Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!


Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II : Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.

Kedengaran akrab ? Oke, saya akui, sebagai fans cewek, saya menikmati adegan Prince Nuada yang sedang latihan memainkan pedang/tombak di dalam gorong-gorong sambil telanjang dada. (Serta kenyataan bahwa figur sang pangeran ‘mirip-mirip’ elf di The Lord of the Rings, tapi figur seperti itu juga hadir dalam mitos kaum peri Eropa, jadi saya tak bisa protes). Alkisah, sang pangeran ini adalah anak dari Balor, Raja Peri, yang menguasai pasukan gaib berupa Balatentara Emas (The Golden Army), dan menggunakannya dalam perang melawan manusia. Tetapi, melihat kekejaman Balatentara Emas, Balor akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan manusia.

Prince Nuada, yang beranggapan bahwa sifat manusia adalah serakah dan tak bisa dipercaya, menyesali keputusan ayahnya dan pergi ke pengasingan, dimana ia memersiapkan dirinya untuk memulai perang melawan umat manusia dan membangkitkan kembali Balatentara Emas. Dan tentu saja, masa ketika ia siap memulai perang adalah masa dimana si Hellboy dan kawan-kawan juga hidup.

Walaupun sepanjang film Prince Nuada melakukan hal-hal yang hanya dilakukan tokoh antagonis (karena tuntutan skenario, tentu),  saya melihat karakternya sebagai “tokoh yang terpaksa jadi antagonis karena keadaan.” Buat saya, dia punya kharisma, yang tidak nampak dari kekonyolan Lex Luthor, kebejatan Joker maupun grandeur illution-nya Ozymandias. Walaupun ia memusuhi umat manusia, sesungguhnya Prince Nuada justru mewakili apa yang umat manusia telah lupakan. Kedekatan yang sakral dengan alam.

Penting untuk diketahui bahwa Nuada dan Balor adalah tokoh-tokoh sentral dalam mitologi Celtic (secara kasar didefinisikan sebagai rumpun budaya Irlandia, Skotlandia, dan Wales). Hanya saja, di film ini, karakter dan nama mereka dibolak-balik.

Nuada, dalam mitologi Irlandia, adalah Nuadu Silver-Hand (di film disebut Nuada Silver-Lance, dan tolong jangan mulai membuat pelesetan dengan merk coklat yang kita kenal). Ia adalah raja kaum peri yang tangan kirinya putus dalam pertempuran, sehingga diganti dengan tangan perak.

Nuadu Silver-Hand (atas) dan Nuada Silver-Lance (bawah)

Balor aslinya bukan peri, melainkan raksasa laut bermata satu yang kelak menurunkan ksatria bernama Lugh. Balor juga tidak bertanduk; yang bertanduk adalah Cernunos, dewa hutan yang di film malah ditampilkan sebagai pohon-raksasa-yang-tumbuh-dari-kacang-polong.

 Cernunos (atas), Balor versi film (bawah)

Dalam dunia mitologi Celtic, bangsa Peri sejatinya merupakan penghuni hutan dan padang rumput. Dalam kepercayaan kuno, mereka bahkan bukan sekedar penghuni, melainkan esensi sejati dari tempat yang mereka diami, semacam simbol hidup yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu. Para peri ini berteman dengan hewan-hewan, merayakan setiap pergantian musim, dan dari segi penampilan bahkan mencerminkan tempat mereka berdiam. Misalnya, connemara yang elok dan ceria adalah penghuni bukit-bukit landai Irlandia, sementara peri-peri galak serta kuda air kelpie yang suka menenggelamkan manusia hidup di pegunungan berkabut serta danau-danau Skotlandia.

Menurut peneliti Oxford bidang kajian budaya Celtic Evanz Wenz, dalam bukunya The Fairy Faith in Celtic Countries, peri merupakan simbol ideal akan kesempurnaan dan kesakralan alam sekitar. Itulah sebabnya mereka sering digambarkan sebagai makhluk abadi yang mencerminkan lokasi tempat tinggalnya. Ketika kaum manusia makin bertambah dan berkembang-biak serta menginvasi lebih banyak wilayah, para peri yang terpaksa ‘menyingkir’ menjadi lambang akan betapa kebijaksanaan kuno yang bersahabat dengan alam telah digantikan oleh pemikiran-pemikiran praktis manusia yang hanya punya satu tujuan : bertahan hidup, lalu memiliki lebih banyak.

Dalam salah satu adegan, yang terjadi di sebuah pabrik tua dimana Balor, Prince Nuada dan saudarinya Nuala serta peri-peri yang masih tersisa tinggal, Prince Nuada mengeluh, “mengapa kita harus menghormati perjanjian dengan manusia ? Lihatlah apa yang mereka lakukan sebagai gantinya ! Mereka serakah, membangun lapangan parkir, pusat perbelanjaan, sementara kaum kita tersingkir ke tempat seperti ini !” Hal yang sama (tapi tidak dengan nada se’jahat’ Prince Nuada) digaungkan oleh Floyd ‘Red Crow’ Westermann, seniman dan aktivis anggota suku Indian Sioux, yang sayangnya wafat pada tahun 2007….

Itulah, saya rasa, yang sebenarnya dijeritkan Prince Nuada. Ia tidak menginginkan kekuasaan seperti Lex Luthor, atau ambisi akan kebesaran pribadi seperti Ozymandias yang ngefans berat dengan Alexander Agung serta Ramses II. Prince Nuada hanya ingin agar keadaan dunia kembali seperti dulu, ketika manusia masih tahu diri dan bisa hidup menempatkan diri di samping alam, bersama dengan mereka yang gaib dan sakral. Dan sejujurnya, ketika film berakhir, saya sependapat dengannya.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kata-kata indah dari Fiona Macleod : “Keindahan alam sekitar…adalah penebusan terhadap ketidak-abadian kita. Ketika jiwa kita bersatu dengan alam, dengan cara yang jauh lebih mendalam ketimbang imajinasi puitis kita, maka kita akan memahami apa yang tadinya tidak kita pahami.”

3 thoughts on “Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

  1. Artemis berkata:

    setuju.

    setelah nonton film ini aq juga jadi ngefans sama si Nuada ini.🙂

    jadi pengen buat fanartnya.

    good article, sob.🙂

    • putri2wotan berkata:

      Makasih udah mampir…sama nih, sama sekali gak menduga bakal ngefans sama tokoh jahat setelah nonton film superhero. suka bikin fanart ya? saya jadi kepingin lihat kalau nanti beneran buat fanartnya Nuada…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s