Tidak suka es krim, buat saya, adalah dosa kuliner terbesar di dunia (tapi mari dengan baik hati kita kesampingkan orang-orang malang yang alergi laktosa atau tak tahan makanan dingin dengan alasan kesehatan). Sejak penemuannya, tidak terhitung berapa banyak rasa dan campuran es krim diciptakan, termasuk kombinasi-kombinasi rasa yang dibuat pemilik kedai-kedai es krim berikut, yang tidak akan pernah saya temukan di dalam gerobak penjual es krim yang sering lewat depan rumah.

Perhatian, rasa unik yang saya maksud adalah rasa yang bisa membuat saya bilang “what the hell?” dan kemudian “Okay, I’ll give it a try.” Bukan rasa yang membuat saya bilang “what the hell?” dan kemudian “Oh, fuck!” Unik, tetapi tidak membuat keburu mundur sebelum mencicipi.

So do me a favor. Yang punya dana lebih, punya lidah dengan jiwa petualang dan suka es krim, dapatkan pahala melimpah ruah dengan mengajak saya memburu es krim-es krim berikut ini sebelum saya menjadi buronan internasional atas tuduhan…menjarah kedai-kedai es krim dengan rasa unik di luar sana.

1. Humphry Slocombe

http://www.humphryslocombe.com

Kedai es krim di San Fransisco yang dikelola oleh Jake Godby ini membuat es krim dengan lebih dari 60 rasa, plus sorbet dengan 23 rasa yang tiap hari selalu dirotasi. Produk-produknya menggunakan susu dari Straus Organic Dairy dan bahan-bahan organik lainnya untuk melengkapi tiap rasanya. Kedai ini terkenal akan rasa es krimnya yang unik, dan bahkan pemiliknya sendiri pun unik (Jake Godby adalah fanatik es krim yang mentato lengannya dengan gambar 31 buah contong es krim).

Es krim yang ingin saya jarah di sini:

Boccalone prosciutto, es krim dengan rasa keju prosciutto yang dibubuhi sedikit garam dan lada. Well, saya suka susu, saya suka es krim, dan saya suka keju. Dan kalau ada yang bisa menggabungkan ketiganya dengan baik, kenapa tidak?

Peanut Butter Curry, es krim dengan sentuhan rasa manis, gurih dan sedikit pedas ala bumbu kari ditambah selai kacang. Ini termasuk salah satu menu favorit di sana, jadi mungkin rasanya tidak seseram namanya.

Pepper and Mint Chip, rasa yang membuktikan bahwa pasangan beda karakter ternyata bisa menjalani hidup bersama yang harmonis (benar-benar pepper and mint, bukan peppermint!). Sesuai namanya, es krim ini punya gabungan suntikan rasa hangat khas lada dan dingin khas mint, dan dipermanis dengan keping cokelat.

2. Jeni’s Ice Cream

http://jenisicecream.com/

Jeni’s Ice Cream adalah merk es krim buatan tangan yang dimulai oleh Jeni Britton Bauer di Columbus, Ohio. Latar belakang Ms. Bauer sebagai chef kue dan pastry membuatnya menciptakan rasa-rasa unik yang didasarkan atas pengetahuannya akan kue. Bukannya saya tidak pernah mencicipi es krim rasa cheesecake sebelumnya, tetapi es krim Jeni’s benar-benar terkenal karena citarasa khas kue-kue yang berpadu apik dalam seporsi es krim, walaupun rasa es krim standar seperti cokelat, stroberi dan kopi juga dijual.

Es krim yang ingin saya jarah disini:

Icelandic Happy Marriage Cake Pint, yang merupakan paduan es krim vanila dengan keju lembut Islandia, diisi serpihan biskuit gandum lapis sirup dan diberi penyegar berupa potongan kelembak (rhubarb) yaitu sejenis sayuran mirip seledri yang biasa dijadikan sirup atau manisan. Mungkin setelah mencicipinya, saya bisa tahu kenapa Islandia dijuluki negara paling bahagia di dunia…

Tres Leches with Here-N-There Cherries Pint, yaitu es krim vanila-kelapa yang diisi ceri merah, potongan kopyor, serpihan-serpihan lembut kue meringue (sejenis kue yang adonan dasarnya dari putih telur), dan ditambah santan. Mereka benar-benar tidak tanggung-tanggung disini.

Savannah Buttermint Pint, yang terinspirasi dari kue pastel mentega-mint khas Amerika Serikat bagian Selatan. Es krim vanila yang diolah dengan mentega asin, mint, serta serpihan cokelat putih. Tampang sederhana, kaya rasa. Jika saya dihukum mati dan boleh pesan apapun yang saya mau sebelum dihukum, inilah salah satu pilihannya.

3. il laboratorio del gelato (memang namanya diawali huruf kecil semua, jangan marahi saya)

http://laboratoriodelgelato.com/

Didirikan di Orchard Street, Manhattan, pada tahun 2002, il laboratorio del gelato tidak hanya sekedar memilih nama yang terdengar keren. Pengelolanya saat ini, Jon Snyder, mengolah citarasa es krim khas Italia (gelato) serta sorbet ke dalam sekitar 200 lebih rasa baik yang ‘normal’ (cokelat, stroberi, vanila), maupun yang super unik di dalam ‘laboratorium’nya.

Gelato yang ingin saya jarah:

Sweet Potato and Basil Gelato, paduan gelato rasa ubi dan daun basil yang tetap creamy dengan aroma khas (tidak tahu apakah ini membuat kentut atau tidak?).

Thai Chili Chocolate Gelato, yang nyaris tidak bisa dibedakan dari gelato cokelat biasa. Sampai suapan es krimnya melumer dalam mulut dan kemudian OH TUHAN APA-APAAN RASA CABAI INI!? (Tidak seheboh itu, sih, tetapi sensasi pedas cabainya tetap diseimbangkan dengan rasa cokelatnya).

Black Sesame Gelato, es krim hitam yang populer di Jepang dengan nama kurogoma aisukurimu ini sangat digemari oleh pemburu es krim unik. Mungkin bakal terasa agak aneh memakan es krim dengan warna seperti briket kulit kacang dan tekstur yang masih menyisakan rasa kasar wijen hitam tumbuk, tetapi hei, kalau penggemarnya banyak, berarti patut dicoba.

4. Heladeria Lares

Kedai es krim di Lares, Puerto Rico ini didirikan oleh Salvador Barreto pada tahun 1968, dan membanggakan 60-an rasa es krim yang terdiri baik dari es krim rasa ‘normal’ maupun eksotis, walaupun beliau kurang begitu kreatif dari segi nama (heladeria lares adalah bahasa Spanyol yang berarti ‘kedai es krim di Lares’). Asyiknya, kedai ini memberikan layanan ‘icip-icip’ untuk 2 rasa es krim gratis sebelum pembeli memutuskan es krim rasa apa yang hendak dibelinya.

Es krim yang ingin saya jarah disini:

Arroz con Habichuelas, alias es krim rasa ‘nasi kacang.’ Ini adalah salah satu menu favorit di kedai ini, dan merupakan hasil modifikasi rasa dari hidangan khas Puerto Rico. Katanya, paling enak kalau dimakan dengan es krim rasa ubi (seperti di gambar di bawah; yang kuning adalah yang berasa nasi-kacang).

Ajo, alias es krim yang bisa digunakan untuk merusak pesta dugem para vampir. Baiklah, ini es krim rasa bawang putih. Seperti yang anda lihat, jangan sampai salah tunjuk seandainya anda tidak bisa bahasa Spanyol dan justru ingin pesan es krim vanila saja. Menurut penggemarnya, rasanya cukup bisa diterima lidah sebagai  rasa es krim walaupun tetap ada sensasi aroma dan gelitikan rasa bawang putih. Aneh? Mungkin. Tapi saya tidak ingin jauh-jauh jalan-jalan ke Puerto Rico hanya untuk pesan es krim cokelat lagi.

Maiz, es krim rasa jagung yang dibuat oleh Barreto karena terinspirasi setelah menikmati hidangan pencuci mulut yang disebut mazamorra. Hidangan itu sendiri terbuat dari jagung, susu, gula, tepung maizena dan kayu manis (ini yang membedakan es krim jagung Heladeria Lares dengan es krim jagung lainnya). Ini adalah rasa es krim eksotis pertama yang dibuat Barreto setelah sebelumnya hanya membuat es krim dengan rasa standar seperti cokelat, vanila dan stroberi.

5. Christina’s Home-made Ice Cream

http://christinasicecream.com/index.htm

Kedai es krim di Manhattan yang berdiri sejak tahun 1983 ini tidak memajang es krim yang rasanya kelewat ekstrim, tetapi selain beberapa pilihan rasa unik, pemilik kedai ini juga memiliki toko rempah-rempah tepat di sebelah kedai es krimnya. Alhasil, beberapa pilihan rasa es krimnya pun punya rasa khas rempah-rempah. Bayangkan kalau di sebelahnya adalah kedai jamu atau pom bensin….

Es krim yang ingin saya jarah disini:

Rose Ice Cream, alias es krim yang dibuat menggunakan air mawar. Ini adalah salah satu resep klasik ala Virginia dari tahun 1920-an serta variasi rasa khas pencuci mulut India, dan gaung dari selera penggemar es jaman kuno yang senang menikmati es salju yang dikucuri air mawar.

Ginger Ice Cream, es krim rasa jahe. Walaupun jahe sepertinya bukan ide rasa yang aneh untuk es krim, saya akan tetap menganggap es krim ini unik sebelum Walls dan Campina mulai membuatnya (mengertilah, akses saya ke es krim yang benar-benar enak cukup terbatas).

Herbal Chai Ice Cream, es krim rasa teh rempah susu. Chai sendiri adalah minuman khas India yang terdiri dari teh, susu, dan rempah-rempah seperti kayu manis, cengkih, jahe, dan lada. Bahan-bahannya mungkin membuat anda mengira es krim ini tercipta setelah lemari dapur seseorang meledak. Tapi, hei, apa saya sudah bilang kalau pemilik Christina juga punya toko rempah-rempah? Menurut penikmatnya, rasa manisnya tidak memuakkan dan aromanya harum seperti satu set hidangan teh sore.

6. Bi-Rite Creamery and Bakeshop

http://biritecreamery.com/

Sekilas, tak ada yang aneh dengan toko roti dan es krim di San Fransisco ini. Dikembangkan dari bisnis keluarga, kedai ini membuat roti dan es krim menggunkan susu sapi organik serta produk tani lokal. Tapi tahukah anda makna dari nama Bi-Rite itu? Satu, itu adalah nama pasar pertama yang dibuka oleh jaringan bisnis keluarga ini pada tahun 1940. Kedua, Bi-Rite bisa juga berarti pelesetan dari “be right.”  Kedai es krim ini senang bereksperimen dengan paduan rasa paling tidak nyambung yang bisa dipikirkan, tetapi semuanya kombinasinya dijamin right. Tepat.

Es krim yang ingin saya jarah:

Honey Lavender Ice Cream, es krim dengan paduan rasa madu dan aroma lavender. Rasa madunya sangat khas meski tidak membuat eneg; yang menyolok justru aroma mirip-mirip parfum yang tak lazim ditemui pada es krim. Banyak yang suka, tetapi tak sedikit yang membenci aroma lavender tersebut. Tips menikmati; jangan dibuat sebagai alternatif pengganti parfum jika anda kehabisan.

Salted Caramel Ice Cream, yang dari namanya saja sudah mengandung kontradiksi. Karamel itu gula hangus, kan? Bagaimana rasanya makan gula-hangus-asin?  Yah, mereka toh menemukan caranya, karena rasa inilah yang menjadi ciri khas Bi-Rite. Rasa karamelnya sangat kaya tetapi tidak terlalu manis, dan rasa asinnya…hmm, bagaimana menggambarkannya? Kalau dari ulasan para penikmatnya, mungkin sensasinya sama seperti kalau kita makan es puter atau es krim bersantan lainnya.

Orange Cardamom Ice Cream, es krim dengan gabungan rasa jeruk, potongan-potongan jeruk, dan rempah-rempah cardamom, yang biasa digunakan sebagai bahan masakan dan manisan di India, Timur Tengah, dan Finlandia. Menurut penikmatnya, rasa jeruknya memang pas dan nyambung dengan wangi unik cardamom, walaupun ini bukan kombinasi rasa es krim yang biasa mereka temui. Paling tidak, rasanya tidak seperti menjilat parfum sendiri.

 7. Max and Mina’s Ice Cream

http://www.maxandminasicecream.com/index.html

Bruce dan Mark Becker sudah suka berkreasi dengan berbagai rasa es krim sejak kecil, jadi jangan salahkan mereka untuk beberapa kombinasi maut dalam menu es krim di kedai di New York ini (lagipula saya selalu dapat kesan kalau tidak ada yang tidak gila-gilaan di New York). Mereka bahkan punya es krim rasa pizza yang berbahan dasar bawang putih, oregano, kuning telur, dan tomat (yang satu ini tidak akan saya cicipi; saya terlalu cinta pizza untuk merusak kenangan terhadapnya).

Es krim yang ingin saya jarah:

Black Pepper Ice Cream, es krim yang membuktikan bahwa embel-embel ‘lada hitam’ bukan hanya monopoli steik dan kwetiaw goreng sapi. Gambar ini adalah salah satu bentuk penyajian favorit di sana, yaitu dengan potongan persik dan kue almond.

Lox Bagel Ice Cream, es krim yang memodifikasi menu makan siang favorit orang New York yaitu bagel nova lox. Pada dasarnya, ini es krim vanila yang ditaburi potongan-potongan kecil nova lox dan sedikit garam. Ngomong-ngomong, nova lox adalah filet ikan salmon yang dibubuhi garam dan gula sebelum diasapi. Apa saya benar-benar serius mau mencoba? Yah, sampai sekarang menu ini belum menghilang, jadi apa salahnya?

Beer Ice Cream, es krim rasa…oke, saya harus mengaku. Waktu kecil, saya pernah tidak sengaja minum Bir Bintang karena mengira itu sejenis soda, dan kalau trauma psikologis bisa disimbolkan, kaleng bir adalah simbol milik saya (lebih dahsyat dari ketika saya membuat kopi untuk pertama kalinya, dengan tiga sendok makan penuh kopi untuk satu cangkir kecil air). Dan saya ingin es krim ini untuk menghapus trauma psikologis ini. Sepenuhnya teraputik. Oke?

Oke, sudah ada penelepon pertama? Tolong cepat, serius. Layar komputer saya sudah basah karena saya jilati terus selama menulis artikel sial ini.

Para dokter (asli, bukan gadungan) semua disumpah untuk memanfaatkan ilmu yang mereka miliki seoptimal mungkin demi kebaikan pasiennya (perkara berapa biaya berobat yang harus dibayar pasiennya lain urusan). Tetapi, hanya karena menyandang gelar dokter dan mampu meresepkan obat-obatan bernama keren dengan tulisan tangan yang secara universal nyaris susah dibaca, bukan berarti mereka juga memiliki kesabaran setara malaikat bila berhadapan dengan pasien yang beragam jenisnya (walaupun beberapa dokter langganan keluarga kami sejak saya masih kecil nampaknya memiliki kualitas itu; ada satu hal yang membuat orang masih memercayai mereka untuk menerapkan peralatan medis walau tangan mereka sudah mulai sedikit gemetaran karena usia). Layaknya para anggota generasi sinis sejati, sudah sejak lama saya belajar bahwa tidak semua dokter benar-benar mengkhawatirkan keadaan saya saat saya diminta membeberkan kondisi medis yang saya alami saat itu.

 

Tetapi, jika selama ini saya beruntung untuk tidak pernah dianggap sebagai pasien menyebalkan (tidak tahu kalau di belakang punggung saya ?), dokter-dokter di Amerika Serikat yang derajat kekerenannya telah menginspirasi E.RHouse dan Grey’s Anatomy menciptakan trik canggih untuk menumpahkan rasa frustrasi mereka terhadap pasien yang termasuk dalam kategori menyebalkan-tingkat-kronis.

 

Menciptakan kode-kode istilah.

 

Yak, sama seperti berkembangnya tren bahasa alay, yang dengan satu kata ‘galau’ saja bisa menyiratkan banyak makna bagi pengguna setianya, bahasa kode para dokter di AS/UK seringkali diciptakan sedemikian rupa sehingga hanya mereka yang berkecimpung di dunia itu yang langsung paham apa maksudnya. Tidak ada aturan baku; satu kata bisa sangat populer sementara kata yang lain mungkin hanya dikenal di beberapa rumah sakit. Intinya, mereka membuat kata-kata yang intinya adalah untuk menggambarkan situasi medis secara praktis dan akrab sekaligus mengalihkan pikiran mereka dari situasi kerja yang keras menggunakan rasa humor (kalau anda berpikiran positif), atau melampiaskan kekesalan dengan diam-diam mengatai pasien yang mereka anggap hanya buang-buang waktu saja (kalau anda berpikiran negatif).

 

Ini dia beberapa contohnya.

 

Acute Lead Poisoning

 

Bila saya tidak bisa mati dalam keadaan mulia, atau bahkan sebagai orang baik, setidaknya biarkanlah saya mati secara keren. Serius. Mati tertembak mungkin kedengaran keren untuk dicantumkan dalam obituari, dan tak ada lagi yang lebih bisa membuatnya keren selain mengganti istilah ‘gunshot wound’(luka tertembak) dengan ‘acute lead poisoning.’ Untuk golongan malas buka Google/Wikipedia, lead alis timbal adalah elemen karbon yang juga salah satu komponen utama dalam pembuatan peluru.

 

Untuk pecinta detail, Acute Lead Poisoning 185 grain injection bermakna luka karena peluru kaliber 9mm. Acute Lead Poisoning 240 grain injection bermakna luka karena peluru Magnum kaliber .44, danAcute Lead Poisoning Air Conditioned bermakna luka tembak lebih dari satu. Keterangan sertifikat kematian paling keren yang bisa saya harapkan. Begitulah. Sampai saya mendengar Hole in One. Luka tembak di mulut atau bokong.

 

AFU

 

Peristiwa traumatis dapat membuat seseorang menjadi shock dan tidak berdaya, tergantung ambang batas kejiwaan mereka terhadap apa yang membuat seseorang merasa trauma, mulai dari melihat pembunuhan sadis terhadap orang yang disayangi di depan mata, hingga mengalami mati listrik ketika Gonzales di TV mulai mengayunkan kaki untuk membuat gol yang menentukan. Terkadang paramedis menemukan pasien penderita trauma yang begitu parah sehingga sedikit sekali yang mereka bisa lakukan untuk intervensi awal, dan keadaan ini pun mendapat julukan mesra ‘AFU.’ All Fucked-Up. Yap. Semuanya (tentang pasien ini) Kacau.

 

Air Biscuit

 

Apa yang ada di benak anda kalau mendengar kata yang sinonim bahasa Indonesianya adalah ‘biskuit udara?’ Hmm, mungkin semacam biskuit mungil dengan adonan super ringan yang membuatnya sangat renyah ya? Oke, baca baik-baik; air biscuit adalah slang medis yang berarti tinja yang mengandung banyak gas sehingga mengapung terus. Jenis yang baru akan hilang dari lubang air kalau sudah anda guyur 5000 kali. Sekarang ambil lagi biskuit cokelat Khong Guan itu dan mari lanjutkan membaca.

 

Angel Lust.

 

Untuk golongan pria yang satu tipe dengan pemuda yang sampai menyuntikkan minyak rambut ke penisnya sendiri demi mencapai ereksi tingkat surga (surga versinya sendiri, wahai orang-orang alim), bergembiralah. Ada jalan agar simbol kejantanan itu tetap tegak berdiri bahkan hingga anda mati. Kenyataannya, tak jarang ada seseorang yang meninggal dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan ereksi (post-mortem erection/priapism), biasanya nampak pada mayat korban gantung diri, korban tembakan fatal di kepala, beberapa kasus keracunan, atau kerusakan pada batang otak/pembuluh darah besar. Dan daripada menggunakan nama ilmiah yang sama sekali tidak romantis, paramedis pun menggunakan kata yang lebih cocok dipakai untuk memuja peristiwa penting ini. Angel Lust, Nafsu Malaikat.

 

Dengan catatan memang malaikat-lah yang benar-benar senang bertemu dengan orang itu.

 

CFT

 

CFT adalah singkatan dari Chronic Food Toxicity alias Keracunan Makanan Kronis. Bukan, ini bukan jenis keracunan makanan yang membuat anda pusing, mual, dan muntah. Ini adalah jenis keracunan makanan yang membuat anda tidak bisa bangkit dan keluar dari kamar sendiri hingga harus dikeluarkan lewat jendela menggunakan derek serta dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan truk pemadam kebakaran karena tak ada ranjang ambulans yang muat untuk anda.

 

Yap. CFT adalah sebutan untuk penderita obesitas alias kegemukan parah yang membahayakan jiwa. Untuk variasi, terkadang Chronic Burger/Biscuit Toxicity juga dipakai. Atau selipkan saja makanan apapun yang anda pikir lebih mengundang selera di tengah-tengah.

 

CRAFT

 

Sederhana. CRAFT. Can’t Remember A Fucking Thing. Tidak Ingat Apapun Juga. Nah, sampai dimana saya tadi?

 

D&D

 

Golongan lajang putus asa angkat tangan! D&D adalah singkatan populer untuk Divorced and Desperate. Bercerai dan Putus Asa. Atau terjemahan lengkapnya ‘Perempuan yang mengunjungi dokter setiap minggu, kadang tanpa keluhan serius, kecuali hanya untuk mendapat perhatian dari dokter pria.’ Rupanya penemu istilah ini adalah seorang paramedis pria bercerai yang punya masalah untuk mengaku kalau dia sendiri butuh perhatian tetapi terlalu gengsi mengakuinya (alasan dibuat-buat, jangan dianggap serius kecuali anda ingin memulai perang debat tentang gender).

 

Saya sendiri, kalau ingin membuat-buat keluhan/pengaduan untuk mendapat perhatian pria tanpa ada komitmen selain untuk bersenang-senang, akan memilih Markas Brimob.

 

Donorcycle

 

Dengan banyaknya jumlah pengendara motor dari neraka di negeri ini, saya heran mengapa istilah ini tidak menjadi populer dibandingkan dengan di Amerika. Donorcycle adalah istilah pelesetan untukmotorcycle yang mengacu pada banyaknya pengendara sepeda motor ugal-ugalan sehingga sering mengakibatkan kecelakaan dan kematian. Sisi baiknya, kematian-kematian itu juga menyumbang banyak sekali organ tubuh yang bisa didonorkan untuk orang lain yang membutuhkan. Jadi, lain kali anda memutuskan untuk menjadi pengendara motor yan bertipe suka bertelepon atau ber-sms tanpa menghentikan kendaraan, cobalah bantu orang lain dengan mencantumkan organ tubuh anda ke dalam hal yang akan anda sumbangkan kalau anda mati karena kecerobohan anda bersama motor anda.

 

FES

 

Oke, kecuali bila anda punya kondisi medis, mengalami trauma berat, tertimpa kecelakaan parah, atau perempuan jaman Victoria, pura-pura pingsan sama sekali tidak menarik dan dalam beberapa kasus cenderung menyebalkan. Pasien yang dibawa ke rumah sakit sambil pura-pura pingsan sebagian besar tentu menyangka bahwa akting mereka bagus sekali, sehingga paramedis punya julukan tersendiri untuk keadaan ‘darurat’ itu. ‘FES’ alias Fluttering Eye Syndrome alias Sindrom Mata Bergerak-gerak, dimana penderitanya adalah pasien yang termasuk golongan tidak-pandai-berakting-pingsan. Entahlah, tapi bila saya paramedisnya, melihat orang yang pura-pura pingsan dan menghabiskan waktu paramedis yang berharga tetapi matanya masih bergerak-gerak justru membuat saya gatal ingin menempelkan selotip ke kelopak matanya.

 

Gomer

 

Emergency room alias UGD diperuntukkan untuk pasien-pasien yang perlu penanganan darurat sesegera mungkin, namun bila anda jenis pasien yang ngotot untuk dimasukkan ke UGD hanya karena pilek, bersiaplah dikatai ‘Gomer’ di belakang punggung anda. Yap, Gomer adalah singkatan dari Get Out Of Emergency Room (boleh ditambahi Get the F**K Out of Emergency Room untuk bumbu pedas ekstra).

 

LOL

 

Oke, sedikit rasa bersalah disini karena harus melibatkan kaum yang sekelompok dengan nenek sendiri. Kita tahu bahwa para manula, terutama yang bernasib sial punya keluarga brengsek tak tahu diri yang mengabaikan mereka hanya karena tak ada yang mau membantu mereka tertatih-tatih menyeberang jalan, punya tendensi untuk melakukan berbagai macam hal yang terkadang menyebalkan agar mendapat perhatian. Salah satunya adalah menelepon paramedis agar diri mereka dibawa ke rumah sakit, terkadang dengan alasan sakit palsu, yang tujuan akhirnya hanyalah untuk mendapatkan teman bicara untuk mencurahkan keluh-kesah.

 

Mungkin bukan dosa besar, tetapi bagi banyak paramedis terutama bagian UGD, melakukan pemeriksaan fisik standar untuk kemudian menemukan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentu bisa jadi menyebalkan. Dan dipakailah ‘LOL.’ Little Old Lady. Atau terkadang ‘LOL-NAD.’ Little Old Lady, No Apparent Distress (Hanya Wanita Tua. Tak Ada Keluhan). Yah, setidaknya, sampai si pasien ini mengeluh.

 

(Para pembaca-sadar-isu-gender boleh mulai berdebat kenapa hanya nama wanita yang dibawa-bawa dalam istilah ini).

 

PAFO

 

Kalau anda mabuk berat dan mendapat kecelakaan serius gara-gara mabuk itu seperti terjungkal dari tangga, terpeleset dan terjatuh dengan bokong menghantam lantai (yang, kalau anda mabuk berat sampai tidak bisa mengendalikan diri sendiri, levelnya sama saja dengan menghantamkan kepala sendiri ke lantai), atau menabrak tempat sampah besar dan berakhir dengan hidung patah terhantam trotoar, istilah yang diberikan untuk anda adalah ‘PAFO’. Pissed and Fallen Over. Ngomong-ngomong, ‘pissed’disini bukan berarti ‘terkencing-kencing’ atau ‘marah besar’, melainkan istilah lain dari ‘mabuk berat.’ Tetapi kalau anda sedang mabuk berat, siapa tahu? Bukan berarti anda tidak bisa melakukan ketiganya, ‘kan?

 

Road Pizza

 

Tidak ada yang lucu dari korban kecelakaan, tetapi tetap saja, saya yakin banyak di antara kita yang tidak bisa menahan dorongan untuk mengata-ngatai orang-orang yang tertimpa kecelakaan karena salah mereka sendiri. Menelepon sambil mengemudi, tidak memakai sabuk pengaman, tidak memakai helm, ngebut atau berkendara sambil mabuk bisa menyebabkan seseorang berakhir sebagai gumpalan daging koyak di jalan. Dan paramedis punya istilah untuk korban kecelakaan seperti ini (yang saya harap mereka maksudkan sebagai pengalih perhatian agar ketenangan mereka tidak terpengaruh saat menangani tubuh korban): Road Pizza. Pizza Jalanan.

 

Terima kasih sudah menghancurkan Pizza Hut buat saya.

 

(Untuk yang tidak ingin Pizza Hut dirusak, istilah Road Chili juga kadang dipakai. Bagus. Sekarang Meksiko memusuhi saya).

 

Slow Code (to China. Or Hogwarts. Or whatever faraway place you like).

 

Beberapa istilah dalam dunia medis ditetapkan secara resmi untuk mendukung penanganan cepat tanpa harus repot mendeskripsikan kondisi pasien. Contoh kode resmi yang umum adalah Code Blue, yang secara umum bermakna ‘pasien dalam keadaan gawat dan membutuhkan intervensi cepat’ (dalam film-film, ketika kata ‘Code Blue’ berkumandang lewat speaker di Rumah Sakit, biasanya adegannya diikuti dengan bunyi alarm dan dokter-dokter keren berlarian menghampiri pasien dengan ekspresi wajah serius yang tetap terlihat keren). Sebaliknya, bila anda adalah seorang pasien yang sedang dalam keadaan gawat sedangkan istilah yang dipertukarkan malah ‘Slow Code,‘ tidak usah repot-repot menuntut para dokter agar bergegas. Slow Code bermakna ‘pasien dalam keadaan gawat tetapi tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuknya karena dia sudah tidak punya harapan lagi, jadi santai saja dan mari tidak usah berusaha terlalu keras.’

 

In that case, you’re so fucked up.

 

TMB

 

Bagi banyak orang, ulang tahun merupakan saat dimana kita mendapat ucapan selamat penuh sayang, mendapat hadiah, dan ditraktir maupun sebaliknya. Tetapi, bila anda adalah pasien yang dipanggil TMB alias Too Many Birthdays, anda pasti akan menonjok siapa saja yang berani meminta supaya anda merayakannya dengan mentraktir mereka. Yap, TMB bermakna pasien yang sekarat karena usia tua.

 

TSTLS/Faecal Encephalopathy

 

Pernah dengar kasus-kasus orang-orang yang dibawa ke UGD karena berbagai benda mulai dari terong, botol Coca-cola sampai kunci mobil tersangkut di saluran menuju bokongnya? Atau pria yang memotong kepalanya sendiri dengan gergaji mesin gara-gara taruhan mabuk setelah pesta minum bir? (Ini sungguhan). Bila anda tipe orang yang tidak mau mendengarkan nasihat orang tua untuk tidak menjejalkan, katakanlah, bola voli ke pantat anda, dan lantas masuk Rumah Sakit gara-gara hal yang sama, bisa jadi anda 1). Khilaf (alasan favorit semua orang), atau 2). Terserang sindrom ‘orang yang terlalu bodoh untuk hidup.’ Alias terserang ‘TSTLS.’ Too Stupid To Live Syndrome.

 

Istilah yang lebih terdengar berbau medis untuk ini adalah Faecal Encephalopathy, yang mana itu hanyalah cara keren untuk mengatakan ‘otak (yang terbuat) dari…’ Yah, silahkan Google gambar‘fecal/feses’ dan lihat sendiri kemana kata kunci itu membawa anda, lalu bayangkan kalau otak anda terbuat dari itu.

 

Turtle’s Head

 

Istilah yang, ketika saya temukan, langsung mengubah cara pandang saya terhadap kura-kura peliharaan saya yang tadinya saya anggap lucu sekali. Turtle’s Head adalah satu cara kreatif menggambarkan kondisi sembelit dimana lubang anus melebar sehingga kotoran menyembul keluar, namun kemudian tertarik lagi ke dalam. Seperti kepalaturtle, kura-kura. Paham? Ayolah, jangan paksa saya mencarikan penggambaran visualnya.

 

UFO

 

Penggemar teori konspirasi jangan senang dulu, karena kenyataan di balik istilah ini untuk para praktisi medis sangat jauh dari menegangkan. Pernahkah anda terkadang memikirkan, maksud saya benar-benar memikirkan, apa yang terjadi pada para gelandangan dan pengemis tak ber’agen’ yang berkeliaran sendirian tanpa tempat bernaung terutama di musim dingin? Sebagian dari mereka meninggal, dan kadang baru ditemukan orang dalam keadaan membeku. Berhubung jumlah tempat umum yang mau menerima pasokan mayat manusia beku tak banyak jumlahnya, rumah sakit tentu menjadi pilihan yang tepat (hentikan saya bila kalimat-kalimat dalam paragraf ini mulai terdengar seperti iklan kapling real-estate). Dan apa julukan untuk ‘pasien spesial’ ini? UFO. Bukan Unidentified Flying Object (Benda Terbang Tak Dikenal) melainkan Unidentified Frozen Object (Benda Beku Tak Dikenal).

 

YOYO

 

Akhirnya, ada saat-saat dimana dokter paling angkuh sekalipun harus mengakui kalau ijazah kedokteran tidak serta-merta membuat mereka jadi Terminator untuk segala penyakit. Sekali dua, seorang dokter terutama dokter spesialis senior yang jam terbangnya sudah tinggi mungkin akan menemui kasus yang amat membingungkan dimana pemecahannya tidak diketahui sama sekali. Kemudian, dokter yang putus asa ini akhirnya mengirim pasien pulang dan mencoba menyembuhkan egonya yang terluka dengan membeli yoyo dan menjerat lehernya sendiri dengan talinya…oh bukan. YOYO disini adalah singkatan dari You’re On Your Own. Kau Berusaha Sendiri Sekarang. Cara ruwet untuk mengaku pada pasien bahwa dokter, pada akhirnya, tetaplah hanya manusia dengan segala keterbatasannya.

Hidup itu kejam, sayang.

Beberapa blunder bisa jadi sekedar mengundang senyum atau sekedar gelengan kepala, namun blunder yang satu ini sungguh-sungguh bisa membuat sang tokoh di judul catatan ini bergegas bangkit dari kuburannya.

Untuk informasi awal, Dr. Martin Luther King, Jr. (15 Januari 1929-4 April 1968) adalah seorang pendeta, aktivis, dan pemimpin gerakan persamaan hak sipil kulit hitam paling terkenal sepanjang masa. Ia terkenal dengan pidatonya “I Have a Dream”, dimana ia punya mimpi bahwa “…suatu hari nanti, anak-anak budak dan anak-anak pemilik budak bisa duduk bersama di meja persaudaraan.” Jelaslah bahwa ia memiliki tempat tersendiri di hati orang-orang kulit hitam, dan kematiannya di tangan pembunuh bernama James Earl Ray menimbulkan guncangan yang amat besar. Hingga kini, nama Martin Luther King bisa dibilang bersinonim dengan perjuangan hak asasi orang kulit hitam.

Pada tanggal 15 Januari 2002, penduduk kota Lauderhill di Florida merayakan hari Martin Luther King dengan mengundang aktor bersuara berat terkenal, James Earl Jones, untuk menjadi pembicara tamu. Para panitia perayaan pun berniat memberi hadiah ucapan terima kasih pada tamu istimewa mereka. Mereka mengontak biro promosi lokal AdPro Specialties, yang kemudian mengontak Merit Industries di Georgetown, Texas. Mereka akan membuat sebuah plakat bergambar perangko AS seri “Black Heritage”, yaitu perangko bergambar tokoh-tokoh kulit hitam terkenal Amerika Serikat, di antaranya Martin Luther King sendiri.

Merit Industries mengirimkan fax berisi gambar-gambar perangko Black Heritage, serta contoh kasar dari plakat yang sudah jadi. Setelah itu, AdPro Specialties akan memilih beberapa gambar dan Merit Industries menyelesaikan plakat tersebut. Rencananya, plakat tersebut akan bertuliskan “THANK YOU JAMES EARL JONES, FOR KEEPING THE DREAM ALIVE,” tepat di bawah perangko Martin Luther King.

Mulai dari situ, segalanya jadi kacau. Ketika para pejabat lokal Lauderhill menerima plakat yang sudah jadi, mereka nyaris terjengkang ketika melihat tulisan pada plakat itu. Tulisannya telah mengalami perubahan kecil dengan hasil mencengangkan, “THANK YOU JAMES EARL RAY, FOR KEEPING THE DREAM ALIVE.” (Bagi yang lupa siapa itu James Earl Ray, silakan kembali ke paragraf kedua).

Tentu saja hal ini berakibat kegemparan, karena siapa orang waras yang membuat plakat untuk menghormati seseorang, namun dengan tulisan ucapan terima kasih kepada pembunuh orang tersebut ? Apalagi, kesalahan itu memberi kesan bahwa “mimpi” yang telah “dihidupkan” adalah mimpi orang-orang rasis yang membenci tokoh-tokoh kulit hitam tersebut. Norbert Williams, eksekutif AdPro Specialties berkata bahwa pihaknya sudah mengecek apakah kesalahan berasal dari pihak mereka, namun bukti-bukti mengarah kepada pihak Merit.

Gerald Wilcox, salah satu anggota panitia perayaan, mencoba menghubungi Merit untuk meminta klarifikasi, namun ia baru menerima jawaban ketika menghubungi untuk kedua kalinya. Dan jawaban yang diterimanya jauh lebih menampar ketimbang blunder itu sendiri. “Mereka bilang kami membesar-besarkan masalah,” ujarnya. “Aku tak percaya, mereka sama sekali tidak punya rasa hormat terhadap sejarah, dan pengaruhnya terhadap generasi masa kini. Mulanya aku tercengang. Kemudian aku marah.”

Mengetahui bahwa dirinya bisa berakhir di pengadilan (atau di ujung senapan seseorang yang tidak puas), Gerard Miller sang pimpinan Merit buru-buru beralasan bahwa kesalahan itu akibat pegawai-pegawai barunya yang kurang kompeten.

“Pekerja yang menangani plakat itu rata-rata berusia dua puluhan, kurang berpendidikan, dan kurang paham sejarah. Mereka bahkan tidak bisa membedakan antara James Earl Jones, James Earl Ray, dan orang pertama yang mendarat di bulan.”

Menurut Miller, para pekerjanya sedang menggarap plakat lain bertuliskan Ray Johnson pada saat yang bersamaan, jadi kekeliruan itu mungkin berasal dari sana (atau entah apa yang mereka hisap).

Akhirnya, AdPro memutuskan untuk mengambil solusi bijak : memperbaiki sendiri plakat itu.

Sedangkan reaksi James Earl Jones sendiri ?

“Kita punya lebih banyak hal yang harus dikuatirkan.”

Sumber : http://www.snopes.com/photos/signs/mlkplaque.asp

Semua orang yang mengenal saya mungkin sudah nyaris muntah mendengar obsesi saya terhadap semua yang berbau Indian Amerika. Kalau mau jujur, di tengah-tengah berondongan rutinitas kerja, kehidupan kota, dan hujan musik-musik pop, rock atau hip-hop yang  membuat saya kadang agak terintimidasi secara mental (kalau istilah itu tepat), Charles Littleleaf adalah salah satu penyelamat saya.

Kisah Awalnya

Dilahirkan pada tangga 4 Agustus di tengah-tengah wilayah reservasi Warm Springs di Oregon, Charles Littleleaf adalah seorang pemusik (coba tebak) Indian dengan spesialisasi seruling. Gambaran lingkungan tempat ia dilahirkan beserta kehidupan orang tuanya di sana, bagi saya, nyaris seperti dalam mimpi. Seperti namanya, Warm Springs dikelilingi oleh sumber-sumber mata air (springs) serta beberapa sungai seperti Deschute, Shetike, dan Warm Springs River. Selain menjadi sumber kehidupan orang-orang Indian di tempat itu, Littleleaf bisa dibilang berhutang pada air akan keberadaannya. Littleleaf mengisahkan pertemuan kedua orang tuanya seperti ini:

“pada suatu musim ikan salmon, seorang pemuda Indian anggota klan Piegan Blackfeet bernama Jack Littleleaf meninggalkan kampung halamannya di Kanada untuk memancing di Celilo Falls di Oregon. Itu adalah sebuah tempat pemancingan suci yang sudah berumur sangat tua. Di tempat itu, sang pemuda yang juga seorang penari tradisional serta ahli menunggang kuda bertemu dengan seorang gadis anggota klan Warm Springs bernama Lolita Greeley.  Pemuda itu nyaris melupakan rencana memancingnya ketika melihat si gadis, sementara gadis itu juga hanya terdiam dan memeluk gerabah kosong yang tadinya hendak diisi dengan air. Tak lama setelah dipertemukan di sungai itu, mereka menikah. Pemuda itu adalah ayahku, dan gadis itu ibuku.”

Sayangnya, keromantisan itu terhenti ketika ayah Littleleaf kembali ke Kanada untuk memimpin sukunya sendiri di sana. Saat itu, Littleleaf belum berusia satu tahun, namun ia tak bisa berlama-lama menikmati cinta ayahnya karena ibunya menolak ikut ke Kanada dan memilih tetap tinggal di Warm Springs. Beruntung, hidup di reservasi tidaklah sepi. Dalam tradisi suku-suku bangsa Indian, seorang anak yang lahir di tengah suku tidaklah benar-benar hanya memiliki sepasang orang tua kandung. Semua orang bisa memiliki banyak nenek, kakek, paman, bibi, dan sepupu. Littleleaf tumbuh dengan dikelilingi cinta kasih serta kebijaksanaan dari para tetua Indian.

Pohon Apel, Nenek Buyut, dan Kesadaran Spiritual

Littleleaf amat dekat dengan nenek buyutnya yang bernama Sally. Sally adalah gambaran klasik ‘orang tua bijaksana’ (wise elder) yang kerap muncul di dongeng-dongeng serta cerita rakyat. Ia adalah seorang tabib yang tinggal dalam sebuah tipi, tenda kerucut, di tepian sungai Shetike. Bila tidak sedang mengobati orang atau melakukan ritual, Sally menghabiskan waktu dengan mengumpulkan buah beri dan akar-akaran untuk obat. Konon, Sally adalah wanita yang bisa berteman dengan beruang. Tetangga-tetangganya kerap melihat beruang hitam memakan buah-buah beri dari semak-semak di sekeliling tenda Sally, yang dibiarkannya saja dan bahkan diajak bicara. Sally tidak mencegah beruang-beruang itu memakan buah-buah berinya;  ia hanya menghalau mereka ketika ia sudah hendak tidur.

Littleleaf muda kerap menghabiskan waktunya duduk di bawah sebatang pohon apel dekat tenda Sally. Di sana, ia mendengarkan kala sang nenek buyut menyanyikan lagu-lagu spiritual. Ritual duduk di bawah pohon apel ini pada akhirnya membentuk pribadi serta, kelak, gaya bermusik Littleleaf muda. Ketika nenek buyutnya meninggal, Littleleaf tidak menghentikan kebiasaannya duduk di bawah pohon apel tersebut. Orang-orang Indian beranggapan bahwa kehidupan bukanlah akhir, melainkan suatu awal dari perjalanan baru yang harus dilalui setiap roh. Bagaimanapun, benak Littleleaf yang masih muda tidak mampu menjangkau konsep tersebut. Baginya, sang nenek hanya ‘menghilang.’ Ketika ia tumbuh dewasa, Littleleaf akan selalu mengunjungi pohon apel mendiang neneknya untuk mencari kedamaian.

Ketika ia mulai beranjak dewasa, Littleleaf perlahan mulai memahami makna dari ‘hilang’nya sang nenek buyut. Fakta bahwa ia selalu merasa damai kala mengingat kasih sayang sang nenek buyut, lagu-lagunya, maupun pohon apelnya, bisa saja diasosiakan sebagai teori asosiasi oleh psikolog modern. Namun, bagi Littleleaf, hal itu menumbuhkan kesadaran spiritual akan kehadiran roh sang nenek buyut yang senantiasa membimbingnya sepanjang hidupnya. Littleleaf tumbuh menjadi pemuda yang dekat dengan alam, dan mengetahui ratusan kisah-kisah rakyat.

Perginya Sang Indian Muda…ke Kota

Saat ia beranjak dewasa, Littleleaf menjalani hidup seperti layaknya pemuda-pemuda Indian yang ada dalam buku-buku cerita. Ia menghabiskan waktunya di sungai dan pegunungan, memancing dan berburu rusa demi memberi makan ibu serta saudara-saudaranya, sembari mereguk kenikmatan menyendiri di tengah alam bebas. Namun, tiba-tiba saja, sang Indian muda membuat keputusan drastis yang pasti membuat keluarga dan kerabatnya mengira ia sudah tidak waras. Littleleaf berniat pindah ke Portland, dan menjalani hidup di tengah kota.

Mulanya, keingintahuan Littleleaf akan kehidupan kota membawanya ke kehidupan yang cukup baik. Tak lama setelah pindah ke Portland, Littleleaf memelajari teknik mesin secara otodidak dan mendapat pekerjaan sebagai teknisi rel di sebuah perusahaan kereta api. Gajinya tidak buruk, dan ia masih bisa menghabiskan waktu senggangnya dengan membuat kerajinan tangan yang menjadi kesukaannya, selama berjam-jam. Sang Indian muda menjadi pusat perhatian sesama pegawai di perusahaan tersebut, dan para pegawai kota tersebut diperkenalkan pada cakrawala baru yang tidak pernah mereka pahami, atau coba pahami, seumur hidup mereka.

Namun, pada saat yang bersamaan, Littleleaf mulai merasa galau. Kehidupan kota yang serba cepat, melelahkan dan kering membuat benaknya menghadapi dilema; itu bukanlah gaya hidup yang dikenal dan dipahaminya selama masih tinggal di reservasi. Dalam keinginannya untuk menjembatani orang-orang kota dengan gaya hidup tradisional dan kesadaran spiritualnya, Littleleaf mulai menyambangi berbagai sekolah-sekolah. Ia menceritakan kisah hidupnya, menunjukkan gaya hidup masyarakatnya, mengajarkan pemahamannya akan spiritualisme serta kisah-kisah tradisional. Perlahan, Charles Littleleaf mulai dikenal di Portland sebagai duta dan semacam penasihat spiritual Indian Amerika.

Seruling yang Membebaskan

Di tengah-tengah kegelisahan spiritualnya, Littleleaf pada akhirnya mencoba meniup seruling. Apa yang disangkanya hanya sekedar pengisi waktu luang seperti semua hasil kerajinan tangannya, ternyata merupakan cara pengungkapan emosi sekaligus penyembuhan spiritual yang dibutuhkannya. Dengan seruling, ia bisa merangkai nada-nada indah dan mengekspresikan sisi spiritualnya sekaligus menawarkan kedamaian pada orang lain yang membutuhkan, tanpa harus berceramah berbusa-busa. Ia mulai berlatih dengan serius, dan kemudian kembali ke kampung halamannya untuk pertunjukan pertamanya. Di Warm Springs, Littleleaf mencurahkan semua kenangannya akan kasih sayang dan kebijaksanaan sang nenek buyut, ke dalam rangkaian nada-nada.

Musik Littleleaf mulai merambah ke ranah yang lebih luas ketika, pada tahun 1992, ia menerima hadiah seruling dari seorang pembuat dan peniup seruling terkenal, Carlos Nakai. Nakai, yang memiliki bengkel kerajinan seruling bernama Feathered Pipe Ranch di Helena, Montana, tertarik akan gaya bermusik Littleleaf dan berniat mendukungnya. Ia mengundang Littleleaf ke bengkelnya dan memberinya kursus selama dua minggu, bersama pemain-pemain seruling lainnya. Littleleaf, yang secara teknik jauh lebih amatir, pada akhirnya nampak menonjol di antara mereka. Di tengah-tengah banjir pelajaran mengenai berbagai teknik meniup seruling, Littleleaf menunjukkan bahwa yang lebih penting di atas segala teknik itu adalah bermain dengan segenap jiwa, disertai kesadaran dan kepercayaan terhadap diri sejati masing-masing.

Sekarang….

Perjalanan Charles Littleleaf, yang dimulai dari bawah pohon apel nenek buyutnya, menghantarnya menjadi salah satu seniman Indian Amerika paling diakui di dunia. Ia mendapat berbagai penghargaan baik dalam segi musik maupun seni pembuatan serulingnya, seperti Just Plain Folks Award Winner di Los Angeles (2008) dan Native American Music Award Nominee (2001).  

Bersama istrinya, Vicky, Littleleaf bekerja keras di kediamannya di Warm Springs, menggubah musik, tampil dalam berbagai pertunjukan baik komersil maupun amal, dan membuat berbagai jenis seruling yang dipesan oleh khalayak dunia dari berbagai negara dan latar belakang, termasuk Dalai Lama. Littleleaf juga pernah muncul dalam artikel Feature Story di Celebrity Magazine, Cowboys and Indians (Sept. 2007), serta di PBS Oregon Art Beat Show (2004). Seruling-seruling serta CD musiknya (yang terbaru berjudul Ancient Reflections) bahkan mendapat penghargaan Top-Rated Seller 2011 di E-Bay.

Sebagai penutup, berikut saya sajikan beberapa musik seruling oleh Charles Littleleaf. Dan ini adalah kutipan indah darinya yang saya sungguh tak tahan bila tidak menyajikannya di sini:

“We are gifted from our Creator only a small number of heartbeats in this lifetime. If they can beat in happiness, then we are truly living….”

Sumber:

www.littleleaf.com

www.wikipeda.org

(Catatan: saya tidak mencantumkan tahun lahir Charles Littleleaf karena beliau sendiri juga tidak mengingatnya; hal itu bahkan tidak tercantum di situs resminya).

Biasanya, seorang tahanan di penjara bisa mendapat remisi di hari-hari khusus atau dengan berkelakuan baik.

Di Rusia, remisi bisa didapat dengan mengikuti kontes kecantikan.

Lembaga Permasyarakatan UF 91/9 hanyalah salah satu dari 35 penjara wanita di Rusia. Penjara ini berjarak sekitar 20 mil dari ibukota Serbia, Novosibirsk, dan hingga kini telah menampung lebih dari 1000 tahanan wanita; sebagian besar karena kasus pembunuhan, penganiayaan, atau penyalahgunaan narkoba. Ketika Uni Soviet runtuh di tahun 1991, ekonomi runtuh dengan cepat dan banyak wanita tenggelam dalam keterpurukan karena menganggur atau menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Sebagian, seperti bisa diduga,  memilih jalan kejahatan. Kini, tingkat kejahatan yang dilakukan kaum wanita lima kali lebih tinggi daripada di Inggris.

Para tahanan di UF 91/9 berbaris untuk memulai rutinitas pagi

Rutinitas penjara ini keras dan penuh disiplin, namun Natalya Baulina, kepala administrasi penjara, punya ide lain untuk membawa warna baru dalam rutinitas penjara, sekaligus memberi bekal awal kepada tahanan wanita yang ingin menempuh hidup baru sekeluarnya mereka dari penjara. Ia mengadakan kontes kecantikan.

Natalya Baulina, kepala administrasi penjara UF 91/9 yang disiplin dan keras ini, bagaimanapun, tetap berjiwa wanita

Tentu saja, ketika Baulina memerkenalkan ide ini di tahun 1990, banyak tahanan wanita yang tak percaya dan bahkan menyebutnya sinting (di belakang punggungnya, tentu saja).

“Satu-satunya kontes kecantikan yang mereka  tahu adalah Miss Universe, dimana sekelompok wanita berpakaian minim melenggak-lenggok di panggung sebelum dinilai oleh para pria,” ungkap Baulina. Para wanita tahanan itu jelas tidak menganggap diri mereka sebagai kandidat yang sesuai menurut standar juri Miss Universe. Namun, ketika ide itu dilakukan, para tahanan menjadi senang karena mereka memiliki rutinitas lain yang memungkinkan mereka untuk sejenak keluar dari realitas yang tidak selalu segemerlap iklan produk kosmetik yang disediakan untuk mereka.

Para peserta kontes, bahagia mengganti seragam membosankan mereka dengan gaun indah

Dan, jika “partisipasi sosial aktif” termasuk dalam kriteria remisi, tak heran jika kontes kecantikan yang diadakan tiap musim semi ini membuat para tahanan begitu bersemangat. Bahkan, ketika kontes kecantikan tahun 1991 terpaksa diadakan dengan suplai terbatas, para tahanan berkreasi dengan membuat gaun-gaun dari kantung-kantung plastik yang disediakan dapur penjara. Kini, setiap kali waktu kontes tiba, para tahanan ini bebas berkreasi dengan kain-kain, aksesoris, alat jahit, lipstik, bedak, maskara dan hair spray; barang-barang yang biasanya tidak diijinkan memasuki lingkungan penjara UF 91/9.

Dan, percaya atau tidak, para tahanan ini benar-benar terlihat cantik; mereka bisa dikira peserta kontes kecantikan internasional, kalau orang tidak melihat jeruji besi serta pagar kawatnya. Tambahan lagi, mental mereka jelas ditempa lebih keras daripada para kandidat Miss Universe.

Untuk membuat kontes lebih seru dan bermakna, pihak penjara menetapkan tiga buah tema setiap tahun; Dewi Yunani (Greek Godesses), Gaun Berbunga (Flower Gowns), dan Seragam Imajiner (Imaginary Uniforms) yang mengijinkan para tahanan mendesain seragam penjara versi mereka sendiri. Banyak di antara para tahanan ini belum pernah mendengar tentang mitos Yunani ataupun melihat sendiri bunga-bunga musim semi eksotis, sehingga pihak penjara menyediakan buku-buku sebagai referensi untuk mereka; ‘jendela’ menuju dunia lain yang begitu berbeda dengan dunia mereka sendiri yang keras.

Dalam kontes, para sipir serta kepala penjara bertindak sebagai juri, dan menganugerahkan tiga buah mahkota penghargaan untuk kategori utama Miss Spring, kategori kedua Miss Charm, dan kategori ketiga Miss Grace.

Bagaimanapun, masalah tetap tak akan berhenti mengikuti para tahanan ini sekeluarnya mereka dari penjara. Simak cerita Natasha Patalakhova, 30, yang bebas pada tahun 2008 setelah menjalani 8 tahun hukuman di UF 91/9 karena dakwaan penyerangan bersenjata. Keikutsertaannya dalam kontes kecantikan sebagai pengarah kontes membuatnya memeroleh remisi dan mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat runtuh. Ketika keluar dari penjara, ia merasa sanggup berbuat apa saja agar tidak kembali ke penjara.

Namun, riwayat kejahatannya membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan. “Hari-hariku di penjara pun terus menghantuiku,” tambahnya dalam satu wawancara dengan BBC News.

Natasha Patalakhova, ‘pahlawan’ para tahanan di UF 91/9

Ketika akhirnya ia mendapat pekerjaan dan berkunjung ke UF 91/9 untuk menjenguk mantan teman satu selnya, ia disambut oleh seluruh penghuni penjara layaknya superstar. Keberhasilannya mendapat pekerjaan yang halal dan layak, bagi para tahanan, mungkin sama dengan kebanggaan rakyat Amerika ketika mereka menyaksikan pendaratan manusia yang pertama di bulan.

Natalia Khapova, peserta kontes tahun 2008

Satu hal lagi yang bisa dipetik; jiwa seorang wanita tetaplah jiwa seorang wanita, sekalipun mereka terkungkung dalam tembok dan jeruji besi. Seperti kata Natalia Khapova, tahanan yang berkompetisi pada kontes tahun 2008 dengan gaun pesta merah muda, lipstik merah, dan rambut ikal yang dicat coklat, “seorang wanita harus selalu nampak dan merasa cantik walaupun berada di balik jeruji besi. Seorang wanita, sesungguhnya, adalah semua yang lembut dan luar biasa.”

Sumber : news.bbc.co.uk

Dalam postingan sebelumnya, saya telah menjabarkan latar belakang film Smoke Signals (1998) beserta filmnya. Sekarang, setelah anda menontonnya (atau bila anda lebih suka melewatkan filmnya), saya akan membahas lebih jauh tentang film ini.

Yang paling mudah ditangkap dari film ini tentu saja adalah jalan ceritanya; dua orang pemuda yang melakukan perjalanan panjang demi berdamai dengan masa lalu mereka, sembari menemukan jati diri masing-masing. Terutama tokoh Victor, yang seumur hidupnya tercabik antara mencintai atau membenci ayahnya, sehingga membuat sikapnya terhadap Thomas menjadi tercabik juga. Di satu sisi, ia nampak cukup menyayangi Thomas yang sudah dikenalnya sejak kecil (dan saya akui, tampang culun Thomas memang menggemaskan alih-alih menyebalkan. Bayangkan Nobita berambut kepang panjang). Di sisi lain, sikap Thomas yang terlampau memuja Arnold membuatnya sebal dan muak. Sementara Thomas, yang polos dan pemuja imaji romantis Indian Amerika, mengikuti Victor karena ia ingin memberi penghormatan terakhir kepada Arnold dengan ritual kuno; membuang abu tubuhnya di sungai favoritnya, agar rohnya bisa ‘bersatu’ dengan roh para kakek dan nenek moyang mereka.

Apa lacur, justru ketika abu Arnold telah diterima, Victor harus menghadapi kenyataan menyakitkan; ayahnya, yang dianggap pahlawan oleh Thomas, justru menjadi penyebab utama kebakaran yang membunuh orang tua Thomas. Pada suatu malam perayaan 4 Juli, Arnold yang mabuk tanpa sengaja melemparkan kembang api ke dalam rumah orang tua Thomas. Ketika orang tua Thomas yang panik melemparkan si bayi Thomas dari jendela, Arnold-lah yang menangkapnya. Sejak saat itu, dirundung perasaan bersalah, Arnold menjadi pemabuk dan akhirnya meninggalkan istrinya serta Victor. Susie, sahabat Arnold, menjelaskan pada Victor bahwa Arnold selalu ingin pulang, namun perasaan bersalah selalu menghalanginya, hingga akhirnya ia meninggal sendirian dan baru ditemukan Susie saat mayatnya mulai membusuk.

Tetapi, bukan Chris Eyre namanya kalau tidak bisa membuat adegan sederhana menjadi penuh makna. Bukan hanya yang berkaitan dengan plot, namun juga penggambaran bangsa Indian Amerika secara umum dalam sebuah film. Tidak hanya yang berkaitan dengan budaya, melainkan juga sindiran terhadap stereotip umum yang, terutama, tertanam dalam benak orang-orang Amerika dan Eropa (yang notabene paling banyak bersentuhan dengan sejumlah besar karya semacam itu).

Victor dan Arnold adalah penggambaran sempurna akan benturan dua macam pandangan umum tentang Indian Amerika. Victor adalah pemuda tipikal yang suka bermain basket dan berbicara dengan logat ‘gaul’ sekaligus cuek layaknya anak-anak muda Amerika lainnya. Sementara itu, Thomas menyebut dirinya sebagai seorang juru cerita, yang gaya bicaranya seolah-olah seperti sedang berpuisi. Mengapa juru cerita ? Karena tradisi pewarisan pengetahuan atau kebijaksanaan orang-orang Indian sejak jaman kuno adalah tradisi tutur alias oral (tentu saja, jaman sekarang, banyak dari mereka belajar di sekolah umum). Tetapi toh keahlian Thomas ini bukannya tidak berguna, karena di awal perjalanan, ia bisa mem’barter’ ceritanya dengan satu tumpangan mobil untuknya dan Victor ke stasiun bus.

Situs Media Awareness Network, yang merupakan sumber artikel serta esai yang bertujuan membangkitkan kesadaran publik terhadap pesan-pesan yang dibawa media massa, merangkum stereotip umum penggambaran bangsa Indian dalam karya fiksi ke dalam beberapa kategori :

1. Orang barbar mulia (the noble savages)

Dalam banyak film atau buku, orang-orang Indian digambarkan sebagai kaum mistis yang memiliki kebijaksanaan tersendiri dan memiliki kedekatan terhadap alam, sesuatu yang tidak dimiliki kaum elit kulit putih (akademis Amerika Rennard Strickland menyebutnya sebagai “para ekolog pertama”).

Sepintas penggambaran ini tidak jelek, tetapi sesungguhnya berakibat mengaburkan kenyataan bahwa orang-orang Indian sesungguhnya masih hidup di masa yang sama dengan kita, dan memiliki problem aktual yang juga sama. Seolah-olah, mereka bisa bertahan hidup tanpa pendidikan, fasilitas dasar seperti listrik, bahan bakar dan air, dan kesejahteraan sosial seperti yang juga didambakan kaum non-Indian. Gary Farmer, aktor yang juga anggota suku Cayuga di Kanada, berkata bahwa film-film ‘Indian’ menganggap bahwa “bila kau menaruh enam orang Indian dalam satu ruangan, sesuatu yang gaib akan terjadi.” Ngawur dan terlalu dilebih-lebihkan.

2. Sang ksatria suku (the native warrior)

Mungkin penggambaran paling populer terhadap orang Indian; dalam fiksi, banyak dari mereka digambarkan sebagai pria-pria separuh telanjang dengan wajah dan tubuh dicat, berteriak-teriak sambil mengacungkan senjata, dan menjadi ancaman bagi peradaban yang harus dimusnahkan. Jurnalis Paul Gessell bahkan menyebut penggambaran ini sebagai nyaris erotis dan “…punya banyak kulit telanjang untuk ditunjukkan, dan selalu mencari wanita kulit putih untuk diperkosa.” Tradisi ksatria Indian yang sesungguhnya, yang memiliki banyak sekali variasi aspek mulai dari gaya bertempur, filosofi, hingga pakaian perang, dipadatkan ke dalam satu simbolisme yang dangkal.

Jeff Thomas, seorang fotografer berdarah Iraquois dan Onondaga yang berasal dari wilayah reservasi Six Nations di Ontario, berjuang menghapus stereotip itu lewat berbagai karyanya, salah satunya adalah pameran bertajuk Scouting/For Indians 1992-2000, yang memotret penggambaran para ksatria Indian dalam berbagai imaji, mulai dari patung dan monumen historis, simbol perang yang terpahat pada tembok-tembok bank serta kantor di Ottawa,  hingga sampul-sampul buku fiksi kontemporer. Tujuannya ? “Menciptakan kesadaran akan penggambaran kaum Indian yang cenderung erotis dan nyaris demonik.”

Salah satu karya Jeff Thomas dalam pameran tahun 2006 bertajuk “A Study of Indian-ness,” membandingkan figur ksatria Indian yang berupa patung dengan sampul roman ‘Indian’ populer, Thunderheart

3. Melupakan rincian sejarah

Ketika Bung Karno berpesan bahwa kita hendaknya “jas merah…jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” nampaknya pesan itu amat sangat relevan bagi banyak orang di dunia, bukan hanya di Indonesia. Dalam film-film koboi yang tipikal, orang-orang Indian hanya digambarkan sebagai bandit atau pendukung ‘eksotis’ yang menambah greget cerita. Tidak pernah ada penjelasan tentang mengapa mereka selalu memerangi orang kulit putih, bahkan penggambaran sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum seperti diusirnya orang-orang Indian dari tanah mereka, sering dengan menggunakan kebijakan yang berat sebelah.

Orang Indian dalam sejarah juga tidak selalu jahat; malah, ketika koloni kedua dari Inggris yang datang ke Virginia pada tahun 1607 nyaris mati karena kelaparan, orang-orang Indian di Roanoke-lah yang membantu mereka dengan menyumbangkan makanan. Seperti yang sudah-sudah, para pembuat film atau karya fiksi tidak pernah membiarkan rincian semacam itu merusak jalan cerita.

4. Stereotip dengan penghilangan (stereotyping by omission)

Kebanyakan film ‘Indian’ memotret mereka dalam setting waktu awal atau pertengahan abad 19 hingga abad 20. Pertanyaannya : kemana mereka sebelum dan sesudah masa-masa itu ? Nampaknya, orang-orang Indian tidak dibiarkan ‘bertahan hidup’ hingga jaman modern.

Sekarang biar saya tanya. Seberapa sering, dalam sebuah buku atau film, anda melihat adegan orang Indian yang dibawa ke unit gawat darurat di rumah sakit ? Atau pemuda Indian yang mendengarkan mp3 player sambil pusing mengetik skripsi ? Wanita Indian yang menjadi perawat, salah satu profesi yang paling banyak dijalani wanita-wanita Indian jaman sekarang ? Sekelompok Indian menjadi anggota regu basket atau sepakbola di sekolah ? Saya yakin jarang.

Siapa bilang bangsa Indian tidak termasuk anggota dunia modern ? Mereka bahkan punya majalah sendiri ! Bagi yang tertarik, kunjungi situs majalah ini, www.nativepeoples.com.

5. Penyederhanaan karakter

Mungkin stereotip paling merusak dalam dunia fiksi, penyederhanaan karakter adalah ketika tokoh-tokoh Indian di’singkir’kan menjadi sekedar pemanis cerita atau pemeran pendukung, tanpa karakter dan kepribadian yang kuat. Kalaupun ada, biasanya hal itu dikaitkan dengan interaksi mereka dengan orang kulit putih. Jarang sekali karakter Indian yang digambarkan secara rinci kekuatan dan kelemahan pribadinya. Mereka juga cenderung tidak diijinkan menyuarakan sendiri kisahnya. Perhatikan, film-film ‘Indian’ populer seperti Dances with Wolves atau Thunderheart menggunakan tokoh kulit putih sebagai narator cerita. Dan walaupun tokoh Tonto cukup berperan besar dalam membantu sahabatnya, koboi Lone Ranger, dia masih sering digambarkan lebih ‘kurang pintar’ dibandingkan Lone Ranger.

Semua stereotip itu diobrak-abrik oleh Chris Eyre dalam beberapa adegan yang berlangsung di tengah-tengah cerita, yaitu ketika Victor dan Thomas berada di dalam bus. Dalam satu adegan, Victor yang terheran-heran karena Thomas sudah ratusan kali menonton Dances with Wolves, akhirnya memutuskan untuk ‘mengajari’ Thomas bagaimana menjadi Indian sejati. Itu ejekan, sudah pasti, tetapi Thomas yang polos sangat bersemangat untuk mengikuti. Dialog sederhana merekalah yang bagi saya cukup menggambarkan sekaligus menyindir semua stereotip di atas.

Ketika Victor menyuruh Thomas agar “jangan bertampang lembek, melainkan keras dan serius…kau harus tampak seperti ksatria yang siap melindas orang kulit putih, seolah kau habis memburu bison,” Thomas dengan bingung berkata, “tapi suku kita ‘kan bukan pemburu bison ? Kita nelayan.” Victor langsung membentak, “apa ? Maksudmu, kau mau kelihatan seperti kau habis menangkap ikan ? Ini bukan Dances with Salmon, tahu.” Sederhana, kocak, tapi menusuk. Atau ketika seorang gadis kulit putih bernama Cathy, yang begitu mengetahui bahwa Victor dan Thomas adalah orang Indian, langsung mengobral cerita bualan dengan tujuan untuk mengesankan keduanya (dan digagalkan dengan telak oleh Victor).

Ironisnya, begitu Thomas sudah meraih ‘tampang ksatria Indian’-nya dengan mengurai rambut dan memasang tampang serius, usahanya justru digagalkan oleh dua orang pria kulit putih, yang mengusir Thomas dan Victor setelah menyabotase kursi mereka di bus. Dan yang dikatakan Thomas hanyalah, “wah, Victor, rasanya tampang ksatria kita tidak selalu berhasil, ya ?” Entah saya ingin tertawa atau tersindir….

Akhir cerita ini, menurut saya, mendamaikan kedua pandangan yang berlainan itu. Baik Victor yang pragmatis maupun Thomas yang romantis, keduanya dipersatukan dengan pemahaman bahwa mereka mencintai dan menghormati sosok yang mereka anggap ayah, yang bagi mereka sama patut dihormati dengan para kakek dan nenek moyang mereka. Adegan paling menyentuh bagi saya adalah ketika Victor meraih stoples celengan Thomas yang sudah nyaris kosong, mengeluarkan sisa-sisa koin di dalamnya, lantas memasukkan separuh abu jenazah Arnold ke dalamnya dan memberikannya pada Thomas. Victor telah berdamai dengan masa lalunya, dan Thomas memeroleh kesempatan untuk menjalankan ritual terakhir untuk menghormati ‘ayah’-nya.

Selain itu, hal-hal menarik yang ditunjukkan dalam film ini tentu saja adalah aspek budayanya, seperti roti goreng khas Indian (Indian fry bread) dan tradisi memotong rambut untuk menunjukkan dukacita; Arnold, yang digambarkan berambut panjang di awal film, memotong rambutnya setelah kematian orang tua Thomas dan tidak membiarkannya tumbuh panjang. Sementara itu Victor, yang telah memahami alasan di balik sikap ayahnya selama ini, juga akhirnya memotong rambutnya sebagai tanda dukacita pribadinya.

Ada juga adegan komedik favorit saya, yang muncul dalam bentuk seorang reporter cuaca untuk stasiun radio reservasi, yang melaporkan situasi lalu lintas dari persimpangan batas wilayah reservasi, di atas atap mobil van peramal cuaca yang “mogok sejak tahun 1972 dan tidak pernah diperbaiki.” Lucunya, karena jalanan di sekitar persimpangan itu amat sepi, laporan situasi lalu lintasnya seringkali nggak banget dan amat sangat berbeda dari laporan lalu lintas Jakarta ala Liputan 6 (“laporan lalu lintas, ada beberapa mobil melintas…yah, sebenarnya, tidak ada lalu lintas….”).

Sebagai penutup, ijinkan saya menyuguhkan lagu unik yang muncul di pertengahan film, John Wayne’s Teeth.  Lagu pendek tersebut dinyanyikan dengan gaya Kiowa, namun kini telah menjadi populer di kalangan suku-suku Indian lainnya dan kerap dinyanyikan dalam festival Pow wow. Lagu tersebut terinspirasi dari gaya bernyanyi yang diciptakan oleh kaum Indian Kiowa pada tahun 1911. Pada tahun itu, sebuah festival diadakan untuk para penambang emas kulit putih, dimana sebuah pertunjukan musik bertajuk Girls of 49 diadakan untuk menggambarkan Demam Emas. Karena orang-orang Indian tidak diijinkan untuk menghadiri festival, mereka pun menciptakan lagu-lagu mereka sendiri, termasuk lagu-lagu humoris.

John Wayne’s Teeth diciptakan sebagai ejekan untuk John Wayne, yang film-filmnya menjadikannya ikon kemaskulinan Amerika dan membuatnya dijuluki “koboi terhebat sepanjang masa,” dimana ia sering digambarkan menang melawan bandit-bandit Indian. Karena senyum khas Wayne adalah senyum miring yang tidak menampakkan giginya, lagu ini mengejek dengan mempertanyakan apakah gigi Wayne palsu atau tidak, dari besi ataukah plastik. Wayne pun terkenal akan komentar kontroversialnya mengenai kekonyolan rasa bersalah kaum kulit putih Amerika terhadap nasib orang Indian. Menurutnya, apa yang orang-orang sebut sebagai perampasan tanah oleh orang kulit putih dari orang Indian, sesungguhnya hanyalah sebuah upaya untuk bertahan hidup dengan cara menggali sumber-sumber daya apapun yang tersedia, yang dengan egois disimpan orang Indian untuk mereka sendiri.

Sumber :

Gonick, Larry. 2008. Kartun Riwayat Amerika Serikat. Jakarta : KPG

Common Portrayals of Aboriginal People. www.media-awareness.ca

wikipedia.org

Poster film Smoke Signals. Dari kiri : Victor (Adam Beach), Susie (Irene Bedard), dan Thomas (Evan Adams)

Begitu mendengar film “Indian Amerika”, apa yang ada di benak anda ? Orang-orang berwajah garang berambut hitam panjang, dengan bando kepala berbulu, wajah dicat, busur panah, menunggang kuda dan berteriak-teriak menyerbu gerombolan koboi ? Nah, film “Indian” yang satu ini sama sekali tidak menampilkan semua itu (tapi rambut gondrongnya iya). Smoke Signals (1998) adalah film drama independen garapan Chris Eyre, sutradara Amerika yang juga keturunan suku Arapaho dan Cheyenne, yang terkenal karena film-filmnya yang menolak stereotip khas Hollywood dalam film-film mereka yang menampilkan orang Indian. Skenarionya diangkat dari cerpen berjudul Lone Ranger and Tonto : Fistfight in Heaven karya Sherman Alexie.

Smoke Signals sendiri berkisah tentang dua pria muda Indian yang sudah saling mengenal sejak kecil, Victor Joseph (Adam Beach) dan Thomas Builds-the-Fire (Evan Adams). Mereka tinggal berdekatan di wilayah reservasi Indian Coeur D’Alene di Plummer, Idaho (tempat yang benar-benar ada). Keluarga mereka berdua disatukan oleh sebuah tragedi; sebuah kebakaran menghanguskan rumah Thomas dan membunuh kedua orang tuanya saat ia masih bayi. Arnold (Gary Farmer), ayah Victor, adalah orang yang menyelamatkan si bayi Thomas, sebelum kemudian Thomas diasuh oleh neneknya.

Tidak mengherankan bahwa, seumur hidupnya, Thomas selalu menganggap Arnold sebagai pahlawan, tidak peduli bahwa Arnold adalah seorang tukang mabuk yang sering memukuli istri dan anak kandungnya. Victor sendiri cukup menyayangi ayahnya, walaupun ketika beranjak dewasa sikapnya semakin bertambah dingin dan sinis, terutama setelah ayahnya meninggalkannya dan ibunya. Seumur hidupnya, Victor tak pernah memahami mengapa Thomas selalu menganggap Arnold pahlawan.

Suatu hari, ibu Victor menerima kabar dari sahabat Arnold, Susie Song (Irene Bedard), yang menyatakan bahwa Arnold telah meninggal dunia dan Susie telah berinisiatif mengkremasikan jasadnya. Susie meminta pada siapapun kerabat Arnold agar datang untuk mengambil abu jenazahnya. Victor pun memutuskan untuk pergi mengambil abu ayahnya, walau dengan agak ogah-ogahan. Thomas pun dengan setengah memaksa berhasil membujuknya agar diperbolehkan ikut (dengan sogokan berupa setoples uang celengan milik Thomas sebagai bekal perjalanan).

Kedua pemuda yang sifatnya berlainan itupun harus menghadapi satu sama lain dalam perjalanan panjang yang mereka lalui, melalui berbagai macam peristiwa baik yang menyedihkan maupun menggelikan, yang nyatanya malah mendekatkan diri mereka dengan cara yang unik, sebelum akhirnya kasih sayang dan kebencian berbenturan saat Victor dan Thomas menerima kaleng berisi abu jenazah Arnold serta mengetahui kenyataan sebenarnya di balik peristiwa kebakaran yang membunuh orang tua Thomas.

Secara keseluruhan, film ini bisa juga disebut sebagai road movie, karena plot terpenting film ini sebagian besar terjadi dalam sebuah perjalanan. Keunikan utama film ini adalah pada karakter Victor dan Thomas, yang saling bertabrakan 180 derajat, tetapi saling mengisi dalam cara yang unik. Thomas adalah pemuda lugu dan easy going yang memuja imaji romantis bangsa Indian, bahkan hingga sampai ke tahap dimana dirinya menonton Dances With Wolves ratusan kali dan bersemangat untuk belajar bagaimana menjadi “Indian sejati.” Victor, sebaliknya, lebih pragmatis dan cenderung sinis hingga sering merasa sebal tiap kali Thomas menyerocos mengenai pendapat pribadinya tentang orang Indian sejati (terutama ketika ia mulai memakai nama Arnold sebagai contoh).

Film ini sederhana, tanpa akting hiperbolis ala sinetron maupun efek khusus berlebihan khas Hollywood, namun menurut saya justru di situlah kesegarannya. Lewat film ini, Chris Eyre berhasil menunjukkan aspek-aspek penting dalam kehidupan bangsa Indian di masa kontemporer lewat adegan-adegan yang sederhana namun mengena (dan sesekali kocak dengan cara yang samar). Film ini berhasil meraih banyak penghargaan, di antaranya :

Best Film di American Indian Film Festival (1998)

Christopher Award (1998)

Special Recognition for Excellence in Filmmaking dari National Board of Review (1998)

Filmmaker’s Trophy untuk Chris Eyre dan Audience Award di Sundance Film Festival (1998)

Best American Independent Feature, Best Screenplay untuk Sherman Alexie, Best Actor untuk Adam Beach, dan Best Director untuk Chris Eyre di San Diego World Film Festival (1998)

Outstanding Achievement in Writing untuk Sherman Alexie, Outstanding Performance by an Actor in a Film untuk Evan Adams, dan Outstanding Achievement in Directing untuk Chris Eyre di First Americans in the Arts (1998)

Best Artistic Contribution untuk Chris Eyre di Tokyo International Film Festival (1998)

Taos Land Grant Award untuk Chris Eyre di Taos Talking Picture Festival (1998)

Best Newcomer untuk Chris Eyre dan Sherman Alexie di Florida Film Critics Circle Awards (1999)

Best Debut Performance untuk Evan Adams di Independent Spirit Awards (1999)

Daripada saya menimbulkan kekesalan akibat plot film yang sudah terlanjur bocor alias spoiler, silahkan menikmati filmnya sendiri di halaman ini. Review yang lebih lengkap akan saya beberkan di artikel selanjutnya.

Selamat menonton.

Sumber : wikipedia.org

Dari judulnya, jelas saya tidak menulis soal menstruasi. Postingan ini saya buat setelah saya teringat pertanyaan khas yang biasanya kita lontarkan bila rutinitas harian terasa begitu melelahkan : “kapan ya ada kalender yang tanggal merahnya lebih banyak dari sekarang ?” Lalu saya jawab sendiri pertanyaan itu, “nah, bagaimana kalau kalender bangsa Aztec ?”

Bangsa Aztec, yang dulunya mendiami wilayah Amerika Tengah dan mencapai puncak  kejayaan mereka pada abad 14, 15 dan 16 Masehi, adalah bangsa yang sangat religius. Setiap bulan dalam hitungan kalender mereka memiliki semacam hari khusus untuk melakukan upacara ritual keagamaan. Yang berarti, kalau diumpamakan sebagai kalender Masehi jaman sekarang, itu sama seperti kalender yang tiap bulannya selalu ada tanggal merah dan banyak kesempatan untuk makan-makan sampai teler. Kedengarannya sih asyik, sampai kita menyadari bahwa ‘tanggal merah’ dalam kalender Aztec sama saja dengan banjir darah.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa bangsa Aztec sangat terkenal dengan upacara yang melibatkan pengorbanan manusia. Malah, makin banyak darah makin baik. Soalnya, mereka percaya bahwa manusia, hewan, dunia dan seisinya tercipta karena pengorbanan diri para dewa. Alkisah, dalam mitos Legenda Lima Matahari yang menggambarkan penciptaan versi Aztec, para dewa mengorbankan tubuh mereka agar manusia bisa hidup. Akibatnya, bangsa Aztec menganggap segala hal yang ada di dunia ini sebagai tonacayotl alias ‘daging-spiritual,’ sementara manusia disebut sebagai macehualli alias ‘mereka yang berhak hidup lewat pengorbanan diri’ (dengan kata lain, manusia hanya numpang hidup di dunia karena hutang). Pengorbanan manusia pun diperhalus dengan istilah nextlahualli, ‘pembayaran hutang.’

Hal-hal yang penting tentu saja mendapat tempat dalam kalender. Maka, dalam sistem kalender bangsa Aztec yang terdiri dari delapan belas bulan, ditetapkan hari-hari khusus dalam tiap bulan untuk melakukan upacara religius yang berujung pada ritual pengorbanan, ditujukan untuk dewa tertentu dan dengan metode pemilihan korban serta eksekusi yang berbeda pula. Begitu banyaknya kebutuhan akan korban manusia, hingga sesama suku bangsa Aztec sering sekali berperang antar tetangga agar bisa mendapat tawanan perang alias pasokan cukup untuk upacara-upacara persembahan mereka.

Berikut adalah tiap bulan dalam kalender bangsa Aztec beserta padanan kalender Masehinya, beserta dewa-dewa yang dirayakan dan korban-korban yang wajib dipersembahkan.

1. Atlacacauallo (2 sampai 21 Februari)

Ini adalah bulan yang khusus dipersembahkan untuk dewa air. Dewa utama yang diberi persembahan adalah Tlaloc, dewa yang menguasai hujan, kesuburan dan air. Korban yang dipersembahkan adalah anak-anak dan bayi. Karena Tlaloc adalah dewa air, para pendeta Aztec biasanya membuat anak-anak kecil menangis dengan cara mencabuti kuku mereka sebelum menusuk dada dan mencabut jantung mereka. Ini dilakukan agar dewa tersebut merasa senang.

Sebuah bagian dari tungku pembakaran yang menggambarkan kepala Tlaloc, dari Templo Mayor di Mexico City

2. Tlacaxipehualiztli (22 Februari sampai 13 Maret)

Ini adalah bulan persembahan bagi Xipe Totec, dewa pertanian dan tanaman, serta Huitzilopochtli, dewa matahari dan perang. Yang dikorbankan dalam upacara bulan ini adalah tawanan perang. Untuk menyenangkan Huitzilopochtli, para tawanan diberi ‘senjata’ berupa gagang pedang berujung bulu dan disuruh bertarung melawan lima orang ksatria Aztec terbaik yang bersenjata lengkap, sampai mati. Sementara untuk menyenangkan Xipe Totec, seorang tahanan dicekik dan dikuliti, lantas kulit itu akan dipakai oleh seorang pendeta yang melakukan tarian ritual, sebelum menyarungkan kulit itu pada patung sang dewa. Kulit orang mati yang membungkus patung melambangkan lapisan tua daun jagung yang membungkus jagung matang, lambang kesuburan. Terkadang, seorang tawanan akan diikat dan dihujani anak-anak panah hingga darahnya menetes ke tanah dan diharapkan memberi kesuburan.

Patung Xipe Totec

Ilustrasi Huitzilopochtli dalam Codex Telleriano-Remensis

3. Tozoztontli (14 Maret sampai 2 April)

Ini adalah bulan untuk menghormati Coatlicue, dewi bumi, bulan dan bintang yang juga adalah pelindung para wanita yang meninggal saat melahirkan. Tlaloc juga diberi persembahan, mengingat kaitannya yang erat dengan bumi sebagai dewa hujan dan kesuburan. Korban yang dipilih adalah anak-anak, yang dibuat menangis lebih dahulu sebelum dicabut jantungnya dan dikuliti. Kulit-kulit mereka kemudian dikubur sebagai persembahan untuk sang dewi bumi.

Patung Coatlicue di National Museum of Anthropology and History in Mexico City

4. Hueytozotli (3 sampai 22 April)

Ini adalah bulan untuk menghormati Quetzalcoatl, dewa tertinggi bangsa Aztec yang menguasai angin, pengetahuan, seni, dan pelindung para pedagang serta pewujudan fajar serta planet Venus. Untuk menyenangkan dewa berwujud ular berambut ini, korban yang dipilih adalah seorang gadis perawan serta sepasang anak lelaki dan perempuan yang dibunuh dengan cara ditusuk dadanya, sebelum jantung mereka ditarik keluar dalam keadaan masih berdenyut.

Quetzalcoatl, yang berwujud ular berambut, menelan korban. Ilustrasi dari Codex Telleriano-Remensis

5. Toxcatl (23 April sampai 12 Mei)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tezcatlipoca, dewa dengan deskripsi tugas paling banyak dalam mitologi bangsa Aztec. Tercatat, dewa ini melambangkan banyak aspek seperti malam, badai, bumi, arah Utara, batu obsidian, pertikaian, godaan, ramalan, sihir, jaguar, kecantikan, dan perang. Namanya sendiri berarti ‘cermin berasap,’ yang merujuk pada batu obsidian yang sering dijadikan alat meramal oleh pendeta Aztec, serta bahan pembuat cermin (teka-teki mengapa ia dikaitkan dengan kecantikan terjawab sudah).

Korban yang dipilih adalah seorang anak muda tampan, yang telah ditunjuk setahun sebelum festival. Selama setahun, pemuda tersebut akan dijadikan semacam perwakilan Tezcatlipoca, dan hidup seperti seorang selebriti. Ia dimanjakan dengan pakaian indah, perhiasan, serta makanan lezat. Sebagai perwakilan dewa, semua orang akan memujanya, dan pemuda itu akhirnya akan dinikahkan dengan empat orang gadis sekaligus. Ia akan bebas dari kerja keras, dan menjalani hari-harinya dengan berpesta dan bersenang-senang (di dunia modern, tagihan kartu kreditnya bakalan luar biasa). Baru pada hari yang ditentukan, pemuda itu akan disuruh mendaki kuil, dibaringkan di altar, lantas dicabut jantungnya, sebelum tubuhnya akhirnya dimakan oleh para pendeta. Dan tak lama setelahnya, seorang korban baru akan ditetapkan.

Topeng batu pirus yang melambangkan Tezcatlipoca, koleksi British Museum

6. Etzalcualitzli (13 Mei sampai 1 Juni)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tlaloc dan Quetzalcoatl. Korban yang dipilih adalah anak-anak serta remaja lelaki dan perempuan, yang dikorbankan dengan cara didorong ke dalam cenote (cekungan alami yang dalam dan terisi air) setelah kaki mereka diberati batu, atau dengan cara favorit semua orang yaitu ditusuk sebelum dicabut jantungnya.

7. Tecuilhuitontli (2 Juni sampai 21 Juli)

Ini adalah bulan untuk menghormati Xochipilli, dewa pelindung seni, permainan, kecantikan, tarian, dan lagu. Namanya saja tergolong ‘imut’ untuk dewa yang berasal dari peradaban yang menyukai darah, karena berasal dari kata xochitl yang berarti ‘bunga’ dan pilli yang berarti ‘pangeran/anak.’ Dia juga adalah pelindung khusus bagi para homoseksual dan pelacur lelaki. Definisi korbannya tidak terlalu ketat seperti dewa-dewa yang dijelaskan sebelumnya, dan metode pengorbanannya juga yang biasa yaitu dengan penusukan dan pencabutan jantung. Nampaknya dewa ini memang lebih suka bersenang-senang dan fly dengan sejenis bunga yang bersifat halusinogenik, yang oleh orang Aztec disebut temicxoch, ‘bunga mimpi.’

Tiruan dari patung Xochipili berusia 400 tahun yang ditemukan di dekat gunung berapi Popocatepetl pada abad ke-19

8. Hueytecuihutli (22 Juni sampai 11 Juli)

Ini adalah bulan untuk menghormati Xilonen alias Chicomecoatl, dewi yang dikaitkan dengan tanaman jagung dan keberlimpahan hasil panen. Korban yang dipilih tentu saja adalah seorang gadis muda, dimana gadis ini mula-mula akan didandani dengan bunga-bungaan dan daun jagung, sebelum disuruh menari-nari di padang rumput sebagai representasi dari sang dewi. Gadis itu kemudian akan dipenggal kepalanya dan dicabut jantungnya. Pendeta Aztec kemudian akan menuangkan darah si gadis ke atas patung sang dewi, sebelum menguliti mayatnya dan mengenakan kulitnya dalam sebuah tarian ritual.

Ilustrasi Chicomecoatl dalam Rig Veda Americanus

9. Tlaxochimaco (12 Juli sampai 31 Juli)

Ini adalah bulan untuk menghormati Mictlantecuhtli, dewa kematian yang juga penguasa Mictlan, dunia roh versi Aztec. Dewa ini digambarkan berwujud mirip kerangka dengan bola mata yang menonjol, maka metode pengorbanan yang digunakan adalah mengurung tawanan perang di dalam gua atau kuil sampai mati kelaparan.

Patung keramik Mictlantecuhtli yang digali dari House of Eagles di Templo Mayor, Mexico City. Koleksi Museum Templo Mayor

10. Xocotlhuetzin (1 sampai 20 Agustus)

Ini adalah bulan untuk menghormati Xiuhtecuhtli, dewa api. Bagi bangsa Aztec, ia sangat penting karena melambangkan berbagai aspek; gunung berapi, kehangatan di tengah hawa dingin, cahaya di tengah kegelapan, hingga makanan di kala kelaparan. Dalam festival untuk menghormati Xiuhtecuhtli, para korban yang terdiri dari tawanan perang ditusuk dadanya dan dicabut jantungnya, lantas tubuhnya dibakar.

Patung Xiuhtecuhtli di British Museum

11. Ochpaniztli (21 Agustus sampai 9 September)

Ini adalah bulan khusus untuk menghormati Atlatonin dan Tlazolteotl (atau Toci, kalau merasa bahwa nama panjangnya terdengar seperti kita menelan kura-kura), ‘Dewi Ibu’ bangsa Aztec. Tlazolteotl adalah dewi yang sangat tua, dan dihubungkan dengan penyembuhan penyakit; itulah sebabnya ia sangat dihormati oleh para tabib dan bidan. Sedangkan Atlatonin adalah istri Tezcatlipoca, yang merupakan dewi penguasa pesisir pantai. Untuk menghormati Tlazolteotl, seorang gadis muda akan dicekik dan dikuliti, lantas kulitnya dikenakan oleh seorang pemuda yang menarikan tarian ritual. Sementara untuk Atlatonin, seorang tawanan perang akan didorong dari ketinggian hingga tewas.

Patung Tlazolteotl dari masa tahun 900-1521 Masehi. Koleksi British Museum

12. Teoleco (10 sampai 29 September)

Ini adalah bulan untuk menghormati dewa muda bernama Xochiquetzal. Yang dikorbankan adalah tawanan perang dengan metode penusukan dan pencabutan jantung, pembakaran, atau gabungan semuanya.

13. Tepeihuitl (30 September sampai 19 Oktober)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tlaloc dan Chicomecoatl. Yang dikorbankan, seperti yang sudah-sudah, adalah anak-anak untuk Tlaloc dan dua wanita bangsawan untuk Chicomecoatl. Para anak akan dibuat menangis dahulu sebelum ditusuk dan dicabut jantungnya, sementara yang wanita akan dicekik sampai mati sebelum dikuliti. Daging para korban kemudian akan disantap dalam sebuah ritual kanibal. Bahkan, para orang tua dan kerabat dari para korban pun akan ikut memakan daging mereka.

14. Quecholli (20 Oktober sampai 8 November)

Ini adalah bulan untuk menghormati Coatlicue. Korban yang dipilih bulan ini adalah gadis atau tawanan perang, yang akan dipukuli dengan benda tumpul hingga mati dan/atau dipenggal kepalanya, sebelum dicabut jantungnya.

15. Panquetzaliztli (9 sampai 28 November)

Ini adalah bulan untuk menghormati Huitzilopochtli. Korban yang dipersembahkan untuk dewa perang ini tetap para tawanan perang, selain juga budak. Tetapi, berbeda dengan sebelumnya, bentuk pengorbanannya adalah pengorbanan masal dengan cara pencabutan jantung (yang pasti membutuhkan stamina dan konsentrasi penuh dari para pelatih aerobik, maaf, pendeta Aztec).

16. Atemoztli (29 November sampai 18 Desember)

Ini adalah bulan untuk menghormati Tlaloc. Korbannya seperti biasa yaitu anak-anak dan para budak. Anak-anak ditusuk dan dicabut jantungnya, sementara para budak dipenggal kepalanya.

17. Titil (19 Desember sampai 7 Januari)

Ini adalah bulan untuk menghormati Citlacicue atau Ilamatecuhtli, dewi bintang, dan Yacatecuhtli, dewa pelindung para pedagang keliling dan pengembara. Korban yang dipilih adalah seorang wanita yang dicabut jantungnya dan dipenggal kepalanya.

18. Izcalli (8 Januari sampai 27 Januari)

Ini adalah perayaan besar-besaran untuk menghormati Xiuhtecuhtli. Disebut besar-besaran karena bulan festival terakhir ini menandakan Hari Api Baru, yang melambangkan pergantian tahun. Dalam festival ini, pendeta Aztec menyiapkan sebuah tungku pembakaran raksasa yang merupakan perlambang bagi sang dewa. Para korban yang terdiri atas seorang pemuda dan empat orang wanita (melambangkan empat istri Xiuhtecuhtli), serta para tawanan perang kemudian dilemparkan hidup-hidup ke dalamnya.

19. Nemontemi (28 Januari hingga 1 Februari)

Ini tidak dihitung dalam kalender perayaan, karena termasuk hari-hari yang dianggap sial. Pada hari-hari tersebut, tidak satupun festival atau upacara boleh dilakukan.

Kalau yang tersedia hanya kalender seperti ini, saya lebih suka punya kalender tanpa tanggal merah satu kalipun.

Sumber : wikipedia.org

Willis, Roy. 2006. World Mythology. London : Duncan Baird Publishers.

Halo.

Berhubung saya sudah lama tidak posting artikel, saya ingin mulai dengan sesuatu yang agak spektakuler, dan sesuai bidang yang saya pelajari saat kuliah : psikologi. Jujur, satu hal yang menarik orang-orang untuk belajar psikologi pastinya adalah seluk-beluk ‘keanehan’ yang bisa ditimbulkan dari pikiran manusia, yang masing-masing unik. Tentunya termasuk kelainan alias abnormalitas. Secara seksual.

Oke, konsentrasi, dan mari kita mulai dengan paraphilia. Dalam psikologi, itu berarti rangsangan seksual yang dialami seseorang karena suatu obyek atau perilaku tertentu yang berada di luar ruang lingkup hubungan seks kopulatif yang normal. Yang paling umum terjadi biasanya foot fetishism atau hair fetishism, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengemut, menjilat, mencium kaki atau rambut pasangannya sebelum berhubungan seks, lantaran bagian-bagian tubuh itulah yang membangkitkan gairahnya.

Paraphilia bisa juga diekspresikan lewat cara berpakaian tertentu, misalnya seorang lelaki yang hobi mengenakan pakaian dalam wanita (bayangkan : tampilan luar gagah, pakai jas dan dasi, di bawahnya bra dan celana dalam berenda). Penyebabnya macam-macam. Bisa karena trauma seksual yang membuat seseorang ogah berhubungan secara normal dengan orang lain, perilaku yang dipelajari dari lingkungan, atau kesan yang didapat di masa lalu yang tertanam dalam benak (misalnya, saat kecil, seseorang mendadak mengalami kesenangan yang tak dapat dijelaskan saat melihat wanita mengurai rambut, maka hal itu bisa berkembang menjadi fetish saat ia dewasa).

Tapi, kalau yang seperti itu paling banter membuat orang mengerutkan kening, jenis-jenis paraphilia berikut mungkin membuat orang mengerutkan kening dan melongo, bahkan merinding jijik.

1. The Bug Chaser (Ketertarikan terhadap Resiko Tertular AIDS)

You heard right. Sementara brosur-brosur, iklan layanan masyarakat dan buku-buku mengajak orang untuk menghindari HIV AIDS, ada  juga orang-orang yang merasa terangsang untuk berhubungan seksual dengan orang yang memiliki virus AIDS. Tanpa kondom. Biasanya, orang-orang ini adalah para pecandu seks yang tidak cukup puas dengan perilaku seks yang lebih tidak berisiko. Tetapi, di beberapa negara, ada yang melakukannya supaya tertular demi mendapat tunjangan pemerintah.

2. Menophilia (Ketertarikan terhadap Darah Menstruasi)

Biasanya tidak ada orang yang akan bilang bahwa darah menstruasi itu indah atau merangsang. Tapi, kalau ada orang yang terangsang mencium bau darah menstruasi, berhasrat untuk ‘begituan’ dengan wanita yang sedang menstruasi, bahkan mengunyah-ngunyah tampon atau pembalut, besar kemungkinan ia mengidap menstruation fetish. Saat ini, belum terlalu jelas apa yang menyebabkan kecenderungan ini.

3. Emetophilia (Ketertarikan terhadap Muntah)

Kalau ada orang yang muntah di sekitar kita, kemungkinannya adalah kita menjauh, atau kita ikut muntah karena jijik. Tetapi, pengidap emetophilia justru akan mendekat karena terangsang. Metodenya bisa macam-macam. Bisa dengan melihat atau mendengar suara orang muntah, sampai memuntahi atau dimuntahi pasangannya ketika sedang berhubungan seks. Bagi mereka, proses muntah itu sama seperti “kejang, ejakulasi, dan kelegaan” yang dialami saat berhubungan seks. Nama populer untuk kegiatan memuntahi pasangan adalah Roman shower, berangkat dari cerita tentang pesta gila-gilaan jaman Romawi kuno yang biasanya membuat para tamu pesta muntah karena kebanyakan makan dan minum.

Ilustrasi abad pertengahan yang menggambarkan seorang wanita (kiri) yang merasa senang melihat seorang pria muntah

4. Urolagnia (Ketertarikan terhadap Buang Air Kecil)

Ilustrasi bergaya klasik yang menggambarkan seorang wanita sedang mengencingi mulut pasangannya

Sama seperti emetophilia, pengidap urolagnia juga terangsang ketika melihat orang buang air kecil atau mendengar suara kucuran air yang menandakan kegiatan tersebut. Mereka bahkan bertindak lebih jauh dengan mengencingi atau dikencingi pasangannya. Yang lainnya merasa terangsang bila mencium bau, meminum atau mandi air kencing, atau mengompol/melihat pasangannya mengompol. Atau (apa saya harus berhenti sekarang ?) dalam hubungan sado-masokisme, seseorang bisa saja memaksa pasangannya untuk menahan kencing, dan terangsang melihat wajah menderita mereka. Anggota komunitas gay di Amerika Serikat yang sedang mencari pasangan biasanya menaruh bandana kuning di saku celana kiri atau kanan, untuk menunjukkan kecenderungan urolagnia.

Nama populer untuk kegiatan mengencingi pasangan adalah golden shower. Tetapi bukan hanya monopoli manusia, karena sejenis primata bernama bonobo bahkan pernah diamati melakukan ‘teknik’  ini saat berhubungan seks (ilmuwan yang mengamati hal ini mungkin perlu diamati juga). Dan kalau mau melakukan ini di New Zealand, sebaiknya berhati-hati, karena perilaku urolagnia adalah tindak pidana yang ancamannya sepuluh tahun penjara.

5. Formicophilia (Ketertarikan terhadap Serangga)

Dan yang saya maksud bukan ketertarikan ilmiah. Pengidap formicophilia biasanya terangsang secara seksual ketika tubuhnya dirayapi serangga. Efek yang diburu biasanya rasa menggelitik atau menyengat. Caranya bisa dengan menaruh serangga seperti semut atau kumbang di alat kelamin atau bagian-bagian tubuh lainnya.

6. Mechaphilia (Ketertarikan terhadap Alat Transportasi Bermotor)

Bagi sebagian orang, mobil atau motor pribadi itu seperti istri kedua, yang tentu saja sebuah perumpanaan. Tetapi pengidap mechaphilia kemungkinan akan senang kalau hal itu bisa benar-benar terjadi, karena mereka benar-benar merasakan ketertarikan seksual terhadap alat transportasi bermotor. Bahkan hingga ke titik ‘berhubungan seks’ (biasanya dengan masturbasi menggunakan cara-cara yang rinciannya hanya mereka sendiri yang tahu). Di Amerika Serikat, pengidap mechaphilia paling terkenal yang profilnya masuk dalam film dokumenter Channel Five adalah Edward Smith.

Smith, 57, secara terang-terangan mengaku bahwa pengalaman seksual pertamanya adalah dengan sebuah mobil saat berusia 15 tahun, dan ia mengklaim bahwa ia tak pernah merasa tertarik pada wanita maupun pria. Saat ini, ia sedang menjalin ‘hubungan’ dengan sebuah Volkswagen Beetle putih yang dipanggilnya Vanilla. Lagi-lagi menurutnya (dan terpaksa kita hanya bisa membayangkannya), pengalaman seks paling intensnya adalah dengan sebuah helikopter yang digunakan dalam syuting film aksi terkenal tahun 1980-an, Airwolf. Saat ini, ia juga ‘akrab’ dengan sebuah mobil Opal GT 1973 yang dipanggilnya Cinnamon, dan Ford Ranger Splash 1993 yang dipanggil Ginger. 12 tahun lalu, ia pernah memiliki kekasih wanita, namun tak pernah berhasrat untuk berhubungan seks dengannya.

 

Edward Smith bersama ‘kekasih’-nya, Vanilla, dan ‘partner seks terhebat’-nya, helikopter yang digunakan untuk syuting film Airwolf

7. Chremastistophilia (Kertarikan terhadap Kemungkinan Dirampok atau Diculik)

Para penjahat yang pintar mungkin akan berpikir untuk belajar dulu sebelum mencari korban, karena para pengidap chremastistophilia kemungkinan bukannya ketakutan ketika dirampok atau diculik, tetapi malah senang bahkan terangsang. Hal ini berbeda dengan fantasi seksual ‘perampok dan korban’ yang mungkin dilakukan untuk variasi oleh pasangan yang tahu-sama-tahu, karena perilaku pengidap chremastistophilia lebih berisiko. Mereka seringkali pergi ke lokasi rawan atau memancing-mancing agar dirampok, ditodong, atau diculik.

8. Necrophilia (Ketertarikan terhadap Mayat)

“Kalau ada yang masih hidup, ngapain begituan dengan yang sudah mati ?” Kebanyakan orang mungkin berpikir begitu. Tetapi, pengidap necrophilia justru memiliki ketertarikan seksual terhadap yang sudah mati, alias mayat. Kadarnya bermacam-macam, mulai dari yang ringan seperti permainan peran, dimana pasangan sungguhan yang masih hidup diminta berpura-pura menjadi mayat saat berhubungan seks, hingga exclusive necrophilia dimana pengidapnya benar-benar hanya suka berhubungan seks dengan mayat.

Penyebabnya bisa karena percaya diri yang amat rendah, trauma seksual masa lalu atau kegagalan traumatis dalam menjalin hubungan, yang membuat pengidapnya memilih partner yang tidak responsif, tidak dapat melawan, dan tidak dapat menolaknya. Ada juga pembunuh yang dengan sengaja memerkosa mayat korbannya untuk menunjukkan dominasinya atas korban, biasanya terjadi ketika si pembunuh merasa amat dendam atau pernah dilecehkan korban. Di jaman Mesir Kuno, mayat gadis bangsawan muda yang baru meninggal biasanya disimpan dulu oleh keluarganya selama beberapa hari sampai membusuk sebelum dibalsem, demi menghindari nafsu si tukang balsem.

9. Vorarephilia (Ketertarikan terhadap Kanibalisme)

Anda begitu mencintai pasangan anda sedemikian rupa sampai berhasrat untuk memakannya, atau bahkan dimakan olehnya ? Nah, kalau ya, mungkin anda adalah pengidap vorarephilia. Berbeda dengan para kanibal yang melakukannya atas alasan tradisi atau demi bertahan hidup (sudah baca Alive ?), pengidap vorarephilia terangsang akan kemungkinan memakan atau dimakan pasangannya. Tentu saja, hal ini biasanya hanya bisa dipuaskan lewat, misalnya, gambar-gambar atau cerita, karena sulit diwujudkan di dunia nyata.

Untuk lebih memberi gambaran, coba cari film Jepang berjudul The Last Supper, yang menggambarkan dokter bedah plastik yang juga pengidap vorarephilia (jangan lewatkan adegan saat si dokter mengadakan candlelight dinner romantis bersama seorang gadis cantik…yang hanya tinggal kepalanya saja karena anggota badannya sudah ada di piring-piring makan si dokter).

Di dunia nyata, kasus vorarephilia paling terkenal adalah pembunuhan yang dilakukan seorang Jerman bernama Armin Meiwes terhadap seorang pemuda bernama Bernd Jurgen Brandes, yang ditemuinya lewat sebuah perjanjian kencan di internet, pada tahun 2003. Konon, Meiwes memasang iklan seperti ini : “Dicari pemuda tinggi dan sehat berumur antara 18-30 tahun, untuk dimakan.” Menurut kesaksiannya, ia mengamputasi alat kelamin Brandes atas permintaan si pemuda sendiri, dimana organ tubuh itu mereka makan berdua. Baru setelah itu Meiwes membunuh Brandes dan memakan mayatnya, yang memakan waktu 10 bulan sampai habis. Walaupun Meiwes kini sudah dinyatakan bersalah dan menjalani hukuman seumur hidup, orang-orang masih berdebat soal apakah Brandes merupakan korban sukarela atau bukan.

Poster film ‘Butterfly, the Grimm Love Story’ (2007), film pemenang berbagai penghargaan yang terinspirasi oleh sepak terjang Armin Meiwes dalam pembunuhan terhadap Brandes

10. Zoophilia (Ketertarikan terhadap Hewan)

‘Ancient Greek Sodomizing a Goat,’ adegan dari ‘De Figuris Veneris’ oleh F. K. Forbergs, ilustrasi buatan Edouard-Henri Avril

Juga bukan ketertarikan ilmiah, karena pengidap zoophilia memiliki hasrat untuk berhubungan seksual dengan hewan. Ada yang melakukannya karena ‘kepepet’, misalnya karena tidak mampu membendung hasrat seksualnya padahal tinggal di daerah terpencil tanpa sumber penyaluran. Ada juga yang melakukannya karena ketertarikan terhadap hal-hal yang menyalahi aturan alam, atau merasa tertekan dan ingin menemukan pelepasan dari kungkungan norma masyarakat yang dirasa terlalu sesak, termasuk norma dalam berhubungan seks.

Kasus zoophilia paling terkenal di tahun 2000-an mungkin adalah peristiwa kematian Kenneth Pinyan, seorang insinyur penerbangan di perusahaan Boeing di Washington. Pada tahun 2005, Pinyan meninggal akibat infeksi pada usus setelah melakukan seks anal dengan seekor kuda jantan di sebuah peternakan. Penyebabnya, yang melakukan penetrasi bukanlah dirinya terhadap si kuda, melainkan sebaliknya yaitu si kuda-lah yang melakukan penetrasi (jangan tanya bagaimana caranya, karena saya sendiri sampai sekarang masih berusaha merekonstruksinya dalam kepala). Kisah hidup serta kematiannya kemudian diabadikan dalam film dokumenter berjudul Zoo (2007).

11. Coprophilia (Ketertarikan terhadap Tinja)

Sama seperti urolagnia, pengidap coprophilia memiliki ketertarikan seksual yang melibatkan tinja alias feses. Perilakunya antara lain mencakup menonton pasangan yang sedang buang air besar, hingga menyuruh pasangan untuk buang air besar di atas tubuhnya atau bahkan mulutnya (atau sebaliknya). Di Amerika Serikat, istilah Cleveland Cleaner sering dipakai untuk menyebut aktivitas seksual ini. Bahkan ada pula variasi yang disebut Dirty Sanchez, yaitu mengoleskan tinja di atas bibir pasangan menyerupai kumis (semua harus punya nama, ‘kan ?). Konon, Eva Braun, istri Adolf Hitler, buang air kecil dan besar di atas tubuh Hitler tiap kali mereka berhubungan seks. Dan sekarang kita tahu kenapa Hitler seolah selalu berwajah cemberut.

12. Dendrophilia (Ketertarikan terhadap Pohon)

Yang satu ini mungkin bahkan bisa membuat anggota Greenpeace atau WWF lari menjauh. Dendrophilia adalah ketertarikan seksual terhadap pohon, dimana pengidapnya bisa terangsang bahkan hanya dengan memandang sebatang pohon (menunjukkan betapa gampangannya kita ini kadang-kadang). Perilaku tersebut kemudian bisa berlanjut menjadi masturbasi menggunakan permukaan atau bagian-bagian dari sebatang pohon.

13. Agalmatophilia (Ketertarikan terhadap Benda-benda Mati)

Apa saja alasan anda untuk memasuki sebuah bangunan seperti Monas, Menara Eiffel atau Patung Liberty ? Rasa patriotisme, keingintahuan intelektual, atau sekedar berekreasi ? Nah, kalau anda memasuki sebuah bangunan lantaran hasrat amat kuat untuk melihat bagaimana pemandangan di balik rok si Nona Liberty, misalnya, besar kemungkinan anda pengidap agalmatophilia. Orang-orang ini cenderung terangsang kepada benda-benda mati, tidak hanya sebatas bangunan, bahkan hingga ke titik ingin berhubungan seks dengan ‘mereka’. Tentu saja hal-hal seperti ini biasanya murni fantasi, tetapi orang yang benar-benar berhasil mewujudkan keinginan mereka untuk ‘bersatu’ dengan benda-benda mati ternyata ada.

Erika La Tour Eiffel adalah mantan prajurit yang tinggal di San Fransisco yang juga dikenal sebagai pengidap agalmatophilia. Ia terang-terangan menyatakan cintanya pada Menara Eiffel, dan bahkan mengadakan ‘upacara pernikahan’ yang dihadiri teman-teman dekatnya. Bahkan, menurutnya, cinta pertamanya bukanlah kepada seorang pria, melainkan busur kesayangannya yang diberinya nama Lance. Nama belakangnya adalah hasil penggantian nama yang dilakukannya secara legal demi ‘mengesahkan pernikahannya.’ Selain itu, ada juga wanita Jerman bernama Eija Riitta Berliner Mauer yang mengidap agalmatophilia sejak kecil dan ‘menikah’ dengan Tembok Berlin pada tahun 1979, dan Lee Jin-gyu, pria Korea yang menikah dengan bantal guling kesayangannya (ini sungguhan !).

 

Erika dan Lee bersama ‘pasangan’ mereka

Tidak diketahui bagaimana rincian bulan madu mereka.

Sumber : wikipedia.org serta tautan-tautan yang ada di tiap halaman (bukan dari pengalaman pribadi sebagaimana yang sebagian dari anda mungkin sudah mulai tuduhkan pada saya).

Mad scientist. Terdengar seperti judul film horor kelas B dimana plotnya tidak jauh-jauh dari ilmuwan sinting yang eksperimennya lepas kendali, bukan ? Dan siapa tidak kenal Dr. Frankenstein atau Dr. Jeckyll, ilmuwan sinting paling terkenal sepanjang sejarah dunia fiksi ? Sementara ada ilmuwan yang menemukan jamur penisilin, mobil ramah lingkungan dan vaksin TBC, orang-orang ini mendobrak batasan atau bahkan menyingkirkan segala etika keilmuan demi mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka yang meledak-ledak.

Nyatanya, ilmuwan sinting bukan hanya produk fiksi. Beberapa ilmuwan tersinting yang tercatat dalam sejarah akan membuat Dr. Frankenstein kabur sambil terkencing-kencing. Itu tentu saja karena mereka menerapkannya pada makhluk hidup sungguhan, termasuk manusia !

Berikut daftarnya (yang terbaik yang bisa saya kumpulkan).

1. Josef Mengele (1911-1979)


Mereka yang menekuni segala sesuatu tentang Perang Dunia serta Nazi pasti mengenal nama ini. Josef  Mengele adalah salah satu ‘ilmuwan’ SS yang bertanggung-jawab menyortir tahanan, dengan kata lain menentukan siapa yang harus dibunuh dan siapa yang dijadikan pekerja paksa. Lulusan Munich University bidang Antropologi dan Frankfurt University bidang kedokteran ini juga memanfaatkan statusnya untuk melakukan percobaan terhadap para tahanan. Menurut kesaksian mantan tahanan, ketika Dr. Mengele berdiri untuk mengarahkan para tahanan menuju entah ruang gas atau kamp kerja paksa, tangannya yang mengacung ditambah jubah putihnya nampak seperti malaikat, membuatnya dijuluki der weiße Engel (Malaikat Putih) dan Angel of death (Malaikat Kematian).

Beberapa eksperimennya yang terkenal, yang kebanyakan dilakukan di Blok 10 Kamp Auschwitz-Birkenau :

- Mengambil darah salah satu dari sepasang anak kembar dan menyuntikkannya ke tubuh kembarannya untuk melihat efeknya.

- Menyuntikkan tinta biru ke mata anak-anak untuk melihat apakah warna mata mereka akan berubah

- Menyatukan paksa tubuh sepasang anak kembar menjadi ‘kembar siam’

- Melakukan bedah untuk mengangkat organ-organ tubuh tertentu serta amputasi, semua tanpa bius

- Membaringkan empat belas pasang anak kembar dari Roma di meja-meja bedah, menyuntikkan kloroform langsung ke jantung mereka, sebelum membedah mayat mereka

- Mencabut bola mata salah satu anak kembar dan memasang bola mata itu di bagian belakang saudara kembarnya (Mengele sangat terobsesi dengan anak kembar)

- Melakukan sterilisasi paksa terhadap subyek wanita

Dari sekitar tiga ribu anak kembar yang menjadi subyeknya, hanya seratus orang yang bertahan hidup. Ironisnya, Mengele memperlakukan subyek-subyek ‘penelitian’nya jauh lebih baik dari tahanan biasa. Saat mengunjungi mereka, terutama anak-anak, Mengele akan tersenyum, memberi mereka permen, dan menyebut dirinya Paman Mengele.

Setelah kejatuhan Hitler, Mengele berhasil menghindari penangkapan dan pengadilan penjahat perang selama lebih dari 30 tahun. Pada tanggal 6 Juni 1985, polisi Jerman menggali sebuah makam di wilayah Embu, Gunzburg, yang diyakini sebagai makam Mengele. Tahun 1992, tes DNA membuktikan bahwa jenazah tersebut benar Mengele. Kini, kerangka Mengele disimpan oleh Dr. Rubens Maluf dari São Paulo Institute for Forensic Medicine, karena keturunan Mengele menolak menerimanya.

2.  Shiro Ishii (1892-1959)

Dr. Ishii mungkin tidak menciptakan Godzilla, tetapi ia jelas lebih gila daripada ilmuwan-ilmuwan pencipta monster raksasa fiktif  itu. Ahli mikrobiologi lulusan Kyoto Imperial University ini menjabat sebagai letnan jendral dalam Unit 731, unit khusus senjata biologis yang dibentuk dalam tubuh Pasukan Imperial Jepang selama berlangsungnya Perang Cina-Jepang. Ishii secara khusus membangun seratus lima puluh bangunan di area seluas 6 kilometer persegi di luar Kota Harbin, Cina, untuk eksperimennya. Kepada penduduk sekitar, ia mengatakan bahwa bangunan-bangunan itu ditujukan untuk proyek pemurnian air.

Kenyataannya, dalam bangunan itu, Ishii melakukan eksperimen terhadap lebih dari sepuluh ribu tahanan yang ‘disediakan’ oleh pasukan kempeitai. Ishii dan rekan-rekannya menyebut para tahanan itu sebagai maruta, “batang kayu”, sebagai bahasa sandi sekaligus menyiratkan bahwa tahanan-tahanan itu hanyalah benda-benda yang bisa diganti dengan mudah.

Percobaan-percobaannya yang terkenal, yang dilakukan sejak tahun 1932 :

- melakukan pembedahan hidup-hidup terhadap manusia, termasuk seorang wanita yang sebelumnya telah dihamilinya

- membekukan anggota-anggota tubuh tahanan sebelum melelehkannya, untuk melihat efek gangren

- menyuruh prajurit-prajurit yang menderita sifilis untuk memerkosa tahanan lelaki dan perempuan, untuk melihat efek dari penyakit menular seksual yang tidak dirawat

- menyuntik tahanan dengan virus anthrax, kolera dan pes dengan menyamarkannya sebagai vaksin, sebagai percobaan untuk membuat senjata biologis

- mengamputasi anggota tubuh tahanan dan memasangnya lagi di bagian tubuh yang berbeda

- menjadikan tahanan hidup sebagai sasaran penggunaan berbagai macam senjata seperti granat dan penyembur api

Pada tahun 1945, menjelang akhir Perang Pasifik, pihak Jepang yang berada di ambang kekalahan segera membakar markas Unit 731 untuk menghapus bukti-bukti tindakan tidak manusiawi terhadap tawanan perang disana. Dr. Ishii juga memerintahkan agar seratus lima orang subyek yang masih hidup dibunuh.

Pada akhir Perang Dunia Kedua, Ishii ditahan oleh pihak Amerika sebagai penjahat perang, namun kemudian ia beserta pimpinan Unit 731 lainnya diberi imunitas oleh Tribun Tokyo pada tahun 1946, sebagai ganti informasi mengenai senjata biologis yang diperoleh dari eksperimen-eksperimennya. Ishii meninggal dunia pada usia 67 tahun karena kanker tenggorokan, dan tidak pernah diadili atas kejahatannya.

3. Stubbins Ffirth (1784-1820)

Stubbins Ffirth sebenarnya bukan benar-benar ilmuwan sinting; ia adalah dokter yang sungguh-sungguh berdedikasi dalam penelitian awal penyakit demam kuning (yellow fever). Demam kuning disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus yang terinfeksi. Penyakit ini mewabah pada tahun 1793 di Philadelphia, dan membunuh sekitar lima ribu orang (pada masa itu, berarti 10 % populasi). Ffirth mengeluarkan hipotesis bahwa penyakit ini tidak menular, dan memutuskan bahwa metode eksperimen yang terbaik adalah membuat dirinya terkena kontak langsung dengan cairan tubuh pasien penderita demam kuning.

Metode inilah yang membuatnya pantas dijuluki ilmuwan sinting. Mula-mula, ia membuat irisan di lengannya dan menuangkan muntahan pasien ke luka tersebut. Ia juga melumuri dirinya dengan urin, darah, dan ludah pasien yang terinfeksi. Lebih lanjut, ia menggodok cairan muntahan yang terinfeksi tersebut dan menghirup uapnya. Dan akhirnya, karena penasaran lantaran dirinya tidak juga tertular, Ffirth menelan muntahan terinfeksi tersebut.

Benar sekali. Menelan. Muntahan.

Sialnya, metode Ffirth kemudian terbukti keliru, karena enam puluh tahun setelah kematiannya, baru diketahui bahwa ia menggunakan sampel cairan tubuh dari penderita demam kuning yang sudah berada dalam stadium akhir. Pada stadium tersebut, penyakit itu tak lagi menular. Selain itu, penyakit tersebut tidak menular lewat metode-metode yang digunakan Ffirth; ia seharusnya menyuntikkan virus tersebut langsung ke dalam pembuluh darahnya, seperti yang dilakukan oleh nyamuk. Ffirth tidak pernah menemukan fakta ini; yang menemukan bahwa demam kuning dibawa oleh nyamuk adalah ilmuwan Kuba bernama Carlos Finlay.

Berita baiknya, Ffirth sudah keburu meninggal sebelum mengetahui bahwa eksperimen ‘lezat’-nya mengarah pada hasil yang salah.

4.  Vladimir Demikhov (1916-1998)

Istilah “sinting”, saya akui, mungkin agak kelewatan untuk dokter yang  jenius ini. Seorang pionir di bidang transplantasi organ tubuh, Demikhov terkenal akan eksperimennya yang menghasilkan anjing berkepala dua. Ia jugalah yang menemukan istilah transplantologi. Sepanjang tahun 1950-an, Demikhov telah “mencangkok” kepala dua puluh anak anjing ke tubuh anjing dewasa. Eksperimen pertamanya (lihat foto) adalah pencangkokan kepala anak anjing ke tubuh anjing herder dewasa. Kedua anjing itu hidup selama dua hari (kepala si anak anjing bahkan bisa meminum susu, yang kemudian menetes lagi lewat esofagusnya yang diputus), kemudian mati karena komplikasi.

Dalam bukunya, Experimental Transplantation of Vital Organs, terdapat catatan mengenai perilaku subyek eksperimen keduanya yang dilakukan pada tahun 1954, yaitu pencangkokan kepala seekor anak anjing umur satu bulan ke kepala anjing Husky Siberia :

Pukul 09.00 (24 Februari). Kepala donor dengan lahap meminum susu dan menyentak-nyentak seakan ingin memisahkan diri dari tubuh si penerima cangkok.

Pukul 22.30. Ketika tubuh si penerima ditaruh di tempat tidur, kepala cangkokan menggigit jari staf hingga berdarah.

Pukul 18.00 (26 Februari). Kepala donor menggigit belakang telinga tubuh penerima cangkok sehingga memekik dan mengguncang-guncangkan kepalanya.

Subyek-subyek Demikhov tidak pernah bertahan hidup dalam waktu lama, dan Demikhov menemui jalan buntu dalam hal ini. Setelah mencoba mencangkok setiap bagian tubuh (bukan hanya kepala) dari satu anjing ke bagian anjing yang lain, Demikhov akhirnya putus asa, menutup laboratoriumnya dan menghilang entah kemana. Bagaimanapun, eksperimennya menjadi ilham bagi para pelopor transplantasi organ tubuh setelahnya seperti Christian Baarnard, dokter pertama yang melakukan operasi cangkok jantung pada manusia. Buku Experimental Transplantation of Vital Organs pun dianggap sebagai buku teks acuan resmi pertama tentang transplantasi.

5. Andrew Ure (1778-1857)

Ia adalah seorang dokter, ahli kimia, dan ahli filsafat asal Skotlandia yang telah menghasilkan banyak karya dalam berbagai bidang, serta pelopor Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, organisasi yang menaungi para ahli farmasi di seluruh Inggris, Skotlandia, dan Wales. Tentunya sulit membayangkan dirinya sebagai orang yang suka menyodok-nyodok bagian tubuh mayat dengan batangan logam beraliran listrik, dalam rangka menghidupkannya kembali. Tetapi, memang itu tepatnya yang dilakukan Andrew Ure dalam salah satu eksperimennya yang terkenal, yang konon menjadi inspirasi bagi Mary Shelley untuk menulis Frankenstein.

Sebelumnya, Ure mengeluarkan klaim yang menyebutkan bahwa ia mampu menghidupkan kembali orang yang baru saja meninggal karena pencekikan atau tenggelam, dengan cara menstimulasi saraf frenalnya. Pada tahun 1818, Ure melakukan eksperimen di depan sejumlah penonton terhadap mayat seorang penjahat yang baru saja dihukum gantung, Matthew Clydesdale. Mula-mula, ia membuat irisan di bagian belakang leher, pinggul kiri, kening, telunjuk, serta mata kaki si mayat. Ia juga memotong satu bagian tulang belakang. Kemudian, Ure menusuk irisan-irisan tersebut menggunakan batangan-batangan logam yang dialiri listrik bertenaga baterai. Dan inilah yang terjadi :

- Dua batangan pertama dimasukkan ke leher dan pinggul, membuat mayat bergetar tak terkendali seolah kedinginan

- Salah satu batangan dipindahkan ke mata kaki, membuat kaki mayat menendang begitu keras hingga nyaris menjatuhkan asisten Ure yang bertugas memeganginya

- Batangan logam digunakan untuk menstimulasi saraf frenal dan diafragma, menimbulkan gerakan dada naik-turun seolah si mayat bernafas kembali

- Batangan logam digunakan untuk menstimulasi saraf supra orbital lewat kening, membuat wajah si mayat bergerak dan mengeluarkan “ekspresi” seperti marah, ketakutan, gelisah, kesakitan, bahkan “senyum” menyeringai

- Batangan logam ditusukkan ke irisan di jari, membuat mayat mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah penonton

Tak perlu dikatakan lagi, para penonton berhamburan keluar dengan ngeri. Bahkan, seorang dokter tamu yang dikenal berperut kuat, langsung pingsan di tempat. Walaupun eksperimennya jelas berakhir dengan kegagalan, Ure justru ngotot berkomentar bahwa “jika leher mayat ini tidak patah karena digantung, aku pasti bisa menghidupkannya lagi.”

6. Henry Cotton (1876-1933)

Salah satu psikiater paling kontroversial sepanjang sejarah, direktur New Jersey State Hospital di Trenton antara tahun 1907 hingga 1930 ini terkenal dengan teorinya yang menyatakan bahwa kegilaan berawal dari infeksi di tubuh pasien yang tidak terobati. Ia pernah belajar di bawah bimbingan Emil Kraepelin, Alois Alzheimer, dan Adolf Meyer yang merupakan para pionir ilmu psikiatri dan neurologi di awal abad ke-20. Selama belajar itulah Cotton mengamati bahwa pasien yang menderita demam tinggi sering mengalami halusinasi. Ia pun menelurkan teori tentang infeksi sebagai penyebab biologis dari abnormalitas perilaku.

Cotton menganggap bahwa organ-organ tubuh seperti gigi, amandel, sinus, testis, prostat, limpa, mulut rahim dan usus besar merupakan sumber potensi infeksi terbesar yang bisa menimbulkan gangguan perilaku. Seringkali, metode pengobatannya terhadap pasien gangguan jiwa mencakup pengangkatan organ-organ ini. Dalam buku Madhouse : A Tragic Tale of Megalomania and Modern Medicine (2005), Ian Freckelton menggambarkan salah satu penerapan metode Cotton terhadap seorang pasien :

seorang gadis berusia 18 tahun datang dengan keluhan depresi dan kegelisahan yang terus-menerus. Gigi-gigi geraham atas dan bawahnya dicabut, begitu pula dengan amandel, sinus, mulut rahim…sama sekali tanpa ada peningkatan pada kondisi kejiwaannya. Pada akhirnya, seluruh sisa giginya dicabut, dan gadis itu dikirim pulang serta dinyatakan sudah sembuh.

7. Philip Nitschke (lahir tahun 1947)

Nama Jack Kevorkian mungkin identik dengan euthanasia (praktik penghilangan nyawa secara sengaja demi membebaskan subyek dari penderitaan), namun Philip Nitschke adalah dokter pertama di dunia yang secara legal mempraktekkan euthanasia menggunakan suntikan maut, dengan persetujuan penuh subyeknya. Ia berhasil membuat euthanasia sebagai tindakan legal di Australia Utara, dan sempat “membantu” menghilangkan nyawa empat orang sebelum praktik tersebut dilarang kembali oleh pemerintah federal.

Nitschke yang lulusan University of Adelaide dan Flinders University ini adalah pendukung terdepan euthanasia. Menurutnya, manusia berhak akan kematian bermartabat yang mereka lakukan sendiri ketimbang hidup lama dalam penderitaan, terutama karena penyakit yang jelas-jelas fatal. Selain itu, baginya, manusia memiliki hak untuk mengendalikan hidupnya sendiri. Nitschke bahkan menciptakan sendiri beberapa alat euthanasia, seperti :

- Exit bag dan CoGen, berupa sebuah kantung plastik dengan tali pengikat dan alat penghasil gas karbonmonoksida. Subyek membungkus kepalanya dengan kantung plastik dan mengikatnya erat-erat, lantas gas karbonmonoksida ditiupkan ke dalam kantung. Belakangan, Nitschke menganggapnya tidak efektif dan berefek buruk bagi orang-orang di sekitar alat tersebut

- EXIT International (2008), terbuat dari tabung gas berisi nitrogen, selang plastik, dan suicide bag (kantung plastik dengan pengikat dan lubang untuk memasukkan selang berisi gas mematikan). Alat ini efektif, mudah dibuat, dan memastikan kematian yang bersih. Menurut Nitschke, gas nitrogen akan membuat subyek tidak sadar dalam waktu singkat (sekitar 12 detik) sebelum meninggal, sementara karbondioksida menciptakan kepanikan dan perasaan tercekik

- Barbiturate testing kit (2009) merupakan alat untuk mengetes ketepatan racikan Nembutal, obat penenang jenis barbiturat yang sering digunakan dalam proses euthanasia pada hewan, manusia, maupun untuk hukuman mati di Cina

- Pentobarbital long-storage pill (2009), pil euthanasia yang dapat disimpan selama lima puluh tahun tanpa rusak

Nistchke adalah direktur dari organisasi pro-euthanasia, Exit International.

8. Nikola Tesla (1856-1943)

Inilah ilmuwan yang secara luas dikenal sebagai “ilmuwan gila.”  Walaupun memberi kontribusi besar dalam kelahiran listrik komersial serta perkembangan bidang elektromagnetisme di awal abad ke-20, Tesla juga dikenal luas karena perilakunya yang eksentrik dan berbagai klaim anehnya mengenai perkembangan teknologi.

Ilmuwan Serbia lulusan Austrian Polytechnic ini paling dikenal akan klaim senjata ciptaannya yang berupa “pancaran maut” alias death ray, yang dibuat berdasarkan prinsip elektromagnetik dan berupa partikel cahaya terpusat yang dapat membakar obyek apapun (bayangkan mata laser Superman ?). Walaupun klaimnya dianggap tidak masuk akal dan menjadi santapan sensasional media massa seperti New York Times, Tesla terus kukuh mempertahankan klaim ini hingga kematiannya.

Kehidupan pribadinya juga tidak kalah eksentrik. Walaupun sangat cerdas dan menguasai delapan bahasa (Serbia, Czech, Inggris, Prancis, Jerman, Hungaria, Italia dan Latin), Tesla menderita gangguan obsesif-kompulsif. Ia selalu melakukan segalanya dalam bilangan tiga atau kelipatannya, dan tak tahan dengan kotoran sesedikit apapun. Ia juga menderita fobia akan perhiasan mutiara dan wanita. Sebaliknya, Tesla sangat terobsesi pada binatang, sampai pada tahap dimana ia memesan makanan khusus untuk diberikan pada burung-burung merpati di Central Park, dan seringkali mengenang kucing kesayangannya di masa kecil dengan nada penuh afeksi.

Tesla sangat senang menarik diri, walaupun ia sangat sopan bila harus berinteraksi. Bagaimanapun, ia menunjukkan kebencian besar pada orang-orang gemuk maupun mereka yang menurutnya berpakaian kurang serasi. Ia bahkan memecat seorang sekretarisnya, yang amat kompeten, hanya karena sekretaris itu agak gemuk.

Menjelang kematiannya, Tesla jatuh miskin dan kehilangan rumahnya, hingga terpaksa menumpang tinggal di sebuah kamar di lantai 33 New Yorker Hotel. Ia mengklaim bahwa seekor merpati putih terus mengunjunginya lewat jendela, dan kematian merpati itu adalah “hantaman besar terhadap dirinya dan pekerjaannya.”

 

Sumber : wikipedia.org

Stiff, The Curious Lives of Human Cadaver (2002) oleh Mary Roach

Authors

Archives

Categories

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

Blog Stats

  • 6,761 hits

 

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.