Sang Orator di Mata Sang Budak: Ulasan Buku ‘Imperium’


Sebelum saya mulai, saya tegaskan satu hal: tujuan awal saya membuat postingan ini bukan berdasarkan niat mulia berbagi informasi. Postingan ini saya buat karena rasa bersalah.

Kok bisa? Bayangkan, saya membeli buku Imperium ini pada tahun ketika edisi Bahasa Indonesianya sudah lama beredar, dan edisi yang saya dapat hanyalah stok sisa yang tidak terbungkus plastik dengan ujung sampul melekuk serta dalam posisi setengah terkubur di antara novel-novel fiksi fantasi bertabur gambar sosok kaum Elf, yang sudah pasti tidak meniru karya-karya J.R.R. Tolkien. Dan mungkin karena itu pembelian setengah hati, saya baru benar-benar membacanya setelah 6 bulan. Ketika akhirnya membacanya hingga habis, saya baru sadar bahwa selama 6 bulan itu saya melakukan kebodohan tingkat parlemen. “6 bulan tersia-sia begitu saja, non!”

Tetapi untuk adilnya, waktu itu mana saya tahu bahwa Robert Harris si penulisnya itu ternyata orang yang sama yang menulis Ghost Writer, Lustrum (Conspirata) dan Pompeii!??

Lepas dari itu, saya sudah membaca lumayan banyak buku-buku fiksi yang berdasarkan era Romawi kuno, namun novel Imperium karya Robert Harris ini (yang di Indonesia diterbitkan oleh Gramedia) punya keistimewaan yang membuatnya berhak mendapat tempat kehormatan di rak buku saya (baris ketiga dari atas, paling mudah diakses dan terlindung dari debu saat lantai di sekitarnya disapu). Apa itu? Here goes…

Bagi penggemar dunia politik atau sejarah Romawi kuno, nama Marcus Cicero (3 Januari 106 S.M-7 Desember 43 S.M) pastilah sudah tidak asing lagi.  Seorang orator, pengacara, penerjemah, penulis dan politikus berbakat, Cicero adalah seseorang yang kalau sudah bicara akan membuat semua peserta debat di acara Indonesia Lawyer’s Club pulang sambil menangis dan mundur dari syuting keesokan harinya. Tetapi, Imperium tidak hanya memusatkan seluruh perhatian kepada Cicero, melainkan kepada sang narator dalam novel ini, Tiro.

Pernah mendengar nama itu? Belum? Bagaimana kalau nama lengkapnya, Marcus Tullius Tiro? Masih belum familiar? Wajar saja. Tiro bukanlah nama yang cukup terkenal kecuali kalau kita membaca riwayat lengkap Marcus Cicero dan kebetulan menemukan namanya nyempil di tengah-tengah, karena Tiro adalah budak rumah Cicero. Alasan mengapa namanya terdengar keren untuk ukuran nama budak adalah karena Tiro pada akhirnya diberi kebebasan oleh Cicero dan diijinkan mengadopsi nama sang majikan, setelah bertahun-tahun mengabdi dengan setia. Tidak banyak salinan karya dan surat-surat Cicero yang bertahan hingga jaman sekarang, namun beberapa yang masih bertahan menyebutkan ungkapan sayang dari Cicero kepada budaknya yang satu ini:

“Sungguh tak terkira pengabdianmu kepadaku…di dalam dan di luar rumah, di dalam dan di luar Roma, dalam urusan pribadi dan umum, dalam kajian dan karya tulisku….”

Tokoh Tiro sendiri sebenarnya sudah pernah muncul dalam berbagai karya fiksi yang berkaitan dengan Cicero, misalnya dalam buku Roma Sub Rosa karya Steven Saylor serta serial Rome (diperankan oleh Clive Riche). Tetapi, saya pribadi paling suka penggambaran Tiro dan Cicero dalam trilogi Robert Harris yaitu Imperium ini, lalu Lustrum (edisi Amerika dan terjemahannya di Indonesia berjudul Conspirata), dan bagian ketiga yang masih dalam penulisan dan saya tunggu-tunggu kedatangannya di Indonesia dengan harap-harap cemas. Pasalnya, selain gaya berceritanya yang mengalir tanpa jadi kaku atau kedodoran, Robert Harris menggunakan gaya paparan sudut pandang orang pertama bukan dari Cicero-nya, melainkan Tiro.

Dalam Imperium, kita diekspos pada masa-masa ketika Cicero belum memeroleh nama hebatnya. Malah, Cicero di awal buku adalah seorang pejabat junior yang bertubuh ringkih, gampang sakit, tidak kuat makan daging, dan kalau bicara suaranya melengking sampai nyaris tak terdengar. Pertemuan pertama mereka terkesan simpel tapi dalam; ketika Cicero muda yang waktu itu masih belajar di Akademi Filsafat Athena hendak masuk kelas, Tiro yang bertugas membawakan tasnya dan sudah hendak pergi malah ikut disuruh masuk. Alasannya sepele; Cicero ingin agar selama di Athena ia bisa punya teman mengobrol dan berdiskusi. Peristiwa sederhana yang penggambarannya tidak sampai setengah halaman ini berkesan karena kita tahu bahwa orang Romawi kuno menganggap budak sama seperti properti dan bukan manusia. Jadi, hubungan antara Cicero dan Tiro sepanjang buku adalah sesuatu unik baik bagi karakter lain di sekitar mereka maupun bagi pembaca sendiri.

Selain mengikuti perkembangan Cicero dari pelajar cerdas tapi lembek menjadi ahli pidato dan pengacara tangguh, kita juga dihadapkan pada seluk-beluk perjuangan Cicero dan Tiro dalam memecahkan kasus kriminal mereka yang pertama: penuntutan atas gubernur Sisilia korup Gaius Verres, yang melakukan berbagai kebiadaban dan korupsi di daerah kekuasannya, dan memeras, menyuap serta menindas siapa saja yang berani menentangnya. Bab-bab ini yang terutama membuat saya tidak bisa menutup buku ini karena:

1. Kelaliman Verres ini sama persis dengan pejabat-pejabat korup kita yang memberi lobi untuk pembalakan hutan, penggusuran masyarakat dari lahan mereka untuk tempat pabrik swasta, menyogok dan menyuap sana-sini. Rincian perjuangan Cicero dan Tiro mulai dari duo pengacara kecil dan budaknya menjadi pasangan yang berhasil membuat Verres diasingkan sangat memuaskan.

2. Robert Harris jelas melakukan banyak riset untuk menulis Imperium; di sini, kita akan dikenalkan pada berbagai istilah politik dan pengadilan Romawi kuno, termasuk berbagai tradisi dan kebiasaan yang menyertai kegiatan para pelakunya.

Bagian-bagian yang paling asyik menurut saya adalah tiap kali Cicero menyeret Tiro masuk ke senat atau bertamu ke rumah para kolega atau kliennya, dimana ia sering membuat kaget dan heran orang-orang  di sekitarnya karena memperlakukan Tiro lebih dari sekedar budak, melainkan orang yang kemampuannya wajib mereka hargai. Sebabnya, karena Tiro sendiri juga punya kemampuan yang bisa dibanggakan.

Dalam sejarah, Tiro merupakan penemu sistem steno yang kini dikenal dengan nama Tironian notes. Tadinya, sistem ini dikembangkannya agar bisa mencatat pidato-pidato Cicero dengan lebih cepat. Terdiri dari 4,000 lambang dan berkembang menjadi 5,000 di abad pertengahan, Tironian notes telah diajarkan di biara-biara selama abad pertengahan hingga tahun 1700-an, dan beberapa istilah dari sistem steno ini pun masih kita gunakan, misalnya etc., e.g., NB, i.e., dan simbol ‘&’ .

Yang menarik, sebagai penutur cerita, Tiro bukanlah seseorang yang memiliki kecerdasan seperti Cicero atau politikus lainnya dalam buku. Kecerdasan Tiro adalah jenis kecerdasan yang dimilki seolah tanpa ia sadar bahwa ia sebenarnya cerdas. Ia memang menemukan sistem steno yang bagi rakyat Romawi saat itu masih baru, tetapi ia melakukan segalanya dengan pola pikir sederhana: ia menghormati Cicero, menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari status budaknya, dan terkadang pikiran sederhananya yang diproyeksikan ke dalam kalimat oleh Robert Harris menunjukkan bahwa ia kadang-kadang tidak mengerti mengapa para politikus ini gemar menyusahkan diri mereka sendiri dengan berbagai intrik, skandal, atau taktik politis yang kadang tak masuk akal (dia sendiri terkadang tidak paham kenapa Cicero melakukan ini atau itu).

Dan dari situlah, menurut saya, sumber dari dinamika unik antara Cicero dan Tiro serta daya tarik buku ini.

Sumber:

Marcus Tullius Cicero

Marcus Tullius Tiro

Tironian Notes

2 thoughts on “Sang Orator di Mata Sang Budak: Ulasan Buku ‘Imperium’

    • Putri Prihatini berkata:

      Wah maaf, kalau itu saya belum tahu. Bukunya juga belum lama terbit kan ya? (Baru 8 Oktober lalu kalo gak salah). Karena kedua novel sebelumnya diterjemahkan oleh Gramedia, mungkin bisa ditanyakan langsung ke Gramedia. Saya udah nanya tapi belum ada jawaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s