Maaf, The Silmarillion-nya Tolkien Tidak Akan Difilmkan!


Salah satu pertanyaan yang sering diajukan di forum Indonesian Tolkien Society tempat saya numpang mangkal adalah: “setelah LOTR dan The Hobbit, Peter Jackson mau nggak ya memfilmkan The Silmarillion?” Bagi yang tidak tahu, karya-karya J. R. R. Tolkien yang terkenal dan berkaitan dengan dunia Middle Earth bukan hanya LOTR dan The Hobbit, melainkan juga karya-karyanya yang masih berupa manuskrip dan belum sempat diterbitkan pada saat kematiannya pada tahun 1973. Karya-karya tersebut kemudian disusun dan diedit oleh putranya, Christopher Tolkien, untuk kemudian diterbitkan dengan tetap memakai nama J. R. R. Tolkien (nama Christopher Tolkien biasanya nyempil sebagai editor). Selain The Silmarillion, karya-karya semacam ini misalnya adalah 12 edisi History of Middle Earth, Unfinished Tales, Bilbo’s Last Song, The Children of Hurin, dan The History of Hobbit. Kebanyakan karya ini menceritakan kisah-kisah yang terjadi sebelum era The Hobbit dan LOTR, yang menjadi penutup dari semua legenda awal tersebut. 

SilmarillionBook_LR

  Bisa beli di Periplus.com

Kalau dilihat-lihat, memang semua buku-buku ini punya potensi besar untuk difilmkan menjadi cerita yang menarik. Dari The Silmarillion saja sudah bertebaran banyak calon cerita seru. Misalnya, karena buku ini adalah awal dari semua legenda dan peristiwa yang terjadi di LOTR dan The Hobbit, Tolkien memasukkan banyak unsur mitologi seperti kisah awal penciptaan dunia, penciptaan ras-ras yang kita kenal seperti Elf, Manusia, Dwarf, Orc dan sebagainya, serta yang paling seru adalah konflik awal di kalangan kaum Elf pada masa-masa kejayaan mereka, dan tentu saja kisah awal pembuatan Cincin Kekuatan yang ngetop itu. Bagi Anda yang mikir bahwa “wah, karakter LOTR itu hitam putih banget, soalnya jadi Elf itu enak. Mereka semua ganteng/cantik, dan sudah pasti baik.” Ohoho, belum tentu!

Di buku ini, ada kisah seru tentang Fëanor, pangeran Elf yang menciptakan permata Silmaril dari cahaya dua pohon gaib Valinor, The Two Trees, dan kemudian meninggalkan jejak-jejak berdarah karena permata tersebut, dimana ada adegan putra-putra Fëanor  menyerang sesama kaum Elf yang tinggal di kota tepi laut, membunuh banyak dari mereka, lalu membakar kapal-kapal mereka (yak, di sinilah ada cerita kaum Elf bunuh-bunuhan antar sesama mereka).

The Burning of the Ships by Ted Nasmith (Silmarillion)

The Burning of the Ships oleh Ted Nasmith, menggambarkan Fëanor dan pasukannya membakar kapal-kapal kaum Elf Teleri setelah menyerang kota mereka dan membunuh penduduknya.

Cerita seru lainnya juga ada, misalnya tentang Elf bernama Maeglin yang tinggal di kerajaan Gondolin, dimana ia membuat kesepakatan dengan Morgoth agar Dark Lord pertama tersebut bisa menyerang kerajaan yang tersembunyi di dasar lembah itu, dan sebagai gantinya, ia bisa mendapatkan putri Gondolin, Idril. Walaupun Maeglin ini Elf, ia digambarkan oleh Tolkien sebagai “the wickedest Elf of all.” Tambahan, Maeglin ini adalah anak dari Aredhel, saudara perempuan raja Gondolin, yang dipikat oleh seorang Elf penghuni hutan bernama Eöl, yang kemudian berusaha membunuh dan akhirnya mengutuk Maeglin agar kelak mengkhianati kerajaan Gondolin. Eöl pun dieksekusi oleh sang raja dengan cara dilempar sampai mati dari puncak tembok kota. Dahsyat.

Execution of Eol by Ted Nasmith (Silmarillion)

Of Eöl and Maeglin karya Ted Nasmith, menggambarkan adegan saat Eöl hendak dieksekusi dengan cara dilempar dari atas tembok.

Masih mau lagi? Ada juga cerita tentang kaum Manusia bernama Turin Turambar, yang walau banyak melakukan tindakan heroik yang membuatnya juga dihormati kaum Elf (termasuk membunuh naga Glaurung), namun terkena kutukan Morgoth sehingga pikirannya kacau dan tanpa sengaja membunuh Elf sahabatnya yang bernama Beleg, lantas menikahi saudara perempuannya sendiri. Turin dan saudara perempuannya kemudian bunuh diri; saudarinya menceburkan diri ke sungai saat sedang hamil, sedangkan Turin menusuk dirinya sendiri dengan pedang.

Beleg is Slain by Ted Nasmith (Children of Hurin)

Beleg is Slain oleh Ted Nasmith, yang menggambarkan Turin tanpa sengaja membunuh Elf bernama Beleg.

That’s some heavy shit, man.

Lalu, kapan kita bisa melihat adegan-adegan seru ini dalam bentuk film? Ya itu dia, tak akan bisa lagi. Christopher Tolkien, anak bungsu J. R. R. Tolkien sekaligus penerus karya-karya sang ayah dan pemegang hak cipta atas semua karya Tolkien, mengungkapkan dalam suatu wawancara dengan Le Monde bahwa di masa mendatang tidak akan ada lagi karya-karya Tolkien yang bisa diadaptasi menjadi film, karena ia tak akan melepaskan hak tersebut. Wawancara ini termasuk langka karena Christopher Tolkien terkenal tertutup dan tak pernah berbicara di depan media, namun wawancara ini mengungkap banyak hal, termasuk motif di balik keputusannya tersebut.

Coba dengar apa pendapatnya tentang film hasil adaptasi The Hobbit, yang film ketiganya baru akan tayang tahun ini:

“Mereka menjagal karya ayahku dan mengubahnya menjadi film aksi untuk anak muda usia 15-25 tahun.”

Picture of Christopher Tolkien, 2012

Christopher Tolkien

Bagi Anda yang menyukai filmnya, mungkin akan langsung menyembur, “kok segitunya banget sih? ‘Kan justru film yang membuat karya Tolkien makin terkenal. Kalau nggak ada film, masa’ orang tertarik?” Yah, sebagai penggemar berat buku Tolkien sekaligus anggota generasi masa kini yang juga menikmati film LOTR (tapi film The Hobbit tidak terlalu, kalau saya boleh jujur, kecuali di tiap adegan saat babenya Legolas nongol), saya ingin mencurahkan pendapat yang tak berat sebelah di sini. Disimak ya….

Kenapa Pendapat Christopher Penting?

Penggemar film-film adaptasi karya Tolkien yang tidak terlalu memahami karya-karya tertulis Tolkien serta biografi beliau  memang cenderung akan kesulitan memahami mengapa Christopher begitu ngotot mempertahankan hak cipta buku-buku ayahnya, sekaligus mencegah adanya adaptasi karya berikutnya. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa legendarium Middle Earth ini merupakan karya epik Tolkien yang mencakup semua hal penting dalam hidupnya: refleksi berbagai peristiwa penting yang dilaluinya termasuk Perang Dunia, kenangan tempat-tempat yang pernah dihuni atau dikunjunginya, minatnya terhadap sejarah dan mitologi Eropa kuno serta linguistik, dan filosofi pribadinya.

Sebagai anak yang cenderung paling dekat sang ayah sekaligus karya-karyanya, Christopher sejak kecil sudah terekspos dengaan karya-karya sang ayah dan akhirnya ketularan minat serta antusiasmenya. Usia 6 tahun, ia selalu didongengi kisah-kisah buatan ayahnya. Saat sudah agak besar, ia menjadi ‘asisten’ ayahnya menggambar peta-peta dunia Middle Earth sebagai pelengkap buku Lord of the Rings yang saat itu sedang digarap, karena Tolkien saat itu tak punya uang untuk menyewa sekretaris. Ketika Chris muda bergabung dengan Royal Air Force pada tahun 1943 dan ditempatkan di Afrika Selatan, Tolkien selalu mengiriminya bab-bab baru untuk dibaca dalam surat rutinnya. Dan ketika ayahnya meninggal dengan meninggalkan setumpuk ‘beban’ tulisan yang belum sempat tergarap, Christopher pun merasa ikut terbebani dengan tanggung jawab, apalagi Tolkien sempat agak frustrasi karena naskah Silmarillion yang sudah lama digarapnya masih berlubang-lubang dan tidak lengkap.

Tolkien and little Christopher

Tolkien dan Christopher kecil; sejak usia segini, ia sudah didongengi karya-karya ayahnya

Bayangkan, menerbitkan karya-karya ayahnya yang belum sempat terselesaikan itu butuh perjuangan berat, lho! Ketika sang ayah meninggal pada tahun 1973, Christopher ditinggali 70 kardus arsip berisi ribuan lembar manuskrip karya, narasi, surat-surat, berbagai kisah tunggal, bahkan lirik-lirik sajak. Ngerinya lagi, tidak ada yang terarsip dengan baik, dan bahkan tidak ada nomor urut atau apa. Semasa hidup, Tolkien cenderung tidak rapi dan tidak terlalu terorganisir. Catatan-catatan dan manuskrip yang ditinggalkannya kadang bahkan ditulis di atas kertas bon, nota atau daftar belanja, yang lalu dijejalkan begitu saja di kardus. Bayangkan kalau kita ditinggali tugas menata dan menyusun ulang ribuan lembar manuskrip dan karya-karya tak terselesaikan yang hanya dijejalkan begitu saja ke dalam 70 kardus, sendirian, sementara yang bikin sudah meninggal, kita pasti ngehe. Tapi tidak Christopher. Ia rela mundur dari pekerjaannya sebagai dosen di New College, Oxford, untuk memulai tugas panjang menyusun ‘hutang’ karya-karya ayahnya.

Setelah menerbitkan The Silmarillion pada tahun 1977, ia  menghabiskan 18 tahun menyelesaikan 12 edisi History of Middle Earth (ingat, 12 buku, bukan bab!) dan Unfinished Tales, lalu karya-karya lainnya seperti The Fall of Arthur, The Legend of Sigurd and GudrunChildren of Hurin, dan terjemahan Beowulf dan masih banyak lagi. Tahun 1996, Christopher bekerjasama dengan seniman Ted Nasmith (yang karya-karyanya saya taruh di atas) untuk membuat edisi pertama Silmarillion yang dilengkapi ilustrasi. Intinya, dedikasi yang dicurahkannya untuk semua karya ini tidak main-main. Bahkan, ia mengaku bahwa saat menyelesaikan Silmarillion, ada bagian-bagian kosong yang tak terisi dan tidak ada penjelasan dari manuskrip sang ayah soal bagaimana mengisi bagian kosong tersebut, sehingga ia harus menekan rasa bersalah karena pada akhirnya harus menyelipkan paragraf orisinilnya sendiri. Hal ini sampai membuatnya mimpi buruk, dimana ia merasa ayahnya “seolah tahu apa yang telah kulakukan.”

Personal Tolkien book collection

Thanks to one person dedication, these are among my favorite bedtime books

Tugas ini bisa dibilang tugas seumur hidupnya, jadi Anda bisa bayangkan dedikasinya. Jadi, jika ada yang bisa berpendapat untuk mewakili mendiang Tolkien, saya yakin tak ada yang lebih pantas lagi selain sang anak, penerus, sekaligus fans pertama Tolkien ini. Dan, wajar pula jika beliau memiliki kedekatan khusus dengan karya-karya sang ayah.

Budaya Pop VS Buku

Harus diakui bahwa terbitnya LOTR dan The Hobbit membuat kepopuleran fiksi fantasi berhasil memasuki ranah budaya pop modern, terutama dengan mulai merebaknya minat terhadap karya fiksi fantasi di tahun 1970-an. Karya-karya George Lucas banyak terinspirasi dari buku tersebut. Robert Plant dari Led Zeppelin memasukkan referensi dari buku LOTR ke dalam lagu The Battle of Evermore. Kita pun tahu kalau penulis-penulis seperti J. K. Rowling, Stephen King dan George R. R. Martin banyak terinspirasi dari Tolkien. Sementara hal ini membuat Tolkien semakin populer di berbagai negara (Children of Hurin yang terbit tahun 2007 kini sudah diterjemahkan ke 20 bahasa), hal ini pun membuat karya Tolkien menjadi salah satu ikon budaya pop.

Karya Tolkien pun berkembang menjadi bukan lagi sekedar fenomena sastra, namun komoditas industri yang lebih menjurus ke peminat budaya pop ketimbang penggemar sastra itu sendiri. Komik, permainan papan, game komputer dan sebagainya berlomba-lomba memasukkan inspirasi Tolkien ke dalam tema mereka, namun ‘masalah’ belum dimulai hingga film trilogi LOTR-nya Peter Jackson rilis.

Walau ketiga film tersebut mendapat penerimaan positif dari kritikus dan penonton seluruh dunia, dan turut berperan mendongkrak penjualan buku Tolkien di kalangan pembaca muda abad ke-21, keluarga Tolkien menganggap bahwa perkembangan yang terjadi selanjutnya justru menenggelamkan esensi karya asli Tolkien, dimana perkembangan budaya pop selanjutnya justru bertumpu pada film dan bukan karya Tolkien asli. Ikonografi para karakter yang dipopulerkan oleh film (yang seringkali dibuat berbeda dari deskripsi di buku), akhirnya menjadi ‘karya Tolkien’ yang lebih banyak dikenal orang daripada karya-karya aslinya, dan bahkan diberi label hak cipta oleh New Line Cinema. Apalagi, sempat ada perseteruan antara Tolkien Estate dan New Line Cinema dimana Tolkien Estate tidak mendapat bagian profit yang seharusnya diperoleh.

The Hobbit bahkan membuat Christopher lebih gusar lagi, terutama dengan penggarapannya yang dianggap benar-benar mencacah habis karya aslinya hanya demi memuaskan demografi tertentu, menambah porsi aksi dan mengurangi adegan-adegan penting serta aspek filosofis dalam buku, dan menyelipkan karakter-karakter yang seharusnya tidak ada. Contoh paling heboh: ketika foto resmi pertama Evangeline Lilly sebagai Tauriel muncul di dunia maya, jagad pecinta karya Tolkien pun heboh. Ada yang bilang sah-sah saja ada karakter baru terutama cewek, ada yang oke-oke saja tapi merasa janggal karena kesannya kemunculannya jadi maksa banget, dan ada yang bener-bener gigih berpendapat kalau kemunculan karakter ini benar-benar salah satu faktor pembunuh utama The Hobbit sebagai karya sastra, apalagi promosi The Hobbit bagian kedua (Desolation of Smaug) benar-benar menaruh si tokoh cewek ini dalam hampir setiap aspek promosi, berpasangan dengan Legolas yang sudah jelas-jelas merupakan eye candy di film ini, padahal mereka sejatinya bukan pemeran utama. Bagi yang paham apa makna karya asli The Hobbit bagi Tolkien, hal ini dianggap sudah keterlaluan karena seolah sekedar menuruti aturan wajib bahwa “setiap film seru harus ada ceweknya dan cewek itu harus dipasangin dengan seseorang (bahkan yang suka filmnya saja ada yang merasa janggal).”

Akhirnya, ada juga yang berpendapat bahwa adegan ‘maksa’ kisah naksir-naksiran antara Tauriel dan Kili si Dwarf malah jadi menjerumuskan karya Tolkien lainnya yaitu LOTR. Fakta bahwa Tauriel begitu gampang jatuh cinta pada Kili (padahal ada sejarah panjang berdarah dan penuh perseteruan menjurus rasis antar Elf dan Dwarf) jadi mengecilkan makna persahabatan Legolas dan Gimli, yang terjadi berangsur-angsur dan sekaligus menjadi simbol rekonsiliasi antara dua bangsa yang saling bermusuhan ini, tepat di jaman ketika Cincin Kekuatan akhirnya dihancurkan.

Empire Magazine Cover, DoS special edition

Majalah Empire pun memajang para eye candy, sementara para Elf di buku bukanlah pemeran utama dan bukan fokus penceritaan

Akibatnya, tokoh-tokoh ini jadi diasosiasikan dengan Tolkien oleh banyak generasi baru, sementara karya aslinya yang berupa buku malah agak tersingkir, dan Tolkien Estate pun hanya bisa melihat karakter ciptaan Tolkien dieksploitasi dan mereka jadi terancam tertindas lebih jauh oleh penggunaan ikon-ikon karakter ini, karena profit akan penggunaan figur mereka di berbagai media dan merchandise jadi lari ke Warner Bros. Tapi jangan kira saya berpihak lho; secara obyektif, kualitas film The Hobbit memang dianggap jauh dari LOTR karena beberapa sebab (yang dijabarkan dalam bonus fitur di versi Extended Blue-Ray DVD): kepergian mendadaknya Guillermo del Toro saat masa persiapan produksi, fakta bahwa Peter Jackson didapuk menjadi sutradara dengan tergesa-gesa (padahal tadinya ia hanya duduk di kursi produser dan tak berniat menjadi sutradara), proses produksi yang terlalu terburu-buru, penggunaan terlalu banyak CGI namun dengan efek visual yang kualitasnya dianggap lebih rendah, dan proses editing yang diakui Jackson kurang lancar.

Bahkan Viggo Mortensen, yang tadinya diajak Jackson untuk balik menjadi Aragorn sebagai cameo, menolak dengan alasan: “tidak mungkin, karena ada gap 60 tahun antara The Hobbit dan LOTR. Tidak mungkin Aragorn yang sudah dewasa bisa muncul di situ.” Nah lho, apalagi Viggo pun juga tipe orang yang ‘lebih pilih buku daripada filmnya.’

Akhirnya, Christopher yang tidak ingin melihat karya ayahnya ‘dijagal’ lagi, memutuskan untuk tak lagi menjual hak pembuatan film karya-karya ayahnya. Tolkien Estate pun tak bisa berbuat banyak, kecuali turun tangan jika ada kasus-kasus ekstrem, seperti ketika ada kasino di Las Vegas yang ingin membuat mesin slot bertema LOTR. Satu-satunya cara orang bisa menikmati karya Tolkien kembali, ya lewat buku. Selesai.

Pendapat Saya….

Saya sendiri termasuk yang memuji film LOTR. Itu adalah salah satu film yang membuat saya benar-benar menetapkan patokan pribadi bahwa “setiap fiksi fantasi, kalau nggak lebih bagus dari LOTR, berarti biasa aja!” Walau film The Hobbit agak bikin saya ngantuk dan sering sekali memencet tombol fast forward, saya toh masih bisa tepuk tangan melihat penampilan Lee Pace sebagai King Thranduil, yang wujud karakternya membuat saya merasa bahwa dia bisa saja melompat keluar langsung dari dalam buku. Saya pun jatuh cinta berat dengan soundtrack dan lagu-lagu pengiring semua film ini, terutama May It Be dan Aniron yang dinyanyikan Enya, dan Song of the Lonely Mountain oleh Neil Finn. Dan saya tidak menampik bahwa buku-buku Tolkien, bahkan yang terbit belakangan, jadi lebih populer di kalangan pembaca abad ini.

Tetapi, saya juga tidak bisa mencela atau mengkritik Christopher Tolkien. Kalau melihat apa yang telah dia lalui bersama sang ayah, dan juga fakta bahwa J. R. R. Tolkien adalah orang yang sangat perfeksionis dalam menulis buku dimana semua karakter, penamaan tempat dan setiap kalimat dalam dialog tidak ada yang tidak dipikirkan dengan baik (dan beberapa sistem aksara serta kalender pun diciptakan dengan sangat rinci), saya juga memahami sikapnya dan bahkan berpihak pada beliau. Serius; kalau saya jadi opa Christopher, saya mungkin akan bertindak sama. Bayangkan; ia adalah orang kedua yang paling intim dengan karya-karya ayahnya setelah Tolkien sendiri, termasuk berbagi pemahaman akan filosofi dan pandangan ayahnya terhadap karya-karya tersebut. Dialah yang meneruskan karya-karya sang ayah yang belum sempat terselesaikan, sendirian. Bayangkan kalau kita ngerjain PR atau tugas kuliah yang hasilnya sangat kita banggakan, tapi orang lain yang cuma numpang satu kelompok dengan kita yang banyak dipuji. Atau, bayangkan Anda melahirkan anak yang Anda sangat sayangi, sampai penuh perjuangan berdarah-darah, lalu karena suatu hal anak itu terpaksa Anda titipkan pada orang lain dan ternyata diperlakukan buruk, pasti sangat marah, ‘kan?

Saya sendiri beli The Silmarillion saat kemampuan English reading saya masih dengan susah payah saya kembangkan, dan saya butuh waktu setahun untuk menyelesaikan buku itu karena gaya bahasanya yang emang beda dengan LOTR dan The Hobbit; banyak berupa narasi, dan gaya bahasanya agak ‘tinggi.’  Tapi bahkan dengan proses membaca yang agak ngos-ngosan itu, saya terhanyut dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan saat membaca buku, seolah ada seorang juru cerita tua duduk di depan saya, menceritakan kisah-kisah kuno masa lalu, sementara kami duduk di depan api unggun di tepi sebuah lembah, sambil memandang bintang.

Dan saya pikir, inilah mungkin yang akan membuat The Silmarillion mustahil difilmkan: selain gaya berceritanya kebanyakan berupa narasi yang pasti agak susah disadur, serta bab-bab awal yang akan perlu banyak CGI yang mungkin akan bikin bangkrut seperti Life of Pi yang membuat bangkrut studio visual Rhythm and Hues, ada ‘kedalaman’ tertentu dalam cara Tolkien bercerita yang tak akan pernah bisa dituangkan seluruhnya ke dalam media audio visual, jika menuruti durasi film standar dan berbagai pertimbangan artistik. Bagaimanapun, efek khusus masih punya kelemahan, tetapi imajinasi kita tidak terbatas. Menurut saya sebagai penggemar berat karya-karya Tolkien (dan beberapa kali juga hampir bangkrut saban pertengahan bulan karena memborong karya-karyanya di toko buku impor), imajinasi tetaplah cara terbaik menikmati karya-karya beliau.

Pendapat berbeda itu sah-sah saja. Sayangnya, banyak fans film yang jadi mencela-cela Christopher Tolkien di dalam berbagai forum; ada yang bilang beliau pelit lah, terlalu kaku, konyol, dan bahkan memaki dengan kata-kata kasar. Mereka lupa bahwa Christopher Tolkien-lah yang memungkinkan karya Tolkien yang bisa kita baca tidak hanya berhenti sampai di LOTR dan The Hobbit, dan dia melakukan semuanya sendiri. Dalam hal ini, saya akan membela opa Christopher, karena saya pikir permintaan tak terucapnya sebenarnya sederhana; ia ingin orang-orang mulai membaca kembali, karena itulah satu-satunya cara mereka benar-benar bisa memahami karya-karya ayahnya, termasuk kedalaman, filosofi, dan semua makna serta pelajaran di baliknya.

“I don’t think Christopher Tolkien is praised enough in this fandom and it’s all because he doesn’t like the films. He was probably the first fan of his father’s work. He spent his entire life helping his father, drawing maps and then after his death, carrying on his father’s work in his name, and publishing books we would never have got to read without him. He has added so much to the world that we love that if he doesn’t like the films, then that is fine. So, thank you Christopher.”

– Kutipan anonim dari Tumblr LOTR Confession

Sumber:

Concerning Christopher: An Essay on Tolkien’s Son’s Decision to Not Allow Further Cinematic Licensing of His Works

My Father’s Eviscerated Work: Son of Hobbit Scribe J. R. R. Tolkien Finally Speaks Out

Why Peter Jackson Will Never Film The Silmarillion

99 thoughts on “Maaf, The Silmarillion-nya Tolkien Tidak Akan Difilmkan!

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo…makasih ya sudah mampir…. Hehe, kalau untuk The Hobbit saya lihat pendapat orang banyak memang cenderung terbelah, beda sama trilogi LOTR dulu yang Return of the King-nya aja menyabet banyak Oscar.

    • Tiara berkata:

      Saya mau nanya,, orc di LTR bahasanya english ya,, klo di the hobbit mereka puya bahasa sendiri.. jdi sebenernya orc pya bahasa sendiri kah klo di bukunya Tolkien?

      • Putri Prihatini berkata:

        Kalo bahasa sendiri yang dikonstruksi secara utuh tidak. Bahasa Orc (Orkish) adalah hasil pelintiran dari berbagai bahasa yang kemudian berkembang jadi bahasa khas mereka sendiri (istilah kerennya, mereka bicara bahasa “pidgin,” coba aja Google untuk tahu bagaimana “pidgin” terbentuk). Tapi, biasanya sih suku-suku Orc yang berbeda punya dialek sendiri yang juga beda banget, jadi mereka berkomunikasi dengan bahasa Westron yang umum (“Westron” ini ya sama dengan bahasa Inggris), biasanya dengan dialek kasar. Tapi setelah Sauron menciptakan Black Speech untuk dijadikan semacam bahasa persatuan di Mordor, para Orc juga banyak yang menggunakannya.

  1. nico berkata:

    Ulasan yg bagus bro/sis.

    Saya pribadi lebih cenderung menyukai effect buku/sastra drpd film/cinema, kita bahkan membayangkan effect yg mungkin lbh sempurna saat membacanya drpd saat2 kita dijejali imajinasi orng lain.

    Namun dibalik semua itu tentunya akan lbh menghemat waktu jika kita nonton film/cinema (sering kali saya menganggap film itu hanya sekedar sinopsis yg tingkat kesamaan dengan karya sastra-nya hanya pada awal dan akhir cerita). Namun menurut saya semua masih manusiawi (mengingat manga dan anime jg memiliki permasalahan yg mirip dngn masalah sastra dan film). Namun kita sebagai manusia akan tetap pada kecintaan kita, walaupun menikmati dengan cara lain, itu hanya krn penasaran atau sekedar ingin tau. Jadi sastra bagi pencinta sastra tidak akan tergantikan oleh film dengan alasan apapun.

    Saya pribadi sangat optimis jika suatu saat buku terakhir akan difilmkan walaupun tdk dalam jangka wktu dekat atau bahkan dibuat lbh dari 3 film. (Siapa yg bisa menahan godaanya?)

    Salute untuk alm Tolkien dan puteranya. Bahkan saya bisa menerima kematian setiap tokoh dalam kisahnya scr entah bagaimana. Tidak seperti kematian “sirius black” dalam harry potter yg menurut saya agak dipaksakan.

    Salam

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih ya sudah mampir (panggil saya ‘sis’ aja ya🙂. Ya, memang setelah film ketiga ini main, banyak rumor, spekulasi dan pertanyaan yang beredar soal apakah akan ada film sejenis dari karya Tolkien. Banyak orang yang berpendapat bahwa Silmarillion sebenarnya punya potensi untuk difilmkan seandainya dijadikan serial seperti Game of Thrones, dan itupun mungkin hanya berfokus pada beberapa bab, karena Silmarillion lebih mirip sebuah ‘buku sejarah’ yang terdiri dari kumpulan tulisan, bukan narasi yang utuh mengalir seperti The Hobbit dan LOTR, dan mungkin bab awal (Ainulindale) yang berisi kisah penciptaan bakal susah difilmkan. Yang potensial mungkin contohnya bab-bab tentang Feanor dan Turin Turambar. Silmarillion sendiri sebenarnya bisa dibilang belum selesai, dan ada bagian-bagian yang Chris sendiri tak tahu bagaimana cara mengisinya (Tolkien itu produktif sekaligus perfeksionis, jadi beban karya yang belum selesai pasti sangat menyiksa).

      Tapi ya itu, Tolkien dan putranya memang sangat bangga pada karya mereka dan menaruh nilai yang sangat tinggi pada keindahan, nilai dan makna di baliknya, apalagi Tolkien orangnya perfeksionis walau dia sendiri sebenarnya tak menolak adaptasi karyanya (tapi pernah kejadian beberapa adaptasi yang melenceng jauh dari bukunya bikin beliau marah berat). Mereka pun nggak butuh uangnya karena sudah kaya 17 turunan. Jadi, selama Chris masih bilang “tidak,” ya selama itu pula hak adaptasi tak akan diberikan. Kalaupun suatu hari nanti ada, kemungkinannya sangat kecil. Tapi paling tidak rencananya Gramedia akan menerbitkan terjemahan bahasa Indonesia The Silmarillion, jadi ditunggu saja (saya pun menunggu untuk membandingkan antara bahasa asli dan gaya terjemahannya nanti).

      Saya pikir LOTR dan Hobbit versi Jackson juga merupakan pencapaian yang hebat, karena Tolkien dulu terkenal pernah bilang bahwa “memfilmkan mitos ‘Odyssey’ lebih mudah daripada memfilmkan bukuku.” Tapi, secara umum, memang sih The Hobbit menurut saya ada di level yang lebih rendah dari LOTR. Pendapat teman-teman saya pun cenderung terbelah, nggak kayak trilogi LOTR yang secara aklamasi mereka bilang keren, termasuk oleh yang belum pernah baca bukunya. Makanya, ada juga yang bilang The Hobbit ini bukan film adaptasi, malah lebih cocok disebut ‘fanfiction karya Peter Jackson.’

      Dan ya, walau buku-buku karya Tolkien itu kesannya ‘sulit’ (kecuali The Hobbit yang mulanya memang ditulis untuk buku anak-anak), perkembangan karakternya dipikirkan dengan mendalam, termasuk bagaimana nasib dan jalan hidup mereka. Saya pun suka bahwa walau karya Tolkien tidak membuat banyak karakter wanita, karakter yang ada semua sama: tegar, berkemauan keras, dan mengambil keputusan sendiri. Selain Lady Eowyn, Arwen dan Galadriel, ada Luthien, Idril, Elwing, Melian, dan Lady Haleth of Haladin yang saya pikir bakal jadi tokoh yang keren banget untuk punya film sendiri (dan hoho, ternyata bukan hanya saya tho yang merasa matinya Sirius agak gimana gitu🙂

  2. hk berkata:

    tulisan anda bagus banget…intinya saya sangat setuju, saya adalah orang yg tergila2 dengan LOTR, prestasi saya menonton secara berulang ulang pilem ini cukup bisa dibanggakan lah…jujur saya kurang tertarik mengikuti buku nya LOTR, mungkin sudah trlanjur jatuh cinta sama filemnya jadi saya menganggap tidak perlu baca bukunya…kemudian saya ketemu buku the hobbit karena pilemnya masih rencana waktu itu, terpaksa lah saya baca bukunya…nah begitu nongol filemnya the hobbit saya malah kaget…kalo istilah saya ini semacam masakan yang kebanyakan bumbu, bumbunya pun ada yg tidak pas…emang sih perwujudan karakter bilbo,thorin,thranduil cukup menarik tapi tetap saja..sudah terlanjur kebanyakan bumbu jadinya tetap tidak enak…apalagi part the hobbit yg terakhir ini, sebagai seorang nontoners saya kecewa berat…bagusnya hal ini membuat saya menjadi amat sangat penasaran dengan LOTR versi buku, baru mulai saja baca LOTR saya nemu tulisan anda ini….wah tambah semangat saya…tnyt saya masih cupu tentang tolkien dan middle earthnya….yg paling bikin penasaran ya the silmarillion ini…aduh semoga terjemahannya segera hadir…

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih udah mampir ya…ya, memang film-film adaptasi dari karya Tolkien banyak fansnya, tapi karena Tolkien aslinya penulis, jadi wajar kalau pecinta bukunya sudah punya pendapat sendiri, terutama yang sudah cukup akrab dengan biografi Tolkien atau bidang yang ditekuni Tolkien (sastra Inggris, sastra Nordik, mitologi, dan bahasa Inggris). Tapi banyak yang nyureng juga soal The Hobbit karena sebelumnya udah pada ngebandingin kualitasnya dengan trilogi LOTR, yang jelas jauh. Yang senang sih kalau jadi banyak orang yang penasaran soal buku-bukunya setelah nonton film, terutama karya-karyanya yang cenderung belum banyak dikenal karena tidak difilmkan walaupun ada hubungannya dengan Middle Earth. Jadi, kita sambil membudayakan membaca juga karena bicara soal Tolkien berarti bicara soal literatur🙂 (komunitas internasional pecinta karya Tolkien adalah Tolkien Society, dan anggotanya banyak, termasuk dari kalangan akademis).

  3. panjiaryo pratama berkata:

    Bagus banget ulasannya Sista. Secara logika saya setuju dengan pendapat anda. Tapi ya bagaimanapun, ada kerinduan para tokoh idaman tersebut divisualisasikan melalui aktor dan aktris yang rupawan, kostum yang indah, serta settingan lokasi yang memukau.

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih udah mampir ya, jadi rame nih blog saya🙂 Ya, memang hasil adaptasi Peter Jackson itu seperti sudah menetapkan standar film fiksi fantasi, dan sebenarnya saya sendiri pun bahkan gak keberatan bahkan kalau The Silmarillion difilmkan asal kualitasnya bisa seperti trilogi LOTR. Sayangnya, harus diakui kalau trilogi Hobbit ini memang cenderung lebih mengecewakan: kebanyakan pake CGI, kualitas efeknya pun gak begitu mulus, dan jalan ceritanya banyak terbantai (contoh: kayaknya peran Bilbo malah kayaknya jadi maksa banget, kalah sama para Elf, padahal di buku justru perkembangan karakternya yang sangat penting buat diikutin; dia yang harusnya bisa membuat para pembaca merasa ‘nyambung’ sama dirinya, yang seorang reluctant hero, orang yang takut-takut tapi tetap maju terus demi alasan mulia). JRR Tolkien sendiri bahkan sering mengidentifikasikan dirinya sebagai Hobbit. Itulah yang menghasilkan banyak komplain, dan akhirnya keengganan Christopher untuk memberi hak adaptasi.

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih udah mampir🙂 Hehe, iya, apalagi Silmarillion itu narasinya kan nggak mengalir mulus seperti The Hobbit dan LOTR, tetapi lebih seperti kumpulan kisah. Banyak yang bilang kalau The Silmarillion mungkin lebih bagus kalau jadi serial aja, atau kalau nggak, bikin film tapi diangkat dari beberapa bab dengan cerita yang potensial untuk dijadikan film, misalnya kisah Beren dan Luthien (kisahnya Feanor dan Turin Turambar juga bagus, tapi endingnya tragis euy…apalagi Turin, pahlawan sejati tapi sial melulu).

  4. sodi berkata:

    Beli dmn ya buku2 Tolkien ? Trutama silmarillion? Jujur aja saya ini fans berat the hobbit bahkan udah nonton 5x ga ngantuk. Hahaha still craving for middle earthling

    • Putri Prihatini berkata:

      Saya biasa beli di Periplus.com. Praktis soalnya dan sudah langganan (dan lagi saya di Balikpapan, nggak ada toko buku yang benar-benar lengkap di sini). Berbagai karya Tolkien ada di sana, termasuk karya-karya yang diterbitkan setelah meninggal dan diedit oleh Christopher Tolkien seperti The Silmarillion, 12 buku History of Middle Earth, Unfinished Tales, Bilbo’s Last Song, Children of Hurin, dsb, plus buku pendukung seperti biografi Tolkien oleh Humphrey Carpenter dan Letters of JRR. Tolkien. Teman-teman saya yang lain ada yang belanja di Amazon.com atau Bookdepository.com. Tapi kalau The Hobbit dan LOTR saja ada versi Indonesianya, bisa dicari di Gramedia, Kinokuniya, Gramedia online, dsb.

  5. Abcholim berkata:

    Nice posting sis,😀
    ane yang tadinya lebih berat ke pro untuk melihat silmarillion difilmkan, setelah baca postingan sis jd agak ke kontra nih.
    yah memang the hobbit jauh dari ekspektasi sy sih, too much CGI dan emang perubahan ceritanya udah ga bisa ditolerir lagi, azog blm matilah, mati juga sm thorin, ada tauriel sm gw juga, eh maksudku legolas.
    ga kaya LotR yang (menurut ane) perubahan ceirtanya masih bisa ditolerir guna memangkas durasi film dari cerita novel yg panjang dan kompleks (gila! ga ada battle of bywater aja ampe 4 jam bo’). perubahan cerita dead army yang ikut perang sampe minas tirith, apa lagi perubahan obrolan eowyn sm theoden yg di bukunya aslinya sm merry, berasa lebih dramatis, bisa buat ane yg suka denger lagu-lagu metal imron ngeden sm led zeppelin bisa nangis juga, pas baca bukunya juga nangis ding (emang best part tuh pas di battle of the pelennor fields sih).
    eh yah BTW, ane blm baca silmarillion, msih nunggu terjemahannya terbit, pengen pesen online tp males soalnya ribet hahaha😀

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih sudah mampir. Ah senangnya, Legolas akhirnya ngasih komen (bisa dapet sinyal Wifi, hebat ya, biarpun di dalam hutan🙂 ). Ya, trilogi LOTR dulu memang punya level komitmen dan idealisme yang tinggi dalam penggarapan, dan popularitasnya melahirkan dua film dokumenter dari National Geographic terkait Fellowship of the Ring dan Return of the King (ada dulu VCD-nya di DiscTarra, untung saya beli karena sekarang sudah langka). Memang ada perubahan, tapi tidak terlalu merusak jalan cerita dan diimbangi dengan pengalaman sinematik yang memuaskan. Sementara The Hobbit diakui lebih banyak kekurangan dan bahkan sudah banyak hal-hal yang kurang sreg sejak masa pra produksi (Peter Jackson saja sebenarnya nggak mau lagi menggarap film ini dan hanya mau jadi produser saja, tapi ditunjuk secara terburu-buru, mungkin itu sebabnya). Saya pun dulu dengar gosipnya The Hobbit akan dibuat 2 film saja, jadi ketika dengar akan dibuat jadi trilogi, saya bengong dan mikir “wah, jangan-jangan nanti bakal banyak adegan filler-nya doang nih.” Memang sih banyak yang suka juga dengan film, dan menarik membayang-bayangkan skenario beberapa kisah di The Silmarillion yang pastinya seru banget kalau difilmkan, tapi saya sendiri (dan banyak orang lain juga) yang sudah kenal karya Tolkien sejak filmnya belum ada, juga sadar bahwa pada akhirnya, sebagai penulis yang bukunya diadaptasi, Tolkien juga punya integritas pribadi terhadap karya-karyanya, dan itupun patut dihormati. Makanya, kadang agak panas kalau mendengar komentar kasar terhadap Chris Tolkien, seperti “alah pret, paling ntar kalo butuh duit, karya bapaknya dijual.” Wah kayaknya kok murah sekali penilaiannya, tidak sesuai dengan sikap pribadi Tolkien dan keturunannya terhadap karya-karyanya. Not everything is about money. Di buku The Hobbit kan ada kutipan dari Thorin: “if more of us valued food and cheer and song above hoarded gold, it would be a merrier world.” Itu bukan sekedar kutipan: Tolkien benar-benar menanamkan prinsip integritas pribadi di atas uang pada anak-anaknya. Mungkin keturunan Tolkien suatu saat nanti benar-benar butuh uang sehingga akhirnya mau menjual hak adaptasi? Mungkin. Tapi sangat kecil (toh mereka sudah sangat kaya dari royalti buku), dan saat ini, tidak ada alasan lain kecuali murni idealisme.

  6. Puji Aswari berkata:

    Saya setuju dengan mbak…

    Memang masalahnya karena idealisme. Saya juga akan melakukan hal yang sama kalau saya jadi Chris Tolkien. Bukan masalah uang. Kalau tentang uang, keluarga Tolkien gak perlu takut kehabisan uang. Novel2 Tolkien yang banyak itu juga udah diterjemahkan ke beberapa bahasa lho. Pasti total yang terjual udah jutaan eksemplar.

    Kalau tentang film The Hobbit, esensi filmnya jadi kurang “dapet” gitu. Perbandingan antara film & novelnya terlalu jauh. Sampai dibuat alur cerita sendiri, yang malah jadi kayak fanfic. Lalu, sebagai penikmat film animasi, film The Hobbit ini efek CGI-nya kurang halus. Gak kayak LOTR. Cukup kecewa sih di zaman yang sudah modern seperti ini… Padahal saya berharap editannya mulus. Padahal di AUJ udah mulus banget efeknya. Di film ketiga ini, efek CGI-nya mengecewakan… 😦

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih sudah mampir. Yak, masalah kualitas CGI memang termasuk salah satu hal yang dikeluhkan banyak orang soal film, bahkan bagi yang suka ceritanya (apalagi pas adegan para Dwarf ‘meluncur’ pakai gentong di film kedua, gak tahu kenapa kok kesan efeknya terlihat agak kasar ya?). Sebaliknya, LOTR walau juga pakai CGI, tapi juga banyak pakai trik kamera untuk membuat tampilan visual di layar lebih genuine (misalnya, penggunaan perspektif untuk menonjolkan perbedaan tinggi badan Gandalf dan Frodo yang berdiri di dalam rumah di Hobbiton). Wajar jika ekspektasi penonton sudah terlanjur tinggi. Tapi ya kalau dilihat di ranah lebih luas, ada soal integritas dan idealisme pemilik karya, dan hal itu yang sebaiknya dihormati (on the side note: makanya saya kadang merasa gimana gitu saat mendengar komentar kasar di forum yang bahkan sampai ngomong begini “semoga Christopher cepat mati.” Astaga, hanya demi nonton film kok tega nyumpahin orang seperti itu).

  7. Aira berkata:

    Hai sis, slm knal sblmny🙂. Sy jg pnggemar berat Tolkien dn smua karya2ny, bahkan berandai2 pngin jd cicit bliau..hehe
    Sy suka dgn ulasan sista di atas. Sblm trilogi The Hobbit drilis, sy trmasuk salah satu yg pngin The Silmarillion jg difilmkan. Krn sy ckup puas dgn filmny LOTR. Jd ekspektasi sy, film2 adaptasi karya2 bliau stidakny akan sama bagusny dgn LOTR.
    Unexpected Journey drilis, sy uda mulai ‘mngernyitkan dahi’, Azog blm mati tp tnganny dipenggal Thorin, pengejaran Thorin cs oleh Orc sejak awal film, -_-‘
    Desolation of Smaug drilis, krnyitan dahi sy smakin dalam, apa2an dgn kmunculan Tauriel, romance Tauriel-Kili, sy pkir itu absurd. Mana ada sih love story Elf-Dwarf di Tolkien Legendarium. Klo Elf-Hobbit msh mungkin lah ya (mrujuk pd leluhur Bullroarer Took yg mnikahi gadis peri dn para Fallohide).
    Battle Five Armies drilis, sy tdk lg mngernyitkn dahi, tp malah brasa ngantuk, feel battle-ny krg trasa, entah knapa tdk ada rasa mrinding yg sama sprti yg sy rasakn saat lihat battle di ROTK, bahkn ada kmunculan ‘cacing’ yg sgt tdk pnting.
    Overall, sy kurang puas dgn adaptasi Hobbit ini, shingga akhrny sy stuju dgn kputusan Christopher tsb.
    Mgkn bginilah akibatny klo sebuah buku yg mnurut sy ‘tipis’, diadaptasi jd 3 buah film dgn durasi yg pnjang, dgn jngka waktu rilis hny selang 1th, hny utk mnangguk keuntungan besar. Jd ya trpaksa mngembangkn crita tmbhn brdasar Appendix. Aplg ad pngubahan dn pnambahn bbrp hal ddlmny yg mnurut sy ckup ‘mncederai’ karya bliau (sprt yg sy sebutkn di atas).
    Klo seandainy nanti Silmarillion bnr2 akn dfilmkn (siapa tau ada yg bkin petisi biar Tolkien Estate luluh), sy harap bnr2 diprsiapkn scara mtang, mgkn dbikin brseri sprti Star Wars, dgn jngka waktu prilisan bbrp thn skali, agar dhasilkn film yg bnr2 brkualitas baik segi cerita maupun audio visual. Klo mmg hasilny bagus dn mmuaskn, smpai tua pun sy rela mnunggu filmny.
    Klo kjdian War of Wrath difilmkan (dgn prsiapn matang dn kualitas bgus), sy rasa itu pasti akn sgt luar biasa, melihat pasukn Valinor brtempur lawan Morgoth. Sjk dulu sy brtanya2, bgmn ya klo seandainy para Valar, Maiar, pasukan Valinor, Morgoth, dan lainny divisualiasasikn dlm film. Apakh ssuai dgn imajinasi sy dn para pnggemar Tolkien lainny?
    Tp mskpn tdk difilmkn pun tak masalah, drpd hasilny malah acak adut. Lgpl sy sdh pnya imajinasi sndiri ttg hal itu🙂
    Skian pndapat sy, maaf klo ada hal2 yg mnyinggung, krn itu cm pndapat pribadi sy🙂. Maaf ya sis klo panjang bgt. Entah knapa jari2 sy tdk bs brhenti mngetik klo sdh mnyangkut Tolkien dn karyany..
    Trima kasih🙂

    • Putri Prihatini berkata:

      Wow, sepertinya banyak emosi tertuang di jawaban ini ya🙂 Ya, memang benar adaptasi film ini menimbulkan banyak komentar, termasuk komentar puas maupun tidak puas. Kalau mau fair, Peter Jackson bisa dibilang sudah berhasil menerapkan standar bagaimana seharusnya memfilmkan fiksi fantasi terutama yang sekelas LOTR, sayangnya untuk The Hobbit dia kemudian terjeblos standarnya sendiri, karena ekspektasi penonton yang sudah kadung tinggi (baik yang familiar dengan bukunya maupun yang tidak). Dan Tauriel? Hoho, saya pikir walau sebagai karakter dia cukup hebat, banyak orang yang sudah terlanjur memandangnya sebagai ‘perusak’ jalan cerita, apalagi aspek promosi sejak film kedua banyak sekali menonjolkan dirinya (padahal di buku, peran Elf hanya secuplik; justru Bilbo yang saya rasa agak tersisih, karakter yang seharusnya beresonansi dengan kita para pembaca). Kalau mau jujur, saya juga agak geli menonton film ketiga: “kok jadi sinetron begini sih?” Setelah semua film adapatsi sudah ditayangkan, saya pribadi jadi merasa lebih ingin kembali ke ketenangan, membaca ulang semua karya Tolkien, meresapi apa yang digoreskan sang profesor sendiri (dengan bantuan opa Chris tentu) untuk disampaikan pada kita para pembaca, dan akhirnya saya pun menemukan apreasiasi baru terhadap buku-buku Tolkien di rumah. Begitulah….makasih sudah mampir dan berkomentar, senang ketemu sesama pecinta buku Tolkien.

  8. Filliphus berkata:

    Wah sis , isi nya menarik selai🙂

    Dulu sempat bingung kenapa karya2 beliau tolkien yang lain hak yang tidak di lepas oleh sang anak christoper tolkien , padahal karya2 beliau sangat laku dan memiliki nama yang besar, tentu profit yang di dapat sangatlah wah.

    Ternyata nilai sejarah dan ikatan batin chirstoper tolkien yang membuat nya tidak rela untuk melepas hak tersebut dan kemudian “di olah” kembali dan bisa saja hasil nya berbeda seperti yang di harapkan.

    LOTR 1 buku = 1 movie ( + extend version ) menurut msh ok
    begitu melihat berita The hobbit 1 buku = 3 movie saya agag pesimis akan ada “sesuatu” dan setelah nonton saya tanyakan pada teman saya yang hobi baca buku nya dan “sesuatu” itu benar2 ada seperti karakter tauriel

    setelah membaca artikel di atas , saya bisa mengerti dan cukup menerima keputusan chirstoper tolkien untuk tidak menjual hak akan karya lain nya

    tetapi saya orang yang lebih menikmati segala2 nya dengan suara dan visual alias lewat film , masih sangat mengharapkan karya lain nya juga di flimkan. Tentu dengan persiapan yang matang dan mempertahankan ke “originalitas” nya

    sekali lagi makasih ya sis atas info nya🙂

    • Putri Prihatini berkata:

      Makasih juga sudah mampir🙂 Ya, soal diadaptasi atau tidak, sebenarnya itu hal yang hanya waktu bisa menjawabnya. Dulu, Tolkien dengan sangat terpaksa menjual hak adaptasi LOTR karena sangat butuh uang untuk perawatan istrinya yang sedang sakit sekaligus mikirin soal pajak (inheritance tax) yang bakal membebani anak-anaknya, karena waktu itu beliau bukan orang kaya dan royalti yang masuk ditambah gaji sebagai dosen belum bisa mencukupi biaya pengobatan. Biarpun begitu, beliau selalu rewel soal bagaimana bukunya akan diadaptasi. Misalnya, beliau tidak ingin bukunya diadaptasi Walt Disney, karena beliau tak suka cara Walt Disney memoles kisah-kisah dongeng klasik dan mitologi. Rencana adaptasi yang ditawarkan United Artist pun ditolaknya karena calon bintang-bintangnya adalah anggota The Beatles (rencananya Paul McCartney jadi Frodo, Ringo jadi Sam, John Lennon jadi Gollum), dan Tolkien tidak suka. Stanley Kubrick yang ditawari menyutradarai film ini pun nyerah karena gak sanggup. Makanya, seperti yang sudah saya jelaskan, PJ sangat hebat dalam hal penggarapan LOTR-nya, namun The Hobbit adalah “the last straw” buat keturunan Tolkien untuk menolak adaptasi lebih kanjut. Di Inggris sendiri ada aturan mengenai hak cipta bahwa 70 tahun setelah kematian seorang pembuat karya (film, buku, musik, dsb), karyanya menjadi public domain. The Silmarillion mungkin bisa menjadi public domain pada tahun 2043 (70 tahun setelah kematian Tolkien di tahun 1973), kecuali kalau karya itu secara resmi ternyata diatasnamakan Christopher Tolkien karena beliau yang mengedit, menyusun dan menerbitkannya, yang berarti The Silmarillion baru bisa menjadi public domain 70 tahun setelah tahun kematian opa Chris, tapi ya ini bukan alasan untuk menyumpahi beliau seperti yang dilakukan para fans film yang kasar di berbagai forum online (amit-amit, deh, saya sih mendoakan saja beliau selalu sehat biar bisa lebih lama menjaga karya sang ayah).

    • Nhunung berkata:

      Wahh saya baru nemu blog ini. Membaca blog ini seperti membaca sinopsis dari biografi J.R.R. Tolkien dan puteranya sendiri Crishtopher Tolkien.
      Saya sendiri sebenanya tidak terlalu paham dan mengikuti tentang cerita-cerita atau biopik-biopik karya Tolkien. Namun karena kecintaan terhadap LOTR dan The Hobbit (khusus The Hobbit, saya juga merasakan kekecewaan yang sama) sehingga saya menelusuri hal-hal yang berhubungan dengan karya beliau sampai akhirnya menemukan artikel ini.
      Ternyata karya beliau lebih menitik beratkan pada nilai sejarah di banding kisah percintaan dan peperangan. Saya mengerti dengan alasan Chrishtopher Tolkien enggan melepas hak cipta karya almarhum bapaknya untuk tidak dituangkan dalam bentuk film karena akan lebih baik menjaga kerorisinalitas ceritanya sebenarnya di dalam hati, jiwa dan pikiranya sendiri dibanding divisualisasikan dalam kenyataan yang berbeda sungguh menyayat hati.
      Saya dapat membayangkan membaca karya beliau pasti membuat bulu kuduk merinding dimana kita seakan berada di alam bawah sadar, dituntun melewati labirin waktu dan di bawah ke dunia yang berbeda yang belum pernah kita jumpai sebelumnya. Kalaupun karya-karya J.R.R. Tolkien maupun karya yang telah di edit dan disusun oleh anaknya tidak akan di lepas lagi, namun selagi Prof. Chrishtopher Tolkien masih hidup, Saya berharap beliau bisa membuat karya baru dengan cerita yang berbeda dan lebih ringan untuk di filmkan. Yahh tetap dengan seputar dunia Middle Eartnya,, hehehe… Meskipun ini terdengar gila, setidaknya sebagai penggemar tidak ada salahnya Saya berharap…

      • Putri Prihatini berkata:

        Hai, makasih sudah mampir ya (itu komentar yang pertama nggak sengaja ya?🙂 ). Kalau soal karya baru dari opa Chris sendiri saya kurang tahu, soalnya posisi beliau sendiri cukup unik: penulis, tapi penulis yang mewarisi karya yang belum terselesaikan, dimana hanya beliaulah yang dianggap paling mampu meneruskan karya Tolkien karena beliau yang ngerti banget apa mau sang ayah dalam kisah-kisahnya. Untuk soal kehidupan Tolkien sendiri, sebenarnya biografi beliau sama menariknya dengan buku-bukunya, karena memang pribadi yang unik. Kan ada ungkapan: kalau mau mengenal suatu karya, kenali penulisnya juga. Buku-buku bertema Middle Earth dianggap bukan lagi “kumpulan cerita,” tapi sudah memenuhi syarat untuk menjadi mitologi tersendiri, makanya disebut dengan istilah “Middle Earth legendarium,” dan itu belum karya-karya lainnya yang tak ada hubungannya dengan Middle Earth. Tolkien itu secara profesional punya minat pada bahasa Inggris dan Indo Eropa lain, filologi (studi mendalam tentang kritik literatur, sejarah dan linguistik), mitologi, dan cerita rakyat, dan ia menggebrak dunia penulisan fiksi fantasi dengan menciptakan dunia fiksi yang entah bagaimana memberi kesan nyata, seolah mereka adalah bagian dari kisah yang bisa saja terjadi di masa lampau. Bahkan beliau juga mengarang berbagai spesies hewan dan tumbuhan, dengan deskripsi detail, untuk membuat kisah-kisahnya terasa nyata dan hidup. Nanti sih saya pingin menulis sesuatu lagi terkait dunia Middle Earth dan Tolkien, tapi di sela-sela pekerjaan (udah kerja lagi nih🙂 ).

  9. Gun berkata:

    Jujur, saya baru mulai suka LOTR sejak nonoton LOTR 1 kemudian tergila-gila memburu bukunya. Saya sebenarnya gak pernah selesai baca Novel, dan LOTR adalah pengecualian saya, termasuk ISILDUR saya baca karena haus akan dunia lainnya Tolkien. Kemudian Hobit. Dan pengen banget baca Silmarillion, yang baru saya tahu saat saya searching tentang tokoh-tokoh itu. Baca tulisan Bro/Sist disini kayak ketemu Sang Guru yang bakal kasih pencerahan kesaya, apa yang harus dilakukan untuk memenuhi hasrat saya ke Tolkien. Terima kasih. Dan mohon maaf kalo pertanyaan/pernyataan selanjutnya sangat cetek.

    Iya sih cara terbaik menikmati kisah tolkien adalah membacabya dan berfantasi. Tapi kadang media visual bisa menuntun saya yang punya daya fantasi rendah, untuk kemudian merangkainya sebagai puzle dalam pikiran sendiri bermodal pengetahuan kita dari buku.

    Terus apakah seri in Bahasanya sudah ada yg Silmiralion? Kalo yg History of Midle Earth Gimana sist? beli bukunya dimana? apakah di Gramedia sudah ada? (maaf saya jarang bgt ke Gramedia karena memang gak hobi baca, dan sekali lagi Tolkien adalah pengecualian.

    Tks

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih udah mampir, rame deh blog saya (ah, malunya, dipanggil guru🙂 ). Ah, nggak cetek, kok. Kan preferensi berbeda-beda, ada orang yang memang lebih suka dengan karya yang merangsang audio visual, dan ada yang suka karya tertulis yang main imajinasi. Film-film garapan PJ juga sebenarnya berperan besar kok dalam menyebarkan popularitas karya Tolkien. Jadi, walau pendapat saya yang merupakan tipe penyuka karya tertulis cenderung agak keras terhadap film The Hobbit, kita juga kan melihat kenyataan bahwa perkembangan jaman membuat karya sinematik jadi punya pengaruh besar buat kita, sama kayak karya literatur (PS: adegan yang Thranduil nyuruh Legolas pulang tapi Legolas gak mau, terus pas ngucapin selamat tinggal, dan adegan Thorin ngomong ke Bilbo sebelum mati juga bikin saya nyesek tuh….). Untuk Silmarillion, saya baru dengar bahwa Gramedia memang berencana menerjemahkannya, namun pastinya butuh waktu lama karena gaya bahasanya lebih sulit daripada The Hobbit dan LOTR. Untuk History of Middle Earth dan karya Tolkien lainnya, baik yang berhubungan dengan Middle Earth maupun tidak, biasanya banyak tersedia di toko online. Kalau Gramedia itu angin-anginan, kadang lengkap kadang tidak (kecuali mungkin di Jakarta). Toko buku lain yang banyak buku impornya itu misalnya Kinokuniya, biasanya ada juga karya Tolkien di sana. Saya tinggal di Balikpapan, toko bukunya nggak lengkap, jadi selama ini hanya mengandalkan Periplus.com buat pesan buku-buku Tolkien (saya belanja di sana karena nggak perlu kartu kredit untuk daftar).

  10. Ren berkata:

    makasih banyak sis buat penjelasan dan pendapat-pendapatnya, saya semakin “tercerahkan” akan dunia suhu Tolkien. awalnya saya tertarik dengan novel The Hobbit dan The Lord of The Rings versi Indonesia, tapi belakangan karena tahu sudah difilmkan akhirnya saya memilih nonton aja. Lord of The Rings itu trilogi film epik yang bikin saya jadi bosan nonton film lainnya, sedangkan The Hobbit memang keren tapi secara kualitas agak di bawah sebab terkesan memaksakan sebuah buku menjadi tiga film, adegan pemotongan antar-film terasa kurang pas. tentang penambahan karakter Tauriel, awalnya saya pikir dia memang berasal dari buku (karena saya belum baca bukunya), memang agak menyimpang dari fokus cerita di samping percintaannya dengan Kili. mengenai film The Hobbit ekspektasi penonton sudah telanjur tinggi akibat awesomeness dari LOTR, kita tidak bisa menyalahkan pihak produksi film karena mewujudkan fantasi dalam bentuk real bukan pekerjaan mudah.

    setelah banyak searching di internet tentang J.R.R. Tolkien dan dunia fantasinya yang luarbiasa membuat alam semesta baru lengkap dengan bahasa fiksi buatan beliau, saya jadi agak paham (walau belum membaca bukunya, kayaknya nggak sanggup baca versi Inggris jadi nunggu versi Indonesia aja) kalau kayaknya mustahil untuk memfilmkan The Silmarillion. di samping masalah izin dari Christopher, akan ada sangat banyak tokoh dan sangat banyak adegan–belum lagi pembuatan lokasi-lokasi baru yang bisa bikin Peter Jackson bunuh diri saking rumitnya, mana yang harus ditonjolkan dan mana yang sebaiknya minor (saya baca-baca di Wikipedia sinopsis plot ceritanya). kalau pun akan difilmkan, menurut saya lima bab utama dalam buku tersebut akan dipecah jadi pentalogi film atau mungkin malah jadi macam Star Wars. mungkin beberapa puluh tahun ke depan, dunia perfilman akan memiliki kemampuan yang lebih baik yang memungkinkan CGI untuk bab-bab awal Silmarillion, atau sesuatu terjadi dan bisa meyakinkan Christopher untuk memberi izin.

    saya setuju, saya juga rasa adaptasi film sebenarnya bukan dimaksudkan untuk mengeruk uang, tapi lebih untuk memperkenalkan karya fantastis ini kepada masyarakat yang tidak mengenal/tidak hobi membaca/tidak bisa menikmati cerita lewat membaca tentang nilai-nilai di dalam ceritanya.
    sebagai orang yang hidup dan tumbuh besar bersama karya-karya tersebut, bagi Christopher mungkin karya tersebut lebih berharga dibanding nyawanya (oke ini asumsi saya :v). siapa yang nggak kecewa atau geram kalau karyanya disajikan tidak sesuai dengan harapannya dalam artian negatif. beliau satu-satunya yang berhak untuk menentukan.

    apa penerbit Indonesia berniat untuk menerjemahkan semua karya-karya Tolkien ya selain The Silmarillion? saya justru lebih penasaran dengan History of Middle Earth dan Unfinished Tales, tapi untuk Silmarillion perlu penerjemah handal sih karena kata-katanya cenderung kayak kitab dibanding bacaan fantasi (saya baca cuplikan-cuplikan di Wikipedia).

    maaf untuk komentar kelewat panjang dan nggak penting ini -_-
    saya seneng bisa berbagi dengan sesama penggemar😀

    • Putri Prihatini berkata:

      Halo, makasih sudah mampir. Wah ramai nih jadinya🙂 Ya, memang betul Peter Jackson sudah berhasil menetapkan standar modern soal bagaimana film fiksi fantasi seharusnya dibuat (banyak orang yang setiap kali menonton karya fiksi fantasi yang serupa secara sadar atau tidak membanding-bandingkannya dengan LOTR). Tetapi memang kalau perbandingannya antara buku dan filmnya, tentu bukunya punya kedalaman dan dimensi yang jauh berbeda, dan hal ini sudah jadi perdebatan sejak tahun 1960-an antara JRR Tolkien sendiri dan beberapa pembuat film yang mengajukan proposal adaptasi kepadanya. Maklum, kan bicara soal integritas karya (apalagi orang yang punya karakter perfeksionis, idealis, dan teliti seperti Tolkien). Karya Tolkien pun mencakup/mencerminkan banyak topik, bidang dan tema, hingga banyak tokoh akademis yang memusatkan studi mereka pada karya-karya Tolkien; beberapa yang cukup terkenal antara lain Dr. Dimitra Fimi dan Dr. Karl Seigfried (saya follow mereka di Twitter), Prof. Tom Shippey, Verlyn Flieger, dan masih banyak lagi. Tapi, film PJ memang menyuguhkan pengalaman visual yang memuaskan dan sukses menjadi inspirasi visual untuk penggemar karya-karya fan art, hanya dimensinya tidak sedalam bukunya. Sebetulnya Gramedia setahu saya memang sedang dalam proses penerjemahan Silmarillion, tapi pastinya cukup lama karena gaya bahasanya susah (dan dalam proses penerjemahan buku, kadang bisa terjadi halangan seperti penundaan proyek atau penerbitan, jadi berharap saja semua lancar). Untuk karya lain saya kurang tahu, tapi jika akan ada karya Middle Earth milik Tolkien lain yang diterjemahkan di masa depan, logikanya sih mungkin yang akan diterjemahkan duluan selanjutnya adalah Children of Hurin. History of Middle Earth kan berisi proses kreatif Tolkien menciptakan dunia Middle Earth-nya, jadi isinya berupa versi awal dari kisah-kisah yang sudah ada di The Silmarillion dan LOTR, berbagai catatan analisis, komentar, puisi, daftar apendiks nama, dan sebagainya, sementara Unfinished Tales isinya fragmen-fragmen cerita yang tak berkaitan. Seandainya (seandainya lho ya) momentum kepopuleran Tolkien tetap bertahan sampai lama, mungkin saja di masa depan karya-karya beliau yang lain yang diterjemahkan, bahkan yang tak melulu berhubungan dengan Middle Earth, misalnya Farmer Giles of Ham, Letters of Father Christmas, Leaf by Niggle, Tree and Leaf, Roverandom, dsb (sekedar analisis sembarangan dari penggemar buku, karena saya bukan orang Gramedia…). Begitulah, maaf juga untuk jawaban super panjang ini ya🙂

    • Putri Prihatini berkata:

      Maksudnya urutan membacanya? Disarankan The Hobbit dan LOTR dulu, lalu The Silmarillion, lalu Children of Hurin. Setelah itu, kalau tertarik mengetahui proses kreatif penciptaan dunia Middle Earth, baru beralih ke seri-seri History of Middle Earth dan Unfinished Tales.

  11. Nisa berkata:

    Sebagai seorang yang gemar membaca, saya mempunyai prinsip tidak akan menonton film dari novel yang sudah saya baca atau tidak akan membaca novel yang film adaptasinya sudah saya tonton karena akan sangat merusak imajinasi dan sedikit membuat rasa “kecewa’ dan “tidak puas” (perasaan yang sama saat ditolak menurut saya). Sah-sah saja, karena baik pembaca atau si pembuat flim mempunyai pemikiran yang berbeda pula.

    Pengecualian untuk karya tolkien. pertama kali membaca the hobbit saat sma, the lord of rings saat kuliah (buku 1 terasa amat sangat berat sehingga saya sangat bosan untuk menyelesaikannya), hingga saya memutuskan untuk menonton film-nya (walau tetap menamatkan ketiganya, untuk mendapatkan pemahanan yang mendapat thd novel tsb). Hingga saat film The Hobbit muncul, saya tetap mempertahankan untuk tidak menonton film yang diadaptasi dari novel yang sudah saya baca. Namun ini kembali saya langgar karena secara tak sengaja menonton di TV berlangganan dan memunculkan niatan untuk menonton yang terakhir (yang saat itu sedang booming).

    Karena itulah saya membaca ulang the hobbit, the lord of the rings dan menonton ulang the lord of the ring dan the hobbit. Bagi saya, the battle of five armies, PJ bener bener mendistorsi para tokoh di novel the hobbits (walau saya sangat menikmati raja peri😀 ). The Hobbit, tidak ada tokoh yang bener-bener jahat sepenuhnya, yang ada hanya orang-orang biasa yang kadang melakukan sesuatu yang dianggap oleh pihak lain tidak benar yang menurut yang bersangklutan itu tindakan terbaik yang bisa ia lakukan.

    Sisi baiknya, saya memahami sepenuhnya cerita novel the hobbit dan the lord of the rings (terutama banget yg ini), pantas rasanya JRR Tolkien mendapat predikat penulis terhebat masa ini.

    #menunggu Periplus nganterin The Silmarillion😀

    • Putri Prihatini berkata:

      Ya, sebenarnya inti kisah-kisah Tolkien mencerminkan banyak pelajaran hidup, hanya ‘disamarkan’ sebagai karya fiksi fantasi. Kelebihan beliau adalah menciptakan kisah fiksi fantasi namun dengan penggambaran sedemikian rupa sehingga mereka bisa saja menjadi bagian dari sesuatu yang dulu pernah terjadi, dan itu membutuhkan banyak perhatian pada detail, tapi tidak mengherankan dengan sifat beliau yang perfeksionis soal karya (makanya karya-karyanya terkait Middle Earth sering disebut Middle Earth legendarium atau Tolkien legendarium). Makanya, saya juga lebih suka memisahkan antara film dan bukunya. Film saya tonton untuk senang-senang secara visual (sambil cuci mata tentunya), namun buku untuk pengalaman yang lebih memuaskan hati dan lebih ‘bertahan lama’ ngendon di ingatan, sambil memetik pelajaran dan sesekali jadi bahan analisis kalau lagi rajin. Wow, jadi sudah pesan The Silmarillion? Sip deh, selamat membaca🙂

  12. Nhu2ng berkata:

    Min, tolong kasih sinopsis-sinopsis singkat Childreen of Hurin beserta 12 volume History of Middle Earth dong. Biar kita yang masih awam-awam ini dengan karya JRR Tolkien punya sedikit gambaran dan buat yang tertarik dengan karya beliau makin di buat penasaran hehehe

    • Putri Prihatini berkata:

      Kalau untuk Children of Hurin saya sudah buat, bisa dilihat di antara beberapa postingan terbaru saya (ngeliatnya dari homepage awal aja biar gampang). Kalau yang lain, sabar ya…saya juga ngeblog di sela-sela pekerjaan soalnya🙂 Mungkin saya akan bikin beberapa artikel yang konsepnya sudah saya buat terlebih dahulu, baru membahas History of Middle Earth, karena pembahasannya bisa cukup panjang.

  13. majestakbar berkata:

    Wah bagus nih sis pembahasannya, ane baru baca LOTR sama The Hobbit doang (maklum englishnya cetek). Jrg2 nih wanita ngebahas ttg Middle Earth, di kampus ane b2 doang yg ngebahas ini sama GoT series. Emang sih ane tau gara2 film LOTR keluar, baru deh beli bukunya. Itu film emang epic bgt dah, pas nonton The Hobbit ekspetasi awal sih yakin nih film bakal yahud lg (secara teknologi CGI lebih maju) apa lg pas liat Thorin and the gank. Tapi kok lama2 makin kok jauh sama imajinasi pas baca di bukunya, apa lg Peter Jackson terlalu maksa di buat trilogy seharusnya di bikin 2 part jg cukup.

    • Putri Prihatini berkata:

      Hehe, pasti banyak aja kok yang suka ngebahas, cuma memang saat ini popularitas film lagi tinggi-tingginya, tentu berkat jasa Peter Jackson juga. Makanya banyak pembicaraan tentang ini; perkara kualitas The Hobbit dianggap lebih rendah, itu karena PJ juga sebagai sineas berurusan sama studio film di Hollywood, yang merupakan industri besar, jadi kadang ada keputusan yang dia harus ikuti juga (apalagi dia aslinya nggak mau lho jadi sutradara The Hobbit, karena ngerasain dari pengalaman itu capek sekali dan perlu level idealisme yang sangat tinggi kayak pas bikin LOTR. Maunya dia jadi produser aja, dan rencananya tadinya Guillermo del Toro yang akan jadi sutradara, tapi nggak jadi). Dulu waktu rumornya The Hobbit mau main pertama kali juga saya dengernya cuma 2 bagian, tapi ketika denger akan jadi 3, saya mikirnya nih film bakal banyak filler-nya, maklum The Hobbit terlalu tipis untuk diregang jadi 3 film. Sebagai pembaca buku saya sih nggak mempermasalahkan perubahan, itu hak pembuat film, medianya berbeda. Tapi kalau perubahan itu menginjak-injak idealisme pembuat karya darimana adaptasi itu berasal, ya itulah yang jadi bahan perdebatan di kalangan fans Tolkien. Makanya fans ‘garis keras’ dalam forum-forum berbahasa Inggris sering dibagi jadi 2: “Tolkienist” untuk yang menggemari karya2 tertulis Tolkien, dan “Ringer” untuk yang lebih doyan sama karya hasil adaptasinya, seperti film. Kalau saya sih mencoba fair, lebih ke Tolkienist tapi ada sedikit jiwa Ringer juga, karena saya suka film LOTR dan ada beberapa adegan di film The Hobbit yang saya suka (terutama pas para Elf muncul🙂 ).

    • Putri Prihatini berkata:

      Makasih sudah meninggalkan jejak🙂 Hehe, memang sulit kalau membicarakan karya adaptasi yang bersumber dari buku, karena perdebatan pasti ada. Tapi saya juga tidak menganggap film media yang lebih rendah dari buku, karena film yang digarap dengan baik, mau itu film box office, film indie atau bahkan film B sekalipun, adalah perwujudan mimpi dan fantasi dalam bentuk audio visual, sehingga dalam banyak hal memberi kesan yang sangat mendalam (tapi eksekusinya memang harus menggunakan teknologi dan kreatifitas). Postingan saya secara spesifik membahas tentang akar perseteruan antara Chris Tolkien dan studio Hollywood, karena ada benturan antara ideologi karyanya dan karya ayahnya dengan cara Hollywood mengeksekusi adaptasi karyanya, dan dalam hal ini, saya lebih agak ngebelain Tolkien. Tapi ada sih film adaptasi buku yang justru menjadi lebih ikonik ketimbang buku-bukunya sendiri, misalnya Jaws, Die Hard (film action klasik favorit saya!), Silence of the Lambs, Ben Hur, American Psycho, Fight Club, film-film James Bond, dsb. Stephen King yang nulis The Mist aja bilang kalau ending di The Mist versi film justru lebih dia sukai daripada The Mist versinya sendiri. Jadi, semua tergantung eksekusinya, dan buat saya, dunia ciptaan Tolkien akan awet dalam benak, sama seperti ikonografi film-film adaptasi karyanya yang juga akan awet dalam benak penggemar film.

  14. Markerov berkata:

    Ninggali jejak dulu ah.
    Sambil CTRL+D
    nyasar sampai kemari ini.

    Ngomong-ngomong, the Silmarllion ada terjemahan ke bahasa Indonesia ga yah?
    Kalau gak ada, emm ada yang jual buku nya ga yah? (english)
    Makasih

    • Putri Prihatini berkata:

      Hehe, terima kasih sudah mampir. Saat ini belum ada, tapi kalau mau beli, bisa di Periplus.com atau Opentrolley.co.id. Harus daftar dulu pastinya buat bikin akun belanja, tapi nggak perlu punya kartu kredit (bisa transfer bank aja).

      • Markerov berkata:

        Terima kasih sudah menjawab. Emm ananda pernah belanja di situs tersebut?

        Mau baca ebook nya susah lewat HP 4inch.
        Mending mau nabung buat beli daripada print hehe

        Niat ini

      • Putri Prihatini berkata:

        Iya, saya memang selalu belanja di 2 tempat itu untuk buku impor, karena gak bisa kalau mengandalkan toko buku Balikpapan. Gak perlu kartu kredit, cukup transfer bank biasa juga beres. Sejauh ini sih saya nggak pernah ada keluhan di 2 tempat itu, paling nunggunya aja agak lama, namanya juga buku impor.

  15. Syofiq Nur Adha berkata:

    saya sudah melihat kedua trilogi film The Hobbit dan The Lord of The Ring, dari kedua film trilogi tersebut saya lebih prefers LOTR karena menurut saya film ini murni penggambaran dari bukunya (walaupun ada bagian-bagian yang diperdebatkan). Dalam trilogi ini terdapat kisah cinta antara Aragorn dan Arwen yang memaksa Arwen memilih jalan hidup meninggalan kekekalan sebagaimana anugrah bangsa Elf lain, tidak seperti kisah cinta terlarang antara Thauriel dan Kili yang menurut saya juga tidak orisinil dari penggambaran di buku The Hobbit (walaupun saya belum pernah membacanya) dan hal tersebut terkesan “Holywood banget”, kalau gak ada kisah romantisnya bukan film Holywood yang memaksa sutradara membuat karakter khusus untuk memunculkan adegan-adegan “ehem” dan juga di film The Hobbit kayaknya lebih menonjolkan kehebatan dan keanggunan bangsa Elf. Tidak seperti yang Tolkien senior imajinasikan bahwa semua mahluk seperti Elf, Men, dan Dwarf adalah sama, ada kelebihan dan kekurangannya. Jadi conclusionnya LOTR lebih mending daripada The Hobbit walaupun keduanya dinilai merusak hasil karya Tolkien Sr. dan Jr.

    Dan omong-omong juga saya lagi bikin terjemahan dari buku “The Sirmarillion” (susah belinya dan yang pasti belum ada yang versi Indonesianya) yang saya edit sendiri (dibantuin sama google translate) yang saya ambil dari website http://www.reads6.com/silmarillion. Dengan susah payah saya terjemahkan dengan pengaturan kosakata dan bahasa yang saya pahami, walaupun sekarang saya baru sampai hal. 7 dari 202 hal. mungkin itu akan menjadi “tugas tahunan” saya, hehe… kaya Christopher Tolkien aja. Dan juga mungkin akan saya post kan satu atau dua tahun mendatang atau mungkin terhenti ditengah jalan karena halangan tertentu.

  16. Davindra berkata:

    Damn….
    akhirnya ada yg bisa dijadikan referensi utk mngenal karya2 engkong Tolkien
    haha..

    Ya selain wikipedia, dan lainnya…

    klo bicara masalah adaptasi buku ke film gk akan pernah selesai sih. Aku menyukai LOTR dan The Hobbit dalam bentuk film dan lebih menyukai dalam bentuk buku (bahasnya agak ribet ya). Pokoknya klo mau nonton film yg adaptasi buku, lupakan semua yg pernah dibaca, selesai urusan. Klo mau disamain sma buku ya jelas film gak akan pernah bisa memuaskan. Film tentu sudah dibuat dengan penyesuaian untuk orang2 yg mungkin belum membaca bukunya. Lihat saja adaptasi The Avenger atau superhero2 Marvel yg kebanyakan ceritanya banyak disesuaikan dg kebutuhan film. Menurutku fair2 saja sih, tapi mengingat karyanya ngkong Tolkien itu “sakral” bagi beberapa orang (termasuk aku) wajar saja banyak yang kecewa.

    Untuk hal ini aku sudah terbiasa dengan adaptasi Manga menjadi Anime. Semuanya disesuaikan dg kebutuhan komersial.

    Memang awalnya tahu karya engkong Tolkien dari Trilogi movie LOTR sih, baru kemudian cari tahu karyanya yg lain, dan itupun baru sebatas The Hobbit. (Untuk hal ini sepertinya aku memang harus berterimakasih kepada Om Peter Jackson).

    Masih menunggu Silmarillion versi Indonesia, tapi memang kayaknya agak lama. The Hobbit sama LOTR saja banyak di toko buku setelah filmnya tayang di bioskop. Kemaren saja aku cek LOTR dan The Hobbit sudah banyak di”gudangkan” oleh gramedia.

    Oia Selain The Hobbit, LOTR, Silmarillion, aku gk nemu karya ngkong Tolkien lainnya yg bisa dibeli, kbnyakan out of stock . Silmarillion aj belum dapat nih…

    ada saran…?

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai, makasih ya udah mampir. Memang benar kalau adaptasi film itu selalu mempertimbangkan unsur komersial, walau tentu saja tidak semua kualitasnya pasti buruk (buktinya jaman sekarang orang2 lebih familiar dengan versi film dari Jaws, The Godfather dan Die Hard ketimbang novel-novelnya). Tapi perdebatan antara versi film dan buku Tolkien memang nggak pernah ada habisnya, apalagi ada faktor2 spesial seperti sikap Tolkien terhadap karya-karyanya dan keputusan keluarganya untuk menjaga karya-karyanya, yang dalam beberapa hal mungkin bertentangan dengan pandangan studio film komersial. Sampai-sampai Shaun Gunner, chairman-nya Tolkien Society International yang sekarang, sempat ‘disemprot’ hanya gara-gara bilang “jika tidak ada masalah hak cipta, bukan berarti tidak ada sutradara yang tidak berpikir untuk mengadaptasi karya Tolkien yang lain” (dia ‘disemprot’ fans Tolkien yang bilang kalau Tolkien Society sebaiknya lebih konsentrasi mendiskusikan dan mempromosikan karya-karya Tolkien ketimbang berfokus pada film yang lebih menonjolkan aspek hiburan dan komersial, karena memang itulah tujuan pendirian Tolkien Society International). Jadi ya lebih baik ambil mudahnya saja kalau gak mau berantem: nonton film untuk pengalaman sinematik dan ‘cuci mata,’ baca buku untuk meresapi keindahan narasi dan penceritaannya.

      Ada beberapa karya Tolkien lanjutan yang sudah saya promosikan di sini. Kalau mau saran untuk membaca, ini dia:

      1. Setelah LOTR dan The Hobbit, bisa baca The Silmarillion dulu tentunya, dan Children of Hurin. 12 volume History of Middle Earth serta Unfinished Tales disarankan dibaca setelah sudah familiar dengan minimal Hobbit, LOTR dan Silmarillion.
      2. Untuk karya yang lain yang lepas dan bisa dibaca sendiri2 (tidak melulu berkaitan dengan Middle Earth) antara lain Roverandom, Letters from Father Christmas, Farmer Giles of Ham, dan Smith of Wootton Major.
      3. Kalau mau buku yang isinya gabungan dari beberapa karya di atas (Roverandom+Farmer Giles of Ham+Smith of Wootton Major, plus kumpulan puisi The Adventures of Tom Bombadill+Leaf by Niggle), bisa beli buku yang judulnya Tales of the Perilous Realm. Sekali lagi, separuh isi buku ini tidak ada hubungannya dengan Middle Earth.
      4. Kalau suka yang bentuknya puisi, ada The Legend of Sigurd and Gudrun, Sir Gawain and the Green Knight (bahasanya agak ribet sih), The Fall of Arthur (lagi-lagi bahasanya cukup sulit), dan terjemahan Beowulf (bentuk narasi dari puisi epik asal Denmark, tapi bahasanya juga sulit).
      5. Kalau mau tahu Tolkien sebagai pribadi, disarankan biografi beliau yang ditulis oleh Humphrey Carpenter, karena paling bagus dan akurat. Selain biografinya, ada juga kumpulan surat-surat beliau (The Letters of J.R.R. Tolkien), tapi untuk permulaan mungkin lebih baik biografinya dulu (belum ada bahasa Indonesianya tapi).

      Fun fact: sebenarnya Gramedia udah niat lho menerjemahkan buku The Hobbit dari akhir tahun 70-an, tapi karena suatu hal ditunda. Itu hal yang wajar sih dalam hal penerjemahan: kadang suatu buku udah niat diterjemahkan lalu ditunda atau malah dibatalkan. Out of Stock-nya beli dimana? Kalau Periplus.com udah pada habis, mungkin bisa di OpenTrolley.co.id. Tapi yang versi bahasa Inggrisnya ya. Kalau Silmarillion sih di kedua toko itu kayaknya masih ada aja stoknya.

      Karena saya sudah cukup familiar dengan karya Tolkien, baru-baru ini saya mulai mencoba “naik tingkat”; saya mengumpulkan buku-buku kajian sastra yang membahas karya Tolkien. Banyak di antaranya ditulis oleh para ‘Tolkien scholar,’ sebutan buat para ahli bahasa, sastra, filologi dan sebagainya yang membedah karya Tolkien, misalnya Verlyn Flieger, Dr. Dimitra Fimi, Prof. Tom Shippey dan sebagainya. Buku-buku ini sangat menarik lho, contohnya kumpulan essay Green Sun and Faerie, Interrupted Music: The Making of Tolkien Mythology, The Philosophy of Tolkien, Logos and Language in Tolkien’s World, sama yang baru-baru ini saya pesan: Perilous and Fair: Women in the Works and Life of J.R.R. Tolkien. Semua buku ini bisa ditemukan di OpenTrolley.co.id. Gampang kok daftarnya di sana, bayarnya juga gampang (gak perlu kartu kredit) dan sejauh ini saya tak ada keluhan selain masa tunggunya aja agak lama (bisa 2-3 minggu karena buku impor).

      Semoga bermanfaat ya.

      • Davindra berkata:

        Ya, Silmarillion di periplus.com ada, ini lagi nunggu aja…

        yg lainnya cari di periplus.com gk nemu, belum ngecek OpenTrolley.co.id sih…
        nnti aj sklian ngecek klo udah gajian, hahha…

        Thank’s untuk rekomennya, mngkin tahapan lbh lanjut aku bljar elf language aj kli ya…
        😀

  17. NinaNathania M berkata:

    makasih postingannya, sekarang target saya bukan nunggu filmnya tapi nunggu terjemahan bukunya. menurut saya cukup lah buat peter jackson ngeborong piala oscar dari LOTR, kalau maksain ke silmarillion lagi sayang jadinya.

  18. gingerbreadandtea berkata:

    Wah keren banget postingannya! Aku biasanya baca opini orang2 barat dan hampir ga pernah nemu posting asli orang indo pake bahasa indo.. jadi tertarik koleksi bukunya nih..

    Anyway, imo lotr cukup bagus untuk ukuran film yang disadur dari buku..walaupun saya menyerah di tengah jalan baca bukunya yg bahasanya tingkat tinggi itu.. im a fan of the trilogy movie. Berkat itu saya jd baca the hobit dan jatuh cinta berat! Waktu denger mau dibikin filmnya saya excited bgt! Tapi memang sih agak mengecewakan film the hobitnya. Walaupun lebih modern daripada film lotr tapi mehh..hahaha, lumayanlah untuk membantu visualisasi bukunya..

    Tertarik banget baca silmarillion!! Dan habis baca postingan ini jadi tertarik baca buku2 lainnya karya tolkien senior dan junior dan bikin pengen koleksi.. dari semua buku itu ada yg ga dijual di periplus kah? Belinya apakah harus pakai credit card?

    Sigh im gonna be such a huge lotr nerd after this hahaha..
    salam kenal ya!

    • Putri Prihatini berkata:

      Makasih ya udah mampir, & salam kenal juga…. Akhirnya, ada lagi yang jadi suka Tolkien karena saya, hehe *berasa agen MLM*. Saya sih mengandalkan dua toko buku buat belanja: Periplus sama OpenTrolley.co.id. Dua-duanya sama, harus bikin akun, cuma saya punya akun di dua-duanya karena kadang ada buku-buku tertentu yang stoknya lagi habis di sini tapi ada di sana, gitu misalnya. Plus, OpenTrolley punya keunggulan yaitu ongkirnya flat, jadi beli banyak ya ongkirnya segitu-segitu aja. Tapi baik Periplus maupun OpenTrolley bisa kok transfer bank aja.

      Kalau saya membahas suatu buku di blog ini, saya selalu usahakan mencantumkan link ke Periplus atau OpenTrolley bagi yang ingin langsung beli, jadi ditelusuri aja beberapa postingan di sini. Oke, semoga setelah ini menjadi Tolkien nerd yang berdedikasi ya (amin!).🙂

  19. Wildan Cuy berkata:

    film The Hobbit itu kayak pelepas dahaga dongeng middle earth yang telah lama hilang.
    namun apa yang terjadi setelah film kedua dan ketiganya keluar? semata2 untuk tujuan komersil. esensi dongeng middle earth itu hilang…

  20. Muwahidun Askari berkata:

    Mantappp, emang film The Hobbit terlalu melenceng sih, terlalu banyak komedi & romancenya itu yg ngancurin, kalo soal filmnnya ada beberapa yg berbeda dari buku + cukup banyak yg di skip, film lotr juga demikian, tapi orang2 tetep suka lotr.

    btw The Silmarillion udah terbit terjemahannya di gramedia tapi ga ada duit T_T

  21. yoshikanji berkata:

    wah komennya panjang” nih, jadi pengen ikutan komen..

    ane sebenernya kurang tertarik waktu film LOTR keluar, tapi setelah diracuni ama temen kantor, yg dia emg hobi baca, dan koleksi tolkiennya banyak (bahasa inggris semua…) akhirnya pelan” tertarik juga, tp saya berada di sisi dark side, krn saya ngefansnya ama morgul (ngeliat karakter dia versi film maupun illustrasi berasa ngeliat ikemen :D)

    klo menurut ane, sebenernya film LOTR sendiri saya gk bisa bilang bagus, krn setelah baca bukunya ternyata ceritanya agak melenceng juga, banyak karakter yg dihilangkan, atau bahkan cuma disebut namanya doank, padahal dibukunya karakter” itu ada porsi sendiri.

    klo untuk LOTR gw lebih suka film pertama, meskipun CGInya paling jelek diantara 3 seri film itu. untuk bukunya, saya butuh waktu hampir setaun (padahal baca yg terjemahan) agak kurang gampang di pahami isinya, jd bacanya agak pelan” dan kadang mesti ngulang kalimat atau kalimat” sebelumnya untuk bisa ngerti maksudnya, dan tentunya butuh waktu untuk mengimajinasikan ceritanya, krn pertama baca imagenya sudah kerasa beda dengan film jd agak gk nyambung klo baca buku sambil ngebayangin adegan di versi filmnya.

    klo untuk the hobbit saya emang lebih suka bukunya krn ceritanya sebenarnya ringan petualngan ama perangnya juga ada konyol”nya, beda jauh dengan versi film terlalu banyak di dramatisir, dan kematian karakter”nya juga agak janggal krn beda sekali dengan versi buku.

    klo untuk silmarillion saya belum baca, kmrn ke gramed di beberapa toko besar bukunya udh abis😦
    untuk silmarillion ini sebenernya gk terlalu berharap di filmin sih, krn, gw pernah baca versi ebooknya sangat menyenangkan waktu bayangin perang ke 5 di battles of beleriand, dimana banyak saling sikut di aliansi easterling-dwarf-elves-man, naga juga ikutan perang di sisi morgoth
    baca bagian ini aja bayangin perangnya dengan skala berlipat” dari battles of five armies versi extendednya the hobbit P..J

    kalaupun silmarillion mau di filmin ane lebih suka ini dijadiin series macem game of thrones, jadi bisa merangkum cerita tanpa harus di jagal (mungkin disunat” dikit boleh lah biar serinya gk kepanjangan :p)

    sekian bualan saya :p

    • Putri Prihatini berkata:

      Makasih udah mampir. Iya, gak apa-apa, komen aja yang panjang, artinya blog saya ngetop, hehe🙂 Iya, sebenarnya untuk buku2 Tolkien, yang paling sreg itu adalah baca versi Inggrisnya. Karena sebagai ahli linguistik, cara nulis Tolkien juga dipikirkan masak2 dan unik, memiliki gaya sendiri, sulit diterjemahkan, mungkin seperti Shakespeare atau Edgar Allan Poe yang suka sengaja memilih kata-kata tertentu dalam narasi mereka untuk menggambarkan suasana yang tepat serta terkait tema cerita yang dikisahkan (yang baru ketahuan kalo kita baca versi Inggrisnya). Tapi terjemahan oleh Gramedia pasti sangat membantu buat yang belum terbiasa baca bahasa Inggris. The Silmarillion itu butuh setahun lebih untuk diterjemahkan, dan gaya bahasanya harus menyesuaikan dengan narasinya yang memakai bahasa tinggi (sekarang emang lagi banyak yang cari, jadi mungkin banyak habis, tapi paling distok lagi nanti). Malah, pas awal-awal popularitas LOTR, Tolkien pernah lho marah sama penerbit Amerika yang editornya dengan lugunya “memperbaiki” semua “salah tulis” yang dia lihat, padahal itu bukan salah tulis.

      Perkara adaptasi film, pastinya ada banyak hal yang tidak sama antara film dan buku (saya pribadi seneng sih Haldir muncul lebih banyak di The Two Towers🙂 walaupun itu berarti satu lagi pelencengan besar2an yang dilakukan PJ, karena pasukan Elf gak ada urusannya sama sekali nongol di Helm’s Deep). Cuma, kalo dibandingin, emang tingkat idealisme penggarapan oleh sineasnya antara LOTR dan The Hobbit beda jauh, itu bisa ketahuan dari video diary sama wawancara behind the scenes. Walaupun LOTR sendiri mengalami banyak kekacauan dalam penggarapannya, banyak hal-hal seperti penggunaan trik kamera ketimbang CGI atau penggarapan karakter yang masing-masingnya memberi kesan mendalam untuk penonton, walau karakternya nongol sebentar aja. Kalau The Hobbit, itu bisa dibilang rada kacau dari awal. Rencana pembuatan film yang diregang dari yang jadinya cuma 2 film jadi 3, Guillermo del Toro mendadak cabut, PJ gak begitu niat lagi jadi sutradara, obsesi terhadap CGI, dan dalam wawancara PJ sendiri juga bilang bahwa sebenarnya dia sendiri banyak main tambal-sulam dan penyesuaian mendadak seiring berjalannya proses syuting, mungkin itu sebabnya kenapa ada kesan “disjointed” antar adegan dan film-filmnya sendiri (plus: kisah cintanya maksa banget, dan Legolasnya kok ya terlalu emo). Tapi iya, mereka yang baca setelah nonton film emang akan punya memori yang udah saklek tentang bagaimana karakter ini, misalnya aja Legolas: sebenarnya bisa aja loh dia itu jadi karakter berambut hitam atau coklat, karena dia keturunan Elf Sindar yang sebagian besar berambut gelap (tapi masih masuk akal sih karena rambut bapaknya pirang, cuma memang gak dijelasin aja di buku). Dan Legolas itu bukan karakter sok cool; dia malah cukup ceria dan rada bubbly. Justru Gimli yang merupakan karakter yang pendiam dan agak suram. Dan sebagai karakter, sebenarnya dia (Legolas) itu karakternya dalam banget, kalo mau menelusuri riwayat babenya dan kerajaannya sampai ke kakeknya (saya pingin sih bikin postingan panjang tentang tokoh seperti apa Legolas ini sebenarnya, tapi belum sempet sekarang, masih sibuk…).

      Kalau Silmarillion, kesulitan yang paling dilihat (selain penolakan oleh Tolkien Society) adalah faktor-faktor seperti: Silmarillion itu modelnya banyak deskripsi, lebih mirip penggambaran sebuah kitab daripada buku, jadi banyak dialog yang harus dikarang sendiri, dan harus mengikuti gaya dialognya yang menggunakan bahasa tinggi (dari gaya terjemahannya pun cukup keliatan kesan itu). Ada beberapa arc cerita yang semuanya kaya karakter, menuntut perhatian yang sama besar, dan perpindahan antara satu bab dengan bab lain lompatan waktunya bisa cukup jauh. Banyak karakter penting yang penggambarannya harus melebihi penggambaran Elf atau Manusia, seperti para Valar. Sineas harus pandai-pandai berinvestasi pada semua karakter yang melimpah; ambil contoh ketujuh anak Feanor yang semuanya memiliki karakteristik berbeda dan peran khusus dalam mendukung misi si bokap merebut Silmaril (serta nyari musuh melulu, termasuk antar sesama Elf). Bagaimana supaya kekacauan penggambaran karakter tiap Dwarf di film Hobbit gak terulang? (Dari semua Dwarf, saya yakin Thorin, Kili dan Fili yang paling diinget karena mereka udah disetel sebagai Dwarf ganteng). Dan jelas potongan yang harus dilakukan akan banyak sekali, banyak bab yang akan harus dipangkas. Kalau dulu banyak orang menganggap LOTR versi film bisa melengkapi versi buku, saya pikir The Silmarillion akan terasa sebagai side dish aja kalo dijadiin film, jika dibandingkan dengan bukunya. Apalagi ada tugas berat dari sineas yaitu bagaimana merangkum kelompok fans yang membaca The Silmarillion dan terlanjur trauma ngeliat bagaimana The Hobbit diperlakukan (dan fans garis keras ini termasuk beberapa Tolkien scholar, serta orang-orang muda seperti Marcel Aubron yang sekarang jadi ketua Tolkien Society di Jerman). Kecuali jika sineas itu bisa menggarap The Silmarillion sedemikian rupa sehingga tidak kejeblos menjadi tipe film yang harus dibaca dulu bukunya supaya paham.

      Saya pikir, kalaupun seorang sineas entah bagaimana berhasil mendapat hak memfilmkan buku Tolkien, Children of Hurin jauh lebih cocok. Gaya bahasa dan penceritaannya lebih mirip LOTR, timeline waktunya gak lompat-lompat terlalu jauh, dan arc karakternya jelas serta tidak menyebar kesana-kemari, jadi jelas kepada siapa sineas harus menaruh perhatian lebih. Tapi Children of Hurin terbit pertengahan tahun 2000-an, dan setahu saya hak ciptanya atas nama Christopher Tolkien, jadi bakal lebih lama lagi sampai seseorang bisa mendapat hak adaptasi dari Tolkien Society.

      Gitu juga aja balasan/racauan saya🙂

  22. dewi anggraini berkata:

    Wih skrg udh bln dec.lg musim liburan,salju,christmas,new year eve,hot choco,good movies,good books is all i ever need,a good discussion like u have here will do sista,setuju semua ulasanmu deh,ayolah kembali ke buku, film okey juga. Gak tau knp aq orgnya dr dlu gamo berharap byk kl ada buku dibikin film,it’s just 2 different dimension in my mind,some good n some pitty..lets just go back to our fantasy n grab all our books,next time we’ll watch the adaptation movies with a bowl of popcorn..have a comment .. Let they fill our soul at peace.i’m sorry i’m just too happy to find out i’m not the only 1 who is crazy about Tolkien,suka comment2 yg polite n make sense..trully salam kenal

  23. Putri Prihatini berkata:

    Haha, betul banget. Santai yang paling enak itu dengan buku bagus, film, dan minuman hangat. Apalagi tahun baru nanti, pas banyak orang keluar/pesta tahun baru dan sebagainya, saya sih ngumpet aja di rumah sampai situasi normal😀 Betul, kalau bicara soal adaptasi, untuk enaknya, mari sama-sama menikmati buku dan film dengan kapasitas yang berbeda. Selama film itu digarap dengan serius, pasti ada sisi bagusnya. Tapi setelah itu, kalau mau membaca bukunya untuk melihat seperti apa sih kualitas yang sebenarnya, bagus banget. Hitung-hitung kan nambah resume literatur kita🙂 Saya juga senang ketemu orang yang suka Tolkien. Salam kenal….

  24. ibnualhusein berkata:

    Woaah saya jadi main kesini setelah beli The Silmarillion edisi GPU.
    Anyway mbak, udah baca atau ngecek tentang The Silmarillion edisi GPU? juga dengan The Unfinished Tales. What do you think? and also soal postingan ini, saya absolutely benar-benar setuju.

    Saya juga pengen bisa menyelami kisah-kisah Middle-Earth, dunia yang dibangun Tolkien dengan benar-benar epik. Dia itu Masterpiece. Tapi duuh… pemahaman English-Reading saya masih rendah…

    • Putri Prihatini berkata:

      Wah, jadi ramai ya di sini?🙂 Saya sudah lihat versi Indonesianya, secara umum bahasanya bagus dan berhasil menangkap gaya bahasa yang dituju oleh Tolkien waktu menulis itu. Karena mengikuti gaya bahasanya Tolkien, maka banyak juga kata-kata bahasa Indonesia yang cenderung jarang dipakai jadi muncul di buku, hitung-hitung pembaca Indonesia bisa belajar bahasa Indonesia juga deh. Tapi kalau saya sih jujur nggak beli, soalnya lebih sreg baca yang bahasa Inggrisnya, karena pemilihan kosakata dan diksinya Tolkien ketika menulis dengan bahasa ibunya itulah yang saya cari… Kalau secara umum sih saya sudah baca sebagian besar karya Tolkien; selain LOTR, The Hobbit, Silmarillion, dan Children of Hurin saya juga udah baca Unfinished Tales (keren kalau pingin tahu backstory-nya Celeborn, Galadriel dan Thranduil), 7 dari 12 buku seri History of Middle Earth (belinya dicicil), sama yang tidak berhubungan dengan Middle Earth (Tales from the Perilous Realm, Gawain and the Green Knight, Legend of Sigurd and Gudrun). Untuk non fiksi yang berhubungan dengan Tolkien, saya udah baca kumpulan surat-suratnya (dibukukan oleh Humphrey Carpenter) dan kajian literatur dalam karya Tolkien terkait gender (ada juga saya bikin ulasannya di blog ini). Sekarang lagi nyicil untuk beli biografi resmi Tolkien dan The Story of Kullervo. Jadi, yah, sampai umur saya habis mungkin tak akan pernah selesai nih perjalanan memahami karya-karya Tolkien….

      Unfinished Tales itu juga kumpulan cerita, dan plotnya menggali backstory beberapa karakter yang mungkin kita sudah kenal. Kalau mau baca sesuatu yang gaya penceritaannya agak mirip LOTR, saya sarankan habis The Silmarillion baca Children of Hurin. Di The Silmarillion kan ada tuh bab judulnya Turin Turambar, tapi modelnya lebih mirip deskripsi yang lebih singkat. Nah, Children of Hurin adalah novelisasi dari bab itu. Sedikit bocoran: sepertinya Gramedia pun kelak juga akan menerbitkan versi bahasa Indonesia dari Children of Hurin, tapi mungkin masih lama, karena The Silmarillion aja baru keluar.

      Kalau seri History of Middle Earth, saya sarankan hanya beli itu kalau sudah familiar dengan dunia Middle Earth-nya Tolkien, karena itu isinya kumpulan manuskrip. Cocok untuk yang ingin mengkaji perkembangan penciptaan Middle Earth oleh Tolkien, termasuk catatan versi-versi awal para karakter dan plot (yang kemudian “dibuang” dan diganti dengan versi The Silmarillion dan LOTR yang sudah kita kenal).

      Saya dulu beli The Silmarillion juga pas masih latihan English reading (sekitar tahun 2003 atau 2005, pokoknya masa-masa baru kuliah). Tapi seiring waktu akhirnya sekarang sudah terbiasa, tentunya asal setiap hari punya komitmen untuk membaca. Kalau materi bacaannya sesuatu yang menarik minat kita, nanti lama-lama pasti juga lancar dan terbiasa. Apalagi, rasanya tak mungkin semua karya Tolkien akan diterjemahkan, dan kalau bisa baca bahasa Inggris, makin besar kesempatan kita untuk tahu lebih banyak. Jadi, don’t give up. Makasih sudah mampir ya🙂

      • yoshikanji berkata:

        Wah, mbak. beneran tuh Children of Hurin mau di translate ke indonesia??
        rejeki nomplok brarti😀 soalnya kmrn baru baca ebook nya sih, dikasih temen🙂
        kalau seandainya bener brarti kemungkinan keluar bukunya sekitar 2017an yah?

        Soalnya dulu 2012 denger kabar klo buku gramed sudah beli lisensi The Silmarillion dan ternyata baru rilis 2015 ini (wajar sih soalnya kemaren masih rame di buku the hobbit ama paket The Hobbit + LOTR)

        Moga-moga bisa cepet setahunan lah,, soalnya kemaren jarak terbit antara Tales from the Perilous Realm ama The Silmarillion juga gk terlalu lama..

        Kalau buku Unfinished Tales sih pasrah aja, soalnya kalau lihat isi dan seri bukunya kayaknya gk bakalan ada yg minat untuk publish versi bahasa indonesianya…

        Ini saya sudah pesen online di bukabuku The Silmarillion ama Tales from the Perilous Realm, sekalian ama bukunya G. R. R. Martin :p
        Lumayan, lagi banyak diskon akhir tahun klo beli online…😀

  25. Putri Prihatini berkata:

    Abis ngobrol sama temen di forum soalnya, jadi infonya dari dia, kan dia kerja di Gramedia. Ya kalau dilihat dari tipe bacaannya, memang Children of Hurin adalah yang paling sreg untuk diterjemahkan (semoga saja tidak ada halangan). Buku-buku lainnya cenderung kurang komersil kecuali untuk pembaca serius, dan beberapa seperti Beowulf, Story of Kullervo, Sir Gawain atau Legend of Sigurd and Gudrun cenderung sulit diterjemahkan tanpa menghilangkan elemen utama karyanya, atau malah cenderung lebih cocok untuk orang dengan ketertarikan akademis. Bicara soal niat menerjemahkan juga sebenarnya Gramedia itu sudah berniat menerjemahkan The Hobbit dari tahun 70-an, cuma ditunda dan akhirnya diputuskan untuk dilakukan pada awal tahun 2000-an. Jarak antara Tales from the Perilous Realm dan Silmarillion itu bisa jadi karena: keduanya rampung di saat yang tepat (hype film The Hobbit masih ada), dan penerjemahnya kan juga berbeda, jadi dikerjakannya bisa barengan.

  26. Dee Anne berkata:

    tulisan yang bagus sekali…
    sebagai pembaca novel trilogi LOTR sesudah nonton filmnya, saya merasa bisa paham jg dengan keukeuh-nya Mr. Christopher atas masalah karya2 ayahnya…
    saya nonton the Hobbit sambil lalu, tidak seperti saat nonton trilogi LOTR, karena di the Hobbit ada beberapa adegan yg–benar bgt–seperti dipaksakan, justru membuat jadi aneh, hehe.
    sebenarnya saya juga salah satu yg bertanya-tanya soal the silmarilion akan di filmkan atau tidak… sekarang sudah mendapat jawabannya, dan saya mengerti sekali dengan alasan yg Mr. Christopher punyai.
    sekali lagi terima kasih kakak😀

  27. agustina berkata:

    Salam kenal,

    Saya penggemar baru tolkien, ( gak newbie banget sih).
    Pertamakali kenal tahu tolkien dari film lord of the ring 1,2&3.
    Saat itu saya hanya mengenal sebatas film dan tidak cari tahu karya asli buku tolkien.
    Film lotr sangat melekat di ingatan saya, setiap konflik dan penyelesaian, setiap detail kengerian orc dkk, detail keindahan elf dan negeri hobbit, dsb dsb membekas kuat di otak.

    Saya terkagum kagum pada persahabatan dan ujian terhadap persahabatan dari empat sekawan hobbit di lotr.
    Tentang gandalf dan legolas ( agaaiin legolas, oh my god PJ and team pinter pilih orlando as legolas).#ehemm

    Saat film the hobbit 1 tayang perdana, saya langsung penasaran dengan karya tolkien dari buku,( itupun efek hot daddy thranduil yg muncul walau sekilas, hahahahhhhh).

    Pada awal film the hobbit 1, saya terhibur dengan bilbo yg sederhana dan polos gak ketulungan dan smua interaksi bilbo dengan gandalf.

    Namun setelah saya baca novelnya, jujur saya terganggu dengan romantisme tauriel yang menurut saya seharusnya semua adegan dia bisa digunakan untuk eksplorasi tokoh bilbo.

    Banyak hal yg di eksplorasi oleh team PJ pafa tiap tokohnya, Dan pada akhirnya menurut saya pribadi peran tokoh bilbo jadi terpinggirkan, dan menurut saya aktor martin freeman aktingnya sebagai bilbo bernilai outstanding

    Seharusnya bilbo menjafi burglar di novel sekaligus di hati semua penonton, tetapi papanya thranduil malah stole the show dan juga hati saya hahahahhh..#

    Yapp, saya sependapat bahwa thranduil adalah hal yg paling membuat saya bertahan meninton film hobbit 1,2,3.

    Salam

    • Putri Prihatini berkata:

      Haloo, makasih udah mampir dan komen ya. Hm, sebenarnya saya ada sih rencana bikin postingan tentang Legolas dan Thranduil (rencananya dibahas sendiri2), karena banyak karakter Tolkien yang sebenarnya baru ketahuan kedalamannya ketika kita membaca semua karya dimana mereka muncul, jadi gak cuma di The Hobbit, LOTR, dan The Silmarillion aja, tapi juga di semua seri History of Middle Earth dan Unfinished Tales. Jadi kayak menyatukan kepingan2 puzzle untuk memahami mereka ini seperti apa karakternya, sepenuhnya. Tapi…berhubung saya udah ada beberapa artikel yang mau digarap duluan dan saya juga harus nyelesaikan kerjaan, jadi keduanya masuk waiting list, ya…🙂 Tapi nanti pasti jadi kok.

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai, Irham, trailer ini semacam proyek bikinan fans, karena banyak juga yang mengharapkan Silmarillion dibikin filmnya. Jadi ini “trailer tidak resmi” alias fan-made video, dibikin untuk senang-senang. Seandainya hak pembuatannya benar-benar diberikan Christopher Tolkien, pasti akan jadi berita besar. Untuk buku-buku itu, kalau misalnya gak ada di Gramedia setempat, beli online aja di Gramedia.com.

  28. Etha berkata:

    Wah, ulasannya bagus sekali!
    Saya jadi tertarik baca seri buku dari karya Tolkien yang lainnya.
    Sejauh ini saya cuma bisa menikmati karya yang difilmkan, dan jujur saya merasa lebih tertarik untuk membaca buku untuk membandingkan, tapi sayang di perpustakaan daerah dan universitas saya tidak menyediakan seri yang lengkap :’)

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai Etha, makasih ya udah mampir. Wah, masalah kita sama ya, saya malah perpustakaan jauh banget dari rumah dan cuma ada 1. Tapi minimal kalau bukunya udah diterjemahkan, harganya jadi agak turun dibandingkan versi impornya. Buku-buku yang udah diterjemahkan itu ada kok di Gramedia.com, tapi kalau The Hobbit dan LOTR versi Indonesia mungkin bisa dicari versi secondhand-nya, karena terbitnya kan udah lama. Atau, coba gabung ke grup Eorlingas di Facebook (tapi itu harus nunggu di-approve dulu sama admin ya, soalnya peraturannya cukup ketat dan dulu banyak member yang tidak menaatinya). Setiap hari Minggu, biasanya di grup ada Hobbiton Sunday Market, yaitu member yang buka lapak jualan barang2 bertema Tolkien dan LOTR, suka ada yang jual buku terjemahan juga (tapi jualan cuma diijinkan setiap hari Minggu).

  29. Matthew osvaldo berkata:

    Hai.. saya mau tanya,
    Bro/Sis beli buku J.R.R Tolkien dimana??
    maaf pertanyaan saya simple banget. Saya masih 14 thn dan tertarik dengan karya Tolkien sudah lama..

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai Matthew, makasih sudah mampir (oh iya, yang punya blog ini seorang “sis”🙂 ). Karena buku yang terjemahan bahasa Indonesia semuanya terbitan Gramedia, jadi kalo susah nyari di toko buku setempat, beli aja online lewat Gramedia.com, karena itu bayarnya bisa transfer bank biasa. Tapi kalo yang The Hobbit dan LOTR edisi Indonesia kan terbitnya udah lama, mungkin bisa cari yang bekas/secondhand di internet atau lapak buku bekas atau semacamnya sesuai lokasi empat tinggal, siapa tahu ada, biar murah.

  30. angie berkata:

    bagus sekali tulisannya,,,, saya penggemar J.R.R Tolkien dan telah mengikuti film trilogi The Hobbit dan TLOTR. sampai sekarang saya sangat tertarik mengetahui semua kisah J.R.R. Tolkien yang mengajak kita untuk menuju ke dunia yang berbeda. dan tulisan ini sangat berguna sekali menambah pengetahuan saya. thanks ya

  31. penggemar the silmarillion berkata:

    memang buat para pembaca bukunya berasa banget bedanya, meski demikian saya sih masih berharap The Silmarillion bisa difilmkan, kisah awal permulaan perseteruan antara Vallar – Melkor sampai kejatuhan Sauron itu tentunya bisa dibuat beberapa sekuel film, hanya ya tentu saja, pasti ada banyak adegan dan tokoh sisipan untuk mengisi kekosongan ini.

  32. Mena berkata:

    Tulisannya bagus banget. Aku sendiri penggemar versi buku The Hobbit dan LOTR, tapi tidak pernah tahu sejarah penulisannya. Karya Tolkien ini buat saya kagum karena berhasil menciptakan dunianya sendiri menjadi hidup dalam bentuk sastra. Bagiku, film adaptasi itu hanya pemanis aja, yang pada akhirnya aku berpikir “Ohh, lebih baik baca bukunya”. Awalnya aku pikir kerabat Tolkien ini kok dramatis dan proktektif sekali mengenai karyanya yang sudah difilmkan maupun dituangkan dalam Video Game, karena sejauh ini karya Tolkien semakin terkenal dengan adanya Film adaptasi tersebut (Well…..tidak semua orang suka baca buku). Tapi dari tulisan ini aku rasa wajar jika anaknya sangat menjaga karya ayahnya, karena ayahnya mendedikasikan hidupnya untuk buku-buku itu. Bisa dikatakan bahwa karyanya adalah jiwa ayahnya yang selalu hidup.

  33. Ren berkata:

    Aku setuju The Silmarillion tidak difilmkan, karena setelah baca bukunya, wow pe er banget itu kalau beneran difillmkan😄. Dan ya, sama juga, trauma kalau nanti jadi kayak The Hobbit

  34. Afrelino Christian berkata:

    Tulisan nya bagus sekali sis. Saya memank baru soal dunia Tolkien tapi jatuh cintanya sudah dari Film pertama LOTR sebenarnya sudah pengen baca bukunya tapi waktu itu masih susah cari dan beli bukunya (maklum masih SMP) baru 2 tahun belakangan mulai membaca lagi. Saya mau nanya sis karya Tolkien yg sudah d translate Gramedia apa aja(selain Trilogi LOTR dan The Hobbit). Saya baru nemu d gramedia yg The Silmarilion sama Children of Hurin. Tolong rekomnya ya sis..

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai, makasih ya. Hm, sekarang yang sudah diterjemahin memang baru The Silmarillion dan Children of Hurin. Untuk buku Tolkien yang lain ada Tales from the Perilous Realm (Kisah-kisah dari Negeri Penuh Bahaya), tapi itu cerita fantasi yang nggak ada kaitannya dengan Middle Earth (walaupun gaya penulisannya cukup memberi bayangan akan The Hobbit dan LOTR). Buku-buku karya Tolkien yang lain sepertinya bukan materi terjemahan yang ideal untuk dipasarkan di Indonesia, sementara sisanya kurang begitu terkenal di sini, atau memang tipe yang susah diterjemahkan karena akan menghilangkan maknanya.

  35. Putri Prihatini berkata:

    Contoh: 12 edisi History of Middle Earth. Ini adalah kumpulan manuskrip awal Tolkien yang merupakan “catatan sejarah” pembentukan dunia Middle Earth yang nantinya akan menjadi The Silmarillion dan LOTR. Ini bukan materi terjemahan yang ideal karena isinya lebih cocok untuk kajian literatur ketimbang bacaan yang 100 persen fiksi (ada catatan penyuntingan juga dari Tolkien dan Christopher Tolkien). Ada juga Unfinished Tales, berisi kisah-kisah yang nggak ada di dalam The Silmarillion (juga berisi catatan penyuntingan). Yang lainnya adalah buku2 non fiksi yang dikarang oleh para sarjana, penulis dan ahli sastra/linguistik yang secara khusus memelajari karya Tolkien.

  36. Wita berkata:

    Hai Kak Putri!
    Ini salah satu ulasan favorit saya termasuk semua respon yang ada, senang sekali membacanya.
    Sekarang ini adalah era dimana buku (novel, fiksi) dari berbagai genre dijadikan sebuah film (adaptasi). Apalagi tehnologi canggih yang mendukung untuk memungkinkan sebuah fantasi jadi kenyataan. Kata orang film, ini adalah sebuah tantangan!
    Suka atau tidak, adalah hal yang lain lagi, karena sudah menyangkut preferensi masing-masing pribadi.
    Untuk The Silmarillion (Valaquenta & Akallabeth), mungkin saja bisa difilmkan suatu saat nanti; far..far away from our galaxy, I guess😉, jika hak copyright-nya sudah mengijinkan. Untuk saat ini, kepastian TIDAK difilmkannya The Sil semata-mata hanya karena hak copyright dari ownernya yang belum ‘rela’ untuk dijual karena alasan-alasan tertentu (sudah tau, kan?). Saya bisa memahami dan menghormati keputusan tersebut.
    Saya sendiri termasuk orang yang moderat, *eh .. bisa menerima dinamika perkembangan yang ada di dunia perfilman tapi juga tetap tidak meninggalkan ‘apa-apa’ seperti yang dikatakan/ada di buku aslinya.
    Harapan saya buat The Sil kalau dijadikan film, trilogi LoTR bisa dijadikan referensi yang sangat baik;terlepas dari kekurangannya, dan jangan mengulangi ‘kesalahan (kekurangan)’ yang sama seperti pada trilogi The Hobbit;tidak semuanya kurang bagus.
    Semoga Hollywood tahu falsafah Jawa berikut, “Ngono yo ngono .. tapi mbok yo ojo ngono.” :))
    — Cheers —

    • Putri Prihatini berkata:

      Hai, Wita. Makasih ya🙂 Betul, sebenarnya sih, kalau mau difilmkan, saya berpikir mungkin jangan berpatokan lagi sama trilogi LOTR, tapi jadikan serial, gitu. Dengan begitu, ekspektasi penonton akan beda, pembuat film gak akan terlalu nafsu “mengulangi kesuksesan LOTR” (yang sekarang kayaknya udah jadi kiblat untuk menentukan film layar lebar fantasi itu bagus atau nggak). Tapi selama hak tidak diberikan, selama itu pula rencana ini tak akan pernah bisa terwujud. Mungkin pola pikir seperti ini karena Tolkien dan Chris sama-sama berlatar belakang akademisi; mereka akademisi dulu, baru jadi penulis. Jadi mereka ingin supaya karya ini diapresiasi dengan cara lebih mendalam, gak jadi hiburan semata. Soalnya penciptaan dunia ini adalah proses yang berlangsung bertahun-tahun lamanya (pembaca yang ingin melihat sekilas seperti apa rasanya membuat ini semua mungkin bisa paham ketika membaca 12 edisi History of Middle Earth itu). Mungkin rasanya tidak seperti menulis buku fantasi, tapi sebuah disertasi raksasa berisi studi karakter, studi linguistik, studi kartografi, studi geografi, studi sejarah, studi sastra dan literatur, dan sebagainya…

      • Wita berkata:

        Kak Putri,
        Still, I prefer Silmarillion on a big screen because its epic story. It’s more than a trilogy movie, for sure!
        And yes, Children of Húrin would be a great trilogy, I would love to see it.
        Btw, would like to inform you that I made a video on YouTube about Silmarillion (dream) cast.
        Tittle: The Silmarillion (Quenta Silmarillion) – A Dream Cast 2016
        Account: linea lane
        But unfortunately, it only can be viewed on your computer/laptop, not on your mobile device (smartphone/tablet).
        Perhaps you may use your headphone/earphone for ‘eargasm’ music.
        Just feel free to stop by, anytime….
        Sorry, if this kinda spam bothering you. You don’t have to publish it on your blog, it’s fine with me☺
        Awaiting another Tolkien books (related to Middle Earth) review from you….
        — Cheers —

    • Putri Prihatini berkata:

      1. The Silmarillion + Children of Hurin (Masa Penciptaan hingga Abad Ketiga) –> 2. The Hobbit (pertengahan Abad Ketiga) –> 3. LOTR (menjelang akhir Abad Ketiga hingga awal Abad Keempat). Tapi untuk urutan baca justru disarankan The Hobbit dan LOTR dulu jika sama sekali belum familiar dengan dunia Tolkien. Untuk buku-buku lain di luar itu bisa dibaca secara random aja.

    • Putri Prihatini berkata:

      Yang ada di pikiran saya sebenarnya, kalau bisa difilmkan, lebih baik serial aja. Kayaknya lebih mudah begitu untuk buku yang modelnya kayak The Silmarillion. Kalau yang seperti Children of Hurin, itu baru potensial untuk difilmkan (kalau penonton suka ending tragis. Biasanya Hollywood kan gak gitu suka ending tragis).

  37. achmad kiki dasuki berkata:

    Setujuuuuhhhh… saya mulai menyukai karya tolkien memang setelah menonton film the lord of the ring the fellowship of the ring.. suatu ketika saya pernah melihat buku karya beliau d salah satu mall d jakarta, yang tebalnya aja mungkin bisa ganjel mobil di tanjakan curam.. dan masih dalam tulisan bahasa inggris yg susah d translate otak saya.. yang paling parah adalah ngga bisa membelinya.. hadeuuhh.. mungkin memang sebaiknya tolkien junior ngga usah bikin filmnya the silmarillion.. krna memang fantasinya akan lebih terasa hidup jika kita hanya membaca bukunya saja.. tapi sebenernya saya ngarep juga ad filmnya karna saya ngga punya buku2 karya mbah tolkien..

  38. mthprl berkata:

    Halo kak, aku salah satu penggemar karya tolkien kak, tapi jujur aku baru ngerti yang ada di film the hobbit dan TLOTR aja, baru2 ini aku kepikiran pengen beli buku nya, nah aku mau nanya nih kak, buku the silmarillion itu udh ada versi indonesia nya blm yah di gramedia? Dan kalau aku mau baca, itu mulai dari buku yang mana dulu urutannya, terimakasih kak:)

    • Putri Prihatini berkata:

      Silmarillion udah ada lama banget lho🙂 Coba cari di Gramedia atau toko2 buku besar yang biasa jual buku2 populer. Atau langsung ke Gramedia.com untuk beli online. Kalau mau baca gak urut juga gak apa-apa, tapi agar nggak bingung, saranku sih The Hobbit dan LOTR dulu. Karena The Silmarillion itu seperti riwayat masa lalu dari segala sesuatu yang kita tahu dalam The Hobbit dan LOTR (tapi kalau udah merasa cukup familiar, bahkan dari film sekalipun, gak masalah). Baru setelah itu coba sambung dengan Children of Hurin, karena itu adalah versi lebih panjang dari bab Of Turin Turambar dalam The Silmarillion, dan lebih banyak dialognya juga (versi Indonesianya juga udah diterbitkan Gramedia).

  39. dhani berkata:

    kak sis, mau nanya dong. kan klo di the hobbit the battle of the five armies di ceritain soal raja thranduil pengen banget ngerebut permata lasgalen.. kenapa permata lasgalen ada di bangsa dwarf (erebor).. trims🙂

    • Putri Prihatini berkata:

      Hi Dhani,

      permata lasgalen itu sebenarnya hanya akal-akalan PJ untuk memberi backstory yang lebih mendalam untuk Thranduil, dan mengaitkan The Hobbit dengan legenda Middle-earth era yang lebih tua. Di movie guide untuk The Battle of Five Armies, diceritakan bahwa kalung permata lasgalen itu dulu dipesan oleh Thranduil untuk istrinya, tapi sama Dwarf yang timbul niat serakahnya, kalung permata itu disimpannya sendiri. Jadi, ceritanya kayaknya diakal-akalin dikit sama PJ sebagai upaya kreatifnya. Tapi, kalau di novel The Hobbit, memang ada cuplikan cerita cikal-bakal kenapa hubungan antara Elf dan Dwarf suram, dan itu jauh lebih parah! Di novel The Hobbit, ada paragraf yang menceritakan bahwa Elf dan Dwarf dulu (jaman dulu banget, jauh sebelum jamannya Thranduil) pernah perang karena Dwarf mencuri harta mereka, sebuah kalung pusaka dengan permata, tetapi para Dwarf berbohong dan bilang kalau itu karena raja Elf menolak membayar jasa para Dwarf membuat perhiasannya. Di paragraf itu nggak ada nama-nama yang dicantumkan, tetapi cerita ini aslinya ada di dalam The Silmarillion, di kisah awal perseteruan Elf dan Dwarf. Raja Elf bernama Thingol memesan kalung dari permata Silmaril untuk dibuatkan oleh pandai besi Dwarf, tetapi karena permata Silmaril punya kemampuan mengorupsi pikiran orang yang memegangnya, para Dwarf ini menolak memberikannya. Akhirnya mereka perang dan raja Thingol dibunuh, dan para Dwarf yang tersisa kemudian berbohong bahwa si raja Elf yang memulai karena dibilang hendak mencurangi mereka. Itu yang bikin hubungan antara Dwarf dan Elf suram, sampai masa ketika Legolas dan Gimli secara simbolik mengakhiri perseteruan berabad-abad itu dengan bersahabat (nope, saya nggak menghitung Tauriel-Kili di sini. Terlalu gampang dan cheesy). Di novel The Hobbit sendiri, ada adegan Bilbo ngasih kalung ke Thranduil (di situ cuma disebut raja Elf) dari bagian harta karun Smaug, tapi itu cuma kalung perak dan mutiara biasa yang diberikan sebagai pertanda minta maaf dan terima kasih (kata Bilbo karena dia sudah diam-diam banyak makan makanannya Thranduil saat dia berada di dalam kerajaannya ketika mau membebaskan para Dwarf). Jadi, PJ mengambil cuplikan adegan sederhana ini, dan memberi kalung itu kisah latar belakang yang setengah terinspirasi dari The Silmarillion (“terinspirasi” karena PJ nggak boleh melanggar hak cipta dengan secara gamblang mengaitkan antara film The Hobbit dan buku The Silmarillion) dan setengah dikarang-karang sendiri. Biar kayaknya penting dan ngasih sedikit kedalaman karakter buat Thranduil, karena selama ini, dalam novel, istri Thranduil adalah sosok misterius yang tidak diketahui riwayatnya. Mungkin sedikit ngasih penonton cuplikan betapa Thranduil (yang di film karakternya sepertinya dibikin agak brengsek) sangat sayang sama istrinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s