentang perdamaian dan penderitaan rakyat Palestina, melainkan juga salah satu bentuk pelestarian budaya:

A part of our work consists of collecting traditional Palestinian texts without melodies. So that the texts do not get lost, we try to compose melodies for them that are modern, yet inspired by traditional Palestinian music.

Rim Banna dalam wawancara dengan Martina Sabra (2006) untuk Qantara.de.

Hingga kini, lagu-lagu Rim Banna telah secara tidak resmi dianggap sebagai salah satu corong budaya musikal Palestina modern, sekaligus pembawa pesan-pesan perdamaian dan revolusi. Ia selalu berusaha menjangkau sebanyak mungkin pendengar lewat konser-konser di berbagai negara (dan saat tampil di wilayah Tepi Barat, ia menjangkau penonton di Gaza lewat live webcast). Rim Banna juga saat ini merupakan aktivis perdamaian dan sedang sibuk menggarap album baru yang belum diketahui rinciannya. Kini, ia tinggal di Nazareth dengan ketiga anaknya.

Sumber:

Arabology: Rim Banna – Revelation of Ecstasy and Rebellion

INTERVIEW: Exclusive with singer Rim Banna

Singing Palestine: Rim Banna

World Music Central: Sorrow and Struggle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s