Banjir Darah Tiap Bulan : Kalender Perayaan Bangsa Aztec

Dari judulnya, jelas saya tidak menulis soal menstruasi. Postingan ini saya buat setelah saya teringat pertanyaan khas yang biasanya kita lontarkan bila rutinitas harian terasa begitu melelahkan : “kapan ya ada kalender yang tanggal merahnya lebih banyak dari sekarang ?” Lalu saya jawab sendiri pertanyaan itu, “nah, bagaimana kalau kalender bangsa Aztec ?”

Bangsa Aztec, yang dulunya mendiami wilayah Amerika Tengah dan mencapai puncak  kejayaan mereka pada abad 14, 15 dan 16 Masehi, adalah bangsa yang sangat religius. Setiap bulan dalam hitungan kalender mereka memiliki semacam hari khusus untuk melakukan upacara ritual keagamaan. Yang berarti, kalau diumpamakan sebagai kalender Masehi jaman sekarang, itu sama seperti kalender yang tiap bulannya selalu ada tanggal merah dan banyak kesempatan untuk makan-makan sampai teler. Kedengarannya sih asyik, sampai kita menyadari bahwa ‘tanggal merah’ dalam kalender Aztec sama saja dengan banjir darah.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa bangsa Aztec sangat terkenal dengan upacara yang melibatkan pengorbanan manusia. Malah, makin banyak darah makin baik. Soalnya, mereka percaya bahwa manusia, hewan, dunia dan seisinya tercipta karena pengorbanan diri para dewa. Alkisah, dalam mitos Legenda Lima Matahari yang menggambarkan penciptaan versi Aztec, para dewa mengorbankan tubuh mereka agar manusia bisa hidup. Akibatnya, bangsa Aztec menganggap segala hal yang ada di dunia ini sebagai tonacayotl alias ‘daging-spiritual,’ sementara manusia disebut sebagai macehualli alias ‘mereka yang berhak hidup lewat pengorbanan diri’ (dengan kata lain, manusia hanya numpang hidup di dunia karena hutang). Pengorbanan manusia pun diperhalus dengan istilah nextlahualli, ‘pembayaran hutang.’

Hal-hal yang penting tentu saja mendapat tempat dalam kalender. Maka, dalam sistem kalender bangsa Aztec yang terdiri dari delapan belas bulan, ditetapkan hari-hari khusus dalam tiap bulan untuk melakukan upacara religius yang berujung pada ritual pengorbanan, ditujukan untuk dewa tertentu dan dengan metode pemilihan korban serta eksekusi yang berbeda pula. Begitu banyaknya kebutuhan akan korban manusia, hingga sesama suku bangsa Aztec sering sekali berperang antar tetangga agar bisa mendapat tawanan perang alias pasokan cukup untuk upacara-upacara persembahan mereka.

Berikut adalah tiap bulan dalam kalender bangsa Aztec beserta padanan kalender Masehinya, beserta dewa-dewa yang dirayakan dan korban-korban yang wajib dipersembahkan.

1. Atlacacauallo (2 sampai 21 Februari)

Ini adalah bulan yang khusus dipersembahkan untuk dewa air. Dewa utama yang diberi persembahan adalah Tlaloc, dewa yang menguasai hujan, kesuburan dan air. Korban yang dipersembahkan adalah anak-anak dan bayi. Karena Tlaloc adalah dewa air, para pendeta Aztec biasanya membuat anak-anak kecil menangis dengan cara mencabuti kuku mereka sebelum menusuk dada dan mencabut jantung mereka. Ini dilakukan agar dewa tersebut merasa senang.

Sebuah bagian dari tungku pembakaran yang menggambarkan kepala Tlaloc, dari Templo Mayor di Mexico City

2. Tlacaxipehualiztli (22 Februari sampai 13 Maret)

Ini adalah bulan persembahan bagi Xipe Totec, dewa pertanian dan tanaman, serta Huitzilopochtli, dewa matahari dan perang. Yang dikorbankan dalam upacara bulan ini adalah tawanan perang. Untuk menyenangkan Huitzilopochtli, para tawanan diberi ‘senjata’ berupa gagang pedang berujung bulu dan disuruh bertarung melawan lima orang ksatria Aztec terbaik yang bersenjata lengkap, sampai mati. Sementara untuk menyenangkan Xipe Totec, seorang tahanan dicekik dan dikuliti, lantas kulit itu akan dipakai oleh seorang pendeta yang melakukan tarian ritual, sebelum menyarungkan kulit itu pada patung sang dewa. Kulit orang mati yang membungkus patung melambangkan lapisan tua daun jagung yang membungkus jagung matang, lambang kesuburan. Terkadang, seorang tawanan akan diikat dan dihujani anak-anak panah hingga darahnya menetes ke tanah dan diharapkan memberi kesuburan.

Patung Xipe Totec

Ilustrasi Huitzilopochtli dalam Codex Telleriano-Remensis

3. Tozoztontli (14 Maret sampai 2 April)

Ini adalah bulan untuk menghormati Coatlicue, dewi bumi, bulan dan bintang yang juga adalah pelindung para wanita yang meninggal saat melahirkan. Tlaloc juga diberi persembahan, mengingat kaitannya yang erat dengan bumi sebagai dewa hujan dan kesuburan. Korban yang dipilih adalah anak-anak, yang dibuat menangis lebih dahulu sebelum dicabut jantungnya dan dikuliti. Kulit-kulit mereka kemudian dikubur sebagai persembahan untuk sang dewi bumi.

Patung Coatlicue di National Museum of Anthropology and History in Mexico City

4. Hueytozotli (3 sampai 22 April)

Ini adalah bulan untuk menghormati Quetzalcoatl, dewa tertinggi bangsa Aztec yang menguasai angin, pengetahuan, seni, dan pelindung para pedagang serta pewujudan fajar serta planet Venus. Untuk menyenangkan dewa berwujud ular berambut ini, korban yang dipilih adalah seorang gadis perawan serta sepasang anak lelaki dan perempuan yang dibunuh dengan cara ditusuk dadanya, sebelum jantung mereka ditarik keluar dalam keadaan masih berdenyut.

Quetzalcoatl, yang berwujud ular berambut, menelan korban. Ilustrasi dari Codex Telleriano-Remensis

5. Toxcatl (23 April sampai 12 Mei)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tezcatlipoca, dewa dengan deskripsi tugas paling banyak dalam mitologi bangsa Aztec. Tercatat, dewa ini melambangkan banyak aspek seperti malam, badai, bumi, arah Utara, batu obsidian, pertikaian, godaan, ramalan, sihir, jaguar, kecantikan, dan perang. Namanya sendiri berarti ‘cermin berasap,’ yang merujuk pada batu obsidian yang sering dijadikan alat meramal oleh pendeta Aztec, serta bahan pembuat cermin (teka-teki mengapa ia dikaitkan dengan kecantikan terjawab sudah).

Korban yang dipilih adalah seorang anak muda tampan, yang telah ditunjuk setahun sebelum festival. Selama setahun, pemuda tersebut akan dijadikan semacam perwakilan Tezcatlipoca, dan hidup seperti seorang selebriti. Ia dimanjakan dengan pakaian indah, perhiasan, serta makanan lezat. Sebagai perwakilan dewa, semua orang akan memujanya, dan pemuda itu akhirnya akan dinikahkan dengan empat orang gadis sekaligus. Ia akan bebas dari kerja keras, dan menjalani hari-harinya dengan berpesta dan bersenang-senang (di dunia modern, tagihan kartu kreditnya bakalan luar biasa). Baru pada hari yang ditentukan, pemuda itu akan disuruh mendaki kuil, dibaringkan di altar, lantas dicabut jantungnya, sebelum tubuhnya akhirnya dimakan oleh para pendeta. Dan tak lama setelahnya, seorang korban baru akan ditetapkan.

Topeng batu pirus yang melambangkan Tezcatlipoca, koleksi British Museum

6. Etzalcualitzli (13 Mei sampai 1 Juni)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tlaloc dan Quetzalcoatl. Korban yang dipilih adalah anak-anak serta remaja lelaki dan perempuan, yang dikorbankan dengan cara didorong ke dalam cenote (cekungan alami yang dalam dan terisi air) setelah kaki mereka diberati batu, atau dengan cara favorit semua orang yaitu ditusuk sebelum dicabut jantungnya.

7. Tecuilhuitontli (2 Juni sampai 21 Juli)

Ini adalah bulan untuk menghormati Xochipilli, dewa pelindung seni, permainan, kecantikan, tarian, dan lagu. Namanya saja tergolong ‘imut’ untuk dewa yang berasal dari peradaban yang menyukai darah, karena berasal dari kata xochitl yang berarti ‘bunga’ dan pilli yang berarti ‘pangeran/anak.’ Dia juga adalah pelindung khusus bagi para homoseksual dan pelacur lelaki. Definisi korbannya tidak terlalu ketat seperti dewa-dewa yang dijelaskan sebelumnya, dan metode pengorbanannya juga yang biasa yaitu dengan penusukan dan pencabutan jantung. Nampaknya dewa ini memang lebih suka bersenang-senang dan fly dengan sejenis bunga yang bersifat halusinogenik, yang oleh orang Aztec disebut temicxoch, ‘bunga mimpi.’

Tiruan dari patung Xochipili berusia 400 tahun yang ditemukan di dekat gunung berapi Popocatepetl pada abad ke-19

8. Hueytecuihutli (22 Juni sampai 11 Juli)

Ini adalah bulan untuk menghormati Xilonen alias Chicomecoatl, dewi yang dikaitkan dengan tanaman jagung dan keberlimpahan hasil panen. Korban yang dipilih tentu saja adalah seorang gadis muda, dimana gadis ini mula-mula akan didandani dengan bunga-bungaan dan daun jagung, sebelum disuruh menari-nari di padang rumput sebagai representasi dari sang dewi. Gadis itu kemudian akan dipenggal kepalanya dan dicabut jantungnya. Pendeta Aztec kemudian akan menuangkan darah si gadis ke atas patung sang dewi, sebelum menguliti mayatnya dan mengenakan kulitnya dalam sebuah tarian ritual.

Ilustrasi Chicomecoatl dalam Rig Veda Americanus

9. Tlaxochimaco (12 Juli sampai 31 Juli)

Ini adalah bulan untuk menghormati Mictlantecuhtli, dewa kematian yang juga penguasa Mictlan, dunia roh versi Aztec. Dewa ini digambarkan berwujud mirip kerangka dengan bola mata yang menonjol, maka metode pengorbanan yang digunakan adalah mengurung tawanan perang di dalam gua atau kuil sampai mati kelaparan.

Patung keramik Mictlantecuhtli yang digali dari House of Eagles di Templo Mayor, Mexico City. Koleksi Museum Templo Mayor

10. Xocotlhuetzin (1 sampai 20 Agustus)

Ini adalah bulan untuk menghormati Xiuhtecuhtli, dewa api. Bagi bangsa Aztec, ia sangat penting karena melambangkan berbagai aspek; gunung berapi, kehangatan di tengah hawa dingin, cahaya di tengah kegelapan, hingga makanan di kala kelaparan. Dalam festival untuk menghormati Xiuhtecuhtli, para korban yang terdiri dari tawanan perang ditusuk dadanya dan dicabut jantungnya, lantas tubuhnya dibakar.

Patung Xiuhtecuhtli di British Museum

11. Ochpaniztli (21 Agustus sampai 9 September)

Ini adalah bulan khusus untuk menghormati Atlatonin dan Tlazolteotl (atau Toci, kalau merasa bahwa nama panjangnya terdengar seperti kita menelan kura-kura), ‘Dewi Ibu’ bangsa Aztec. Tlazolteotl adalah dewi yang sangat tua, dan dihubungkan dengan penyembuhan penyakit; itulah sebabnya ia sangat dihormati oleh para tabib dan bidan. Sedangkan Atlatonin adalah istri Tezcatlipoca, yang merupakan dewi penguasa pesisir pantai. Untuk menghormati Tlazolteotl, seorang gadis muda akan dicekik dan dikuliti, lantas kulitnya dikenakan oleh seorang pemuda yang menarikan tarian ritual. Sementara untuk Atlatonin, seorang tawanan perang akan didorong dari ketinggian hingga tewas.

Patung Tlazolteotl dari masa tahun 900-1521 Masehi. Koleksi British Museum

12. Teoleco (10 sampai 29 September)

Ini adalah bulan untuk menghormati dewa muda bernama Xochiquetzal. Yang dikorbankan adalah tawanan perang dengan metode penusukan dan pencabutan jantung, pembakaran, atau gabungan semuanya.

13. Tepeihuitl (30 September sampai 19 Oktober)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tlaloc dan Chicomecoatl. Yang dikorbankan, seperti yang sudah-sudah, adalah anak-anak untuk Tlaloc dan dua wanita bangsawan untuk Chicomecoatl. Para anak akan dibuat menangis dahulu sebelum ditusuk dan dicabut jantungnya, sementara yang wanita akan dicekik sampai mati sebelum dikuliti. Daging para korban kemudian akan disantap dalam sebuah ritual kanibal. Bahkan, para orang tua dan kerabat dari para korban pun akan ikut memakan daging mereka.

14. Quecholli (20 Oktober sampai 8 November)

Ini adalah bulan untuk menghormati Coatlicue. Korban yang dipilih bulan ini adalah gadis atau tawanan perang, yang akan dipukuli dengan benda tumpul hingga mati dan/atau dipenggal kepalanya, sebelum dicabut jantungnya.

15. Panquetzaliztli (9 sampai 28 November)

Ini adalah bulan untuk menghormati Huitzilopochtli. Korban yang dipersembahkan untuk dewa perang ini tetap para tawanan perang, selain juga budak. Tetapi, berbeda dengan sebelumnya, bentuk pengorbanannya adalah pengorbanan masal dengan cara pencabutan jantung (yang pasti membutuhkan stamina dan konsentrasi penuh dari para pelatih aerobik, maaf, pendeta Aztec).

16. Atemoztli (29 November sampai 18 Desember)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tlaloc. Korbannya seperti biasa yaitu anak-anak dan para budak. Anak-anak ditusuk dan dicabut jantungnya, sementara para budak dipenggal kepalanya.

17. Titil (19 Desember sampai 7 Januari)

Ini adalah bulan untuk menghormati Citlacicue atau Ilamatecuhtli, dewi bintang, dan Yacatecuhtli, dewa pelindung para pedagang keliling dan pengembara. Korban yang dipilih adalah seorang wanita yang dicabut jantungnya dan dipenggal kepalanya.

18. Izcalli (8 Januari sampai 27 Januari)

Ini adalah perayaan besar-besaran untuk menghormati Xiuhtecuhtli. Disebut besar-besaran karena bulan festival terakhir ini menandakan Hari Api Baru, yang melambangkan pergantian tahun. Dalam festival ini, pendeta Aztec menyiapkan sebuah tungku pembakaran raksasa yang merupakan perlambang bagi sang dewa. Para korban yang terdiri atas seorang pemuda dan empat orang wanita (melambangkan empat istri Xiuhtecuhtli), serta para tawanan perang kemudian dilemparkan hidup-hidup ke dalamnya.

19. Nemontemi (28 Januari hingga 1 Februari)

Ini tidak dihitung dalam kalender perayaan, karena termasuk hari-hari yang dianggap sial. Pada hari-hari tersebut, tidak satupun festival atau upacara boleh dilakukan.

Kalau yang tersedia hanya kalender seperti ini, saya lebih suka punya kalender tanpa tanggal merah satu kalipun.

Sumber : wikipedia.org

Willis, Roy. 2006. World Mythology. London : Duncan Baird Publishers.

Trickster, Si ‘Bukan Siapa-siapa’ yang Tahu Segalanya

Pertama-tama, ini tidak saya tujukan untuk fans berat Supernatural, melainkan semua yang merasa pernah menemukan, dan tertarik pada, karakter semacam ini entah di mana.

Siapa yang belum pernah mendengar cerita Si Kancil ? Mamalia imut nan sulit ditangkap ini, kita semua tahu, sangat cerdas dan cerdik. Kancil adalah sumber kenangan masa kecil saya yang berharga, saat mendiang kakek saya seringkali menggunakan cerita-cerita si kancil sebagai ‘senjata’ kalau saya malas tidur siang. Tetapi, bahkan saat masih kecil, saya mulai berpikir kalau karakter kancil ini agak mbalelo, tidak menuruti pakem dongeng atau cerita rakyat dimana selalu ada dikotomi jelas antara tokoh baik dan jahat.

Masih ingat ? Kancil menggunakan kecerdikannya untuk mengerjai seekor singa yang sombong dan menyeberangi sungai yang penuh buaya ganas, tetapi ia juga mencuri ketimun dari petani. Kancil tidak menurut pada siapapun, dan tidak berteman dengan siapapun. Ia mandiri, bebas, plin-plan, seenaknya sendiri. Kuntowijoyo, dalam bukunya Mengusir Matahari : Kumpulan Fabel Politik, menggambarkan kancil sebagai sosok biang kerok di mata raja hutan, lantaran sifat alaminya untuk senantiasa memberontak terhadap tatanan rimba yang kaku.

Karakter semacam ini, percaya atau tidak, mendapat tempat khusus dalam studi mitologi, antropologi, agama, psikologi, dan sastra. Mereka disebut trickster, secara harfiah berarti ‘tukang mengerjai.’ Entah berwujud dewa, dewi, manusia, setan atau hewan, mereka gemar memainkan tipuan atau menentang aturan-aturan konvensional. Hynes dan Doty, dalam Mythical Tricskter Figures (1997), mendeskripsikan enam sifat umum yang dimiliki karakter trickster, yaitu :

1. Bersifat ambigu

2. Suka menipu atau memainkan trik

3. Pandai menyamar atau berubah bentuk

4. Mampu membalik situasi apapun secara drastis

5. Sering membantu, sekaligus menentang, figur-figur yang lebih berkuasa

6. Sangat kreatif ketika terdesak

Setiap ranah budaya pastilah memiliki figur seperti ini, seperti Loki dalam mitologi Nordik, Eris dan Sisyphus di Yunani, Ivan di Rusia, Kelinci Hutan (hare) dalam mitologi Bantu, Susano-o dan Kappa di Jepang, Leprechaun dan Bricriu di Irlandia, Set di Mesir, Robin Hood dan Puck di Inggris, dan tentu saja, Syeikh Nashruddin yang kocak dalam tradisi Islam. Apapun yang mereka lakukan, bisa dipastikan setiap tindakan memiliki unsur-unsur seperti yang dijabarkan di atas, baik beberapa ataupun semuanya sekaligus.

Sebagai contoh, Loki membuat Thor, dewa petir, terjebak masalah lantaran dengan semena-mena membunuh seekor oter yang ternyata penjelmaan dari putra Hreidmar. Tetapi, Loki jugalah yang mengeluarkan Thor dari masalah tersebut, dengan cara yang cerdik namun (lagi-lagi) seenaknya. Sisyphus lolos dari kematian dengan cara mengerjai Hades, walau pada akhirnya ia mendapat hukumannya. Nashruddin berkali-kali diuji bahkan diancam hukuman oleh sultan, namun pada akhirnya sang sultan-lah yang justru terjebak, atau setidaknya tertawa geli karena kecerdikan Nashruddin dalam meloloskan dirinya.

Trickster merupakan perwujudan prinsip brains-over-brawls (kecerdikan mengalahkan kekerasan). Sosok trickster seringkali kurang mengesankan secara fisik, namun kecerdikan mereka menutupi kelemahan itu. Bahkan, beberapa trickster merupakan wujud kritik sosial, dimana para trickster menentang otoritas sekaligus menunjukkan kelemahan para penguasa dengan cara-cara yang cerdas dan tidak konvensional, seperti yang dilakukan Kancil, Kelinci Hutan, dan Robin Hood.

Kecenderungan trickster untuk tidak memihak siapapun memiliki makna yang lebih mendalam. Ada alasan mengapa tiap kelompok kartu tidak memiliki masing-masing satu Joker, sama seperti mengapa kartu tarot bersimbol Si Bodoh (The Fool) diberi nomor nol (0). Kartu Si Bodoh adalah bagian dari Arcana Mayor, dua puluh dua susunan kartu pertama dalam satu pak kartu tarot, dan merupakan simbolisme dari prinsip mendalam atau tujuan tertinggi, serta dianggap sebagai salah satu arketip dalam teori psikoanalisis Carl Jung.

Kartu tarot nomor nol melambangkan berbagai macam hal; ambiguitas, kebimbangan sekaligus hasrat untuk menemukan pengetahuan, kebijaksanaan orang gila yang bebas. Dalam kartu itu, karakter Si Bodoh digambarkan berlari ke sisi jurang, sehingga bisa menimbulkan pertanyaan : apakah ia bersiap mengambil langkah baru, atau hendak terjun ke jurang kehancurannya sendiri ? Nol adalah angka yang tepat untuk para trickster, karena tidak melambangkan apapun yang pasti. Kepastian bukanlah milik para trickster.

Bangsa Celtic memaknai kehadiran trickster sebagai bagian berharga dari kehidupan sehari-hari manusia. Dalam festival musim panas yang disebut Beltaine, sekelompok pemuda, pria maupun wanita yang sekujur tubuhnya dicat merah, akan berlari ke tengah-tengah perayaan sambil mengayun-ayunkan obor yang mereka bawa. Mereka berteriak, berlari berkeliling, melompat-lompat seperti kerasukan. Para Manusia Merah ini adalah simbol bahwa manusia haruslah melepaskan diri mereka sesekali, menjadi liar, terlepas dari kungkungan fisik dan emosional yang seringkali menyertai hari-hari mereka, agar kesehatan jiwa tetap terjaga.

Kalau tidak begitu, setidaknya, para Manusia Merah adalah pemandangan yang spektakuler saat festival berlangsung di malam hari.

Dengarkan Kemarahan sang Pangeran!

Bagi saya, yang sudah bosan dengan superhero Barat yang serba ideal baik dari penampilan maupun sifat, menonton Hellboy seperti mendapat angin segar. Akhirnya, superhero yang gegabah, sok tahu, merokok, minum bir, dan punya hobi ngemil sambil nonton TV. Jadi, ketika menonton Hellboy II : Golden Army, saya agak kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa saya malah gandrung dengan tokoh antagonisnya, Prince Nuada, yang dalam film diperankan oleh Luke Goss.

Kedengaran akrab ? Oke, saya akui, sebagai fans cewek, saya menikmati adegan Prince Nuada yang sedang latihan memainkan pedang/tombak di dalam gorong-gorong sambil telanjang dada. (Serta kenyataan bahwa figur sang pangeran ‘mirip-mirip’ elf di The Lord of the Rings, tapi figur seperti itu juga hadir dalam mitos kaum peri Eropa, jadi saya tak bisa protes). Alkisah, sang pangeran ini adalah anak dari Balor, Raja Peri, yang menguasai pasukan gaib berupa Balatentara Emas (The Golden Army), dan menggunakannya dalam perang melawan manusia. Tetapi, melihat kekejaman Balatentara Emas, Balor akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan manusia.

Prince Nuada, yang beranggapan bahwa sifat manusia adalah serakah dan tak bisa dipercaya, menyesali keputusan ayahnya dan pergi ke pengasingan, dimana ia memersiapkan dirinya untuk memulai perang melawan umat manusia dan membangkitkan kembali Balatentara Emas. Dan tentu saja, masa ketika ia siap memulai perang adalah masa dimana si Hellboy dan kawan-kawan juga hidup.

Walaupun sepanjang film Prince Nuada melakukan hal-hal yang hanya dilakukan tokoh antagonis (karena tuntutan skenario, tentu),  saya melihat karakternya sebagai “tokoh yang terpaksa jadi antagonis karena keadaan.” Buat saya, dia punya kharisma, yang tidak nampak dari kekonyolan Lex Luthor, kebejatan Joker maupun grandeur illution-nya Ozymandias. Walaupun ia memusuhi umat manusia, sesungguhnya Prince Nuada justru mewakili apa yang umat manusia telah lupakan. Kedekatan yang sakral dengan alam.

Penting untuk diketahui bahwa Nuada dan Balor adalah tokoh-tokoh sentral dalam mitologi Celtic (secara kasar didefinisikan sebagai rumpun budaya Irlandia, Skotlandia, dan Wales). Hanya saja, di film ini, karakter dan nama mereka dibolak-balik.

Nuada, dalam mitologi Irlandia, adalah Nuadu Silver-Hand (di film disebut Nuada Silver-Lance, dan tolong jangan mulai membuat pelesetan dengan merk coklat yang kita kenal). Ia adalah raja kaum peri yang tangan kirinya putus dalam pertempuran, sehingga diganti dengan tangan perak.

Nuadu Silver-Hand (atas) dan Nuada Silver-Lance (bawah)

Balor aslinya bukan peri, melainkan raksasa laut bermata satu yang kelak menurunkan ksatria bernama Lugh. Balor juga tidak bertanduk; yang bertanduk adalah Cernunos, dewa hutan yang di film malah ditampilkan sebagai pohon-raksasa-yang-tumbuh-dari-kacang-polong.

 

 

 

 

 

Cernunos (kiri), Balor versi film (kanan)

Dalam dunia mitologi Celtic, bangsa Peri sejatinya merupakan penghuni hutan dan padang rumput. Dalam kepercayaan kuno, mereka bahkan bukan sekedar penghuni, melainkan esensi sejati dari tempat yang mereka diami, semacam simbol hidup yang diciptakan oleh orang-orang jaman dulu. Para peri ini berteman dengan hewan-hewan, merayakan setiap pergantian musim, dan dari segi penampilan bahkan mencerminkan tempat mereka berdiam. Misalnya, connemara yang elok dan ceria adalah penghuni bukit-bukit landai Irlandia, sementara peri-peri galak serta kuda air kelpie yang suka menenggelamkan manusia hidup di pegunungan berkabut serta danau-danau Skotlandia.

Menurut peneliti Oxford bidang kajian budaya Celtic Evanz Wenz, dalam bukunya The Fairy Faith in Celtic Countries, peri merupakan simbol ideal akan kesempurnaan dan kesakralan alam sekitar. Itulah sebabnya mereka sering digambarkan sebagai makhluk abadi yang mencerminkan lokasi tempat tinggalnya. Ketika kaum manusia makin bertambah dan berkembang-biak serta menginvasi lebih banyak wilayah, para peri yang terpaksa ‘menyingkir’ menjadi lambang akan betapa kebijaksanaan kuno yang bersahabat dengan alam telah digantikan oleh pemikiran-pemikiran praktis manusia yang hanya punya satu tujuan : bertahan hidup, lalu memiliki lebih banyak.

Dalam salah satu adegan, yang terjadi di sebuah pabrik tua dimana Balor, Prince Nuada dan saudarinya Nuala serta peri-peri yang masih tersisa tinggal, Prince Nuada mengeluh, “mengapa kita harus menghormati perjanjian dengan manusia ? Lihatlah apa yang mereka lakukan sebagai gantinya ! Mereka serakah, membangun lapangan parkir, pusat perbelanjaan, sementara kaum kita tersingkir ke tempat seperti ini !” Hal yang sama (tapi tidak dengan nada se’jahat’ Prince Nuada) digaungkan oleh Floyd ‘Red Crow’ Westermann, seniman dan aktivis anggota suku Indian Sioux, yang sayangnya wafat pada tahun 2007….

Itulah, saya rasa, yang sebenarnya dijeritkan Prince Nuada. Ia tidak menginginkan kekuasaan seperti Lex Luthor, atau ambisi akan kebesaran pribadi seperti Ozymandias yang ngefans berat dengan Alexander Agung serta Ramses II. Prince Nuada hanya ingin agar keadaan dunia kembali seperti dulu, ketika manusia masih tahu diri dan bisa hidup menempatkan diri di samping alam, bersama dengan mereka yang gaib dan sakral. Dan sejujurnya, ketika film berakhir, saya sependapat dengannya.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kata-kata indah dari Fiona Macleod : “Keindahan alam sekitar…adalah penebusan terhadap ketidak-abadian kita. Ketika jiwa kita bersatu dengan alam, dengan cara yang jauh lebih mendalam ketimbang imajinasi puitis kita, maka kita akan memahami apa yang tadinya tidak kita pahami.”