‘The Persian Boy’: Alexander Agung di Mata sang Kasim Persia


Banyak yang bilang bahwa film Alexander yang dibintangi Colin Farrell di tahun 2005 flop alias gatot (gagal total) di pasaran karena dua hal: penggarapannya yang tidak bagus walaupun sudah menyelipkan Sir Anthony Hopkins dan Angelina Jolie, serta aspek homoseksualitas yang terlalu diumbar. Saya tidak akan berkomentar tentang yang pertama; walau sejujurnya, lepas dari betapa asyiknya ngeliat akting Colin Farrell yang yah-lumayan-doang dan betapa tebalnya eyeliner Jared Leto yang berperan jadi Hephaistion sang sahabat masa kecil sekaligus kekasih Alexander di samping para istrinya (ya, dia memang kemaruk), memang film ini terkesan kurang utuh dan memusingkan di beberapa bagian. Tulisan saya berkaitan dengan komentar kedua tentang homoseksualitas itu, yang menurut saya lucu, karena dua hal: Alexander biseks karena dia memang adalah produk jamannya, dan fakta bahwa film ini separuh diadopsi dari buku The Persian Boy karya Mary Renault, penulis Inggris ahli sejarah Yunani yang terkenal selalu detail ketika menggambarkan tradisi homoseksualitas Yunani Kuno.

Dan jika Alexander adalah film gagal, The Persian Boy sebaliknya: buku yang sangat sukses, dan sejak pertama kali saya baca, langsung mendapat tempat kehormatan sebagai salah satu novel sejarah favorit saya. Kenapa begitu? Mari simak ocehan saya….

Kisah Alexander dari Sudut Pandang Bagoas

The Persian Boy memang menceritakan tentang Alexander, tetapi dia sendiri tidak disebut-sebut sampai kira-kira bab 3, dan masih beberapa bab lagi sampai pembaca menemukan adegan dia berbicara. Ini karena The Persian Boy ditulis dari sudut pandang orang kasim bernama Bagoas. Dalam sejarah Alexander terutama di masa-masa setelah dia menaklukkan Persia, ada dua nama Bagoas yang muncul yaitu Bagoas sang Grand Vizier (semacam pejabat tinggi dalam istana) dan Bagoas yang merupakan orang kasim yang menjadi pendamping dan kekasih Alexander. Tentang yang kedua ini tidak terlalu banyak dibahas dalam berbagai catatan sejarah, jadi Mary Renault pun bisa dengan bebas mengarang dan mengeksplorasi latar belakang Bagoas hingga akhirnya ia bertemu Alexander dan mendampinginya.

Buku ini bermula dari kisah saat Bagoas masih berusia 10 tahun. Putra bangsawan yang tinggal di daerah pegunungan di utara Persia (dekat Susa), Bagoas diculik dari rumahnya oleh pasukan bangsawan lain musuh ayahnya, yang kemudian juga membunuh seluruh keluarganya. Ia kemudian dikebiri dan dijual ke seorang pedagang permata sebagai budak, dan kemudian terus berpindah tangan sebagai budak seks. Parasnya yang elok membuatnya diserahkan ke Darius III, raja Persia yang kelak akan berperang melawan Alexander. Sejak usia 13 hingga 16 tahun, Bagoas melayani Darius III, hingga akhirnya sang raja dikalahkan Alexander dalam beberapa pertempuran, termasuk Perang Gaugamela, dan melarikan diri.

Bagoas sempat mengikuti sang raja dalam pelarian, sebelum beberapa jenderalnya sendiri mengkhianatinya dengan membunuhnya, sebelum menyerah pada Alexander. Bagoas pun dibawa ke hadapan Alexander; saat itu, usianya 16 tahun, sedangkan Alexander 25 tahun. Dari sinilah ceritanya mulai seru: Mary Renault secara detil menggambarkan bagaimana Bagoas mulanya kebingungan ketika harus berinteraksi dengan Alexander karena benturan budaya, berjuang memahaminya karena karakternya sebagai raja yang sangat berbeda dengan Darius, rasa cinta yang perlahan tumbuh, kasih sayang khusus yang diberikan Alexander padanya (karena sifatnya berbeda dengan kasih sayang Alexander pada istri-istrinya dan Hephaistion), perjalanannya mengikuti Alexander di setiap kampanye penaklukannya, interaksinya dengan orang-orang di sekitar Alexander, serta pengaruh dan bantuannya pada Alexander yang ternyata di kemudian hari terbukti sangat berharga. Beberapa kawan terdekat Alexander bahkan mulai menghormatinya, setelah sebelumnya menganggapnya sebagai ‘pelacur barbar’ dan ‘anjing Persia.’

Mary Renault juga menggambarkan kegigihan Bagoas ketika mengikuti Alexander dalam kampanye penaklukan tersulitnya, misalnya ketika mengarungi Bactria, Gaza, dan Gurun Gedrosian, dan akhirnya kampanye masif terakhirnya yang berakhir tragis di India. Ia sendiri juga berhasil menghindari berbagai bahaya seperti pengkhianatan beberapa orang terdekat Alexander, serta percobaan pembunuhan dari istri pertama Alexander, Roxana, yang cemburu. Akhirnya, Mary Renault memanfaatkan sisa beberapa puluh halaman terakhir untuk menggambarkan, dengan miris dan getir, pengabdian Bagoas mendampingi Alexander ketika ia jatuh sakit dan sekarat sementara orang-orang terdekatnya malah sibuk memikirkan pembagian kekuasaan lantaran Alexander belum punya calon penerus.

Cerita berakhir ketika Alexander akhirnya meninggal, para bawahannya memperebutkan hak mengurus jenazahnya, dan Bagoas kembali ‘meredup’ sebagai narator yang tak penting dan tak dihiraukan; pemuda usia 24 tahun dengan jiwa yang menua terlalu cepat.

Tradisi Seksual dan Benturan Budaya

Karena novel ini digarap dari sudut pandang Bagoas dan bukan Alexander, maka kita akan diajak untuk banyak mengenal berbagai tradisi Persia kuno, terutama terkait status Bagoas yang merupakan orang kasim, yang dalam bahasa Inggris disebut eunuch atau catamite. Mary Renault yang pernah melakukan perjalanan keliling Yunani dan memelajari karya-karya serta catatan sejarah kuno menggambarkan dengan sangat detail semua aspek budaya yang berkaitan dengan kisah ini, hingga kita benar-benar bisa merasa dekat secara nyaris intim (kalau boleh saya bilang begitu) dengan karakter-karakternya. Contoh terbaiknya ya tentu saja dari sisi Bagoas.

Setelah dibuat ngilu dengan adegan pengebiriannya, dan mengernyit tak tega membaca baris-baris pengalamannya ketika dijadikan budak seks (tidak panjang, tak usah kuatir), saya senang membaca adegan ketika Bagoas ‘dipersiapkan’ sebelum menghadap Raja Darius. Ia dididik oleh seorang mantan pendamping pribadi Darius, seorang kasim bernama Oromedon, dalam serangkaian adegan yang mengingatkan saya pada  Mameha yang mengajari Sayuri seni memikat pria secara samar dalam Memoirs of Geisha. Jika Mameha mengajari Sayuri menarik lengan kimono secara tak kentara ketika menuangkan teh untuk memamerkan lengan, Oromedon mengajari Bagoas cara melengkungkan lengan sedemikian rupa ketika menuangkan minuman, agar enak dilihat. Bagoas juga belajar cara melayani makan dengan menggunakan peralatan makan dari emas, cara membantu sang raja berpakaian, cara benar merespon ketika sang raja memberi hadiah atau memanggilnya ke kamar tidur lebih dari sekali, dan sebagainya. Bagoas bahkan belajar menari agar ia mendapat nilai lebih di mata sang raja, sehingga ia kemudian menjadi favorit bahkan dibandingkan dengan selir perempuan.

Melihat bagaimana cara Renault menggambarkan budaya istana Persia yang sangat pedantik, menjadi menarik ketika kita akhirnya membaca adegan ketika Bagoas pertama kalinya bertemu Alexander dan mengalami culture shock yang amat sangat; ia menganggap bahwa Alexander yang orang Makedonia sangat barbar untuk ukuran raja (padahal di saat yang sama, pasukan Alexander menganggap orang Persia-lah yang barbar). Misalnya, ia kaget ketika mendengar orang-orang yang resminya adalah bawahan Alexander seperti Hephaistion, Cleitus, Cassander dan Ptolemy memanggil namanya langsung tanpa titel, karena mereka memang akrab sejak kecil. Ia kaget melihat Alexander menulis surat dan melakukan banyak rutinitas hariannya sendiri seperti orang biasa, sesuatu yang Darius tak akan pernah lakukan. Ia kaget melihat Alexander berkeliling menghibur pasukannya yang terluka setelah pertempuran, dan membiarkan mereka menyentuhnya sampai ia kotor berlumur darah. Bahkan, ada satu adegan agak kocak dimana ia disuruh menyampaikan pesan ke Alexander, dan begitu diberitahu bahwa Alexander sedang berlatih gulat, ia langsung saja berlari ke ruang olahraga dan langsung shock melihat Alexander dan para prajurit bawahannya berlatih gulat dengan telanjang bulat, praktik yang umum di kalangan atlet Yunani Kuno. Karena ia sampai tidak bisa bicara, Alexander jadi kasihan dan menyuruhnya untuk pergi saja, karena Alexander akan menemui si pemberi pesan sendiri (walau kalau mau jujur, bukan dia saja yang akan shock melihat satu ruangan penuh atlet gulat berlatih tanpa baju).

Kemudian, setelah Bagoas pelan-pelan mulai bisa menerima dan bahkan mencintai Alexander, adegan-adegan romantis antar keduanya ditampilkan dengan apik. Mary Renault sendiri menggambarkan karakter Alexander sebagai pria penuh kontradiksi: tak berbelas kasihan sekaligus penyayang, ramah sekaligus tegas, keras sekaligus pecinta yang lembut, pemarah namun bisa berdiskusi asal dilakukan dengan rasional (walau para ahli sejarah mencatat sifat-sifat seperti sikap impulsif, megalomania dan kekeraskepalaan sebagai penyebab beberapa keputusan terburuknya). Ia menaklukkan satu suku pegunungan demi menyelamatkan kuda kesayangannya dan membiarkan prajuritnya meniduri wanita-wanita rampasan, tetapi ia bersikap ramah pada para pelayan mudanya dan di satu adegan bahkan membuat Bagoas menangis ketika ia bertanya kapan ulang tahunnya.

Sayang, interaksi penuh warna ini tak ditampilkan di film. Misalnya, adegan pertemuan pertama mereka di film cukup standar, mirip pertemuan dua remaja SMP-yang-mukanya-ketuaan dalam FTV Indonesia; semua kecanggungan komunikasi karena benturan budaya hilang. Kebanyakan karakter Bagoas hanya diam di samping Alexander, dan adegan afeksi antar keduanya amat sangat sedikit, walau menurut saya tokoh Bagoas di Alexander sangat cocok diperankan Fransisco Bosch, penari flamenco dan balet asal Spanyol yang aslinya juga ganteng-cantik; adegan tariannya di film sangat eksotis, dan bahkan berakhir dengan ciuman dengan Colin Farrell, yang meniru satu adegan dalam novel ketika teman-teman Alexander bersorak menyuruhnya mencium Bagoas dalam suatu pesta.

 

Irrelevant comment: this picture made me really want to grow my lion hair again.

Fransisco Bosch. Konon, sewaktu audisi tokoh Bagoas, salah satu tesnya adalah disuruh merayu Oliver Stone (atau mungkin itu bisa-bisanya Stone saja).

Fransisco dan Colin bercanda di sela-sela syuting Alexander; foto-foto candaan yang agak nyerempet begini sempat membuat Colin digosipkan “ada apa-apanya” dengan Fransisco.

Kisah cinta Alexander dan Bagoas ini juga sedikit mencerminkan tradisi pederasty Yunani Kuno, yang mengacu pada praktik sosial dimana para pemuda, biasanya di rentang usia 15-19 tahun, dianggap wajar jika memiliki kekasih pria lebih tua, asalkan dari strata sosial sama/lebih tinggi dan mampu memiliki peran sebagai semacam mentor, apakah itu di bidang keprajuritan, seni atau filsafat, walau nantinya mereka juga menikah dengan wanita saat sudah dewasa. Di Pulau Kreta praktiknya malah lebih sadis; jika seorang pria menaksir seorang pemuda, ia akan memberitahu teman-teman si pemuda bahwa ia akan menculik pemuda tersebut. Semacam ritual abduction atau penculikan ritual yang dilakukan untuk meminang seseorang; jika si pria dari status sosial tinggi, keluarga pemuda itu akan menghalangi secara ogah-ogahan saja, tapi jika statusnya lebih rendah, ‘ritual’ berubah jadi penculikan sungguhan. Mereka berdua akan pergi ke gubuk di hutan yang sudah disiapkan si pria, dan mereka melalui hari-hari dimana si pria yang lebih tua wajib menurunkan keahlian atau pelajaran pada si pemuda, memberi hadiah berupa baju perang dan sapi jantan, dan…yah, Anda tahu apa lagi.

Jadi, jika Anda pemuda di jaman Yunani Kuno, tidak pernah punya pengalaman pacaran dengan lelaki justru akan membuat keluarga Anda malu.

Hiasan di kylix (cawan minum) yang menggambarkan lelaki mencium pemuda kekasihnya; pederasty adalah tema umum dalam berbagai karya seni Yunani Kuno.

Apa? Mau Pesan Moral? Hmm….

Pesan moral paling kental yang saya tangkap secara pribadi dari baris-baris roman sejarah ini sangat mantap dan relevan: pemahaman akan perbedaan.

Ini memang tidak mencakup semua plot dalam novel, karena saya bicara soal sifat hubungan antara Alexander dan Bagoas. Dalam buku ini, digambarkan bahwa banyak anggota pasukan dan abdi Alexander yang sudah memandang orang-orang Persia dengan prasangka tertentu, karena merasa lebih beradab. Akan tetapi, hal yang sama pun dirasakan oleh orang-orang Persia terhadap orang Makedonia. Jadi, masing-masing secara keras kepala menganggap orang-orang yang berbeda budaya dan ras dengan mereka ini sebagai lebih rendah.

Hal ini nampak dalam interaksi awal Bagoas dan Alexander; masing-masing bisa dibilang kebingungan bahkan terkaget-kaget ketika saling melihat kebiasaan satu sama lain. Alexander bahkan digambarkan pernah malu karena tanpa sengaja menyinggung Ratu Sisygambis, ibu Darius III, dengan memberinya hadiah alat pemintal. Disangkanya, alat pemintal akan membantu sang ratu tua mengisi waktu luang di istana, karena itulah yang dilakukan bahkan ibu dan saudari perempuan Alexander di Makedonia. Sementara, di Persia, hal semacam itu hanya pantas dilakukan budak. Kecanggungan dan kekeliruan seperti ini berlanjut selama beberapa bab, namun akhirnya menghilang dan menyisakan rasa cinta di antara keduanya, karena alasan sederhana: masing-masing mau belajar memahami.

Sebagai murid Aristoteles, Alexander terbiasa mengembangkan rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal. Tak seperti anak buahnya, ia tak segan belajar bahkan mengadopsi beberapa aspek dalam budaya Persia untuk diterapkan di kalangan orang-orangnya sendiri. Sebaliknya, Bagoas juga perlahan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan Alexander yang bertentangan dengan budayanya sendiri.

Mantap kan? Perkembangan cerita macam inilah yang membuat saya betah membaca buku ini berkali-kali. Di antara kecenderungan orang-orang Persia dan Makedonia yang saling melihat satu sama lain sebagai orang barbar, Alexander dan Bagoas menaklukkan perbedaan dengan inisiatif untuk belajar. Dalam beberapa adegan, mereka bahkan saling mengajari bahasa satu sama lain di malam hari, dan saya tidak tahu bahwa adegan belajar bahasa bersama ternyata bisa digambarkan dengan suasana intim, tanpa embel-embel romansa berlebihan. Dalam satu adegan, Alexander membacakan cerita Achilles dan Patroclus dari lakon Illiad karangan Homerus untuk Bagoas, justru setelah bawahannya yang petugas perpustakaan mengatakan bahwa “anjing Persia tak pantas membaca karya cendekiawan Yunani.” Dan Bagoas pun belajar mengucapkan nama Alexander dengan benar, walau selalu kepeleset memanggilnya ‘Sikander’ atau ‘Iskander.’

Dan bukankah ini indah? Jaman sekarang, kemampuan memahami perbedaan mungkin hal yang sudah langka. Kemajuan teknologi tidak membuat orang bersemangat untuk belajar budaya dan kepercayaan lain agar lebih bisa memahami mereka; teknologi malah digunakan untuk semakin memperuncing kebencian dengan menyebar pesan-pesan negatif dan mencari pembenaran akan sifat rasis dan merasa superior. The Persian Boy mungkin terkesan tidak relevan dengan kehidupan kita, namun pesan implisit di baliknya sangat relevan.

Oh, and this is still a better love story than Twilight. There, I said it.

Sumber:

Spencer, Colin. 2004. Sejarah Homoseksualitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Alexander the Great

Pederasty in Ancient Greece

Personal Relationships of Alexander the Great

The Persian Boy

One thought on “‘The Persian Boy’: Alexander Agung di Mata sang Kasim Persia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s