Review Buku ‘World War Z’: Skenario Realistis Pandemi Zombie


“The book of war, the one we’ve been writing since ape slapped another, was completely useless in this situation. We had to write a new one from scratch.”

Sebagai penggemar zombie, saya termasuk yang menonton versi film World War Z duluan sebelum membaca novelnya. Setelah saya menyelesaikannya, kesimpulan saya hanya satu: filmnya benar-benar tak bisa dibandingkan dengan bukunya.

Bukannya mau bilang versi filmnya jelek; bagus kok, kalau yang diburu adalah adegan-adegan penuh aksi. Tapi, rambut nanggung Brad Pitt, nyawanya yang seolah ada 19, serta iklan Pepsi menjelang akhir film itu tidak bisa menggambarkan kengerian sesungguhnya dari sebuah perang zombie tingkat dunia yang digambarkan secara realistis, yang justru menjadi kekuatan buku ini.

world-war-z

Pandemi Zombie Tingkat Global

Novel ini bisa dibilang novel apocalyptic dystopia, yang menggambarkan masa depan suram setelah peristiwa buruk dengan dampak global (dalam hal ini, zombie). Narator dalam kisah ini adalah seorang agen dari United Nations Postwar Commission, yang mengumpulkan berbagai akun dari saksi mata berbeda di seluruh dunia tentang pandemi zombie global tersebut. Cerita dimulai dari wawancara sang narator dengan narasumber pertama yaitu seorang dokter dari Cina, yang menceritakan pengalamannya dengan patient zero (istilah untuk pasien pertama yang tercatat dalam mulainya sebuah pandemi), seorang bocah lelaki di sebuah desa di Cina yang terinfeksi ketika sedang memancing di sungai, dimana pasien ini menunjukkan tanda-tanda aneh seperti kebuasan dan agresifitas tinggi walaupun tanda-tanda vitalnya sudah tidak ada.

Wawancara kemudian berlanjut ke narasumber dari negara-negara berbeda seperti Tibet, Kuba, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Rusia, Palestina, Israel, Meksiko, India, dan sebagainya. Yang diwawancari pun bermacam-macam, mulai dari petinggi militer, prajurit, dokter, staf ahli, pilot, ilmuwan, astronot, hingga karakter-karakter berwarna-warni seperti mantan CEO, mantan manajer, pandai besi, pelatih anjing, tukang kebun, anak remaja, penyelundup, penulis, veteran, anggota milisi, bahkan seorang otaku dari Tokyo. Dari hasil-hasil wawancara ini, kita mendapat gambaran mulai dari awal mulanya wabah terjadi, bagaimana bisa menyebar, dampak ketika pandemi zombie pertama meledak, apa yang terjadi setelahnya, dan perubahan besar yang terjadi pada berbagai negara mulai dari perubahan sosial, lingkungan, hingga politik. Tentunya, untuk menunjukkan kekuatan cerita, para narasumber ini juga digambarkan berbagi kisah-kisah yang lebih mendalam, intim dan detail tentang kehidupan mereka pasca kiamat zombie ini.

Berbeda dengan adaptasi filmnya (yang memang diperuntukkan untuk peminat film aksi bertema zombie), World War Z adalah novel yang ditulis dengan gaya epistolary, yaitu dibuat seolah-olah terdiri dari kumpulan dokumentasi seperti buku harian, surat, email, blog, atau hasil wawancara. Hal ini disengaja karena Brooks ingin membuat novelnya terkesan realistis, sekaligus memungkinkannya untuk menampilkan sudut pandang berbeda dari peristiwa perang zombie tingkat global ini. Malah, draft pertama naskah film World War Z sebenarnya ingin mengambil lebih banyak kesamaan dengan novelnya, namun kemudian draft pertama ini dicoret dan diganti dengan draft naskah baru yang lebih menonjolkan unsur aksi, dan bisa dibilang hampir tak punya kesamaan lagi dengan novelnya kecuali beberapa potongan adegan serta judulnya.

Pandemi Zombie sebagai Kritik Sosial dan Politik

Max Brooks membuat novel ini bukan hanya karena minatnya pada zombie, namun juga karena merasa bahwa pandemi zombie adalah sarana yang tepat untuk membuat kritik sosial dan politik. Fans George A. Romero mungkin tahu bahwa Dawn of the Dead adalah bentuk kritik atas konsumerisme masyarakat Amerika, dan Brooks yang terinspirasi oleh Romero juga mengkritik genre zombie yang sekarang, dimana zombie hanya dipotret sebagai tokoh jahat atau malah parodi, atau sesuatu untuk ditertawakan (salah satunya dalam seri Return of the Living Dead). Zombie versi Brooks adalah korban dari virus tak dikenal yang diberi kode Solanum, yang awalnya disebut sebagai rabies Afrika. Para zombie ini adalah mereka yang tak lagi memiliki intelegensi, nurani dan kemampuan logika manusia; walau tubuh mereka sudah perlahan membusuk, mereka hanya dikuasai insting untuk makan terus-menerus dan baru bisa mati jika otak dihancurkan (contoh: ada zombie yang digambarkan sebagai Grabbers; mereka tergigit sebelum mengendarai mobil, lalu ketika menjadi zombie, mereka terperangkap selamanya dalam mobil itu karena mereka bahkan tak punya intelegensi untuk membuka sabuk pengaman dan pintu mobil).

Brooks punya pendapat menarik soal pandemi zombie dalam budaya pop, termasuk karyanya ini. Baginya, zombie adalah simbolisme sempurna untuk rasa takut akan sesuatu yang tak bisa dibendung. ‘Mitologi’ zombie berbeda dengan ‘mitologi’ lain dalam budaya pop seperti ketakutan akan hiu, hantu, atau manusia serigala. Zombie adalah rasa takut nyata yang “tak perlu dicari” karena mereka yang mengejar Anda. Plus, walau kita bisa melihat wujud mereka dengan jelas, dan nyata mirip manusia, tak ada ruang untuk negosiasi karena mereka digerakkan hanya dengan satu pikiran: makan, makan, dan makan. Kita hanya punya satu jalan: bunuh mereka dengan cara menghancurkan otaknya. Zombie pun dengan tepat menyimbolkan sumber rasa takut yang tak bisa dihentikan atau dinegosiasikan, seperti bencana alam dan terorisme. Sifat ini juga yang membuat zombie diasosiasikan dengan masyarakat konsumtif seperti yang digambarkan Romero di Dawn of the Dead.

Nggak beda-beda amat dengan keramaian saat cuci gudang atau antrian iPhone terbaru

Novel ini pun menjadi ‘senjata’ sempurna bagi Brooks untuk melancarkan kritik sosial, sekaligus mengajak pembaca di Amerika untuk lebih terbuka terhadap kondisi sosial dan politik negara lain. Berikut beberapa hal menarik yang disorot dengan cara apik oleh Brooks, yang bagi saya cukup ngena:

  • Hancurnya susunan strata sosial. Ketika sipil dan pemerintah mulai bekerjasama untuk membangun lagi sistem kemasyarakatan dan pertahanan setelah pandemi zombie meledak, strata sosial yang kita kenal sebelumnya pun hancur berantakan. Para manajer dan CEO serta kaum kelas menengah yang kerap hidup di komunitasnya sendiri (di Amerika, banyak dari mereka yang tinggal di gated community, komunitas tertutup) mendadak menemukan bahwa keahlian mereka menjadi sia-sia dan mereka berbalik menjadi warga kelas bawah, karena kini yang dibutuhkan adalah para tukang kayu, pandai besi, mekanik, petani, tukang ledeng, juru masak, tukang sepatu, perawat, penjahit, bahkan kuli bangunan. Bahkan, yang terakhir ini menjadi warga prioritas dan bertugas memberi training pada para warga kelas bawah tersebut, dimana ada satu adegan seorang wanita berkali-kali memotong kata-kata trainernya dengan kasar ketika berada di kelas training, dan ternyata wanita itu adalah mantan eksekutif, sedangkan trainernya dulunya adalah wanita yang mengurus dan membersihkan rumahnya. Menurut si narator, bagi orang-orang ini, harus dikuliahi mantan tukang kebun mereka jauh lebih buruk daripada serangan zombie itu sendiri.
  • Mental isolasi dan pandangan yang keliru tentang survival. Mental isolasi di sini terlihat dengan adanya karakter (terutama yang berduit) yang memilih untuk mengunci diri mereka di dalam rumah/tempat perlindungan. Akibatnya, mereka justru menjadi sasaran pertama para perampok dan penjarah, dan mereka tak kunjung bisa keluar karena wilayah mereka dibanjiri zombie sementara persediaan makanan semakin menipis. Seorang mantan otaku dari Jepang mengisahkan kekeliruan sikap masa lalunya yang menganggap bahwa dengan mengasingkan diri dari dunia luar lewat internet, ia akan selamat (dan berakibat ia nyaris mati ketika berusaha melarikan diri dari apartemennya). Mereka yang selamat justru yang bekerjasama dengan orang lain dalam strategi terprogram berbasis prioritas. Ada juga kisah-kisah mereka yang mencoba menyelamatkan diri ke alam liar, namun dengan cara keliru. Sementara yang berakal sehat lari dengan membawa persediaan makanan, senter, selimut dan sebagainya, banyak yang ketika lari justru lebih banyak membawa barang-barang seperti laptop, CD, game, Playstation, bahkan piano. Seorang gadis yang keluarganya lari ke alam liar Kanada bersama banyak orang lain bahkan menggambarkan betapa banyak di antara orang-orang ini akhirnya sakit dan mati bukan karena zombie, namun karena tidak menggunakan akal sehat saat membuat prioritas ketika menyelamatkan diri (misalnya, sepeda justru menjadi kendaraan survival sempurna bagi banyak orang ketika bahan bakar akhirnya habis, ketimbang mobil seperti yang selalu digadang-gadang di film-film zombie).
  • Mental selebritis dan hasrat pamer. Dalam satu bab, ada sebuah rumah perlindungan yang dihuni para selebritis, host acara debat dan diva yang tetap berpegang teguh pada mental selebritis serta prinsip “if you have it, flaunt it (jika kau punya, pamerkan).” Mereka memisahkan diri dari dunia sekitar dan menyingkir ke dunia mereka sendiri, menyewa pasukan keamanan, dan menyiarkan aktifitas mereka di dalam rumah perlindungan itu lewat internet dengan gaya reality show. Akibatnya, mereka diserbu orang-orang yang marah, yang kemudian mendobrak rumah tersebut, menimbulkan kekacauan dan bahkan pembantaian. Bahkan, para asisten dan penata rambut para selebritis ini kemudian justru berbalik melawan para bos mereka (seorang penata rambut yang dikenal gemulai pun digambarkan mendadak menusuk mulut atasannya, seorang penyanyi perempuan ternama, dengan pisau pembuka surat). Saya pikir ini skenario yang dibayang-bayangkan semua orang yang sudah muak dengan acara reality show tak bermutu.
  • False sense of security, korupsi dan birokrasi berbelitDalam novel ini, Brooks melancarkan kritik terhadap pihak-pihak dari badan pemerintah yang lebih memilih menyebarkan informasi palsu ke masyarakat tentang pandemi zombie, meminta media untuk memanipulasi informasi, namun di saat yang bersamaan gagal untuk menyediakan solusi dan malah menyebarkan obat plasebo. Brooks terutama menohok pemerintah Amerika yang memilih cara tersebut dalam menenangkan warga, karena mereka lebih ingin menaikkan tingkat kepercayaan warga terhadap pemerintah yang menurun. Beberapa operasi militer dan pelatihan warga juga digambarkan terhambat karena adanya birokrasi berbelit.
  • Evaluasi ulang terhadap kebijakan militer. Perang-perang awal  digambarkan gagal dan memakan banyak korban jiwa, karena strategi perang yang canggih dengan peralatan terbaru justru tidak efektif melawan musuh seperti zombie. Hal ini karena zombie tidak bisa diajak bernegosiasi, tidak punya rasa takut, dan hanya dikendalikan insting mendasar untuk makan. Seorang veteran bahkan dengan marah menggambarkan kesia-siaan salah satu perang kota di New York, dimana tank dan mobil Hummer diletakkan serampangan di tengah jalan bukan demi strategi, melainkan untuk pamer di media (“…there must have been at least one reporter for two or three uniforms. On foot and in vans, I don’t know how many news choppers must have been circling…you’d think with so many they’d spare a few to try and rescue people from Manhattan.”)

Buat saya pribadi, bab paling menarik adalah tentang dua karakter dari Jepang yang diwawancarai di Yokohama: Kondo, si mantan remaja otaku dari Tokyo, dan Tomonaga, tukang kebun buta yang merupakan salah satu korban selamat dari peristiwa jatuhnya bom atom di Hiroshima. Keduanya mengalami peristiwa yang berbeda ketika pandemi zombie menyebar ke Jepang, dan mereka selamat dengan cara masing-masing, namun seolah mukjizat, dipertemukan di daerah Pegunungan Hiddaka. Tomonaga digambarkan berusaha mengenali alam pegunungan dan menjadi karakter khas yang hidup di alam liar dengan gabungan sifat antara ahli survival dan rahib-ksatria (warrior-monk), sepanjang waktu menerapkan aspek-aspek spiritual dalam setiap kegiatannya, termasuk ketika membunuh zombie yang nyasar ke daerah pegunungan itu. Hubungannya dengan Kondo bagaikan samurai tua yang bertemu anak muda nakal yang akhirnya berguru padanya, dan kemudian mereka bersama-sama memerangi kejahatan. Kondo bahkan digambarkan sempat mengambil pedang katana antik milik tetangganya yang sudah meninggal, dan kemudian memberikannya pada Tomonaga ketika mereka bertemu. Saya suka sekali apa yang Tomonaga katakan kepada Kondo ketika mereka bertemu: “we might be facing fifty million monsters, but those monsters would be facing two gods.”

Keren abis.

Kira-kira begini, tapi umur mereka ditambah lagi

Akhirnya, Brooks juga memberi beberapa gambaran spekulatif tentang apa yang kemudian bisa terjadi pada berbagai negara setelah pandemi zombie meledak. Di novel ini, beberapa negara keluar sebagai ‘pemenang’ dan dengan gemilang berhasil mengatasi krisis, sedangkan negara lain hancur total atau mengalami perubahan politik dan sosial yang menjurus ke ‘jaman kegelapan.’ Misalnya, Rusia menjadi negara ortodoks yang dinamai Holy Russian Empire, dimana para wanita subur dipaksa mengandung dan melahirkan untuk meningkatkan populasi, dan pemberontakan prajurit memicu sistem hukuman keras yang meniru sistem desimasi jaman Romawi kuno, dimana satu dari sepuluh orang dieksekusi. Cina menjadi rebublik demokrasi yang disebut Chinese Federation. Palestina dan Israel bersatu menjadi Unified Palestine, membentengi diri mereka dengan tembok tinggi (tetapi tembok ini tetap utuh, tidak diserbu zombie seperti di film). Korea Utara digambarkan terabaikan karena penduduknya mengungsi ke bunker bawah tanah (mungkin seperti penduduk Distrik 13 di Hunger Games: Mockingjay). Kota Lhasa di Tibet menjadi kota terpadat di dunia. Kuba menjadi negara dengan perekonomian paling maju dan menjadi pusat perbankan. Paris hancur dan Istana Versailles menjadi pusat pembantaian, dimana komplek pemakaman bawah tanah (catacomb) di Paris mengakibatkan banyak tentara tewas karena kegagalan misi penyelamatan lantaran para penduduk banyak yang mengungsi ke komplek makam bawah tanah, dimana infeksi kemudian menyebar dan mengubah setengah juta orang menjadi zombie. Kawasan baru bernama Pacific Continent muncul ketika banyak orang mengungsi ke pulau-pulau tak berpenghuni.

Endingnya Bagaimana…?

“Dari tadi kayaknya suram melulu…?” mungkin begitu pikir Anda. “Happy endingnya mana?”

Nah, tidak seperti di film, bagian akhir World War Z punya tipe open ending. Tidak ada cerita seorang jagoan menemukan solusi ajaib untuk menghapus pandemi zombie ini once and for all. Buku ini pun hanya ditutup dengan narasi akhir para responden yang diwawancarai sepanjang novel. Buku ini memang berusaha mengikuti alur penceritaan yang sangat realistis, dimana pandemi global yang sampai mengakibatkan perubahan besar dalam hal sosial, politik dan bahkan lingkungan tentu tak akan memberi jalan bagi siapapun untuk kembali ke kehidupan mereka yang lama. Tetapi, saya pikir, jika Anda membacanya dengan telaten dari awal sampai akhir, Anda pun akan menemukan tema besarnya: ini adalah kisah tentang kemampuan umat manusia dalam menghadapi krisis, terutama jika mereka terdorong untuk menggunakan akal sehat, kemauan, dan keberanian serta dorongan untuk bekerjasama, bukannya hal-hal seperti mental selebriti, isolasi diri, keegoisan, manipulasi dan kebohongan.

Buku ini juga penuh dengan kutipan-kutipan bagus yang sangat beresonansi dengan fenomena sosial dan politik yang kita saksikan setiap hari. Salah satunya adalah kutipan salah satu responden di Stasiun Penelitian Vostok, Antartika:

“Fear is the most valuable commodity in the universe…. Turn on your TV. What are you seeing? People selling their products? No. People selling the fear of you having to live without their products…. Fear of aging, fear of loneliness, fear of poverty, fear of failure. Fear is the most basic emotion we have. Fear is primal. Fear sells.”

Keren, bukan? Dalam satu kutipan ini saja, Anda sudah bisa mengaitkannya dengan bermacam hal: acara yang semakin mendorong kegiatan konsumtif. Kegemaran media untuk berlomba memberikan informasi yang bombastis dan ‘mengancam,’ tak peduli walau simpang siur dan membingungkan, ketimbang memberi informasi jurnalistik yang tak berpihak (hal tersebut digambarkan masih saja terjadi di novel ini). Website dan blog yang mementingkan sensasi ketimbang fact checking. Apa lagi? Saya yakin Anda bisa menyebutkan lebih banyak.

Kesimpulannya? Review saya ini saja tidak cukup, dan Anda mungkin punya pendapat berbeda dari saya soal buku ini. Tapi yang jelas, komentar penutup saya hanya ini:

this is one of those books that gave me orgasmic feeling after reading it; looking at the ceiling for a couple of minutes, and thinking “what the fuck did I just read?”

 Sumber:

Exclusive Interview: Max Brooks on World War Z

Max Brooks Official Website

World War Z

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s