Alborada: Musik Andes di Ranah Kosmopolitan


Seorang teman kerja saya pernah frustrasi ketika mendengar lagu dari netbook saya. Pasalnya, sudah berbulan-bulan ia mendengar lagu yang itu-itu saja saban kali menghampiri meja saya. Akhirnya, daripada membuat hujan tidak merata dengan penjelasan membabi-buta, saya pun memutuskan untuk membeberkan semuanya di postingan ini.

Lagu yang belakangan saya dengarkan, temanku sayang, adalah lagu-lagu dari Albodara, salah satu grup Indian Peruvian favorit saya. Musik mereka bisa disebut sebagai Andean New Age, yang menggabungkan alat-alat musik Indian Pegunungan Andes seperti seruling quena dan alat musik tiup yang disebut siku (bahasa Aymara)/antara (bahasa Quechua), dengan aransemen modern. Musik ini biasanya juga menggunakan bahasa-bahasa Indian Amerika Selatan seperti Aymara dan Quechua.

Alborada diprakarsai di Occobamba, Peru, oleh musikus Sixto Ayvar Alfaro pada tahun 1984, dan terinspirasi dari musik tradisional Andes. Untuk lebih memperkenalkan musiknya pada khalayak, Sixto hijrah ke Eropa dan ‘hinggap’ di Cologne, Jerman. Masyarakat kosmopolitan pun diperkenalkan pada jenis musik baru, dan sebaliknya, gaya bermusik Alborada menjadi lebih luwes serta mampu memberi dimensi baru pada para pendengarnya. Sejak 1984, Alborada telah berganti anggota beberapa kali, namun saat ini, anggota utamanya adalah Lenin Torre, Sixto, Wilber Ayvar, dan Victor Valley.

Dari kiri: Lenin Torre, Sixto Alfaro, Wilber Ayvar, dan Victor Valley

Alborada telah menghasilkan banyak album yang merangkum berbagai variasi nada dan irama, walau tanpa meninggalkan ciri khas musik Indian Andes. Misalnya, dalam album Tropical (1997), mereka menggabungkan antara instrumen Andes, vokal berbahasa Quechua, serta irama dansa kontemporer dan reggae. Sementara album Melodias del Corazon 1 & 2 (1998 & 2000) serta Melodias Inolvidables (2001) mengedepankan eksplorasi instrumen Andes dalam tembang-tembang pop populer.

Namun, setelah mengunjungi komunitas Indian di Kanada dan Amerika Serikat, serta kedatangan Victor Valley dan Lenin Torre yang membawa nuansa vokal baru, Alborada memutuskan untuk kembali menjadikan musik khas Indian sebagai unsur dominan. Perubahan itu nampak pada album mereka berikutnya, Meditacion (2002). Sejak saat itu, Alborada terus menghasilkan album dengan variasi nada dan irama berbeda, termasuk album instrumental serta DVD live performance. Namun semua punya kesamaan: unsur musik Andes sangat kental di dalamnya, baik itu musik Peruvian, Otavalo, Bolivia, dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, Alborada tidak hanya mengedepankan vokal dan musik, melainkan juga segi artistik seperti visual dan aksi panggung. Kostum panggung mereka yang unik, yang juga mereka kenakan baik dalam video klip maupun konser jalanan, terinspirasi dari kostum Tarian Gunting khas Andes. Belakangan, mereka juga memakai kostum yang terinspirasi dari jubah khas bangsawan Inca, peradaban Indian terbesar di Amerika Selatan yang berpusat di Peru.

Kostum panggung Alborada yang terinspirasi oleh kostum Tarian Gunting Andes

Kostum baru yang terinspirasi oleh jubah bangsawan Inca

Tahun 2010, Alborada mengeluarkan beberapa video klip yang kesemuanya berlatar belakang tempat-tempat bersejarah di Peru seperti Kota Cusco dan Kuil Qoricancha, pusat religi kuno bangsa Inca. Mereka juga mengadakan konser gala pada bulan Mei, yang mengulang kesuksesan konser mereka di Lima pada tahun 2004, menunjukkan betapa besarnya minat publik terhadap para pemusik Andes yang berhasil merambah ranah kosmopolitan ini. Hingga kini, mereka juga terus mengadakan konser di Peru serta tampil di berbagai acara TV lokal seperti Misky Taki dan Sabado de Risas.

Sebagai penutup, saya suguhkan beberapa video musik mereka, baik yang berupa video klip maupun pertunjukan langsung. Selamat menikmati.

(Pertanyaan: kok banyak betul ?

Jawaban: namanya juga halaman khusus fans. Dilarang protes, hehe)

Zisary Lucero (live)

Otavalenya Warmy (live)

Chirapaq (video clip)

Yuyariway (live)

Tatanka (live)

Aviu Tusuy (video clip)

Canela Wayta (live)

Siwar Dance (video clip)

Wayanakuy (live)

Aymaritay (video clip)

Condor Pawan (live)

Ananau (video clip)

Paway Anka (live)

Imbabura Sumaq Qulla (live)

Kusi Kuqtam Munayky (live)

Sulla Paq (live)

Diaspora (live)

Kabra Nawy (live)

Chiqnispakuyaq (live)

Qanwan (street performance)

Alborada en Festival Huayllay, konser live full 2.5 jam yang merupakan bagian dari rural tour mereka di tahun 2012.

Sumber:

Alborada (Peru)

5 thoughts on “Alborada: Musik Andes di Ranah Kosmopolitan

    • putri2wotan berkata:

      Wah, kalau itu harus ke Peru, mbak. Mereka sering mengadakan tur konser dan kerjasama dengan dinas pariwisata Peru untuk mempromosikan lokasi-lokasi wisata alam/budaya Peru yang juga jadi latar belakang video klip mereka. Kalau bisa ke Peru sebaiknya mengikuti jadwal turnya saja (dalam setahun mereka biasa konser tur keliling Peru beberapa kali), coba ke alamat ini: http://alboradaloschankasviven.blogspot.com/p/tour-2012.html. Maaf nggak bisa ngasih infor lebih jauh dari ini ya…

  1. budi berkata:

    saya baru saja lihat performance Phawak – di mall Galleria – Bali dan beli CDnya>> dua lagunya sama ; PUYUMUYUMUWUAN & WAYANAKUI ; Apa mereka bawain lagu-lagunya Alborada ya? mmmhh… apa jangan-jangan ini cd-nya….

    • putri2wotan berkata:

      Kalau sering dengar pemusik2 serupa (biasanya dari negara-negara di Amerika Selatan yang kental kebudayaan Andesnya kayak Peru, Argentina, Ekuador), lagu2nya memang cenderung banyak yang sama kecuali kalau ada lagu original. ‘Puyumuyumuwan’ dan ‘Wayanakuy’ itu lagu2 yang populer dari genre Andean new age, sama kayak penggemar berat pop kayaknya gak mungkin gak tahu lagu2nya Eric Clapton, misalnya. Lagu2 itu bebas dinyanyikan karena 1) penulis aslinya gak ketahuan siapa atau 2)penulisnya gak menuntut royalti karena lagu2 kayak gitu sudah sangat generik dan banyak yang diangkat dari lagu rakyat. Alborada, sayangnya, belum pernah sebut2 mau datang atau jual CD di Indonesia (sedih deh). Ngomong2, kalau ada rekaman fotonya/video orang itu boleh dong di-share? Saya penasaran, soalnya punya teman yang profesinya serupa tapi beliau dari Ekuador. Thanks.

  2. arusatu berkata:

    wahhhh ternyata ada kumpul fans alborada di sini. maaf karena saya baru jadi muallaf alboradais. tak sengaja saya mendengar lagunya beberapa tahun silam, dan baru inget lagi nah terus saya cari, akhirnya ketemu juga.­čśÇ

    terima kasih info nya. sangat bermanfaat tuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s